Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pria Yang Jatuh Cinta Pada Bayarannya

Pria Yang Jatuh Cinta Pada Bayarannya

LYKIRLAN | Bersambung
Jumlah kata
108.1K
Popular
687
Subscribe
141
Novel / Pria Yang Jatuh Cinta Pada Bayarannya
Pria Yang Jatuh Cinta Pada Bayarannya

Pria Yang Jatuh Cinta Pada Bayarannya

LYKIRLAN| Bersambung
Jumlah Kata
108.1K
Popular
687
Subscribe
141
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeKayaKonglomeratMenantu
Julio, seorang pria sukses berusia 28 tahun, hidup dalam kesunyian meskipun memiliki segalanya. Trauma masa kecil dari kekerasan ayahnya membuatnya melarikan diri dari keluarga dan hidup dalam kesepian yang mencekik. Ketika ia memutuskan untuk mencoba jasa escort hanya untuk mengusir kesendirian, takdir mempertemukannya dengan Luna—seorang wanita berusia 24 tahun yang terpaksa bekerja di klub malam untuk menghidupi keluarganya. Apa yang dimulai sebagai transaksi sederhana berubah menjadi cinta sejati yang harus menghadapi prasangka keluarga, ancaman dari masa lalu, dan perjuangan membuktikan bahwa cinta tidak mengenal status sosial.
BAB 1: KESUNYIAN APARTEMEN

BAB 1

KESUNYIAN APARTEMEN

“Cinta sejati, aku sadar, bukan mencari kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tetap memilih di tengah segala ketidaksempurnaan, prasangka, dan penolakan keluarga. Keputusanku untuk mencintaimu adalah yang terbaik yang pernah kubuat, sebab dalam pelukanmu, aku menemukan kehangatan nyata yang selama ini hilang, mengakhiri persembunyianku dari bayangan masa lalu yang menghantui” —Julio Dewantara

Gemerlap lampu kota Jakarta memantul pada kaca jendela apartemen yang luas, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding putih bersih. Julio Dewantara duduk termenung di sofa kulit hitam yang mewah, segelas anggur merah setengah kosong tergenggam di tangannya yang panjang dan terawat. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, namun waktu terasa begitu lambat berdetak dalam kesunyian yang mencekik.

Pria berusia dua puluh delapan tahun itu menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Di luar sana, kehidupan kota terus berdetak—mobil-mobil berlalu lalang dengan lampu yang berkilauan, gedung-gedung pencakar langit menjulang dengan jendela-jendela yang menyala, menandakan kehidupan yang berdenyut di dalamnya. Namun semua gemerlap itu terasa begitu jauh dari jangkauan Julio, seakan dia berada di dalam kotak kaca yang memisahkannya dari dunia.

Apartemen mewah seluas seratus lima puluh meter persegi itu adalah kebanggaan Julio. Lantai marmer putih mengkilap sempurna, furnitur mahal yang dipilih dengan selera tinggi, dapur dengan peralatan stainless steel yang berkilauan, dan kamar tidur dengan tempat tidur yang nyaman. Semua yang diimpikan oleh pria seusianya ada di sana—kecuali satu hal yang paling penting: kehangatan.

Julio meneguk anggur-nya pelan, merasakan cairan merah itu mengalir di tenggorokannya yang kering. Rasa pahit bercampur manis menyerupai hidupnya—manis di permukaan dengan kepahitan yang tersembunyi di dalamnya. Dia adalah direktur muda di sebuah perusahaan multinasional, dengan gaji yang fantastis dan masa depan karier yang gemilang. Namun kesuksesan itu tidak mampu mengisi kekosongan yang menggerogoti jiwanya setiap malam.

Keputusannya untuk pindah dari Bogor ke Jakarta tiga tahun lalu bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Julio masih ingat jelas argumen terakhirnya dengan sang ayah, Noah Dewantara, seorang pengusaha sukses yang terkenal dengan ketegasan dan sikap kerasnya. Pria paruh baya itu tidak pernah ragu menggunakan kekerasan untuk "mendidik" anak tunggalnya, sebuah metode yang dia yakini akan membentuk Julio menjadi pria yang kuat dan sukses.

"Kamu terlalu lemah, Julio!" kata-kata ayahnya masih bergema di telinga. "Hidup itu keras, dan hanya yang kuat yang bisa bertahan!"

Julio masih bisa merasakan perih di pipinya akibat tamparan keras ayahnya ketika dia memberontak pada usia dua puluh lima tahun. Saat itulah dia memutuskan bahwa cukup sudah. Dia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kekerasan. Jakarta menawarkan kebebasan yang selama ini dia rindukan—kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus takut pada amarah sang ayah.

Namun kebebasan itu datang dengan harga yang mahal. Kesepian.

Julio bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela. Telapak tangannya menyentuh kaca dingin sembari matanya menatap ke bawah, di mana kehidupan malam kota terus bergeliat. Di sana, dia bisa melihat pasangan-pasangan yang berjalan berpegangan tangan, keluarga yang berkumpul di restoran-restoran, anak-anak muda yang tertawa bersama teman-teman mereka. Semua yang tidak dia miliki.

Ponselnya berbunyi, menginterupsi lamunannya. Nama "Mama" terpampang di layar. Julio menatap ponsel itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya.

"Halo, Ma."

"Julio, apa kabar? Sudah makan?" suara lembut sang ibu terdengar familiar namun terasa jauh.

"Sudah, Ma. Mama bagaimana?"

"Baik. Papamu tadi menanyakan kabarmu. Kapan pulang?"

Julio terdiam. Pertanyaan yang sama selalu muncul dalam setiap percakapan mereka. Ibunya, Helena Dewantara, adalah wanita yang lembut dan penyayang, namun selalu terjebak di antara cintanya pada suami dan anak. Helena tidak pernah berani menentang kekerasan sang suami, namun juga tidak bisa melepaskan kerinduan pada anak tunggalnya.

"Belum tahu, Ma. Masih banyak kerjaan di sini."

"Julio..." suara Helena bergetar. "Papamu sudah berubah. Dia menyesali sikapnya dulu. Mungkin kalau kamu pulang—"

"Ma, kita sudah pernah bahas ini. Aku baik-baik saja di sini."

Hening sejenak. Julio bisa mendengar desahan halus ibunya di ujung telepon.

"Baiklah. Jaga kesehatanmu, ya. Jangan terlalu keras bekerja. Dan... Julio?"

"Ya, Bu?"

"Carilah pendamping hidup. Mama tidak ingin kamu kesepian di sana."

Kalimat terakhir ibunya menusuk langsung ke jantung Julio. Setelah mengucapkan salam perpisahan, dia menutup telepon dan kembali tenggelam dalam kesunyian.

Carilah pendamping hidup.

Mudah sekali mengatakannya, tapi bagaimana caranya? Julio bukanlah tipe pria yang mudah membuka diri pada orang lain. Trauma masa kecilnya membuatnya kesulitan mempercayai orang, apalagi dalam hal hubungan yang intim. Beberapa kali dia mencoba berkencan dengan wanita-wanita yang dikenalkan rekan kerjanya, namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Mereka mengeluhkan sikapnya yang terlalu tertutup dan dingin.

Julio kembali ke sofa dan meraih remote televisi. Layar besar menampilkan berbagai channel, namun tidak ada yang menarik perhatiannya. Drama Korea dengan kisah cinta yang sempurna, variety show dengan tawa-tawa yang dipaksakan, berita dengan segala kegelapan dunia—semuanya terasa hambar dan tidak bermakna.

Dia mematikan televisi dan meraih laptop. Mungkin bekerja bisa mengalihkan pikirannya dari kesunyian yang menghantui. Namun bahkan laporan-laporan dan proposal yang biasanya menyita perhatiannya kini terasa membosankan. Angka-angka dan grafik tidak mampu mengisi kehampaan yang menggerogoti jiwanya.

Pukul sepuluh malam, Julio memutuskan untuk mandi dan tidur lebih awal. Air hangat mengalir di tubuhnya, namun tidak mampu mencairkan dingin yang mengendap di dadanya. Di cermin kamar mandi, dia melihat pantulan dirinya—pria tampan dengan wajah tegas, tubuh atletis hasil rajin berolahraga, kulit sawo matang yang terawat dengan baik. Secara fisik, dia memiliki segalanya. Namun matanya yang gelap itu menyimpan kesedihan yang dalam.

Di tempat tidur yang luas, Julio berbaring menatap langit-langit kamar. Udara malam Jakarta yang lembap masuk melalui celah jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma kota yang familiar—campuran asap kendaraan, makanan jalanan, dan kehidupan yang tak pernah tidur. Namun semua itu tidak mampu mengusir rasa hampa yang menggerogotinya.

Julio menutup mata, berharap tidur akan membawanya pada mimpi yang lebih indah. Namun dalam kegelapan itu, yang muncul adalah bayangan masa kecilnya—sosok ayah yang galak, suara bentakan yang menggema, dan rasa takut yang mencekam. Dia membuka mata kembali, memilih untuk menatap kegelapan kamar daripada kegelapan dalam mimpinya.

Di meja nakas samping tempat tidur, foto keluarga lama terpampang dalam bingkai perak yang berdebu. Foto itu diambil saat Julio berusia sepuluh tahun, masih polos dan penuh harapan. Senyum kecil terukir di wajahnya yang kekanak-kanakan, berdiri di antara kedua orangtuanya di halaman rumah Bogor yang asri. Kala itu, dia masih percaya bahwa ayahnya adalah pahlawan yang akan selalu melindunginya.

Julio meraih foto itu dan menatapnya dalam kegelapan. Bayangan bulan yang menyusup melalui tirai tipis cukup memberikan cahaya untuk melihat wajah-wajah yang sudah lama tak dia temui secara langsung. Hatinya sesak melihat senyum tulus ibunya dalam foto itu—senyum yang kini sudah dibayangi kekhawatiran dan kesedihan karena keretakan keluarga mereka.

Dengan perlahan, Julio meletakkan kembali foto itu dan memejamkan mata.

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Julio tertidur dengan kekosongan yang menyelimuti jiwanya. Dalam apartemen mewah yang sunyi, dia adalah raja yang kesepian di kerajaannya sendiri, memiliki segalanya namun kehilangan yang paling berarti—kehangatan cinta dan kebersamaan yang tulus.

Gemerlap kota di luar jendela perlahan meredup, namun kesunyian di hati Julio tetap menyala, menunggu cahaya yang akan datang mengusirnya. Di sudut kamar, jam digital menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Jakarta mulai tertidur, namun mimpi Julio dipenuhi bayang-bayang masa lalu yang tak kunjung lepas.

Lanjut membaca
Lanjut membaca