Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku Pemakan Mimpi

Aku Pemakan Mimpi

Superpen99 | Bersambung
Jumlah kata
130.4K
Popular
516
Subscribe
60
Novel / Aku Pemakan Mimpi
Aku Pemakan Mimpi

Aku Pemakan Mimpi

Superpen99| Bersambung
Jumlah Kata
130.4K
Popular
516
Subscribe
60
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPertualanganDungeonSistem
Bara mendapatkan rune kematian untuk menghadapi dua kemungkinan: Mati atau menjadi Superhuman. Ujian untuk menjadi yang terkuat telah tiba, tapi Bara hanya ingin kembali dan menjaga Ibunya. Namun ... sesuatu yang besar terjadi. Dia adalah bayangan pembunuh. Aku akan memakan kalian!
1. Aku Terjebak

Seorang lelaki muda berdiri di depan kasur sederhana Rumah Sakit, dia memperhatikan wajah wanita tua yang masih tertidur tanpa daya. Wanita tua itu terlihat sangat lelah dan tertidur pulas. Selang dan pembungkus sebagian wajahnya terlihat mengembun. Mata pemuda itu terus menatap Ibunya, tak berpaling sedikitpun dari wajah tua yang sakit itu.

Pemuda itu menghela napasnya dalam, sudah berapa kali dia melakukan hal itu. Sepertinya, pemuda itu hendak mengucapkan perpisahan pada Ibunya yang sakit. Namun ... ibunya sakit dan tidak mungkin bisa berbincang dengannya.

Namun ... untuk terakhir kalinya, mungkin perlu dicoba.

Pemuda itu melihat ke arah tangan kirinya. Dia menyingkap lengan baju panjangnya, tampaklah sebuah rune kotak bercahaya di punggung pergelangan tangannya. Tanda kotak bergaris rune itu bercahaya dan di tengahnya terlihat tanda nomor yang terus berjalan mundur.

Itu adalah tanda kematian!

Sudah tiga hari sejak detik angka menampilkan waktu mundur, 3 X 24 jam.

Waktu bagi pemuda itu tidak lama lagi, dia akan menjadi penentu hidupnya. Jika dia bisa bertahan maka dia akan menjadi salah satu Awaken atau seseorang yang dibangkitkan kekuatannya. Namun, jika dia gagal, dia tak akan bisa kembali dan mati di tempat terbuang.

Waktu di tangannya sudah menunjukkan dua hari lebih 20 jam, tersisa empat jam lagi. Bagi semua orang, hal itu bisa menjadi berkah atau kutukan.

Pemuda itu kembali melihat wajah ibunya yang terbungkus dengan alat-alat kesehatan, sudah lima tahun lamanya sang ibu tertidur pulas. Pemuda itu menjadi tulang punggun keluarga, dia anak tunggal.

Untuk terakhir kalinya, dia tidak tahu ingin bersedih, bercerita, atau bahkan mengucapkan perpisahan pada ibunya tersebut.

Sudah hampir satu jam, pemuda itu berdiri.

Pada akhirnya, dia harus menghadapi kenyataan.

Terakhir kalinya ... benar terakhir kalinya.

Pemuda itu mendekat dan bersimpuh, menundukkan kepalanya di samping ibunya yang tak sadar secara nyata.

"Ibu ... aku pergi. Doakan saja aku bisa kembali dengan selamat, aku tidak punya tempat kembali kecuali bersama Ibu. Aku akan berjuang untuk bisa kembali, aku tidak peduli dengan kekuatan atau bahkan energi level dewa! Aku hanya ingin kembali ke sini. Aku pergi sekarang Ibu, aku sangat ingin kembali dan bersama di sisimu ..."

Hening beberapa saat.

Pemuda itu pun berdiri, terakhir kali menatap wajah ibunya. Kemudian, menguatkan langkahnya dan keluar dari pintu kamar khusus penanganan untuk ibunya tersebut.

Aku pergi Ibu, doakan aku kembali dengan selamat.

***

Rumah kecil yang masih bertahan, letaknya tidak jauh dari kantor kepolisian di pinggiran kota.

Pemuda yang selama ini menunggu rumah itu berada di depan rumahnya. Menunggu waktu yang terus mengejarnya, mungkin tersisa tiga jam lebih untuknya menunggu kematian atau berkah bagi sebagian orang. Pemuda itu, Bara Janura. Dia biasanya membuka dagangannya yang terbuat dari besi ringan dan pembuka tokonya tersebut. Kotak persegi itu seukuran 2 X 2 Meter yang terletak di pojok rumahnya yang kecil dan berada di pojok teras rumahnya.

"Roti Panggang Segala Rasa"

Itulah pekerjaan Bara, menjual roti bakar di antara banyaknya pekerjaan yang ada di seluruh dunia. Bara mendapatkan uang dan sebagian digunakan untuk membayar biaya jasa asuransi kesehatan dari pemerintah. Tentu saja, itu untuk mempertahankan kesehatan ibunya yang mengalami koma dan harus dirawat di ruang intensif.

Di antara kepenatan hidupnya, masih ada uluran pemerintah membantu rakyatnya meskipun tetap menggunakan iuran untuk membayar tiap bulannya. Bara sepertinya pasrah dengan hidupnya, berjalan seperti air yang mengalir. Air yang mengalir pun bukan dari pegunungan yang terjal dan terjun ke bawah, melainkan air tenang yang pelan dan damai.

Ah! Kata damai terasa sulit diterima.

Bara hanya menunggu satu hal dalam hidupnya, menunggu ibunya membuka mata dan bisa menikmati udara di luar. Seperti dulu.

Tangan Bara sedikit mengepal, ada sesuatu yang getir. Sang Ibu menyelamatkan dirinya saat serangan monster datang lima tahun lalu.

Benar! Dunia sudah berubah demikian mengerikan. Tahun ini, mungkin genap setelah lima puluh tahun insiden aneh memenuhi seluruh dunia. Bermunculannya para awaken, mereka dibangkitkan dengan kekuatan superhuman. Dan, di sanalah letak kehancuran dimulai, dungeon atau gate muncul bersamaan dengan dimulainya tanda rune yang muncul dari manusia untuk membangkitkan kekuatan mereka.

Rune tanda itu, kini muncul di belakang pergelangan tangan Bara. Bara tidak mengharapkannya sama sekali. Pertama, resiko kematian. Kedua, dia tak ingin mempunyai kekuatan serba aneh, dia hanya ingin menjadi manusia biasa dan menjaga ibunya.

Namun, kenyataannya berbeda. Tanda itu muncul pada tangan Bara.

Ah! Lupakan itu semua. Sebelum pergi, Bara ingin membuka kedainya, setidaknya dia ingin meninggalkan uang untuk persiapan jika dia tak kembali.

Jika tanda itu menyala, maka sebuah dungeon akan muncul dan mengikuti orang yang dipilih. Jika dia tak memasuki dungeon menyala itu selama satu jam. Makhluk yang menjadi ujian orang yang dipilih akan keluar dan menghancurkan apapun yang ditemuinya.

Seharusnya, Bara melaporkan hal ini pada kepolisian sebelum dungeon ujiannya muncul. Namun, Bara masih enggan melakukannya.

Krak! Klak!

Bara membuka besi penyangga toko roti bakarnya, beberapa saat dengan cekatan sudah terbuka dan Bara menunggu pelanggan yang hendak beli.

Beberapa orang terlihat lewat, tak peduli dengan Bara yang duduk santai. Mungkin, matahari pagi ini adalah terakhir yang dilihat Bara. Bara sudah tidak peduli.

"Hei, Bara! Aku mau roti panggang rasa stroberi."

Suara lembut, siapa lagi kalau bukan Naura. Polisi muda yang menjadi salah satu polisi paling terkenal di dekat tempat Bara. Lokasi rumah kecil bara dan kantor polisi tidak jauh. Naura dipindahkan sekitar satu tahun yang lalu.

"Ayolah! Aku sudah lapar. Aku ingin sarapan dulu sebelum menghajar para penjahat ... atau bahkan monster! Ha.. ha.. ha..!" Naura tertawa kecil, rambut panjangnya diikat seperti biasanya. Dia cantik, terpias dari sinaran matahari pagi.

Namun, jangan salah! Dia adalah seorang awaken, jadi dia bercanda setiap kali bertemu dengan Bara yang tidak pernah mau berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan para Hero yang merupakan sebutan para awaken. Meskipun, sangat ironi, tidak semua awaken itu baik dan suka menolong. Bahkan, ada hukum rimba di antara mereka.

"Baiklah! Baiklah! Kamu pasti sudah rindu dengan rasa stroberi buatanku."

Ha.. ha.. ha.. cepatlah! Pikir Naura sambil melihat sinar matahari pagi yang sejuk.

"Oh ya, apakah Ibumu ada kemajuan?" tanya Naura. Mereka memang sedikit akrab. Hal itu karena Naura tahu, untuk ukuran orang biasa tak ada yang istimewa dibandingkan para awaken. Dan, Bara adalah orang biasa.

"Ibuku seperti biasa, selalu menunggu datang menunggunya." Bara terus memanggang rotinya, selai stroberi sudah berada dalam roti.

Naura menganggukkan kepalanya, seolah mengerti. Tetap datar seperti biasanya.

"Ini ... " Bara menyodorkan roti yang sudah matang, dalam piring. Seperti biasanya, Naura akan memakannya di depan toko kecil Bara.

"Tunggu!"

Bara kaget, Naura sigap memegang lengan Bara. Sesuatu tersingkap saat Bara menghulurkan piring tersebut.

"Kamu ...!"

Bara tahu sekarang, sekilas lengan bajunya tersingkap. Naura melihat rune menyala dan angka yang bergerak mundur.

"Kamu ... kamu akan mengalami kebangkitan!"

Bara tak bisa berkata apapun, itu kesalahannya karena tidak melaporkan hal itu.

"Aku dijebak ...!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca