

Langit Baru di Tembagapura
Aku tidak suka hari Senin apalagi Senin pagi. Ketika jalanan Kota Makassar terasa, seperti urat nadi yang mendadak beku dan macet total. Namun, kali ini ada rasa yang lebih berat daripada sekadar tidak suka jalanan yang macet. Perjalanan di dalam mobil Alphard yang elegan itu terasa, seperti sedang menghitung mundur sesuatu yang penting.
Di jok depan, ada Pak Rahmat, sopir yang sudah lama sekali bekerja dengan keluarga kami. Wajahnya yang biasanya tenang, tapi kini terlihat lebih serius, mungkin karena cuaca di pagi itu sedang ikut-ikutan mendung. Di sebelahnya, duduk Ibu Siska, sekretaris ibuku yang selalu rapi dan fokus.
“Ayahmu sudah atur, Nak. Nanti dia yang jemput kamu langsung di Bandara Mozes Kilangin.” ujar ibuku lembut. Suara Ibu selalu punya efek yang menenangkan, seperti musik klasik yang lembut, padahal aku tahu betul pikirannya sedang melayang ke kantor, ke laporan properti, dan setumpuk janji temu untuk bisnis propertinya.
Aku hanya mengangguk, melihat keluar jendela mobil. “Iya, Bu.”
Jalanan yang padat itu terasa sangat lambat, tapi waktu? Waktu malah berjalan cepat, bahkan sangat cepat, seolah dia tahu kami akan berpisah sebentar lagi. Rasanya baru kemarin aku menerima surat kelulusan SMP dan sekarang aku sudah di ambang pintu Bandara Sultan Hasanuddin, siap terbang ke Timika. Kota kecil di Papua, yang katanya indah.
Ibuku dan Ibu Siska menemaniku sampai di area terminal 1B. Aku tahu, hari Senin pagi begini adalah puncak kesibukan untuk seorang pebisnis sukses, seperti Ibu. Namun, ia tetap menyisihkan waktu untuk ku. Hal itu yang selalu membuatku merasa spesial.
Kami duduk sebentar di area terminal. Suasana bandara terasa ramai, tapi obrolan kami terasa hening.
“Dito, kamu yakin, kan?” tanya Ibu, matanya yang sipit dan tajam itu kini memancarkan kehangatan yang lembut. “Kamu sudah berusaha maksimal untuk semua ini. Kamu berhak atas pilihanmu, Nak.”
Aku memegang tangannya yang terasa halus. “Aku yakin, Bu. Ini memang keputusan aku. Lagipula, SMA Akademi Pelita Indonesia itu kan sekolah terbaik di Indonesia. Aku cuma... belum terbiasa aja harus jauh dari Ibu.”
Ibu tersenyum. Senyumnya selalu menenangkan dan aku sering dengar orang mengatakan kalau senyumku sangat mirip dengan senyumnya. “Kamu itu anak Bugis. Anak perantau. Jangan pernah takut keluar dari zona nyamanmu. Justru di luar sana, langitmu akan lebih luas untuk kamu tulis.”
“Tapi, Tembagapura jauh banget, Bu,” kataku pelan, tidak bisa menyembunyikan nada sedihku. “Aku harus tinggal di asrama. Enggak ada Ayah dan enggak ada Ibu setiap hari.”
“Ayahmu sudah siapkan semuanya dan kamu tidak pernah sendiri, Nak,” Ibu mengusap rambutku, gerakannya penuh kasih sayang. “Di sana, fokusmu cuma satu, yaitu belajar. Ingat, kamu diterima di sana karena kamu yang terbaik se-Sulawesi Selatan. Tunjukkan pada mereka kalau anak Makassar itu bukan cuma pintar, tapi punya siri’—punya kehormatan. Jadi, jangan pernah malu dengan prinsipmu.”
Aku menghela napas panjang, mencoba menelan gumpalan di tenggorokan. Percakapan kami memang sederhana, tapi setiap kata-kata Ibu selalu jadi penguat terbaik.
“Sudah waktunya, Nak,” bisik Ibu, melihat jam tangan mewahnya.
Aku berdiri, menarik koperku. Aku harus masuk ke counter check-in maskapai Airfast, maskapai khusus yang akan menerbangkan para karyawan dan keluarga PT Freeport ke Timika. Setelah proses check-in selesai, koper diserahkan ke petugas untuk dimasukkan ke bagasi pesawat, dan boarding pass sudah di tangan—tiba saatnya aku harus benar-benar pergi.
Gate 5. Gate itu, seperti portal menuju kehidupan baru.
Aku berbalik menghadap ibuku. Rasanya, semua pencapaian ku tidak ada artinya dibanding momen ini. Momen perpisahan singkat yang terasa sangat panjang.
“Aku berangkat, Bu,” kataku, mencoba terdengar mantap, tapi suaraku sedikit bergetar.
“Jaga diri, jaga salatmu, dan jangan lupa selalu berikan kabar ya,Nak.” pinta Ibu.
Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung memeluknya dengan sangat erat. Pelukan ini berbeda. Ini bukan pelukan perpisahan biasa saat aku pergi ke sekolah, tapi ini adalah pelukan perpisahan saat anak tunggalnya akan memulai babak baru secara sendirian.
Aroma parfumnya yang elegan, kehangatan tubuhnya, dan semua itu, seperti energi yang sedang aku kumpulkan untuk bekal di Tembagapura nanti.
Aku melepaskan pelukan itu perlahan. Ibu menatapku, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi senyumnya tetap utuh dan anggun. Aku tahu, seorang wanita sekuat Ibu tidak akan membiarkan air mata jatuh di depanku.
“Hati-hati, Sayang,” katanya.
Aku menganggukan kepala lalu berbalik. Kakiku melangkah mantap, membawa tas ransel di pundak. Aku berjalan ke area gate 5, aku sengaja tidak menoleh lagi ke belakang karena aku tidak mau melihat wajah Ibu yang mungkin sudah menunjukkan kesedihan.
Aku ingin Ibu tahu kalau aku tidak lemah. Aku pergi untuk menaklukkan mimpiku.
Aku berjalan cepat menuju gate 5. Aku mencoba mengabaikan keramaian di sekitarku. Setelah melewati pemeriksaan akhir, aku akhirnya tiba di ruang tunggu. Tempat itu tidak terlalu ramai. Sebagian besar penumpang di sana terlihat berbeda dari penumpang pesawat komersial biasa karena mereka semua terlihat, seperti orang-orang yang bekerja keras dan punya tujuan jelas serta ada juga keluarga yang akan menuju ke kawasan kerja.
Mereka adalah karyawan PT Freeport dan keluarga dari karyawan yang bekerja di PT Freeport. Udara di gate 5 terasa dingin, tapi perasaanku justru hangat dan sedikit kosong. Aku duduk di salah satu kursi, membiarkan ranselku mendarat di sampingku.
Tiba-tiba, semuanya terasa nyata. Barusan, aku baru saja berpisah dengan Ibu, satu-satunya orang yang selama ini menjadikanku pusat dunianya.
Makassar, rumah, kamar ku, dan semuanya.
Aku memejamkan mata sejenak. Aku ini kan Andi Ardito Alfaruq. Peraih medali emas olimpiade matematika dan juara nasional karate. Biasanya, aku selalu punya rencana dan selalu bisa mengontrol situasi. Namun, saat ini? Aku tidak tahu apa yang aku kendalikan selain napas yang terasa berat.
Di bangku itu, aku mencoba mencerna semuanya. Kenapa aku harus pindah? Ayah adalah Direktur Logistik dan Transportasi di sana. Tentu saja, ia ingin anaknya berada dekat dengannya. Ibu mendukung keputusanku untuk bersekolah di SMA Akademi Pelita Indonesia karena kualitas pendidikannya.
“Kamu harus berani keluar dari zona nyamanmu, Dito. SMA Akademi Pelita Indonesia itu tantangan yang bagus buatmu, Nak.”
Kalimat Ayah sedang terngiang-ngiang di telingaku. Ayah memang berwibawa, tegas, dan sangat disiplin. Dia jarang sekali salah dalam mengambil keputusan. Aku tahu, ia memindahkan aku ke sana bukan hanya soal jarak, tapi soal membentuk diriku.
Namun, rasanya begitu aneh. Selama ini, hidupku teratur, penuh pencapaian, dan stabil. Sekarang, semua itu, seperti ditarik paksa dari Makassar ke tengah pegunungan Papua yang sunyi dan dingin. Aku akan berada di lingkungan asrama, sekolah internasional yang terkenal sangat ketat, dan bertemu anak-anak elit dari berbagai latar belakang yang katanya persaingannya jauh lebih kejam daripada di Makassar.
Aku mengeluarkan boarding pass yang ku genggam erat. Pesawat Airfast. Pesawat khusus yang akan membawaku dan para penumpang ini ke Timika lalu aku akan melanjutkan perjalanan darat ke Tembagapura.
Saat aku sedang tenggelam dalam lamunanku, suara pengumuman memecah keheningan.
“Panggilan untuk penumpang pesawat Airfast dengan nomor penerbangan FS136 menuju Timika. Silakan menuju pintu masuk sekarang. Terima kasih.”
Panggilan itu, seperti membangunkan aku. Ini dia. Pintu gerbang telah dibuka.
Aku menarik napas panjang, bangkit, dan menggendong ranselku. Ada sepasang suami istri di depanku yang terlihat Lelah, tapi wajah mereka menunjukkan kebahagiaan saat akhirnya bisa pulang. Ada juga beberapa remaja seusiaku, tapi mereka terlihat lebih santai, seolah kepindahan ini adalah hal biasa baginya.
Aku berjalan menuju konter dan menyerahkan boarding pass-ku. Petugas itu tersenyum ramah.
Aku membalas senyumnya, senyum tipisku yang mungkin terlihat, seperti senyum bangga, tapi aslinya penuh kegugupan.
Aku melangkahkan kaki melewati pintu itu. Lorong penghubung menuju pesawat terasa panjang sekali, seperti jembatan yang menghubungkan masa laluku di Makassar dengan masa depanku yang tidak terbayangkan di Tembagapura. Aku bisa melihat logo Airfast di badan pesawat yang terparkir.
Saat aku naik tangga pesawat, angin dingin dari landasan meniup sebentar wajahku. Aku menundukkan kepala dan mengucapkan doa singkat dalam hati, seperti yang selalu diajarkan Ibu dan Ayah.
Ketika kakiku menginjak lantai kabin, seorang pramugari menyambutku dengan senyum. Aku mencari tempat dudukku di dekat jendela.
Setelah meletakkan ransel di kabin atas, aku duduk di tempat dudukku. Suasana di dalam pesawat terasa hening, tapi penuh energi. Energi dari orang-orang yang siap kembali untuk bekerja dan berkumpul dengan keluarganya.
Aku menyandarkan kepala ku. Jendela pesawat itu buram, tapi aku bisa melihat langit Makassar yang mulai meredup dan semakin mendung.
Aku Ardito. Aku akan baik-baik saja.
Dalam perjalanan ke Tembagapura ini, aku tidak sedang meninggalkan rumah. Aku hanya sedang mencari tempat yang lebih tinggi di langit sana untuk ku tuliskan cerita baru.