Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SEBELUM KITA MENYEBUT SEGALANYA TRAUMA

SEBELUM KITA MENYEBUT SEGALANYA TRAUMA

Coach Inne | Bersambung
Jumlah kata
54.8K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / SEBELUM KITA MENYEBUT SEGALANYA TRAUMA
SEBELUM KITA MENYEBUT SEGALANYA TRAUMA

SEBELUM KITA MENYEBUT SEGALANYA TRAUMA

Coach Inne| Bersambung
Jumlah Kata
54.8K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
18+FantasiSci-FiUrbanDokterPria Dominan
Arjuna, Raja Terpilih yang narsistik, hidup dalam delusi urban fantasy hingga cerminnya retak, mengungkap ia mengidap NPD. Ia berjuang tulus mencari penyembuhan, tetapi cerita fantastisnya membuat semua pakar menvonisnya "Halu Parah." Perjuangan gelapnya kini melawan trauma dan gangguan mental yang tak diakui.
BAB 1: KEBOCORAN PADA SISTEM YANG SEMPURNA

Dunia tidak pernah peduli seberapa keras kau mencoba untuk tetap tegak. Bagi seorang laki-laki, harga diri seringkali hanyalah lapisan tipis cat di atas besi yang sudah berkarat; tampak kokoh di luar, namun keropos di dalam. Pagi itu, Arkan berdiri di depan cermin wastafel lantai empat puluh dua gedung perkantoran Sudirman.

Ia merapikan dasi Windsor-nya dengan presisi yang hampir obsesif. Di balik jas seharga belasan juta rupiah itu, ia adalah definisi sukses. Seorang arsitek strategi bisnis muda yang disegani, pria yang kata-katanya mampu menggerakkan angka-angka di papan bursa.

Namun, hanya Arkan yang tahu bahwa di balik kemeja putihnya yang kaku, jantungnya sedang memukul rusuknya sendiri seperti narapidana yang mencoba melarikan diri.

​Ia menatap pantulan matanya sendiri. Dingin. Tajam. Tak ada tanda-tanda kelemahan. "Satu jam lagi," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya rendah, berusaha memerintah saraf-sarafnya untuk patuh. "Hanya satu presentasi lagi, Arkan.

Setelah itu kau bisa hancur sepuasnya."

​Arkan keluar dari kamar mandi, berjalan menyusuri lorong marmer yang dingin menuju ruang rapat utama. Setiap langkah sepatunya yang mengkilap menghasilkan bunyi ketukan yang ritmis. Tap. Tap. Tap.

Bagi orang lain, itu adalah bunyi kepercayaan diri. Bagi Arkan, itu adalah hitungan mundur menuju ledakan. Ia bisa merasakan telapak tangannya mulai lembap. Ia mencoba melakukan teknik pernapasan yang pernah ia baca sekilas di sebuah jurnal medis, tarik napas empat detik, tahan empat detik, buang empat detik. Namun, oksigen di sekitarnya seolah mendadak berubah menjadi nitrogen cair yang membekukan paru-parunya.

​Ruang rapat itu sudah penuh. Para petinggi perusahaan duduk dengan wajah-wajah tanpa ekspresi, menunggu Arkan memberikan "sihirnya". Arkan berdiri di depan podium, menghubungkan laptopnya ke proyektor. Layar besar di belakangnya menampilkan grafik pertumbuhan yang impresif. Ia menarik napas panjang, membuka mulut untuk menyapa, namun di situlah semuanya runtuh.

​Sensasi itu datang tanpa peringatan, seperti gelombang pasang yang menghantam dinding pasir.

​Telinganya mendadak berdenging. Bunyi frekuensi tinggi yang menyakitkan, seolah ada ribuan jarum yang menembus gendang telinganya secara bersamaan. Suara kasak-kusuk para direktur di depannya mendadak senyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Arkan bisa melihat mulut salah satu direktur bergerak, mungkin bertanya sesuatu, tapi ia tidak mendengar apa pun. Cahaya lampu LED di ruangan itu berubah menjadi sangat terang, menyilaukan, dan mulai berputar-putar.

​Inilah dia, pikirnya dalam ketakutan yang murni. Monster itu datang lagi.

​Trauma bukan sekadar ingatan buruk. Trauma adalah kesalahan sistem pada sistem saraf pusat. Arkan merasakannya sebagai sebuah malfungsi. Dunianya menyempit. Ia tidak lagi berada di ruang rapat mewah itu. Secara fisik ia masih berdiri di sana, memegang clicker presentasi, namun jiwanya terseret paksa ke sebuah malam hujan tiga tahun lalu. Bau aspal basah, bau besi terbakar dari mesin mobil yang hancur, dan suara jeritan yang terputus mendadak memenuhi indranya.

​Tangannya mulai gemetar hebat. Ia berusaha mencengkeram pinggiran podium kayu itu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berharap rasa sakit fisik di tangannya bisa menariknya kembali ke realitas. Namun, keringat dingin sudah membanjiri punggungnya. Napasnya menjadi pendek dan dangkal sebuah reaksi biologis klasik yang disebut fight-or-flight, namun dalam kasus Arkan, tidak ada yang bisa dilawan dan tidak ada tempat untuk lari.

​"Pak Arkan? Anda baik-baik saja?"

​Suara itu terdengar sangat jauh, seolah berasal dari dasar sumur. Arkan mengerjapkan mata. Fokusnya kembali sedikit. Ia melihat wajah-wajah bingung di depannya. Beberapa mulai berbisik. Di mata mereka, Arkan tidak lagi terlihat seperti pemimpin yang tangguh. Ia terlihat seperti seorang pria yang baru saja melihat hantu di siang bolong.

​"Saya..." Arkan mencoba bicara, namun suaranya pecah. Tenggorokannya terasa seperti tercekik oleh tangan tak kasat mata. "Saya butuh... udara."

​Tanpa penjelasan lebih lanjut, Arkan membalikkan badan dan berjalan keluar. Ia tidak peduli pada tatapan menghakimi, tidak peduli pada investasi bernilai miliaran yang mungkin hilang karena tindakannya. Ia hanya perlu menyelamatkan dirinya dari tenggelam di daratan. Ia berlari menuju tangga darurat, mendorong pintunya dengan kasar, dan jatuh terduduk di lantai beton yang berdebu.

​Di dalam kesunyian tangga darurat yang remang-remang, Arkan menyerah. Ia menekuk lututnya, menyembunyikan wajah di sela-selanya, dan membiarkan tubuhnya terguncang oleh serangan panik yang luar biasa. Setiap embusan napasnya terdengar seperti rintihan. Ini adalah titik terendahnya sebagai laki-laki. Ia merasa cacat. Ia merasa seperti produk gagal yang tidak seharusnya berada di ekosistem manusia normal.

​"Kenapa lagi?" raungnya dalam hati. "Aku sudah meminum obatnya. Aku sudah mencoba melupakannya. Kenapa kau masih di sini?"

​Pertanyaan itu tidak terjawab. Hanya ada detak jantungnya yang berpacu liar, mengingatkannya bahwa meski jiwanya ingin mati, tubuhnya masih berjuang secara primitif untuk hidup. Ia duduk di sana selama hampir satu jam, membiarkan waktu berlalu, membiarkan karier yang ia bangun selama bertahun-tahun hancur di lantai atas.

​Ketika badai di kepalanya mulai mereda, Arkan mengangkat wajahnya. Matanya merah dan sembap. Ia melihat bayangannya di pintu besi tangga darurat yang kusam. Pria di bayangan itu tampak hancur, namun ada sesuatu yang berbeda. Ada kemarahan yang mulai tumbuh di atas rasa takutnya. Kemarahan pada dirinya sendiri, kemarahan pada trauma yang memperlakukannya seperti budak, dan kemarahan pada dunia yang memaksa laki-laki untuk menyembunyikan luka mereka sampai luka itu membusuk dan menghancurkan mereka dari dalam.

​Arkan merogoh saku jasnya, mengambil ponselnya yang terus bergetar karena panggilan masuk yang ia abaikan. Ia menatap layar itu lama, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menonaktifkan perangkat itu.

​Ia berdiri, membersihkan debu dari celana kainnya yang mahal dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Ia tidak akan kembali ke ruang rapat itu. Ia tidak akan kembali ke kehidupannya yang lama. Jika sistem di kepalanya rusak, maka ia sendiri yang akan memperbaikinya. Ia tidak akan lagi menyebut ini sebagai kelemahan. Ia akan menyebutnya sebagai perang.

​Dan dalam perang, kau tidak hanya bertahan hidup. Kau harus menang.

​Arkan melangkah turun melalui tangga, selangkah demi selangkah. Setiap langkah kini terasa lebih berat, namun lebih nyata. Ia menyadari satu hal: sebelum ia bisa membantu orang lain, sebelum ia bisa membangun ekosistem apa pun, ia harus meretas traumanya sendiri. Ia harus membedah rasa sakit itu seperti ia membedah maket bangunan.

​Ia keluar dari gedung melalui pintu belakang, langsung menuju keramaian trotoar Jakarta yang panas dan berisik. Di tengah ribuan orang yang berjalan terburu-buru, Arkan merasa seperti hantu yang baru saja bangkit dari kubur. Namun, di antara kerumunan itu, matanya menangkap sesuatu. Seorang pria lain, duduk di bangku taman kota dengan posisi bahu yang sama persis dengan posisinya tadi—tegang, bungkuk, dan tangan yang mengetuk lutut dengan ritme kecemasan yang ia kenali.

​Arkan berhenti sejenak. Ia melihat cermin dari dirinya sendiri pada pria asing itu. Sebuah pemikiran melintas di benaknya: Laki-laki tidak boleh menangis, tapi laki-laki boleh saling menyelamatkan.

​Hari itu, Arkan kehilangan pekerjaannya, reputasinya, dan mungkin masa depannya di dunia korporat. Namun, di trotoar yang terik itu, ia menemukan sesuatu yang lebih besar. Ia menemukan misi pertamanya. Sebelum dunia menyebut ini semua sebagai trauma, ia akan menyebutnya sebagai awal dari sebuah revolusi mental yang dipimpin oleh mereka yang pernah hancur.

​Langkah Arkan kini tidak lagi ritmis seperti robot. Langkahnya kini memiliki tujuan yang baru. Ia berjalan mendekati pria asing di bangku taman itu, bukan sebagai seorang arsitek sukses, melainkan sebagai sesama pejuang yang tahu persis bagaimana rasanya tenggelam di tengah keramaian.

Lanjut membaca
Lanjut membaca