

Hujan turun deras seperti benang-benang tipis yang menggantung dari langit malam. Lampu patroli memantul di aspal basah, sementara garis polisi berkibar pelan tertiup angin dingin.Kompol Arga Dirgantara berdiri di tengah keramaian yang terasa sunyi. Diam, tegap, dingin seperti biasa. Dia pimpin unit kriminal di kota ini. Anak buahnya tahu betul, kalau Arga sudah fokus, jangan coba alihkan perhatiannya bisa kena marah polisi pendiam berusia 28 tahun itu. Pangkat Kompol dia capai karena cerdas, cekatan, dan tegas ambil keputusan.Korban malam ini pria sekitar 40 tahun. Luka tusuk di dada kiri, plus goresan dangkal di lengan. " Semoga .dokter uang di datang itu yang kompeten bukan dokter baru." Harap Arga dalam hati.
Bukan pembunuhan rencana matang, lebih kayak impuls emosional, buru-buru.Arga menyipitkan mata. "Tekanan lukanya nggak konsisten," gumamnya pelan."Komandan," panggil seorang polisi. "Dokter forensik datang."Arga tak langsung menoleh. Langkah tergesa tapi dipaksa profesional membuatnya angkat kepala. Bukan dokter senior biasa. Yang muncul wanita muda, jas hujan kebesaran nutupin setengah badannya.Wajah ramah tapi gugup. Cantik tanpa manja. Matanya tajam pasti cerdas, pikir Arga dalam hati. Di belakangnya, dokter senior mendengus kesal.Arga mengerutkan kening. "Maaf, dia dokter baru ya?""Iya, Kompol," jawab senior sambil paksa senyum. "Paulina Marcela, baru selesai koas dan baru sumpah dokter. Saya bawa buat belajar. Dia paling cepat analisis." Nada suaranya sindir dibungkus sopan.Paulina membungkuk kecil. "Selamat malam, Komandan." Cekatan, nggak ragu.Arga angguk singkat, nilai dia sekilas. Kulit Paulina pucat kena hujan, tapi tangannya stabil pas pakai sarung tangan. Terlalu tenang buat TKP pertama."Baik. Silakan lihat," perintah Arga pelan, tanpa basa-basi.Paulina berlutut di samping korban. Hujan guyur punggungnya, tapi dia cuek. Tangannya sentuh luka hati-hati, bibirnya gerak hitung sesuatu.Supervisornya nunggu salah langkah, wajah puas.Tapi Paulina angkat suara yakin. "Pelaku kenal korban."Arga angkat alis.
"Penjelasan.""Goresan awal ragu-ragu," tunjuk Paulina sayatan dangkal. "Kalau asing, langsung tusuk tanpa pola gini."Supervisor melotot kesal."Luka tusuknya emosional, bukan pro. Gerakan naik-turun di tepi, pelaku ragu sendiri," lanjutnya.Hening.Arga tatap dia lama. Koas baru, analisis sebersih ini? "Cerdas juga," puji Arga dalam hati. Keluarnya cuma, "Menarik. Lanjutkan."Paulina angguk. Rambut basah, mata tetap fokus. Ketenangan aneh buat koas.Atau... dia sembunyikan apa?Radio polisi bunyi. "Kompol, tim temuin sesuatu di mobil korban!"Arga tegap. "Bawa sini."Polisi muda datang bawa kantong bukti. "Amplop sama foto, Komandan."Arga buka. Foto jatuh kena angin. Paulina reflek ambil.Lihat foto itu, tubuhnya kaku.Arga perhatiin reaksi—lebih jujur dari kata-kata.Foto identitas Paulina. Lama, tanpa riasan, pandang lurus kamera.Paulina memucat. "Itu... foto saya. Tapi saya nggak kenal korban! Demi Tuhan!"Arga ambil foto. Lihat lama, lalu tatap Paulina. Pandangannya berat."Paulina," suaranya pelan tapi tajam. "Kenapa fotomu di mobil korban pembunuhan?""Saya nggak pernah lihat dia! Saya cuma ikut supervisi!"Supervisor ikut, "Kompol, dia baru rotasi—""Diam," potong Arga.Hujan makin deras. Lampu polisi pantul genangan.Arga dekati. "Sejak kapan kamu sadar diaikuti?""Saya nggak tahu pasti "" jawab Paulina. Tenang jawab."Dia telan ludah. "Saya beneran nggak kenal siapa pun yang simpan foto saya."Arga nggak lihat bohong. Tapi ketidaktahuan nggak hilangkan bahaya.Radio bunyi lagi.
"Kompol, amplopnya ada tulisan tangan. Daftar nama perempuan, banyak dicoret."Arga buka amplop. Daftar nama: dicoret merah, lingkar biru. Terakhir, PAULINA—dilingkar tiga kali.Dia tatap daftar, lalu Paulina. "Hari ini kamu nggak pulang."Paulina belalak. "Kenapa, Komandan?""Kemungkinan besar," Arga simpan amplop, "kamu target berikutnya."Polisi bersiap. Supervisor shock.Paulina tatap Arga, takut campur penasaran. "Saya tersangka?"Arga diam. Jawabannya rumit.Dia tatap lama, baca matanya. "Ikut saya.""Untuk apa?""Mulai malam ini, kamu dilindungi polisi. Sampai saya tahu kenapa namamu di amplop itu... kamu nggak lepas dari pengawasan saya."Angin hempas garis polisi. Sirene dengung jauh. Hujan deras.Paulina berdiri basah kuyup, tatap foto dirinya di tangan kompol dingin itu.Tak ada yang sadar: sosok di kejauhan amati dari bayangan. Menunggu. Mengintai. Malam pertama pembuka kegelapan lebih dalam.