

"Langit malam itu tampak gelisah. Awan bergerak cepat meski angin tak terasa di tanah, seolah-olah ada sesuatu di atas sana yang sedang menahan napas. Di sebuah rumah kayu kecil di tepi Desa Nirmala, seorang perempuan muda, Lestari, tengah berjuang menghadapi rasa sakit yang tak wajar.
“Bertahanlah, Tari,” ucap Bidan Nami yang duduk di sampingnya. “Aku belum pernah melihat kontraksi seperti ini. Jaraknya… terlalu dekat.”
Lestari menggigit bibir sampai hampir berdarah. “Anaknya… keras sekali. Rasanya seperti… hidup dan bergerak dengan caranya sendiri.”
Di luar rumah, puluhan warga berkumpul dengan raut gelisah. Mereka tak pernah mengalami malam selebat ini. Angin tiba-tiba berputar, membuat dedaunan berjatuhan seperti hujan kecil. Anjing-anjing menggonggong ke arah rumah, namun tak satu pun berani mendekat lebih dari lima meter.
Dan tepat ketika Lestari merintih panjang, bum!
Tanah di sekitar rumah bergetar.
“Gempa?! Tengah malam begini?” teriak salah satu warga.
Namun itu bukan gempa. Getarannya hanya terasa dari rumah Lestari—seolah berasal dari dalam.
Di ruangan itu, Lestari meremas kain selimut ketika kontraksi terakhir datang. Keringat bercucuran di wajahnya. Bidan Nami, yang sudah membantu ratusan kelahiran, tiba-tiba merasa ada energi ganjil mengalir di udara. Bulunya merinding.
“Dia keluar… dia keluar!” seru Nami.
Dan lahirlah seorang bayi laki-laki.
Tapi di detik itu pula, angin di luar meledak dalam putaran besar.
Dedaunan terhisap ke langit seperti spiral. Lampu-lampu minyak di rumah warga padam bersamaan. Burung hantu menjerit dalam nada panjang dan serempak. Sumur tua di tengah desa memercikkan air, seolah seseorang baru saja menjatuhkan batu besar ke dalamnya.
Kemudian… sunyi.
Hening begitu pekat, hingga terdengar jelas napas bayi yang baru lahir itu.
Lestari memaksakan diri untuk mengangkat kepala. “Anakku… bagaimana dia?”
Bidan Nami memandangi bayi itu dengan mata melebar. Tubuhnya kecil, tampak seperti bayi normal lainnya. Tapi matanya—yang seharusnya masih tertutup—telah terbuka sedikit. Dan di balik kelopak tipis itu, tampak kilauan keperakan seperti bias cahaya di air.
“Dia…” Nami harus menelan ludah sebelum melanjutkan. “Dia berbeda, Tari.”
Bayi itu tidak menangis.
Ia hanya mengerjapkan mata perlahan, menatap kosong ke langit-langit rumah. Dan setiap ia menghirup napas, minyak di lampu gantung bergoyang seperti hembusan angin halus yang berasal darinya.
Kabar kelahiran aneh itu menyebar ke seluruh desa. Banyak yang tak berani mendekat, tapi banyak pula yang penasaran. Pagi harinya, puluhan warga sudah berkumpul di halaman rumah Lestari.
“Katanya bayinya nggak menangis sama sekali?”
“Iya, tapi lampu-lampu minyak itu goyang terus waktu dia lahir.”
“Anak itu pasti pembawa tanda buruk.”
“Atau justru pembawa berkah?”
Ketika pintu dibuka dan ayah bayi itu, Karsa, muncul, semua terdiam. Wajah Karsa tampak pucat. Ia bukan tipe lelaki penakut, tapi malam tadi… ia melihat sendiri benda-benda bergeser ketika bayinya menggerakkan tangan.
“Anaknya di dalam?” tanya tetua desa.
Karsa mengangguk kaku. “Dia… masih tidur.”
Tetua itu meminta melihat. Karsa ragu, tapi akhirnya mengizinkan.
Ketika mereka masuk, bayi kecil itu terbaring di pangkuan Lestari.
Sejenak tampak tenang. Namun saat tetua desa mendekat, tiba-tiba kain selimutnya bergetar sendiri, seperti tertiup angin yang datang dari arah tubuh bayi itu.
Tetua desa mundur satu langkah, wajahnya pucat.
“Ini tanda yang tak boleh kita abaikan,” ucapnya pelan. “Anak ini telahir… sakti.”
Kata itu langsung menyebar. “Sakti?” “Anak sakti?” “Anak berbahaya?”
Desa yang sebelumnya hanya penasaran kini berubah menjadi takut.
Tiga hari setelah kelahiran, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi:
* Perabot ringan bergerak sendiri seperti bergeser beberapa sentimeter.
*Burung-burung enggan terbang melewati atap rumah Karsa.
*Air sumur kembali memercik tiap pagi saat bayi itu bangun.
Dan yang paling membuat warga resah:
Bayi itu sering menatap sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain, dan ketika ia melakukannya, bayangan di dinding bergerak seolah hidup.
Karsa mulai tidak tahan. “Tari… bagaimana kalau kita bawa dia keluar desa? Ke kota? Ke tabib?”
Lestari marah. “Dia anakmu!”
“Dia bukan bayi biasa!”
Sunyi setelah itu terasa menyesakkan.
Suatu malam, ketika hujan turun deras, bayi itu menangis untuk pertama kalinya.
Tapi tangisnya… bukan seperti tangis bayi umumnya.
Saat ia menangis:
*Hujan di atap tiba-tiba berhenti sejenak.
*Bunyi petir yang tadi berkali-kali… mendadak sunyi.
*Lampu minyak padam, lalu menyala lagi tanpa disentuh.
*Karsa yang sedang berjaga nyaris menjatuhkan kursi.
Lestari memeluk bayi itu erat-erat. “Raka… Raka… tenang, Nak.”
Dan itulah pertama kalinya nama bayi itu disebut: Raka.
Setelah beberapa menit, tangisnya mereda. Hujan kembali jatuh normal. Rumah tak lagi gelap. Kain lampin berhenti bergetar.
Namun dari celah jendela…
Ada sepasang mata gelap memperhatikan rumah itu.
Mata yang bukan milik manusia.
Malam itu, untuk pertama kalinya, dunia bayangan mengetahui bahwa anak kelahiran sakti telah lahir.
Dan perburuan pun dimulai.