Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aplikasi Takdir

Aplikasi Takdir

Ryan Saeba | Bersambung
Jumlah kata
80.4K
Popular
951
Subscribe
173
Novel / Aplikasi Takdir
Aplikasi Takdir

Aplikasi Takdir

Ryan Saeba| Bersambung
Jumlah Kata
80.4K
Popular
951
Subscribe
173
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDunia Masa DepanTeknologiMengubah Nasib
Hidup Hadi berubah ketika sebuah aplikasi misterius muncul di ponselnya. Aplikasi Takdir menawarkan satu keinginannya setiap misi nya selesai—apa pun, tanpa batas. Semua terlihat sempurna… sampai Hadi menyadari bahwa setiap keinginannya selalu dibayar oleh kemalangan orang lain. Ketika ia mencoba berhenti, aplikasi justru mengancam akan memilihkan keinginannya sendiri. Terjebak dalam siklus berbahaya, Hadi harus mencari cara memutus hubungan dengan aplikasi itu sebelum orang-orang yang ia cintai ikut menjadi korban. Namun untuk keluar, ia harus membuat satu keinginan terakhir—yang menuntut harga paling besar dalam hidupnya.
1. Hadi

Siang itu cuaca cerah, mentari seakan menerangi bumi dengan keramahannya, tanpa ada terik yang membuat kulit terbakar, awan juga bersahabat, menutupi langit dengan anggunnya.

Disebuah rumah yang sangat sederhana hiduplah satu keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan 2 orang anaknya, rumah yang menggambarkan kehidupan sebuah keluarga yang jauh dari kata tidak mampu. Rumah yang juga tidak milik mereka, cuma rumah kontrakan yang sangat murah.

Hadi nama kepala keluarga di rumah tersebut, mempunyai istri yang bernama Dinda dan sudah memiliki anak laki-laki dua orang, yang paling besar Andre baru berumur 4 Tahun, dan adiknya Satria yang baru berumur 1 tahun.

Hadi dulunya merupakan seorang karyawan honorer di kantor Bupati, namun karena ada pengurangan karyawan Hadi kurang beruntung, namanya adalah salah satu dari 24 orang yang diberhentikan ketika itu.

Sejak itu Hadi hanya bekerja ketika ada yang mengajak bekerja, terkadang juga jadi calo pengurusan dokumen, pekerjaan yang tidak menentu membuat keluarga itu sering berada di situasi tidak aman dan berkekurangan.

"Bang, kamu gak coba cari kerja lagi?" Tanya Dinda siang itu kepada Hadi.

"Din, bukannya abang gak mau cari kerja lagi, sekarang kan kamu tau, untuk bekerja harus ada batas umurnya, kebanyakan dibawah 30 tahun, sedangkan umur abang sekarang 32 Tahun".Jawab Hadi

" Tapi apa salahnya berusaha kan Bang". Saran Dinda

"Percuma juga berusaha Din, jika peluangnya gak ada". Ujar Hadi

" Ga ada yang percuma Bang, kalau kita mau berusaha, pasti ada hasil". Ucap Dinda

"kamu gak lihat selama ini Abang berusaha?, Abang nelponin temen, abang buka medsos cari lowongan, dan usaha lainnya". Agak meninggi suara Hadi menanggapi ucapan Dinda itu.

Dinda hanya bisa diam, suara Hadi sudah meninggi, dan jika masih dijawab oleh Dinda bukan tidak mungkin mereka akan berantem.

Memang semenjak pemecatan itu Hadi dan Dinda sering sekali berdebat, dari hal kecil sampai hal yang besar, setiap hari ada saja yang membuat suasana rumah itu menjadi panas.

Hadi menyulut rokoknya, dan menghisap rokoknya dalam - dalam. sebuah hisapan yang seakan menarik semua beban di kepala nya. Hadi tau keluarga itu butuh banyak biaya, Andre masih minum susu formula, Satria juga butuh asupan gizi yang baik. Namun kondisi pekerjaan di daerah itu seakan tidak bersahabat dengan orang yang sudah berumur, setiap ada lowongan pasti umur dibatasi, atau kalau tidak ada syaratnya fresh graduate.

Hadi melihat Andre yang sibuk dengan sepeda kecilnya yang dulu dibeli ketika Hadi masih karyawan honorer. kemudian matanya memutar dan melihat Satria yang masih belum tau apa-apa tapi seakan sudah diberi beban keluarga itu.

Sementara itu, Dinda juga sedang berpikir keras, bagaimana bisa dia membantu keuangan rumah tangga nya itu. Dinda punya pendidikan yang tinggi juga, dia lulusan Universitas ternama, jurusan Gizi.

Dulu sebelum menikah dengan Hadi, juga pegawai honor di Dinas Kesehatan, namun karena mengikuti suami maka Dinda harus rela berhenti dari pekerjaannya, sedangkan di kota tempat tinggal mereka Dinda tidak banyak kenal orang yang bisa membantunya untuk kembali bekerja.

tet... teettt.. teeett...zzrrr.... zzrrrr...

Handphone Hadi berbunyi

HP yang tidak jauh darinya diraih dengan tangan kanannya, dilihatnya nomor yang menelpon.

"Tidak dikenal".

Hadi menggeser tombol answer di HP itu keatas.

"Hallo, assalamualaikum". Ucap Hadi sambil mendekatkam HP itu ke telinganya.

"Waalaikumsalam, betul ini dengan Pak Hadi?". terdengar suara Bapak-Bapak di seberang sana.

"Betul, ini dengan siapa ya?" Tanya Hadi.

"Saya Pak Heru, saya dapat nomor Pak Hadi ini dari Pak Irwan". Jawab orang yang diseberang sambil menjelaskan identitasnya.

"Oh ya Pak Heru, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Hadi kemudian.

"Iya Pak Hadi, ini saya mau membuat perusahaan, perusahaan yang bergerak di bidang distributor makanan, jadi saya mau minta bantuan Pak Hadi untuk menguruskan izin dan yang lainnya untuk perusahaan saya itu". Terang Pak Heru.

"Oh baik Pak, bisa Pak, kapan kita bisa ketemu Pak? untuk saya minta berkas, dan yang lainnya". Ucap Hadi dengan senyuman. Dalam pikirannya ada kegembiraan yang tak terhingga, ada bayangan uang yang akan didapatkannya.

"Pak Hadi kapan bisanya?". Tanya Pak Heru

" Kalau saya terserah Pak Heru saja, kapan dan dimananya". Jawab Hadi.

"Kalau sekarang gimana Pak?" Pinta Pak Heru.

"Bisa pak, bisa... dimana Pak? biar saya langsung kesana". senyuman kembali tersungging di bibir Hadi.

" Saya tunggu di lokasi kantor saja Pak, saya sudah ada kantornya, cuma izinnya belum ada". Jawab Pak Heru.

"Baik Pak, saya langsung kesana, Bapak share lokasi saja ya,". Ucap Hadi

"Baik Pak Hadi, saya tunggu" Ucap Pak Heru.

Assalamualaikum

waalaikumsalam

HP dimatikan oleh Hadi, kemudian Hadi langsung berganti pakaian dan menyisir rambutnya yang tak panjang itu.

"Din, Abang pergi dulu yaaa, ada yang mau mengurus izin perusahaannya, Alhamdulillah ada uang masuk". Ucap Hadi sambil melangkah keluar kamarnya.

" Iya Bang, Alhamdulillah ya Bang, baik-baik dijalan". pesan Dinda.

kemudian Dinda mencium tangan suami nya sebelum pergi. Hadi langsung mengambil kunci sepeda motornya di meja ruang tamunya dan keluar menuju sepeda motornya yang terparkir di depan rumah.

Setelah menghidupkan sepeda motornya, Hadi melihat share lokasi yang dikirimkan oleh Pak Heru tadi dan melihat sekilas, dan dia sudah tau kemana arahnya dan lokasinya.

Sepeda motornya digas pelan dan meninggalkan rumahnya, diperjalanan Hadi memikirkan apa saja yang akan diurus olehnya untuk dokumen Pak Heru tersebut, dan juga memikirkan dan menghitung biaya yang akan dimintanya.

Lebih kurang 20 menit Hadi sudah sampai di lokasi yang sudah ditentukan itu, sebuah bangunan seperti gudang yang cukup besar terlihat dari jalan, kemudian Hadi memasukkan dan memarkirkan sepeda motornya di parkiran yang sudah disediakan. Kemudian melangkah menuju pintu masuk kantor tersebut. Dari luar memang seperti kantor, namun belum ada plang nama dan juga seperti belum ada aktivitas.

Baru saja Hadi akan membuka pintu kantor tersebut, muncul seorang laki-laki paruh baya, ditaksir umurnya sekitar 50 tahunan.

"Pak Hadi ya?" Tanya Bapak-Bapak itu

"Iya Pak, ini pasti Pak Heru ya? " Tanya Hadi sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Betul Pak Hadi, saya Heru". Jawab Pak Heru sambil menyambut salaman dari Hadi.

"Ayo kita masuk dulu Pak Hadi". Ajak Pak Heru sambil membukakan pintu kantor.

"iya Pak". Jawab Hadi sambil melangkah masuk. Setelah berada di dalam kantor itu, Hadi melihat sekeliling, dan suasana di dalam nya sudah suasana kantor, dengan beberapa meja yang sudah ditata rapi, dan beberapa lemari juga. Namun belum ada karyawan yang terlihat, ketika Pak Heru masuk ke ruangannya, didalam ruangan itu ada 3 orang yang sedang duduk, kelihatan sedang merapikan arsip dan berkas.

"Silahkan duduk dulu Pak Hadi". Ajak Pak Heru sambil mempersilahkan Hadi duduk di sofa ruangan tersebut.

"Makasih Pak". Jawab Hadi sambil langsung duduk di sofa tersebut.

Kemudian Pak Heru duduk juga di hadapan Hadi.

"Bapak mau minum apa?" Tanya Pak Heru.

"Apa aja deh Pak". Jawab Hadi sungkan.

" Mel, tolong dibuatin Teh untuk Pak Hadi ya". perintah Pak Heru kepada salah satu karyawannya.

"Baik Pak". jawab wanita yang dipanggil Mel itu sambil berlalu ke bagian belakang.

" Jadi apa saja yang harus saya siapkan Pak?" Tanya Pak Heru.

"Ini pak, sebelum nya saya mau nanya, ini perusahan berupa apa? PT kah atau CV atau yang lainnya?" Tanya Hadi detail.

"Rencana nya sih PT pak,". Ucap Pak Heru.

" oh baik Pak, untuk PT, tentu saya perlu beberapa berkas Bapak. antara lain KTP direksi, Dan laporan struktur, serta juga laporan keuangan awal." ucap Hadi.

"Nah itu dia Pak Hadi, saya gak bisa buat itu. Gimana dong?" Tanya Pak Heru.

"ga papa Pak, nanti biar saya bantu buatin, tolong saja catat nama perusahan dan siapa saja yang akan dicantumkan di izinnya nanti". terang Hadi.

"terus untuk biaya nya berapa Pak?". Tanya Pak Heru.

" Untuk berkas lengkap semua saya yang bikin dan urus sekitar 9jutaan Pak, itu Pak Heru udah duduk tenang saja dirumah, maksimal 3 hari kelar semuanya Pak". terang Hadi.

"Baik Pak Hadi, untuk sekarang saya bayar 1 juta dulu gak papa kan? sebagai uang jalan aja dulu, besok kalau ada yang mau dibayarkan kasih tau saya saja, biar saya transfer ya". Ucap Pak Heru.

Senyuman manis tersungging di bibir Hadi kembali, mendengar ada uang yang akan diterima nya itu bak menemukan sebuah oase di tengah gurun pasir yang tandus.

Lanjut membaca
Lanjut membaca