

Arman Wiraatmaja melangkah tegas dengan rahang mengeras. Napasnya sampai terdengar seakan terengah marah. Wajahnya merah padam menahan murka. Dasinya belum sempat ia lepaskan, namun keringat yang menetes sudah menempel di kerah kemejanya.
“Aldric!” Ia berteriak nyaring. Tak lama berselang yang datang malahan pembantu nya.
“Maaf Pak Arman, Mas Aldric ada diruang game. Apa perlu saya panggilkan?”
“Nggak usah Mbok. Biar aku ke sana sendiri.” Dengan langkah tegas dia datangi ruang game yang biasa dipakai putranya. Dari depan pintu terdengar berisik musik yang terdengar keras. Dengan satu hentakan keras, ia membuka pintu.
“Aldric?” mata Armand melotot begitu melihat putranya itu tengah tertawa lebar bersama tiga temannya sambil memegang sebuah drone yang sudah patah salah satu baling-balingnya.
Armand mengepalkan tangannya. Apa lagi yang dia rusak hari ini…?
“Papa,” Aldric menoleh dengan santai tapi tidak dengan ketiga temannya. Mereka merasakan aura kemarahan seorang Arman Wiraatmaja.
“Matikan musiknya ! Sekarang!”
Musik langsung berhenti. Tiga teman Aldric saling pandang.
“Dric kita pulang ya. Gak enak nih,” bisik Revan dan ia bersama dua orang lainnya perlahan menyelinap keluar melewati Pak Arman dengan penuh rasa takut. Aldric, yang masih mengenakan seragam sekolah kusut, hanya menyeringai cuek.
“Ada apa lagi, Pa? Wali kelas telepon? Kepala sekolah ngamuk? Biasa lah. Mereka memang lebay.”
Arman melangkah maju. “Lebay? Kau menjatuhkan drone dari lantai tiga sekolah hanya untuk menakut-nakuti siswa baru, itu kau anggap lebay?”
Aldric tertawa kecil. “Itu cuma percobaan. Lagian yang di bawah kan lapangan kosong.”
“Lapangan kosong?” Suara Armand kembali meninggi. “Itu hampir menimpa seorang guru olahraga, bodoh!”
Aldric mengangkat bahu dengan perasaan tak bersalah. “Tapi nggak kena, kan?”
Arman menutup wajahnya dengan, frustrasi.
“Ya Tuhan.” Arman mengeluh sendiri. “Aku sampai malu Aldric. Teman-teman mu dipanggil karena berprestasi tapi ini, aku datang kesana hanya dilapori karena kelakuan nakal mu.”
“Lihat itu!” ia lempar map merah tadi. Map yang bukan berisi catatan nilai pelajaran tapi lebih ke kumpulan catatan kenakalan putranya selama disekolah.
Aldric mengangkat map itu asal-asalan. Isinya laporan pelanggaran sekolah: coretan, skorsing, surat peringatan. Lengkap sekali.
“Kau berkelahi dengan ketua OSIS! Kau lempar bangku, Aldric! Lalu kau hancurkan loker dengan kaki!”
Aldric mengangkat satu alis, seolah itu bukan hal besar.
“Kevin duluan, Yah. Dia ngatain klau aku punya mama yang penyakitan. Masa Aldric harus diam?”
Ekspresi Arman memucat sejenak, tapi amarahnya kembali menajam.
“Bagaimana dengan merokok di belakang gedung sekolah? Bagaimana dengan video kau menantang guru olahraga berkelahi? Dan bagaimana dengan insiden kau menyemprot CCTV sekolah pakai cat hitam karena ‘iseng’?”
Aldric hanya tersenyum tipis. “Yah, namanya anak remaja Pa. Seru aja.”
Arman menepuk meja keras. Selalu saja ada jawaban.
“SERU? Aldric, sekolah hampir mengeluarkanmu! Kau hanya diberi satu kesempatan—satu! Dan ayah tidak akan menunggu sampai kau ditahan polisi!” Ancamnya. Tapi Aldric tetap santai. Seolah ucapan ayahnya itu masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
“Kamu itu kenapa sih, gak bisa ya kalau sehari saja gak bikin ulah. Laporan kenakalan mu itu banyak.”
“Bu Ratna juga lapor kalau kemarin kamu memecahkan kaca laboratorium fisika karena—apa kata Bu Mira tadi—kau mencoba membuat ‘bom mentos’ dalam botol kaca?”
Aldric tersenyum bangga. “Oh itu. Itu eksperimen kecil, Pa. Harusnya mereka berterima kasih karena punya murid sekreatif aku.” Jawabnya santai.
“Kreatif dari mana?Eksperimen mu membuat tiga murid terluka kena pecahan kaca!”
Aldric terdiam sebentar, lalu mencoba kembali santai. “Ya kan cuma lecet. Lebih dramatis dari pelajaran mereka yang membosankan.”
Arman cuma bisa geleng-geleng kepala. “Bisa tidak sih kamu bertanggung jawab sedikit sebelum melakukan hal-hal konyol?"
Dia menatap putranya dalam-dalam, matanya penuh kecewa.
“Aku dipanggil tadi, bukan untuk diskusi… tapi untuk peringatan terakhir sebelum kau dikeluarkan dari sekolah. Camkan itu.”
Aldric berdiri, memasukkan kedua tangan ke saku celananya, wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
“Sudah biasa, Pa. Nanti tinggal pindah sekolah. Beres kan.”
Arman mengetukkan jarinya ke kening putranya dan dengan tegas mengambil keputusan.
“Pindah sekolah? Enak sekali kamu ngomong.
“Tidak! Kau pikir semua bisa diselesaikan dengan uang? Dengan nama keluarga kita? Kau pikir semua orang harus tunduk padamu?”
Aldric memalingkan wajah. “Sudahlah Pa, semua akan baik-baik saja. Mereka tak akan berani mengeluarkan ku. Mereka segan sama Papa.”
“Tidak, Aldric!” Suara Arman kini pecah antara marah dan sedih. “Kau sudah melewati batas. Guru-guru takut, murid-murid resah, dan namamu sudah di catatan hitam sekolah.”
Arman menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada paling dingin yang pernah Aldric dengar.
“Mulai besok pagi, kau pergi. Kau akan tinggal di Desa Beringin Wana untuk sementara.”
Aldric menatap ayahnya tak percaya. “Ke desa? Ke rumah Kakek Jatmiko? Yang bahkan nggak punya sinyal Wi-Fi? Come on Pa.”
“Ya,” jawab Arman tanpa ragu. “Di sana kau akan belajar arti disiplin, kerja keras, dan hidup apa adanya. Mungkin pamanmu bisa mengajarimu sesuatu yang aku sudah gagal berikan.”
Aldric terkekeh, mencoba menutupi rasa tak nyaman.
“Papa bercanda, kan? Aku punya turnamen game minggu depan. Dan...“
“Persetan dengan turnamen game. Tidak ada tapi, Aldric!”
Arman menarik napas panjang seakan sudah tidak ada amarah tersisa, hanya keputusan.
“Pokoknya besok, kau pindah ke desa kakekmu.”
Aldric cuma memandang kesal ke arah orang tuanya itu.
“Kamu dengar Aldric, ” Arman menatap lurus ke mata putranya. “Desa Beringin Wana. Desa tempat ibumu lahir. Kau akan tinggal di sana selama liburan. Kau akan bekerja, membantu di kebun. Tanpa gadget, tanpa kebut-kebutan motor, tanpa teman gengmu.”
Aldric berdiri, suaranya meninggi. “Aku bukan anak kecil! Itu desa terpencil, Pa! Papa tak bisa memperlakukan aku seperti ini!” ia setengah berteriak seolah menuntut keadilan.
“Justru itu!” Arman membentak balik. “Kau akan belajar hidup tanpa masalah, tanpa kelakuan bodoh mu itu. Kau pikir hidup hanya tentang gaya bad boy? Di desa, kalau kau berulah, alam sendiri yang menghukum mu!”
Aldric mengepalkan tangan. “Papa otoriter!”
Arman mendekat, menatapnya tajam.
“Papa punya semua hak. Termasuk berbuat otoriter pada kamu. Karena kalau ini tidak dilakukan… kau akan menghancurkan masa depanmu sendiri, dan kau akan menghancurkan perasaan mamamu.”
Aldric langsung terdiam.
Menyebut ibunya—Larisa—adalah sesuatu yang selalu bisa menghentikan amarah Aldric.
Ibunya sedang sakit, dan kondisi itu semakin parah belakangan.
“Kau bikin Mama mu sedih, Aldric.” suara Arman melembut, namun tetap kuat. “Tak kau pikir kan jauh- jauh gimana kalau mamamu jatuh sakit jika sampai membaca laporan kenakalan mu. Kau mau lihat dia semakin terpuruk? Lagi sakit dan kau sebagai anaknya, mencoreng namanya?
Aldric tak bisa menjawab.
Suara Arman lanjut menggema di seluruh rumah.
“Besok pagi jam lima kamu harus sudah siap. Tidak ada diskusi. Kalau kau melawan, aku tidak akan menjemputmu pulang. Anggap saja ini hukuman atau… kesempatan terakhir.”
“Oh iya, berikan kartu ATM mu sekarang. Dan handphone mu”
“What?” seketika itu kening Aldric berkerut dalam. “Tapi Pa...” ia mencoba bernegosiasi. Tapi tangan papanya yang terulur dengan wajah dingin membuatnya menarik dompet dari saku celananya. Ia keluarkan dua kartu ATM miliknya. Tak lupa benda kesayangannya itu. Pengisi hari-hari suntuknya. Sudah bisa dipastikan dia tak akan bisa bermain game.
Ketegangan memenuhi ruangan. Wajahnya jadi cemberut. Aldric merasakan dadanya memanas. Merasa papanya berbuat tak adil.
Ia ingin berteriak, tapi kata-kata ayahnya memotong segala niat itu.
“Kau pikir hidupmu sudah berat? Di desa… kau bahkan belum mengenal takut yang sebenarnya.”
Kalimat itu membuat Aldric mendongak.
“Apa maksud Papa?” tanyanya dengan nada tak suka..
Arman menatapnya lama, seolah hendak mengatakan sesuatu, tapi menahan diri.
“Besok kau akan mengerti.”
Aldric terdiam. Ada ketidaknyamanan yang merayap perlahan ke punggungnya. Perasaan gelap yang tidak bisa ia jelaskan.
Hening jatuh. Aldric memalingkan wajah, menahan rasa marah dan terguncang yang bercampur jadi satu.
Sedang Arman berjalan menuju tangga, namun sempat berhenti sejenak.
“Kau pikir papamu ini menghukum mu. Padahal… itu satu-satunya cara menyelamatkanmu.”
Langkah ayahnya perlahan menjauh.
Aldric berdiri sendirian, dengan map merah di tangan dan amarah yang membara di dadanya.
Ia mengepalkan tangan.
“Ke desa? Baik. Tapi jangan salahkan aku kalau desa itu yang akan porak-poranda.”