

Di kantin SMA negeri Westholm, Kael dan kedua sahabatnya sedang menikmati makan siang mereka. Kaki kanan Kael ia angkat, dengan santai menikmati nasi goreng di hadapannya.
"El, bagi dong kerupuk lo. Pelit amat lo, el!" kata Raveno dengan mengerutkan bibirnya merajuk.
Kael melengos malas."Pesen lah lo sendiri." Kael masih menikmati nasi gorengnya.
Raveno semakin merajuk, dirinya sangat malas untuk beranjak, kembali memesan kerupuk. Tak lama ia memiliki sebuah ide cemerlang untuk mengelabuhi Kael.
"El, Rhea tuh Rhea!"
"Hah?! manaa!" Kael langsung celingak-celinguk mencari sosok gadis yang selalu membuat pikiran dan hatinya tidak tenang itu.
Seketika gelak tawa Raveno menggema, ia berhasil mengambil sebungkus kerupuk milik Kael. Kael kembali memutar kepalanya menatap ke arah Raveno, menatap tajam sahabatnya itu.
Raveno menyengir memperlihatkan deretan giginya." Thank, kerupuknya!" katanya tanpa berdosa.
"Sialan, lo bohongin gue pake nama Rhea!" Kael berkata dengan ketus, ia tak memperdulikan kerupuknya, kembali menyuapkan nasi gorengnya dengan kasar.
"Emang hubungan lo sama dia sekarang gimana?!" Narel, ikut menyahut saat tak mendengar keributan lagi dari mulut Revano.
Kael menghembuskan napasnya dalam." kagak tau, masih belum ada kemajuan." katanya terlihat memprihatinkan." Belum juga jadian, udah renggang aja!" lanjutnya menjelaskan.
"Lo kelamaan kali ga confes-confes ke dia!" sahut Revano.
"Bukan ga mau confes, dia selalu ngehindar kalo gue mau confes ke dia."
"Jangan-jangan dia emang ga suka sama lo, el." kata Narel santai.
Kael membuka mulutnya, ia menatap dengan wajah yang tak bersahabat. bisa-bisanya kedua sahabatnya ini selalu tidak berpihak padanya, ia jengah mendengar orang-orang yang mengatakan bahwa Rhea tidak menyukainya.
Meskipun ia juga selalu merasa bahwa Rhea memang tidak jatuh cinta padanya, sudah sejak masuk sekolah Kael jatuh cinta pada gadis itu, namun sekarang malah sudah semester akhir kelas 12.
sebentar lagi akan lulus, namun dirinya masih tidak bisa mendapatkan cinta Rhea.
"Dia selalu ngga pernah mau ngomong alasan kenapa selalu nolak gue!" Kael menghembuskan napasnya pasrah.
"Coba lo ngomong baik-baik sama dia, sebelum terlambat dan lo nyesel sendiri." usul Narel.
Di antara ketiganya memang Narel yang paling bijak, meskipun Kael juga dewasa dan pintar, namun kadangkala pemuda itu lebih sering bercanda karena memiliki kepribadian yang humoris.
Kael merebahkan kepalanya di atas meja kantin, pandangannya menatap ke arah pintu masuk kantin. Ia masih belum melihat Rhea masuk, padahal jam masuk kelas kedua sudah akan berbunyi.
"Abis makan tuh minum dulu, el. Ga baik buat kesehatan jantung lo!" ujar Revano.
"Halah! sok bijak lo." sembur Kael dengan langsung beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?!" Narel ikut menyahut kala melihat Kael ingin meninggalkan kantin.
"Nyari Rhea!" katanya tanpa menoleh.
Pemuda itu langsung melangkah dengan mantap keluar kantin. Memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Tatapan penuh damba tak lepas dari beberapa siswi-siswi yang mengidolakan Kael. Pemuda itu memang memiliki wajah yang tampan, rahang dan bentuk hidung yang bagus.
Siapa gadis yang tidak tertarik dengan pesona Kael ini, meskipun mereka tau bahwa Kael bukan berasal dari keluarga terpandang.
Mereka tidak peduli itu.
"Khm!" Kael berdehem singkat, ia tahu bahwa dirinya selalu menjadi pusat perhatian." Kalian ada yang liat Rhea?!" tanya pemuda itu menghentikan sesaat langkahnya di depan salah satu gadis yang berdiri di perbatasan koridor.
Gadis itu tersenyum cantik, dirinya baru pertama kali di sapa oleh Kael meskipun hanya menanyakan soal Rhea.
"E-euh itu, mungkin dia di taman belakang sekolah, biasanya dia di sana kan!" katanya sedikit terbata.
Kael baru teringat bahwa Rhea memang sering pergi ke taman belakang sekolah untuk mengulang pelajarannya.
"Oke, thank. Infonya!"
Kael langsung kembali membalikkan tubuhnya, ingin pergi untuk menemui Rhea.
"Eh, el. Tunggu!" Gadis itu menghentikan langkah Kael.
Kael menaikkan sebelah alisnya, tidak mengatakan apapun, hanya berdiri dengan masih memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Lo kan udah tau soal Rhea, bonusnya nomor hp lo dong!" katanya.
Kael sudah menduganya sejak awal, ia tahu bagaimana gadis-gadis ini dalam mengejarnya.
"Sorry, ponsel gue udah di jual!"
Gadis itu mendongak dengan ekspresi sedikit terkejut." Kenapa di jual, el?!"
"Buat beli beras. Ga mungkin kan gue minta makan sama lo!" katanya langsung kembali melanjutkan langkahnya.
Gadis itu terdiam sesaat. Ia menatap punggung Kael yang semakin mengecil di pandangannya. Meskipun Kael tidak malu memperlihatkan keadaannya, namun dari para gadis itu sama sekali tak ada yang merasa ilfil dengan Kael.
"Kayaknya gue harus beliin dia hp baru deh, jel!" katanya pada sahabatnya.
"Dari gue aja, biar pemberian gue yang dia pake nanti!"
Gadis itu melototkan matanya." heh! Lo tuh sahabat gue ya, pake nimbrung lagi pengen deketin Kael." katanya sewot, langsung melangkah pergi meninggalkan sahabatnya itu.
~
Kael sampai di taman belakang sekolah, ia bisa melihat Rhea yang sedang duduk di bawah pohon besar di sana.
Langkah kaki Kael sama sekali tak membuat gadis itu terganggu, gadis itu masih fokus pada buku pelajaran di tangannya.
"Sibuk banget sampe ga datang ke kantin!"
Mendengar suara yang begitu Familiar di telinganya, Rhea memutar tubuhnya ke belakang.
"Kenapa kamu kesini?!" katanya bertanya.
"Ngga boleh gue kesini?!" Kael malah balik bertanya, ia mendudukkan dirinya di samping gadis itu.
Rhea menunduk pelan." boleh." katanya.
Gadis itu kembali pada buku pelajarannya, menyuekan Kael yang sedang menatap ke arahnya.
"Belajar terus, sampe lupa kalo ada yang ganteng di sini!" Kael menghembuskan napasnya mendongak menatap langit.
Rhea langsung terdiam, ia menatap Kael sebentar kemudian kembali pada buku di tangannya." Ujian bentar lagi jadi harus fokus belajar!" katanya.
"Masih lama. kita aja baru masuk, masih enam bulan lagi buat ujian Nasional!"
Rhea tak menjawab, yang dikatakan Kael memang benar adanya.
"Udah lebih dari seminggu kita masuk sekolah abis libur panjang, selama seminggu itu kenapa ngga pernah nyapa aku lagi, Rhea?!" Kael bertanya dengan lembut, nada suaranya masuk dengan halus ke telinga Rhea.
namun, suara lembut itu seakan menancap di hati Rhea seperti duri.
"Itu mungkin cuman perasaan kamu aja!" kata Rhea membuang pandangannya ke arah lain.
Kael kembali menghembuskan napasnya." Kita udah kenal hampir tiga tahun, apa yang ngga aku tau soal kamu, re!" Kael menatap dalam, menatap mata indah Rhea yang sama sekali tak menatapnya." Kenapa? bokap kamu kasar lagi? dia masih nekan kamu supaya mendapatkan nilai 100? dia masih lukain tubuh kamu, hm?!"
Rhea memutar kepalanya menatap Kael, matanya sudah memanas menahan tangis yang ingin pecah saat itu juga.
"A-aku.. dijodohin sama papa!"
***
Selamat menikmati bab pertama ini, semoga sukaa!!