

"Ada nih kerjaan, mau?"
Rangga yang sudah lelah mencari selama beberapa hari terakhir menoleh cepat ke arah suara, lalu mengangguk tanpa menunggu lama.
"Kerjaan apa, Bang? Aku mau apa aja yang penting bisa cari uang buat biaya berobat ibu," ujarnya penuh kesungguhan.
"Besok kerja kuli bangunan di seberang kantor pos, datang aja langsung ke sana sebelum jam 08.00 pagi." Janu, pria yang merupakan tetangga jauh Rangga itu berkata singkat, lalu melangkah pergi.
Rangga tersenyum lega setelah mengangguk. "Akhirnya dapet kerjaan, berapapun gajinya mudah-mudahan cukup untuk makan terus kumpulin buat biaya berobat ibu," gumamnya dengan wajah lega.
Rangga bangkit dari pinggir jalan, melangkah penuh semangat menuju arah pulang. Sudah dari siang dia meninggalkan ibunya, mengatakan kalau dia sudah dapat pekerjaan pasti akan membuat wanita itu bahagia.
***
Pukul setengah tujuh pagi. Udara kota masih terasa dingin dan lembap, bercampur bau asap kendaraan yang mulai merangkak di kejauhan. Rangga berdiri di ambang pintu kontrakannya yang sempit, tas usang tergantung di bahunya.
Pakaiannya kaos lusuh dan celana denim, sudah siap berhadapan dengan debu dan semen.
Sejenak dia menoleh ke dalam. Di balik tirai tipis, terdengar suara batuk pelan. Ibunya, Bu Wati, telah sakit-sakitan sejak setahun terakhir.
Rangga mendekati kasur busa tipis, tempat ibunya terbaring. “Ibu?” bisik Rangga, suaranya berusaha selembut mungkin.
Bu Wati membuka mata perlahan, senyum tipis terukir di wajahnya yang mulai keriput.
“Kamu sudah mau berangkat, Rangga? Makan dulu rotinya, Nak.”
“Sudah, Bu. Sedikit,” balas Rangga, mengambil tangan Bu Wati yang dingin.
Tangannya yang besar dan kuat menggenggam tangan ringkih ibunya. Ajaibnya, batuk Bu Wati mereda sejenak. Kehangatan yang tidak wajar menjalar dari tangan Rangga ke ibunya, memberikan Bu Wati ketenangan sesaat.
“Kamu hati-hati di jalan, ya, Nak,” kata Bu Wati, suaranya serak. “Ingat, Rangga. Jangan pernah menyerah. Kamu pasti bisa menemukan pekerjaan yang pas, yang bisa menjamin masa depanmu dan mengobati Ibu.”
Rangga mengangguk, mencium tangan ibunya dengan janji yang berat. “Iya, Bu. Doakan ya? Hari ini kayak yang aku bilang semalam, aku bakal coba di proyek konstruksi seberang kantor pos. Semalem Bang Janu yang nawarin, aku bakal masuk hari ini," jelasnya lagi.
Bu Wati tersenyum. "Yaudah, hati-hati ya? Jaga kepercayaan supaya kamu tetap dipake orang."
"Iya, Bu. Aku pamit dulu."
Rangga mencium tangan ibunya, pergi dadi rumah menuju lokasi kerja.
***
Setelah beberapa saat Rangga ditanya oleh mandor, dia akhirnya diterima dan mulai bekerja.
Rangga sangat senang karena tahu, gaji harian di proyek konstruksi adalah satu-satunya harapan cepatnya untuk membayar kontrakan yang menunggak dan membeli obat.
Pergi bekerja hari ini terasa seperti memikul seluruh beban kehidupan di pundaknya. Terlebih lagi, ini pertama kalinya Rangga kerja bangunan setelah dia lulus SMA.
"Ayo kerja! Kerja! Hei kau, angkat batu-batu ini pake gerobak dorong, pindahkan ke sana!" titah mandor membuat Rangga langsung melakukannya.
Proyek konstruksi itu adalah neraka yang berisik. Debu semen dan teriakan mandor beradu dengan suara mesin crane. Rangga mengerjakan semua yang diperintahkan padanya.
Karena dia tahu kalau dirinya diterima karena tubuhnya yang tegap dianggap memenuhi syarat untuk pekerjaan buruh kasar, kuli angkut.
Rangga dipasangkan dengan tim yang dipimpin oleh seorang pria bertubuh kekar dan berkumis tebal bernama Bagus, yang usianya sekitar 35 tahun. Ada juga Joko, pria kurus yang terlihat selalu kelelahan.
“Hei, Anak Baru! Jangan bengong!” hardik Bagus menjelang siang. “Angkut sak semen ini ke lantai dua. Dua-dua! Jangan manja!”
Rangga segera menyanggupi. Dia mengambil dua sak semen, masing-masing 50 kilogram, dan memanggulnya.
Anehnya, meskipun terasa sangat berat, Rangga merasa titik berat beban itu seolah berada tepat di tengah punggungnya, membuatnya lebih seimbang dan mudah dibawa daripada yang dibayangkan.
Di sisi lain, Bagus harus mengangkut balok baja. Dia memanggul balok baja, wajahnya memerah karena usaha keras.
Saat sudah selesai, Rangga yang masih naif menghampiri Bagus. "Abang, hebat juga. Itu baloknya berat sekali, kan?” ujarnya menatap kagum.
"Ya berat lah, pake nanya!" tukas Bagus.
Rangga tersenyum pelan lalu dengan niat baik, dia tanpa sadar menepuk punggung Bagus.
Saat tangan Rangga menyentuh Bagus, sesuatu terjadi. Dalam sepersekian detik, rasa sakit, pegal, dan ketegangan otot yang menumpuk di tubuh Bagus selama berjam-jam seolah ditarik keluar.
Rangga merasakan lonjakan energi aneh di tangannya saat itu juga, sementara Bagus seketika merasa lunglai dan kaget.
“Arrgh!” Bagus menggeram, hampir jatuh terduduk. Wajahnya langsung pucat. “Sial! Kenapa tiba-tiba badanku rasanya jadi lemas begini?!” sentak Bagus menatap Rangga dengan pandangan curiga. “Kamu ngapain, Anak Baru?! Jangan sentuh-sentuh aku!”
Rangga yang menyadari ada yang terjadi langsung membulatkan matanya panik.
“Maaf, Bang! Tadi aku cuma mau menyemangati," elaknya cepat.
"Halah! Nggak usah sok gaya! Anak baru kayak kamu mau carmuk, kan?! Berani-beraninya kamu!"
Rangga tak menjawab, dia kehabisan kata-kata sekaligus heran pada apa yang terjadi.
Sementara itu, Bagus sudah mendengus dan berjalan pergi Rangga hanya bisa memperhatikan, lalu menunduk ketika beberapa rekan kerjanya menatap dengan sorot mata tak suka dan meremehkan.
"Padahal aku nggak berniat cari muka," gumamnya tapi dia tahu tak ada waktu untuk merenung.
Rangga memutuskan untuk kembali bekerja, walau dia sadar sejak hari itu juga teman-temannya sedikit menjauh.
***
Setelah beberapa hari, kabar tentang keanehan Rangga menyebar. Tidak ada yang mau berpasangan dengannya.
Material yang dipegang Rangga terasa kelewat berat untuk orang lain, dan siapa pun yang disentuhnya secara tidak sengaja merasa lumpuh sementara karena mereka tak kuat.
Seperti hari itu, Rangga bekerja sendirian, memanggul balok kayu sementara Bagus dan Joko mengawasinya dari kejauhan sambil mengejek.
“Lihat dia, sok kuat banget!” cibir Bagus keras-keras. “Paling-paling dia punya jimat penarik energi! Makanya dia enak sendiri, kita yang capek!”
“Masuk akal, Bang,” sahut Joko mengompori. “Anak baru nggak tahu diri. Cuma dia yang bisa angkut dua sak semen tanpa ngeluh. Pasti dia pakai cara kotor!”
Rangga dapat mendengarnya dengan baik tapi hanya bisa menahan diri. Rasa sakit karena dihindari, dicemooh, dan dituduh 'kotor' terasa lebih berat daripada balok kayu di punggungnya.
***
Malam itu, Rangga kembali ke kontrakan. Bu Wati sudah tertidur pulas dan mulai nyaman. Karena gajinya beberapa hari terakhir dia ambil harian dan dia gunakan untuk membeli obat ibunya serta keperluan yang lain.
Setelah mengganti pakaiannya yang kotor, Rangga duduk di sudut kamarnya yang gelap.
Dia tatap kedua tangannya, tangan yang sama yang setiap pagi memberi kehangatan dan ketenangan pada ibunya. Tangan yang sama, yang membuat para buruh di proyek merasa sial dan lemas.
Rangga mencoba menyentuh kursi kayu di sampingnya. Tidak terjadi apa-apa, membuatnya menggaruk kepala.
"Kenapa? Kenapa setiap sentuhanku selalu aneh di tempat kerja?" batinnya tak paham.
Rangga mengingat tatapan jijik dan iri dari Bagus dan Joko. Dia ingat bagaimana dia dihindari seperti penyakit menular.
Mengepalkan kedua tangan yang anehnya terasa hangat, Rangga terpaku. "Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Kenapa aku jadi begini?"