Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KIPAS TANPA ANGIN

KIPAS TANPA ANGIN

Yanktie ino | Bersambung
Jumlah kata
35.4K
Popular
115
Subscribe
37
Novel / KIPAS TANPA ANGIN
KIPAS TANPA ANGIN

KIPAS TANPA ANGIN

Yanktie ino| Bersambung
Jumlah Kata
35.4K
Popular
115
Subscribe
37
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeDokter
Pram kaget, saat Mala putrinya sakit, ternyata golongan darah Mala tak sama dengan dirinya dan Ratih istrinya Itu awal bencana rumah tangganya, Ratih memalsukan jati diri anak mereka yang sebenarnya sudah meninggal saat dilahirkan. Tika kaget, orang tua Dewi sahabatnya datang ke rumah, meminta agar Tika melepas Tyo tunangannya, karena Dewi hamil anak Tyo Akankah Tika bisa menerima cinta Pram, yang berawal dari keinginan Mala agar Tika menjadi mamanya, sedang Tika merasa Pram mengejarnya hanya karena Mala, bukan cinta murni untuknya?
DENTUMAN TAKDIR DAN SENTUHAN PERTAMA

Deru sirene ambulans yang melengking memotong ketenangan sore, meraung keras menembus gerbang Rumah Sakit Harapan Bunda Bandung.

Di ruang Instalasi Gawat Darurat, ritme kerja berubah menjadi kepanikan yang mencekik. Seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun, dibawa masuk di atas brankar. Wajah mungilnya pucat seputih kertas, seragam sekolahnya koyak di beberapa bagian, dan noda darah samar menghiasi pelipisnya. Dan beberapa bagian kaki dan lengannya.

Dokter Kartika Rahayu, atau yang lebih akrab dipanggil dokter Tika, segera mengambil alih komando.

Sebagai residen spesialis anak yang sedang mendapat jadwal tugas, dia memiliki kemampuan luar biasa untuk menemukan titik fokus di tengah kekacauan. Tatapan matanya yang teduh, namun penuh kewaspadaan, menelisik setiap luka dan respons pasien.

"Korban kecelakaan ditabrak motor. Fraktura ( patah ) tertutup di kaki kanan, dan yang perlu diwaspadai adalah indikasi gegar otak ringan," lapor perawat senior dengan nada cepat dan ringkas.

"Pasang collar neck segera. Siapkan monitor, line infus dua jalur. Hubungi dr. Surya di Neurologi, kita butuh CT scan mendesak!" Tika tidak menyia-nyiakan waktu. Dia bergerak efisien. Dengan gerakan tangan yang pasti, dia memberi instruksi. Suaranya tenang namun mengandung perintah mutlak. Jari-jemarinya yang hangat dan lembut sempat menyentuh kening Mala. Dalam hati, Tika berbisik, 'Bertahanlah, Nak. Kamu kuat.'

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Di kantornya, sebuah paviliun kecil, Prambodo Wicaksono baru saja mencapai titik klimaks desainnya. Arsitek freelance itu tengah fokus pada detail finishing ketika telepon dari nomor tak tersimpan merobek keheningan dunianya. Pram, demikian biasa dia disapam memilih bekerja mandiri daripada di kantor resmi.

Dia tak mau dibawah birokrasi kantor yang mengikat. Lebih suka bebas mengatur waktu.

Walau demikian dia tetap ‘berkantor’, dia gunakan paviliun di samping rumah yang terpisah pagar.

Memiliki satu orang pegawai sebagai tenaga lengkap yaitu sekretaris, keuangan serta administrasi kantor, yaitu Pradana, atau Danni.

Pram mengangkat gagang telepon, suaranya langsung berubah formal dan profesional, siap menghadapi klien atau vendor baru.

"Halo, Prambodo di sini. Dengan siapa saya bicara?"

Di ujung sana, suara resepsionis rumah sakit terdengar kaku dan formal: "Maaf, Bapak Prambodo?”

“Saya dari Rumah Sakit Harapan Bunda. Apa benar saya bicara dengan Bapak Prambodo Wicaksono?"

"Ya, benar. Ada keperluan apa dari Rumah Sakit? Saya tidak punya janji temu di sana."

Alis Pram bertaut. Rumah sakit? Dia tidak sedang menunggu panggilan medis.

Suara resepsionis itu, yang tadinya formal, kini terdengar lebih berhati-hati, namun tetap mendesak. "Ini mengenai putri Bapak, Ratih Kumalasari. Dia mengalami kecelakaan dan sekarang berada di IGD Rumah Sakit Harapan Bunda."

Dunia Pram seolah runtuh. Pena arsitek yang tadinya dia pegang erat jatuh, meninggalkan goresan tinta hitam yang cacat di atas lembar tracing berharga.

'Tidak mungkin. Mala ...' batin Pram, pikirannya kosong.

"Kecelakaan? Bagaimana keadaannya? Ya Tuhan ... Mala?" desis Pram, suaranya tercekat.

"Kondisinya stabil tapi kami butuh Bapak segera datang. Ada indikasi serius di kepala, Pak. Mohon segera ke bagian informasi IGD."

Pram tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Dia berlari panik keluar dari paviliun kerjanya. Pikirannya melayang pada putri semata wayangnya, satu-satunya tiang penyangga yang tersisa.

Mala, walau gadis yang bukan darah dagingnya, fakta pahit yang dia pastikan melalui tiga kali test DNA di laboratorium berbeda bertahun-tahun silam, tetaplah belahan jiwanya.

Ketakutan Pram begitu besar hingga membuatnya kesulitan bernapas. 'Tolong, jangan ambil dia dariku ya Rob. Aku sudah kehilangan segalanya sekali, aku tidak sanggup lagi kehilangan.'

Pram melesat melewati pintu paviliun. Tepat di ruang sebelah yang memisahkan area kerjanya dengan area administrasiPram berpapasan dengan Danny, asisten administrasinya, yang sedang merapikan beberapa berkas.

Danny, yang terbiasa dengan jadwal jam kerja yang ketat jam delapan sampai lima sore, terkejut melihat atasannya dalam kondisi berantakan.

"Pak Pram! Bapak mau kemana? Klien dari Bandung baru saja mengirim pesan, mereka hampir sampai di sini!" tanya Danny cemas.

Pram hanya menatap Danny sekilas, matanya merah dan dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Dia tak sempat menjelaskan panjang lebar.

"Batalkan semua, Danny! Atur ulang semua jadwal hari ini dan besok. Putriku di rumah sakit! Bilang ke klien, ini darurat hidup dan mati. Aku pergi sekarang!"

Pram langsung menuju mobil, meninggalkan Danny yang terpaku bingung di depan pagar paviliun. Pram melaju dalam kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit Harapan Bunda.

Mobil Pram melaju dalam kecepatan yang tak seharusnya. Wajah Mala yang penuh tawa, kini digantikan gambaran Mala yang terbaring tak berdaya. Pram meremas setir mobilnya. Trauma perceraian telah mengajarinya satu hal, Pram tidak bisa kehilangan Mala. Pram tidak akan pernah memaafkan takdir jika sekali lagi merenggut apa yang paling berharga darinya.

Dalam laju keputusasaan yang tinggi, Pram meluncur menuju Rumah Sakit Harapan Bunda, di mana seorang dokter bernama Tika tengah berusaha keras mempertahankan nyawa putrinya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Lanjut membaca
Lanjut membaca