

Bugh!
Bagh!
Pukulan keras berhasil mendarat tepat di pipi Sean Gama Shankara. Badboy yang terkenal akan ketampanan, sifat sombong dan angkuhnya.
Sean menggeram, merasakan panas yang mulai menjalar pada sebagian wajah. Tangannya juga mengepal, seiring irama napas yang tak beraturan.
"Shit. Berani banget lo rusak ketampanan wajah gue."
Ia tersenyum sinis, menatap Arga–musuh bebuyutannya yang kini berada di depannya. Mereka sudah menjadi saingan sejak kecil. Entah takdir gila dari mana yang membuat keduanya selalu satu sekolah dan anehnya, selalu saja terlibat perselisihan.
"Kenapa? Takut kalah?" Arga tak kalah menampilkan senyum meremehkan.
"Seorang Sean? Takut? Lo aja kali."
Kedua pemuda itu kembali berancang-ancang, untuk saling memukul. Mereka juga sudah bersiap pada tangan yang siap mengayun kencang. Namun, sebelum semuanya benar-benar terjadi. Suara peluit Pak Tirto sudah memenuhi seluruh lapangan.
Beberapa siswa yang terlihat menonton sebelumnya, mulai menjauh. Memberikan jalan pada guru BK yang terkenal paling galak seantero SMA Husada.
Tubuhnya tinggi, badan tegap seperti mantan tentara. Rambut selalu disisir klimis rapi, begitu halus dan mengkilap. Entah minyak rambut apa yang ia pakai, baunya juga begitu khas. Tapi itulah yang menjadi ciri khas Pak Tirto, tidak seperti guru BK pada umumnya. Tak lupa, tangan kanannya selalu membawa sebuah penggaris kayu, yang kapan saja siap melayang jika menemukan salah satu muridnya melakukan pelanggaran.
"Heheheh ... bukan saya, Pak. Tapi Arga yang mulai." Sean meringis, sambil menunjuk ke arah Arga.
Arga mendelik. "Saya gak bakal mulai, kalau dia gak colek saya duluan, Pak."
"Colek? Lo kira gue cowok apaan!"
Pak Tirto hanya diam. Tapi, mendengar deru napasnya yang mulai naik turun tak beraturan. Membuat bulu kuduk orang di sekitarnya meremang.
"Kalian! Ikut saya ke kantor."
Tanpa belas kasihan. Pak Tirto menarik masing-masing sebelah telinga dari dua muridnya itu.
Sean hanya bisa pasrah, dengan telinga yang mulai sakit dan menjadi tontonan seluruh orang disana.
Brak!
Begitu sampai di ruang BK. Pak Tirto langsung melempar beberapa tumpukan buku di atas meja.
"Salin itu. Siang nanti, serahkan ke saya."
"Hah?" Sean menggeleng. "Gak mau saya, Pak. Orang saya gak salah."
"Saya juga gak mau, Pak." Arga menyilangkan kedua tangan sebagai bentuk protesnya.
"Ok! Aturan saya. Menolak dapat hukuman tambahan. Tetap saya berikan hukuman menyalin, siang berikan ke saya. Jangan lupa, besok juga kalian harus ikut perkemahan."
"Apa? Perkemahan!" teriak Sean dan Arga secara bersamaan. Mereka saling bersitatap beberapa detik, sebelum akhirnya saling membuang muka. Aura permusuhan semakin kental.
Pak Tirto hanya memberikan jawaban dengan wajah datarnya.
"Aduh, Pak. Saya udah kelas dua ini, gak mungkin ikut lagi. Perkemahan kan hanya untuk murid kelas satu, Pak."
"Tidak ada bantahan. Atau–"
"A-ah, ya Pak. Gak ada. Kita setuju kok," potong Sean cepat, tangannya lalu merangkul pundak Arga.
"Apaan sih, lo. Sok akrab." Arga menghempas tangan Sean.
"Bisa gak sih. Sedikit aja kerja sama. Lo mau? Pak Tirto kasih tambahan buat hukuman kita? Gak cukup lo? Harus bikin salinan segitu banyak? Kalau lo mau sih, gak masalah. Gue sih ogah."
"Terserah." Arga mendengus kesal.
"Kalau begitu, silahkan salin. Saya harus kembali mengajar di kelas," ucap Pak Tirto. "Ingat! Salin dengan tangan sendiri, bukan lewat tangan orang."
Sean hanya bisa meringis mendengar sindiran itu. Ia masih mengingat jelas, hukumannya dua hari yang lalu. Karena malas mengerjakan hukuman menyalin, ia meminta beberapa gadis yang selalu mengelilinginya untuk membantu menyalinkan hukumannya.
----
Angin pagi itu, menemani perjalan Sean menuju sekolahannya. Ia sengaja memperlambat laju kendaraan roda duanya. Membuat puluhan pesan dan beberapa panggilan terus saja masuk ke dalam ponsel.
"Ck! Lama-lama gue buang juga ini ponsel."
Gatal mendengar ponsel yang terus berbunyi, Sean memilih segera mempercepat laju motornya. Karena jelas ia sudah tahu, siapa yang melakukan panggilan tersebut.
Hingga ia tiba di gerbang SMA Husada. Ternyata semua orang sudah menunggunya, begitu juga Pak Tirto yang sudah siap dengan penggaris panjangnya.
Sean berhenti, melepas helm full face dan tersenyum santai . "Macet, Pak," dustanya.
Pukulan kecil mulai mendarat di kaki Sean.
"Saya tahu, itu hanya alasan kamu. Saya bilang datang jam delapan. Ini sudah jam berapa Sean?"
"Dugem semalam dia, Pak! Sama temen-temannya. Jadi telat bangun," sela Arga mengompori.
"Diem gak, lo!" Kesal, Sean melempar botol mineral yang masih utuh ke arah Arga.
"Wlee ... gak kena." Arga tersenyum puas. Apalagi lemparan yang Sean layangkan, tidak mengenainya.
"Arga, kumpulkan kayu bakar yang banyak begitu sampai di perkemahan," kata Pak Tirto dingin. Membuat Sean menyemburkan tawa. Puas mendengarnya.
"Dan kamu, Sean. Ambil air begitu sampai disana. Ingat! Pastikan air selalu terisi di gentong persediaan. Karena kamu yang akan bertanggung jawab nantinya."
"Lah, masalah air aja ada penanggung jawabnya."
"Kerjakan atau hukuman tambahan."
"Kerjakan, Pak. Kerjakan. Saya pasti langsung laksanakan begitu sampai disana," potong Sean cepat.
"Bagus. Sekarang segera masuk ke bus. Hanya tinggal menunggu kamu saja."
Sean tak banyak kata, dari pada kembali mendapat hukuman. Ia segera memarkirkan kesayangnnya, si ducati merah yang ia beri nama Kevin ke area parkiran SMA Husada.
"Aaa, Sean. Duduk sama gue aja." Sarah–gadis yang katanya paling cantik di SMA Husada. Langsung menyambutnya begitu tahu ia masuk.
Bukannya senang, Sean justru mengernyit. Kenapa perempuan itu selalu ada dimana-mana. Bukankan perkemahan ini hanya berlaku bagi murid baru? Eh, tidak termasuk dirinya. Ia ikut hanya kerena sebuah hukuman.
"Minggir, gue mau lewat." Sean memilih abai.
"Duduk sama gue, Sean." Sarah mengerjap, mencoba menerbarkan senyumnya. Berharap lelaki di sampingnya itu akan luluh.
"Ck!" decak Sean. Matanya mulai menyapu seisi bus yang ternyata sudah terisi banyak orang. Hanya tersisa kursi di samping Sarah dan ... kursi belakang, di sebelah seorang gadis yang mengenakan hodie rapat, duduk diam.
"Mending gue duduk disana," gumamnya.
Sean pun melangkahkan kaki menuju ke arah gadis itu, lalu duduk.
"Sean, kok lo duduk disana sih. Gue kan udah kasih kursi spesial buat lo," protes Sara, sambil menunjuk kursi kosong.
Suaranya yang melengking membuat telinga Sean sakit. Tak ingin mendengarnya lagi, ia buru-buru memakai headseat.
"Sean! Kok lo gitu sih." Sarah menghentakkan kaki. "Lo malah milih duduk sama si cupu. Lo gak tahu? Demi lo gue rela ikut perkemahan ini."
Sean hanya mengerjap dua kali, menanggapi ocehan Sarah. Apalagi, musik mulai mengalun keras. Hanya gerak bibir Sarah yang dapat ia baca, ia tidak mendengar suara gadis itu.
"Ish!"
Karena tak mendapat respon lagi. Sarah memilih pergi. Dengan kaki yang masih setia dihentakkan.
Sean sedikit melirik ke arah Sarah yang telah pergi. Hembusan napas lega keluar dari hidungnya. Ia juga sedikit melirik ke gadis yang duduk di sebelahnya. Cukup heran, karena gadis itu tidak seperti gadis kebanyakan yang bisa sedekat ini padanya.
Saking herannya, Sean sampai menatapnya cukup lama. Gadis itu tak bereaksi sama sekali. Terlalu tenang, dengan mata yang terpejam.
"Beruntung juga. Duduk di sebelah cewek yang gak kebanyakan tingkah." Sean tersenyum senang, dengan musik yang mengalun ia mulai memejamkan mata.
Hingga tanpa terasa, malam pun akhirnya tiba. Sudah empat jam berlalu sejak rombongan perkemahan SMA Husada mencapai perbukitan yang letaknya tak terlalu jauh dari kota. Udara juga semakin dingin.
Lagi-lagi, Sean berselisih dengan Arga. Akibatnya, ia harus mengambil air saat langit sudah gelap. Sudah tiga kali ia bolak-balik ke sumber air, dan seperti biasa—hanya dia seorang yang disuruh melakukannya.
Di sisi lain, semua orang tampak bersenang-senang di area perkemahan. Mereka tertawa, berkumpul melingkari api unggun, menikmati malam yang mungkin akan terasa panjang.
Sean lelah. Ia memilih bersandar di bawah pohon besar, mengusap peluh yang muncul meski udara malam begitu dingin. Dua ember di sampingnya kini penuh, tapi ia ingin beristirahat sebentar saja, sekadar menghilangkan letih yang datang.
"Sialan banget Pak Tirto. Gak tahu apa orang capek. Gue udah bolak-balik tiga kali. Kalau sampai empat, bisa-bisa encok nih pinggang," gerutunya kesal.
Tiba-tiba … angin berembus kencang. Kelopak mata Sean kelilipan, membuatnya cepat mengerjap. Begitu penglihatannya kembali jelas, ia justru dikelilingi cahaya kunang-kunang yang indah.
Aneh?
Mungkin.
Tapi Sean justru terpukau.
Tak lama, kawanan kunang-kunang itu mulai terbang menjauh. Sean enggan kehilangan momen langka itu. Ia buru-buru bangkit dan mengikuti binatang-binatang kecil bercahaya tersebut.
Entah dorongan dari mana, Sean mengulurkan tangan, mencoba menangkap satu kunang-kunang yang cahayanya paling terang. Dan saat tangannya berhasil menyentuhnya, ia tersenyum kecil.
"Cantik .…" gumamnya.
Namun, angin di sekitarnya mendadak berputar lebih kencang. Kunang-kunang itu juga mulai berputar di sekeliling Sean, seperti menciptakan lingkaran cahaya.
Rasa tak enak mulai hinggap pada tubuhnya. Hingga tanpa sengaja kakinya menginjak ranting lapuk.
Krek!
"Aaaaaa ...."
Sean kehilangan keseimbangan, terpeleset, lalu berguling jatuh. Pandangannya langsung gelap.
Namun .…
Tak lama setelah itu, telinganya dipenuhi suara melengking yang menusuk. Disusul bisikan-bisikan tak jelas yang membuatnya gelisah.
Sean membuka mata terengah, seolah baru saja berlari jauh.
"Ergin? Ergin, lo udah sadar?"
Wajah seorang lelaki, yang sama sekali tidak dikenalnya, muncul sangat dekat di hadapannya.
Sean terkejut, buru-buru bangun dan duduk tegak.
"Ergin, lo kenapa?" tanya lelaki itu, tampak panik.
Sean berkedip beberapa kali.
"Ergin? Siapa Ergin?"