

Bima merapikan novel-novel dalam berbagai ukuran di hadapannya, berusaha membuat gradasi ketinggian yang tampak halus agar lebih indah dipandang mata, meskipun dia tahu sesaat lagi pasti susunan itu akan kembali berantakan. Sesekali matanya menatap ke kejauhan hanya untuk memastikan sosok yang dia cari masih berada di tempatnya. Wajah oval dengan ekspresi sendu, rambut panjang yang diikat menjadi satu di belakang kepala, jemari lentik yang memutar-mutar sebatang pensil di atas buku catatan, dan mata bulat yang sesekali menatap ke luar jendela, memperhatikan kemacetan lalu lintas di bawah sana.
“Tenang aja, dia nggak bakal ke mana-mana, kok,” ucap sebuah suara di belakangnya, “biasanya juga dia tetap duduk di situ, pulangnya nanti malam.”
Bima sontak menoleh, dan mendapati Rizki, rekan sesama penjaga perpustakaan, terkekeh pelan dengan wajah berhias cengiran usil.
“Apaan, sih, lo,” kilah Bima pura-pura tak peduli, kemudian melanjutkan kegiatannya.
“Alaa. Nggak usah pura-pura nggak tau deh, Bim. Lo naksir cewek itu, kan?” tuduh Rizki.
Bima hanya mendengus pelan, pandangannya kembali terarah ke kejauhan. Naksir atau tidak, sepertinya tak akan berpengaruh apa-apa baginya. Gadis itu pasti tak akan berminat pada pemuda biasa-biasa saja, yang hanya berprofesi sebagai penjaga perpustakaan dengan penghasilan pas-pasan, plus tampilan yang sama sekali tidak keren seperti dirinya.
“Udah, nggak usah dirapiin terus, sebentar lagi juga ini buku-buku bakal berantakan lagi,” ucap Rizki sambil mengibaskan tangan. “Sana, lo balik ke depan, bagian peminjaman nggak ada yang jaga, tuh.”
“Ya udah, oke,” sahut Bima yang menjadi sedikit tidak bersemangat gara-gara pemikirannya sendiri barusan.
Bima duduk di depan komputer, menunggu para pengunjung memberikan buku yang ingin dibawa pulang untuk diinput datanya. Orang-orang yang datang ke perpustakaan umum ini kebanyakan adalah para mahasiswa atau pelajar, yang datang dengan membawa laptop, memilih buku yang diinginkan di barisan rak-rak tinggi sesuai jurusan yang diambil, lalu duduk diam di lokasi-lokasi strategis yang dilengkapi dengan stop kontak, kemudian sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Selain mereka, juga ada pengunjung umum yang datang untuk mencari judul-judul novel yang sedang booming, lalu dibawa ke sofa-sofa panjang empuk yang berderet di sepanjang dinding untuk dibaca sambil bersantai setengah berbaring, kemudian setelah itu terkadang dibawa pulang.
Sedangkan, gadis manis berkuncir kuda yang belum diketahui statusnya itu, selalu datang dengan membawa sebuah buku tulis tebal, sebatang pensil mekanik, dan memilih satu-satunya tempat duduk yang paling tidak diminati pengunjung, yang meskipun letaknya tepat di sisi sebuah jendela kecil, tetapi kursinya terbuat dari kayu keras bersandaran tegak dengan meja persegi mungil tanpa stop kontak. Terkadang, dia mengambil sebuah buku di rak, lalu meletakkannya di meja tanpa dibaca. Dia tampak lebih sering menulis sesuatu di buku catatannya, sebuah hal yang tampak unik di mata Bima mengingat kemajuan teknologi selama beberapa dekade belakangan sepertinya telah membuat semua manusia yang telah lulus sekolah kehilangan kemampuan serta minatnya untuk menulis menggunakan tangan, dan lebih memilih mengetikkan apapun pada layar gawai.
Seringkali Bima berharap gadis itu meminjam sebuah buku untuk dibawa pulang, hanya supaya dia bisa melihat kartu tanda pengenalnya saat memasukkan data peminjaman buku. Minimal, dia bisa mengetahui nama serta usianya, sekadar untuk tahu bagaimana cara menyapa yang tepat jika suatu saat ada kesempatan untuk berkomunikasi. Sayangnya, perpustakaan daerah tempatnya bekerja ini tidak mewajibkan pengunjung untuk mendaftar menjadi anggota jika hanya ingin membaca buku di dalam area perpustakaan saja. Selama berminggu-minggu kehadirannya di sini, gadis itu tak pernah sekalipun membawa pulang buku apapun.
Bima menghela napas panjang sembari membuang pandangan keluar jendela, merasa bosan karena dari posisi duduknya saat ini dia tak dapat melihat gadis itu. Inilah alasannya mengapa dia lebih suka mengambil bagian sebagai petugas jaga area dalam, yaitu agar dapat memandang wajahnya.
***
“Bim, bareng ke parkiran, nggak?” ajak Rizki yang sudah mengenakan jaket motornya. Langit sudah semakin menggelap di luar, dengan suara gemuruh guntur terdengar di kejauhan. Perpustakaan sudah tutup beberapa waktu lalu dan mereka baru saja selesai merapikan pekerjaan.
“Iya, bareng. Sebentar,” sahut Bima sambil menutup laci loker dan menguncinya. Dia mengenakan jaketnya sambil berjalan di sisi Rizki menuju ke area parkir gedung yang terletak di lantai basement.
“Eh, gajian besok kita nongkrong di kafe yang baru itu, yuk,” ajak Rizki sembari menunjuk ke arah deretan bangunan di seberang gedung perpustakaan.
“Nggak, ah,” tolak Bima, “gue mau kirim uang ke ibu di kampung, buat bayar sekolah adik gue.”
“Ya sisain aja dikit, buat kita refreshing,” ucap Rizki lagi setengah memaksa.
“Sisain dikit gimana, gaji kita aja cuma sedikit, sok mau nongkrong segala. Mendingan lo bayar, tuh, kontrakan lo yang udah nunggak,” balas Bima.
“Lah, iya juga, yah, gue lupa masih punya utang sama ibu kos,” sahut Rizki dengan ekspresi bodoh di wajahnya, membuat Bima tersedak menahan tawa. Akhirnya keduanya tergelak bersama-sama, menimbulkan gema di area parkir yang sudah nyaris kosong itu.
Bima dan Rizki sama-sama anak perantauan dari luar Jakarta. Bedanya, Bima hanya seorang anak buruh tani, sedangkan keluarga Rizki jauh lebih berkecukupan. Rizki mencari kerja di Jakarta untuk belajar hidup mandiri sekaligus ingin merasakan bagaimana suasana kota besar yang sejak kecil hanya dilihatnya di televisi. Sedangkan Bima, jauh-jauh merantau ke Jakarta, demi membantu ibunya yang harus menjadi single parent setelah ayahnya meninggal karena sakit.
“Yuk, udah mau hujan, nih,” ucap Bima sambil menyalakan mesin motornya. “Gue lupa bawa jas hujan.”
“Sama, gue juga nggak bawa,” sahut Rizki. “Gas, deh!”
Motor Bima melaju dengan kecepatan standar di jalan raya yang masih cukup ramai, diikuti motor Rizki di belakang. Lokasi rumah kontrakan mereka memang searah, sehingga keduanya biasa berkendara beriringan sampai jarak tertentu sebelum akhirnya memisahkan diri. Suara gemuruh petir terdengar semakin dekat. Hujan mulai turun. Bima dan Rizki mempercepat laju motor masing-masing, menghindari basah kuyup apabila hujan turun semakin deras.
Saat mereka sedang berada di atas sebuah jalan layang, mendadak cahaya kilat terang benderang menyambar menyilaukan mata. Suara ledakan keras menyusul, bercampur dengan suara klakson dan decit rem kendaraan yang diinjak mendadak. Rizki, yang berkendara di belakang, reflek menghentikan motornya dan membeku sesaat karena terkejut. Setelah pulih dari kagetnya, baru dia melihat apa yang telah terjadi. Di balik derasnya air hujan yang memburamkan pandangan, terlihat sebuah sepeda motor terguling di aspal, beberapa meter di depannya. Asap hitam tampak mengepul di udara. Suara teriakan dan seruan dari orang-orang di sekitar membuatnya tersadar bahwa motor itu adalah milik Bima, dan sang pengendara saat ini terhimpit di bawah motornya sendiri.