

"Jawab aku, Risma! Lebih enak permainanku, atau suamimu?" tanya Bayu sambil menghentakkan pinggulnya, hingga membuat tubuh Risma melengking merasakan milik Bayu masuk semakin dalam pada tubuhnya.
"Pelan-pelan, Bayu! Jika kau terus bergerak seperti itu, kau bisa merobek rahim ku." ucap Risma menahan dada Bayu yang membuatnya sulit untuk bernafas, sebab Bayu terus menghimpitnya.
"Jawab dulu! Lebih enak permainanku, atau permainan suamimu, yang orang kaya itu?" tanya Bayu lagi tanpa mengurangi ritme gerakannya membuat Risma terus mengerang kesakitan.
Sorot mata Bayu penuh kebencian saat bertanya pada Risma, padahal mereka sedang bergumul diatas kasur. Tapi sedikitpun tidak ada cinta yang terpancar dari mata lelaki tampan itu ketika menjamah Risma, wanita yang dulu sangat dia cintai. Wanita yang menjadi alasan kenapa Bayu sampai nekat mendalami ilmu Ajian puter giling.
"Bayu.... Tolong berhenti, permainan kita sudah tidak enak lagi" mohon Risma. Tapi Bayu tidak perduli, dia seperti tuli padahal Risma terus memintanya untuk mengakhiri permainan mereka.
"Lihat! Setelah beberapa kali aku puaskan, sekarang kau malah mengatakan jika permainan kita sudah tidak enek lagi, munafik." ucap Bayu tidak terima atas ucapan Risma.
Risma beberapa kali berusaha melepaskan penyatuannya dengan Bayu, Risma bahkan sampai mendorong dada Bayu. Tapi pria bertubuh tinggi tegap itu tidak beranjak sedikitpun. Dia malah semkin mempercepat gerakannya hingga Risma benar-benar kewalahan.
"Bayu... Aah...sakit, Bayu. Aku mohon berhenti." rintih Risma karena bagian bawahnya terasa panas akibat terlalu lama bergesekan dengan milik Bayu yang besar dan panjang. Apa lagi Bayu melakukannya secara kasar dan sedikit brutal hingga Risma yakin ada robekan dibawah sana.
Permainan Bayu yang tadinya membuat Risma merasa keenakan kini berubah menjadi permainan yang menyakitkan.
Tubuh Risma sudah basah oleh kringat, juga cairan keperkasaan milik Bayu, karena entah sudah berapa kali Risma dan Bayu mencapai puncak kenikmatan mereka.
"Bayu... Aku sudah tidak kuat, ayo berhenti." mohon Risma lagi dengan keadaan setengah sadar akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya terlebih di bagian bawah sana yang sudah mengeluarkan darah.
"Kenapa... Risma, kenapa minta berhenti? Bukannya tadi kamu yang memintaku datang ke rumahmu, bukannya kamu yang memintaku untuk memuaskanmu, hah?" tanya Bayu penuh emosi tapi masih saja belum berhenti menghujam kan miliknya pada bagian bawah Risma yang sudah basah oleh darah dan cairan miliknya.
"Sakit, Bayu. Aku mohon berhenti," rintih Risma dengan suara yang semakin parau.
"Sakit? Lemah," cibir Bayu kemudian meludah di wajah Risma.
Bayu masih ingat betul kejadian beberapa bulan lalu, dimana Risma juga meludahi wajahnya saat Bayu mengatakan jika dia ingin menikahi Risma.
"Jangan mimpi terlalu tinggi, Bayu. Nanti kau jatuh," sarkas Risma sambil berdiri menjauh dari Bayu.
"Maksud kamu apa, Risma? Kenapa bicara seperti itu?" tanya Bayu seraya ikut berdiri kemudian berjalan mendekati Risma. Karena Bayu bingung kenapa wanita yang sudah lima tahun menjadi pacarnya malah berkata seperti itu saat dia ajak menikah.
Risma tersnyum miris sambil menoleh ke arah Bayu."Mau kamu kasih makan apa aku, Bayu? Kamu saja masih bekerja serabutan, kamu juga masih tinggal di kontrakan. Jangan sok-sokan mau menikahiku," jawab Risma sinis.
"Risma! Kamu tidak bercanda, bukan? Bicara seperti itu," tanya Bayu tidak percaya, Bayu sampai menarik tangan Risma agar Risma berhadapan dengannya.
"Aku tidak bercanda, Bayu! Kamu yang bercanda," saut Risma.
"Risma... Bukannya dari dulu kamu sudah tahu, kalau aku bekerja serabutan, kalau aku hanya tinggal di rumah kontrakan, kenapa baru sekarang setelah lima tahun kita pacaran, kamu mempermasalahkan hal itu?" tanya Bayu tidak percaya, dari raut dan nada bicara Bayu terdengar jelas jika dia kecewa pada Risma. Tapi dari sorot matanya masih terpancar cinta yang begitu besar untuk wanita dihadapannya itu.
Risma menoleh kemudian mendongak agar wajah mereka sejajar,"Karena kamu tidak pernah berkembang, aku memang pernah bilang jika aku mau menemanimu dari nol, tapi bukan nol terus seperti ini!"
Bayu diam, karena ucapan Risma memang benar. Tapi Bayu juga tidak diam saja, dia juga sedang berusaha agar kehidupannya bisa berubah lebih baik. Hanya saja menang tidak semudah seperti yang pernah Bayu janjikan pada Risma beberapa tahun lalu, dimana Bayu berjanji jika di tahun ke empat mereka berpacaran, Bayu akan membeli rumah untuk mereka tempati setelah menikah, tapi sampai sekarang ucapan Bayu itu belum bisa Bayu tepati.
"Aku sedang berusaha, Risma." ucap Bayu dengan suara pelan.
"Mau sampai kapan, Bayu? Mau sampai kulitku peot, mau sampai wajahku tidak cantik lagi?" tanya Risma meragukan ucapan Bayu.
Bayu diam sambil perlahan melepaskan pegangannya pada tangan Risma karena Bayu tidak berani untuk berjanji lagi, karena Bayu takut tidak bisa menepatinya kembali dan membuat Risma semakin kecewa padanya.
"Kenapa diam, Bayu? Mau sampai kapan aku harus menunggu kamu?" tanya Risma mendesak Bayu.
"Aku tidak tahu, yang jelas aku sedang berusaha untuk kebahagiakan kita, Risma." saut Bayu dengan suara pelan karena sejujurnya Bayu sudah merasa malu pada Risma karena hanya bisa memberikan wanita itu janji saja.
"Aku sudah lelah, Bayu. Aku sudah lelah menunggu, aku juga sudah bosan setiap hari ditanya oleh ayah dan ibukku soal kapan kamu membeli rumah untuk kita," ucap Risma.
Risma dan Bayu memang lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda, karena Risma putri pertama kepala desa di kampung mereka, sedangkan Bayu hanya anak yatim yang tinggal dengan ibunya di rumah kontrakan petak milik ayah Risma.
Hubungan Bayu dan Risma awalnya mendapatkan penolakan keras oleh kedua orang tua Risma, tapi karena keteguhan Risma, karena Risma yang selalu meyakinkan ayah dan ibunya jika Bayu adalah laki-laki baik yang sedang berusaha membahagiakannya dan berjanji akan membeli rumah untuknya sebagai mas kawin pernikahan mereka nanti, ayah dan ibu Risma akhirnya luluh dan mau menerima hubungan Bayu dan Risma. Tapi tahun demi tahun terus berganti, belum ada tanda-tanda Bayu akan membeli rumah untuk Risma. Hingga Risma mulai lelah dan bosan menunggu Bayu.
"Aku lelah, Bayu. Kau tahu sendiri jika adikku sebentar lagi lulus SMA, bagaimana jika sampai dia kuliah, sampai nanti ada yang melamarnya? Sedangkan kau belum bisa membeli rumah untuk kita, mau bagaimana, Bayu?" tanya Risma.
"Jika begitu, bagaimana kalau untuk sementara waktu, setelah kita menikah. Kita tinggal di rumah kontrakan dulu." usul Bayu sambil meraih kedua tangan Risma, Bayu bicara dengan mata berbinar berharap Risma mau mengikuti sarannya.
"Cuih! Aku sudah bisa menebak apa yang akan kau katakan. Janjimu selama ini ternyata hanya akal-akalan untuk menikahiku tanpa modal."
Bayu langsung mengelap pipinya yang basah oleh air ludah Risma. Rasanya hati Bayu begitu sakit karena wanita yang sangat dia cintai itu tega meludahi wajahnya. Tapi rasa sakit hati Bayu kalah oleh rasa cintanya hingga Bayu kembali mendekati Risma. Tapi kali ini Risma menepis tangannya.
"Risma... Aku janji, setahun setelah kita menikah, kita akan pindah dari rumah kontrakan ke rumah kita," bujuk Bayu.
"Jangan terus membuat janji, Bayu. Karena aku yakin sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menepati janji itu. Jadi, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini, karena aku lelah terus menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi."