Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tukang Cendol Tampan Naik Haji

Tukang Cendol Tampan Naik Haji

King Asraf | Bersambung
Jumlah kata
52.5K
Popular
484
Subscribe
102
Novel / Tukang Cendol Tampan Naik Haji
Tukang Cendol Tampan Naik Haji

Tukang Cendol Tampan Naik Haji

King Asraf| Bersambung
Jumlah Kata
52.5K
Popular
484
Subscribe
102
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeMiliarderPria MiskinKaya
Rangga, tukang cendol tampan yang hidup sederhana. Setiap hari ia harus menerima ejekan, dan kemarahan pelanggan. Setelah dimaki dan disiram air oleh seorang ibu arogan, Rangga menemukan sebuah amplop tebal berisi uang dan secarik catatan. “Gunakan untuk kebaikan. Allah pasti melihat.” Di tengah kebutuhan hidup dan ibunya yang sedang sakit, Rangga tetap memilih menyerahkan amplop itu ke masjid. Kejujuran ini membuatnya viral dan menarik perhatian seorang jurnalis bernama Nadia serta pemilik asli uang itu yaitu H. Burhan, seorang pengusaha kaya. Terharu oleh ketulusan Rangga, H. Burhan menghadiahkannya kesempatan berangkat haji. Perjalanan itu membuka pintu perubahan besar dalam hidup Rangga. Ujian, keajaiban kecil, fitnah, harapan baru, dan rasa yang tumbuh perlahan pada Nadia. Perjalanan seorang tukang cendol sederhana menuju tanah suci yang akhirnya mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh pekerjaan, tapi oleh hati yang jujur dan sabar.
Bab 1. Hinaan Di Depan Umum

Hei, kamu ini jualan atau tidur berdiri, sih?” Suara nyaring itu memecah antrean panjang di depan gerobak cendol Rangga.

Semua kepala sontak menoleh kearah sumber suara. Rangga yang sedang menuang santan ke mangkuk pelanggan langsung tersentak.

Seorang ibu berusia empat puluhan, berpakaian mewah lengkap dengan kacamata hitam besar, melangkah maju dengan gaya arogan.

Tasnya yang bermerek digantungkan di lengan kiri, sementara tangan kanannya memegang botol air mineral setengah penuh.

Rangga tersenyum, mencoba ramah meski hatinya langsung tergerus setelah dipermalukan di depan umum seperti ini.

“Maaf, Bu. Antreannya memang lagi banyak. Sebentar ya, saya—”

“Sebentar, sebentar! Terus itu jawabanmu dari tadi. Bosan aku mendengarnya,” seru ibu itu. “Saya dari tadi antre! Panas! Keringetan! Dan kamu santai aja? Mau sampai saya mati dulu?”

Beberapa orang dalam antrean mengernyitkan dahi. Ada yang saling berbisik tak suka dengan gaya ibu itu menegur Rangga.

“Bu, dia kan sudah bilang antre,” gumam seorang bapak-bapak. "Jadi ibu harus bersabar."

Tapi ibu itu tidak peduli. Ia justru makin maju, berdiri tepat di depan gerobak hingga bayangan tubuhnya menutupi matahari

“Kamu tuh tukang cendol atau tukang bikin orang emosi?” hardiknya lagi. Rangga menelan ludah. Ia sadar ibu itu mencari masalah. Tapi ia tetap mencoba tenang.

“Baik, Bu. Kalau Ibu mau duluan, saya persilakan. Tapi—”

“Nggak usah pura-pura sopan!” potongnya tajam. “Kamu tampang doang bagus, kerja lambatnya minta ampun! Kalau begini mah mending nggak usah jualan! Merusak mood saya!”

Orang-orang mulai terdiam. Ada yang kasihan. Ada yang menahan tawa malu. Ada juga yang mengambil ponsel diam-diam, merekam.

Rangga menggenggam sendok takarannya lebih kuat. Ia ingin marah. Ingin membalas.

Ingin rasanya ia berkata. 'Kalau nggak sabar, jangan antre!' Tapi ia tidak bisa. Ia tak mau cari keributan. Ia selalu diajarkan ibunya, ketenangan itu rezeki.

“Bu, saya mohon maaf. Saya cuma bekerja sendiri. Ini lagi ramai. Saya kerjakan yang terbaik.”

“Terbaik apanya?” Ibu itu mengangkat suaranya lebih tinggi.

“Saya sudah MENIT-MENIT di sini, tahu? Kalau kamu nggak bisa kerja cepat, BUBARIN aja jualanmu!”

Rangga menarik napas panjang.“Baik, Bu. Saya buatkan sekarang.”

“GAK USAH!” bentaknya tiba-tiba. Ibu itu melangkah maju satu langkah lagi. Wajahnya mendekat ke wajah Rangga.

Lalu

SPLASH!

Botol air mineral yang ia pegang disiramkan tepat ke wajah Rangga. Airnya memercik ke pipi, dagu, bahkan ke baju Rangga yang kini basah di bagian depan.

“BIAR SEGER! BARU MIKIR CEPAT!” teriak perempuan itu.

Semua orang terperangah.

Ada yang menutup mulut. Ada yang langsung memegang ponsel dan merekam cepat. Ada yang spontan berteriak

“Weeeh!”

Ada yang mencondongkan tubuh, memastikan apa mereka tidak salah lihat.

Rangga membeku. Air dingin itu mengalir pelan dari dagunya ke tanah berdebu.

Ibunya mendidiknya untuk sabar, tapi saat ini rasanya dadanya seperti dipukul palu panas. Kepalanya bergetar.

Tenggorokannya kering.“Bu…” suara Rangga parau. “Kenapa harus begitu?”Ibu itu mendengus ucapan Rangga.

“Karena kamu lambat! Karena kamu bikin saya marah! Dan karena kamu itu cuma tukang cendol!” katanya sambil menekankan setiap kata. “Cuma tukang cendol… ngerti?”

Kata-kata itu menusuk lebih sakit dari siraman air barusan.

“Udah, Bu, jangan kayak gitu,” ujar seorang pemuda dalam antrean.

“Bang Rangga nggak salah apa-apa.”

“Diam kamu!” bentaknya pada pemuda itu. “Kalau kamu suka sama dia, sana bantu dia jualan! Jangan sok jadi pahlawan!”Ibu itu memutar badan, menatap semua orang satu per satu dengan tatapan menghina, lalu berujar lantang. “Pertama dan terakhir saya beli di sini! Tempat semurah ini nggak pantas dilayani tukang yang lambat dan udik!”

Lalu ia pergi. Dengan langkah congkak, seolah baru menang perang.

Sementara itu, Rangga berdiri membatu. Napasnya tercekat. Wajahnya dingin karena air, tapi telinganya panas karena malu.

Beberapa orang mendekat, mencoba menenangkannya.

“Gapapa, Bang. Orang kayak gitu mah emang suka nyari ribut.”

“Nggak usah dipikirin, Rangga. Kamu udah kerja bagus kok.”

“Iya, Bang, lanjut aja. Kasihan kalau tutup.”Rangga memaksa senyum tipis.

“T-terima kasih, semua. Maaf bikin kalian nunggu.”

Ia kesat wajahnya dengan ujung kaus. Beberapa tetes air masih menetes dari dagunya.

Ia mencoba kembali melayani antrean. Tapi tangannya sedikit bergetar. Sendok takar yang biasa ia ayunkan dengan percaya diri terasa lebih berat dari biasanya.

Beberapa menit berlalu. Antrean bergerak lagi, meski suasananya canggung. Tidak ada yang berani bercanda.

Tidak ada yang berani ribut. Semua seperti sedang menjaga Rangga agar tidak runtuh.

Sampai seorang nenek tua mendekat.“Nak Rangga,” katanya lembut.

“Sini, Nek pegangin tanganmu dulu.”

Rangga menunduk. “Nek…”

Nenek itu memegang punggung tangan Rangga, menepuk pelan.

“Orang jahat bicaranya kasar karena hatinya kasar. Kamu jangan ikut-ikutan. Kamu tetap lembut, ya.”

Rangga langsung menahan air mata yang tiba-tiba menggenang.“A… aku coba, Nek,” ujarnya lirih.

Nenek itu tersenyum. “Yang penting kamu tetap jujur dan baik. Rezeki sudah ada yang ngatur.”Rangga mengangguk.

Setelah nenek itu pergi, gerobak kembali ramai. Ia mencoba bekerja lebih cepat. Lebih lincah. Lebih fokus. Tapi sesekali ia masih teringat siraman air dan hinaan yang menggema di telinganya.

Cuma tukang cendol. Kata-kata itu menghantam seperti batu tajam.

Padahal ia bangga dengan pekerjaannya. Ia membiayai ibunya dengan hasil cendol.

Ia berdiri dari jam sembilan pagi di bawah matahari sampai sore demi sesuap nasi.

Tapi bagi sebagian orang seperti ibu tadi, Ia bukan siapa-siapa.

Matahari mulai condong ke barat saat antrean akhirnya menipis. Langit tampak merah oranye, menandai sore yang sebentar lagi turun.

Rangga hendak menata ulang bahan-bahan di gerobak ketika tangannya bergerak menyentuh sesuatu di lantai tanah, tepat di bawah roda gerobaknya.

Sebuah amplop. Tampak tebal dan sedikit kusut seolah terinjak.

Rangga mengangkatnya.Tidak ada nama. Tidak ada tulisan. Tidak ada cap.

Ia melihat sekeliling.“Ini… punya siapa?” tanya Rangga ke orang-orang yang masih duduk di bangku pinggir jalan.

Tidak ada yang mengaku. Amplop itu terasa berat. Ia membukanya pelan.

Dan matanya langsung melebar.“Ya Allah…” bisiknya.

Isi amplop itu ternyata uang dengan jumlah yang sangat banyak.

Semua seratus ribuan, tersusun rapi. Setebal mungkin sepuluh, dua puluh juta? Ia tidak yakin.

Tapi cukup banyak untuk membuat tangannya kembali bergetar.

Ada satu kartu kecil di dalamnya.Rangga menarik kartu itu.

Tulisan hitam rapi di atas kertas putih.

[Gunakan untuk kebaikan. Allah pasti melihat.]

Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Rangga menatap uang itu lama. Jantungnya berdetak keras.

"Ini apa…? Siapa…?" Telinganya seolah kembali mendengar suara ibu arogan tadi.

'Cuma tukang cendol!' Rangga memejamkan mata.Tapi di sisi lain, muncul bayangan ibunya yang terbaring di rumah.

Sering batuk. Sering sesak. Butuh kontrol ke dokter, butuh obat, butuh yang lebih banyak dari sekadar rasa sabar.

Ia menatap amplop itu lagi. Uang sebanyak ini bisa mengubah banyak hal. Bisa membuat ibunya berobat. Bisa memperbaiki gerobaknya. Bisa membuat hidupnya jauh lebih baik.

Tapi…

Jalan cepat tak selalu benar. Rangga mengembuskan napas pelan.

'Apa Tuhan sedang mengujiku hari ini?' Tanyanya dalam hati.

Ia meremas amplop itu erat-erat. Rangga tidak tahu bahwa moment inilah persis di sore hari ini, di bawah langit jingga dan gerobak cendol yang masih basah oleh air siraman ibu arogan tadi,yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca