Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM AJIAN TANAH JAWA

SISTEM AJIAN TANAH JAWA

masju | Bersambung
Jumlah kata
41.6K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / SISTEM AJIAN TANAH JAWA
SISTEM AJIAN TANAH JAWA

SISTEM AJIAN TANAH JAWA

masju| Bersambung
Jumlah Kata
41.6K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiSilatSistem
Sistem Ajian Tanah Jawa Irshad Wiratama, manusia biasa dari dunia modern, terlempar ke Tanah Jawa lain yang masih diikat ajian, kanuragan, dan hukum leluhur. Di dunia ini, kekuatan tidak pernah diberikan—semuanya harus dibayar melalui laku, tirakat, dan pantangan. Sebuah sistem hanya mencatat dan mengikat warisan ajian, sementara silat menjadi wujud luar perjuangan hidupnya. Setiap kekuatan membawa harga, setiap langkah meninggalkan jejak di tanah yang sakral. Ini bukan kisah menjadi terkuat, melainkan tentang bertahan tanpa kehilangan diri. Sistem Ajian Tanah Jawa adalah novel mistis bernuansa sunyi dan realistis, tentang warisan, penderitaan, dan harga kekuat
BAB 1 - TANAH MEMANGGIL DAN LAKU PERTAMA

Tanah itu dingin.

Bukan dingin seperti malam, bukan pula dingin seperti hujan. Dingin ini merambat dari telapak kaki, naik ke tulang, lalu berhenti di dada, seperti sesuatu yang sedang menimbang apakah tubuh itu pantas berdiri di atasnya.

Irsyad terbatuk keras.

Tanah merah kecokelatan masuk ke dalam mulutnya. Ia memuntahkan ludahnya yang bercampur debu, lalu ia terengah-engah sambil bertumpu pada kedua tangannya. Napasnya pendek, dadanya terasa seperti ditekan batu besar.

"Apa… sial…"

Kalimatnya terputus-putus. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Ia mengangkat kepalanya perlahan-lahan.

Terlihat hutan lebat di sekitarnya.

Pepohonan menjulang tinggi dengan batang gelap berdiri rapat, daunnya lebar dan berat. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan, jatuh sebagai garis-garis kuning keemasan di tanah yang penuh akar. Tidak ada bising suara kendaraan. Tidak ada dengung suara elektronik. Hanya sepoi angin, bunyi serangga dan suara detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu keras.

Irsyad memejamkan matanya sejenak sambil merasakan lingkungan sekitarnya...

Ia merasakan ini bukanlah tempat ia terakhir berdiri.

Terakhir yang dia ingat adalah jalan sepi di pinggir kota, hujan rintik-rintik, dan lampu yang tiba-tiba saja padam. Tidak ada ledakan dan tidak ada teriakan. Hanya kegelapan tiada akhir… lalu hanya perasaan jatuh yang panjang dan tanpa dasar.

Sekarang, ia berada di sini.

"Tenang," gumamnya pada dirinya sendiri. "Tarik napas. Jangan panik." ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Secara naluri ia duduk bersila dengan posisi yoga, kebiasaan lamanya saat kepalanya penuh dengan pikiran.

Ia Menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.

Tariiiikkk.....

Keluaaaarrr...

Ia melakukan berulang-ulang sampai pikirannya merasa tenang.

Udara di hutan ini terasa berat, lembap, dan anehnya terasa tebal, seolah-olah setiap tarikan napas irsyad membawa sesuatu yang bukan hanya sekadar oksigen.

Irsyad membuka mata.

Tanah di depannya terlihat retak halus, seperti bekas ada tekanan berat yang menimpanya.

Retakan itu membentuk sebuah pola yang tak beraturan, namun entah kenapa anehnya terasa seperti disengaja. Ia mengulurkan tangan kanannya lalu menyentuh permukaan tanah itu.

Terasa Dingin.

Ada getaran samar-samar nyaris seperti denyut nadi manusia.

Ia langsung menarik tangannya cepat-cepat.

"Apakah ini Halusinasi?" gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia berdiri dengan sedikit sempoyongan. Pakaiannya masih sama seperti sebelum menyeberang: jaket tipis dengan kaus gelap serta celana jeans kesayangannya.

Tidak sobek juga tidak basah. Irsyad merogoh HP di saku celananya dan melihat layar hpnya mati total. Layarnya hitam tak bereaksi.

"Bagus," gumamnya kering dengan perasaan kesal.

Ia memutar tubuhnya sambil melihat sekeliling, mencoba mengenali arah.

Ia Tidak melihat ada penanda juga Tidak ada jalan setapak.

Hanya hutan yang seolah-olah berputar sama ke segala arah.

tiba-tiba ia mendengar suara Langkah kaki mendekat.

Irsyad langsung menegang dan menunduk, meraih sepotong kayu kering di bawahnya. Tidak ideal tapi lebih baik daripada hanya tangan kosong.

Langkah itu berat dan tidak tergesa-gesa, Disertai dengan suara napas yang kasar.

Dari balik Semak-semak, muncul seorang pria tua, Rambutnya panjang sebahu dengan sebagiannya yang memutih, diikat dengan Asal-asalan.

Kulitnya berwarna gelap penuh dengan garis usia.

Di tangannya terlihat sebuah tombak kayu dengan ujung batu yang runcing.

Mata mereka saling bertemu.

Pria tua itu membeku sekejap.

Tatapannya menelusuri pria muda didepannya, melihat dari kepala hingga ujung kaki, lalu kembali ke wajahnya.

Ada perasaan kaget dan waspada, Dan wajah ketakutan yang coba dia tahan.

Ia mengucapkan sesuatu.

Bahasanya asing tapi familiar, terdengar berat di telinga Irsyad.

Nada suaranya rendah, seperti orang yang sedang berbicara pada sesuatu yang lebih tinggi darinya.

Irsyad mengangkat kedua tangan perlahan, memperlihatkan bahwa ia tidak memegang atau membawa senjata yang berbahaya.

"Aku tidak mengerti maksudmu," katanya, berusaha tenang. "Aku juga tidak mau cari masalah."

Pria itu tidak mendekat tapi Justru berlutut ketanah, ini terasa aneh.

Kedua lutut pria tua itu menghantam tanah dengan bunyi berat.

Tombaknya ia letakkan ke tanah lalu kepalanya menunduk dalam-dalam.

Irsyad tertegun dengan keadaan aneh ini.

"Hei jangan, berdirilah," katanya cepat. "Aku bukan...."

Kata-katanya terhenti seketika ketika tanah di bawah kakinya tiba-tiba bergetar ringan.

Bukan gempa, Lebih seperti helaan napas.

Udara di sekitarnya berubah menjadi Sunyi membuat suara serangga tiba-tiba menghilang seketika. Irsyad merasakan dadanya sesak, bukan karena rasa takut tapi karena ada sesuatu yang tidak ia pahami sedang memperhatikannya.

Di sudut pandangnya, sekelebat bayangan melintas.

Bukan tulisan juga bukan layar, hanya rasa.

Sebuah kesadaran samar, seperti seseorang membuka mata di kejauhan.

Warisan terdeteksi.

Tanah menerima pijakan.

Laku belum ada.

Pintu tertutup.

Irsyad berkedip keras dengan bingung, sensasi itu lenyap secepat ia datang.

"Apa barusan itu…," gumamnya.

tubuh Pria tua di hadapannya gemetar.

Ia mengangkat kepalanya sedikit, matanya berkaca-kaca.

"Tanah… memanggil," ucapnya dengan aksen yang berat, kini menggunakan bahasa yang anehnya bisa dipahami oleh Irsyad. "Jejak telah kembali."

Irsyad menelan ludahnya.

"Aku hanya tersesat," katanya jujur. "Aku tidak tahu apa-apa tentang tanahmu ini."

Pria itu menggeleng pelan.

"Tidak ada yang 'hanya' di sini," katanya lirih. "Kalau tanah membuka dirinya, berarti ada harga."

Angin berdesir, menggerakkan dedaunan dihutan.

Di sela-sela suara itu, Irsyad merasakan sesuatu yang mengikat kakinya ke bumi, bukan secara fisik, tapi secara batin.

Dalam pikirannya ia sadar satu hal dengan sangat jelas.

Apa pun tempat ini, ia tidak datang sebagai tamu.

Dan tanah itu entah bagaimana telah mencatat langkah pertamanya didunia ini.

Bab ini bukan awal kekuatan.

Ini adalah awal laku.

Dan Irsyad belum tahu berapa mahal harga yang akan diminta.

Kabut pagi masih menggantung rendah di Tanah Memanggil. Udara lembap menusuk paru-paru, membawa aroma tanah basah bercampur daun kering yang membusuk perlahan.

Langit kelabu tanpa matahari, seakan enggan memberi terang pada tanah yang telah lama tertidur.

Irsyad berdiri sendiri di tengah ladang itu.

Tanah di sekelilingnya retak-retak, membentuk garis acak seperti urat tua pada kulit manusia.

Setiap langkah kakinya terasa berat, bukan karena beban fisik, melainkan karena ada tekanan halus yang menekan dari bawah telapak kaki.

Ia berhenti sejenak.

Irsyad menunduk, lalu berjongkok. Tangannya menyentuh tanah, dingin dan Kasar. Namun ada denyut samar yang membuat dadanya terasa ikut bergetar.

"Tempat ini…" gumamnya pelan, "berbeda."

Sejak kejadian di sendang tua kemarin malam, ia tahu hidupnya telah bergeser ke jalur yang tidak biasa.

Tubuhnya terasa lebih peka, Napasnya lebih dalam, seolah paru-parunya baru belajar bekerja dengan benar. Namun yang paling mengganggu adalah ada rasa dipanggil.

Bukan oleh suara melainkan oleh tanah.

Irsyad menggenggam tanah itu perlahan, lalu membiarkannya jatuh kembali. Butiran tanah menimpa punggung tangannya, terasa hangat meski udara pagi begitu dingin.

Ingatan lama muncul tiba-tiba, Kakeknya pernah berkata dengan suara berat namun tenang.

"Saben dinten manungsa ngidak lemah, nanging ora saben ati gelem mireng bisikaning bumi."

"setiap hari manusia berjalan di atas tanah, tapi tidak semua hati mau mendengar suara tanah".

Dulu Irsyad hanya mengangguk tanpa benar-benar paham maknanya.

Kini kata-kata itu terasa seperti peringatan baginya.

Ia berdiri menatap sekeliling, Tidak ada orang lain, Tidak ada suara burung, Bahkan angin pun seakan menahan diri dunia terasa sunyi.

Kesunyian di Tanah Memanggil bukanlah kesunyian yang kosong, melainkan kesunyian yang mengawasi.

tiba-tiba tanpa peringatan, Cahaya tipis muncul di hadapannya.

Bukan cahaya yang terang. melainkan Hanya garis-garis samar, seperti tulisan yang terukir di udara.

[SISTEM WARISAN AJIAN TANAH JAWA]

Pengguna terikat: Irsyad

Status Kesadaran: Terbuka (Tahap Awal)

Warisan terdeteksi…

Ajian dasar dapat diakses melalui laku.

Irsyad membeku.

Jantungnya berdetak dengan keras, namun anehnya, pikirannya tetap tenang. Tidak ada kepanikan berlebihan dihatinya.

Tidak ada keinginan untuk lari.

"Jadi ini bukan mimpi," ucapnya pelan.

Tulisan itu tidak menjawab. Ia hanya muncul, lalu memudar perlahan-lahan, seolah menunggu sesuatu.

Irsyad menarik napas dalam-dalam.

Secara naluriah ia duduk bersila di atas tanah dengan posisi yoga. Punggungnya tegak, telapak tangan diletakkan di atas paha.

Tubuhnya bergerak sendiri tanpa instruksi, seakan mengikuti ingatan yang bukan miliknya.

Napasnya ditarik perlahan, Masuk melalui hidung Turun ke perut melalui diafragma, Ditahan sejenak.

Lalu dilepaskan perlahan dan panjang.

Sekali, Dua kali, Tiga kali.

Pada tarikan keempat, Irsyad merasakan sesuatu berubah dalam tubuhnya.

Tanah di bawahnya terasa hangat. Retakan-retakan kecil di ladang itu seperti bergetar halus, mengikuti ritme napasnya. Dadanya terasa berat, tetapi bukan sakit. Lebih seperti ada sesuatu yang sedang dibuka.

Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Ia teringat pitutur lain:

"Ilmu tanpa laku mung dadi angan-angan."

Ilmu tanpa laku hanya jadi angan-angan.

"Kalau memang ini jalannya," gumam Irsyad, "aku tidak akan setengah-setengah menjalaninya."

Napasnya semakin dalam. Setiap hembusan napasnya terasa membawa keluar kegelisahan lama dalam hatinya, amarah yang tidak pernah ia sadari, dan ketakutan yang selama ini ia kubur dalam hatinya.

Tiba-tiba, rasa nyeri muncul di persendiannya.

Bahunya terasa berat, Punggungnya seperti ditekan sesuatu dari atas.

Irsyad meringis, tetapi tidak berhenti mengolah napasnya.

"Ini harga awalnya," katanya pada dirinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar dari kejauhan, Pelan dan Teratur.

Irsyad membuka mata, Seorang lelaki tua mendekat dari arah pematang.

Tubuhnya kurus, punggungnya sedikit membungkuk, namun langkahnya mantap. Sebuah cangkul bertengger di pundaknya.

ia adalah Raksa salah satu tetua kamp.

Raksa berhenti beberapa langkah dari Irsyad.

"Kamu tidak seharusnya duduk di situ terlalu lama," katanya dengan nada datar.

Irsyad berdiri perlahan, "Maaf, Mbah. Saya tidak sadar."

Raksa menatap tanah di sekitar Irsyad, lalu menatap wajahnya lebih lama dari yang seharusnya.

Sorot matanya tajam, seolah melihat sesuatu di balik kulitnya.

"Tanah ini sudah lama tidak disentuh dengan niat yang benar," ucapnya akhirnya. "Kalau kamu bisa membuatnya bergetar, berarti tanah itu menerima kehadiranmu."

Irsyad menelan ludah dan berkata, "Mbah… apakah tanah bisa memilih manusia?"

Raksa tersenyum tipis, "Bukan memilih tapi Tanah hanya mengingat."

Ia mengangkat cangkulnya sedikit, lalu menunjuk ladang itu.

"Banyak orang menginjak tanah ini dengan keserakahan. Jarang yang duduk dan mendengarkan."

Irsyad menunduk dan Dadanya terasa hangat.

"Kalau seseorang diberi jalan seperti ini," lanjut lelaki tua itu, "jalan yang berat dan sepi, maka dia harus siap membayar dengan dirinya sendiri."

Irsyad mengangguk pelan penuh pemahaman.

"Saya mengerti, Mbah."

Orang tua itu berbalik dan pergi tanpa pesan tambahan. Langkahnya perlahan-lahan menghilang di balik kabut pagi.

Irsyad kembali menatap Tanah Memanggil.

Ia tahu satu hal dengan pasti sekarang.

Ini bukan anugerah yang didapat cuma-cuma tapi Ini adalah awal laku.

Dan laku, dalam Tanah Jawa, selalu dimulai dari kesunyian.

Lanjut membaca
Lanjut membaca