

Ryo Liem selalu menganggap hidupnya lurus dan bisa diprediksi.
Setiap pagi ia bangun di jam yang sama, bahkan tanpa alarm. Tubuhnya seolah sudah menghafal rutinitas itu. Mandi cepat, mengenakan kemeja polos yang disetrika seadanya, lalu berangkat kerja melalui rute yang sama—melewati gang sempit, deretan ruko tua, dan zebra cross yang catnya mulai pudar. Di tempat kerja, ia menghitung stok barang dengan ekspresi yang sama setiap hari. Tidak terlalu bosan, tidak terlalu bersemangat. Lalu pulang menjelang malam dengan dompet yang isinya selalu mengajarkan satu hal: arti kesabaran.
Sebagai pria Chindo berusia dua puluh enam tahun, Ryo sebenarnya tidak buruk secara penampilan. Wajahnya rapi, bersih, berkacamata tipis dengan bingkai hitam sederhana. Rambutnya selalu dipotong pendek, bukan karena gaya, tapi karena praktis. Jika dinilai secara objektif, ia cukup layak dipandang—tipe pria yang aman, tidak menonjol, dan mudah dilupakan.
Ia sendiri sadar akan satu hal:
ia sama sekali tidak punya aura tokoh utama.
Ryo bekerja di sebuah toko elektronik kecil milik kerabat jauh. Toko itu sudah ada lebih lama dari semangat para pegawainya. Bertahan hidup bukan karena ramai pembeli, melainkan karena keras kepala. Kipas angin tua di langit-langit berderit setiap kali dinyalakan, seperti orang tua yang mengeluh karena dipaksa bangun. Lampu neon berkedip malas, seakan ikut lelah dengan keadaan. Poster promo di dinding sudah pudar warnanya, menampilkan harga yang tidak lagi relevan sejak bertahun-tahun lalu.
Namun anehnya, Ryo menyukai tempat itu.
Tidak ada tekanan untuk menjadi hebat. Tidak ada target ambisius. Hidupnya sederhana, lurus, dan tidak ribet. Ia tahu persis berapa gajinya, tahu persis kapan uangnya akan habis, dan tahu persis bahwa besok akan sama seperti hari ini.
Dan ia baik-baik saja dengan itu.
Atau setidaknya, ia pikir begitu.
Pagi itu, setelah mengunci rolling door toko dengan bunyi logam berat yang sudah akrab di telinganya, Ryo menyeberang zebra cross menuju minimarket di seberang jalan. Ia belum sarapan, tapi itu bukan masalah. Kopi sachet adalah satu-satunya kemewahan kecil yang masih bisa ia pertahankan tanpa rasa bersalah.
Lampu lalu lintas menyala hijau. Mobil-mobil melaju teratur. Sepeda motor berhenti di belakang garis putih. Dunia berjalan sesuai aturan.
Semuanya tampak normal.
Sampai seekor anak anjing memutuskan untuk tidak normal.
Anak anjing kecil berbulu cokelat-putih itu muncul entah dari mana. Tubuhnya mungil, langkahnya goyah, dan lidah kecilnya terjulur ceroboh. Matanya bulat, hitam, dan penuh rasa ingin tahu—seperti sedang menantang dunia untuk berbuat sesuatu padanya.
Tanpa ragu, anak anjing itu menyeberang zebra cross.
Bukan berlari ketakutan. Bukan melompat panik.
Ia berjalan dengan keyakinan penuh, seolah yakin bahwa semua kendaraan akan berhenti demi menghormati kelucuannya.
“Eh—!” Ryo refleks berseru.
Suara klakson meraung memecah udara. Sebuah mobil sedan melaju terlalu cepat dari arah kanan. Jaraknya terlalu dekat. Waktunya terlalu sedikit.
Ryo tidak sempat berpikir panjang. Bahkan tidak sempat menyesal.
Tubuhnya bergerak lebih dulu dari pikirannya.
Ia berlari.
Langkahnya terasa berat, tapi ia memaksa. Tangannya terulur, jantungnya berdegup liar. Dalam sepersekian detik, ia meraih tubuh kecil itu.
Hangat.
Bergetar.
Ia memeluk anak anjing itu ke dadanya.
Detik berikutnya, dunia berubah menjadi cahaya putih.
—
Ryo membuka mata dengan rasa nyeri yang masih sopan—tidak terlalu sakit, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa ia belum mati. Kepalanya terasa ringan, tubuhnya berat. Bau antiseptik memenuhi hidungnya, tajam dan dingin.
Langit-langit putih rumah sakit menyambutnya tanpa emosi.
“Masih hidup?” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia menggeser pandangan ke samping.
Di kursi kecil di samping tempat tidur, anak anjing itu duduk manis. Kaki depannya dibalut perban kecil. Ekor mungilnya bergoyang pelan saat mata mereka bertemu.
“Syukurlah…” Ryo tersenyum tipis.
Saat itulah sesuatu muncul di udara.
Bukan bayangan. Bukan pantulan cahaya.
Tulisan.
Menggantung, transparan, dan jelas terbaca.
[SISTEM AUTO-CEO AKTIF]
Selamat, Host Ryo Liem.
Ryo berkedip sekali. Dua kali.
Tulisan itu tidak menghilang.
“Aku masih di bawah pengaruh obat?” tanyanya pelan.
Negatif.
“Halusinasi?”
Negatif.
“Kalau aku teriak?”
Tidak disarankan.
Ryo menarik napas panjang. Ada bagian dalam dirinya yang ingin panik. Tapi bagian lain—yang sudah terlalu lama hidup datar—justru merasa… pasrah.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita bicara. Kamu apa?”
Sistem Auto-CEO.
Fungsi utama: Membantu Host mencapai puncak kekayaan, status, dan pengaruh.
Ryo tertawa kecil, hambar. “Kedengarannya seperti penipuan.”
Validasi berhasil. Sistem terikat permanen.
“Kenapa aku?” tanya Ryo.
Karena Host menunjukkan Empati Tingkat Tinggi.
Ryo menoleh ke anak anjing di sampingnya. “Gara-gara kamu, ya.”
Anjing itu menggonggong pelan, seolah bangga.
Hadiah Awal: Audit Nasib.
Saldo Awal: Rp50.000.000.
Angka itu muncul besar di udara.
Ryo menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
“Kalau aku menolak?” tanyanya hati-hati.
Penalti: Gangguan visual berupa iklan pop-up selama 24 jam.
Ryo membayangkan hidupnya dipenuhi iklan pinjol, slot online, dan promo aneh setiap kali ia berkedip. Tubuhnya merinding.
“Baik,” katanya cepat. “Aku terima.”
Keputusan rasional terkonfirmasi.
—
Pemilik anak anjing datang tak lama kemudian.
Seorang wanita tinggi dengan postur tenang dan aura yang sulit dijelaskan. Gaun sederhana, potongan bersih. Tidak berlebihan, tapi jelas mahal. Jam tangan di pergelangan tangannya tampak biasa—bagi orang awam—tapi Ryo bisa merasakan nilainya tanpa perlu tahu mereknya.
“Aurelia Wijaya,” katanya singkat. “Terima kasih sudah menyelamatkan anjing saya.”
“Ryo Liem,” jawab Ryo. “Sama-sama.”
Aurelia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya dan meletakkannya di atas meja kecil. “Biaya rumah sakit.”
Sebelum Ryo sempat menjawab, tulisan muncul di udara.
[MISI TAMBAHAN]
Tolak kompensasi.
Bonus: +10% saldo.
Ryo menggeleng pelan. “Tidak usah.”
Aurelia menatapnya. Lebih lama dari yang diperlukan. Tatapan itu tenang, tajam, dan membuat Ryo sadar akan satu hal: wanita ini cantik dengan cara yang berbahaya. Bukan cantik yang mencolok, melainkan cantik yang terasa mahal dan sulit dijangkau.
“Menarik,” gumam Aurelia. “Jarang ada yang menolak uang.”
Ryo tertawa kaku. “Mungkin saya aneh.”
Saldo Bertambah: Rp55.000.000.
—
Hari itu tidak berhenti menjadi aneh.
Saat Ryo keluar dari rumah sakit, seorang gadis berambut panjang hampir menabraknya karena terlalu fokus pada ponselnya.
“Eh! Maaf!” katanya ceria.
Kaos ketat dan celana pendeknya membuat Ryo refleks menoleh—lalu sadar diri dan mengalihkan pandangan.
[PERINGATAN] Jaga fokus.
“Aku Mika,” gadis itu tersenyum lebar. “Aku tadi live. Kamu viral, tahu?”
Ryo membeku. “Viral?”
Mika memutar ponselnya. Video dirinya menyelamatkan anak anjing ditonton ratusan ribu kali. Komentar berderet cepat.
“Hero zebra cross,” kata Mika sambil tertawa.
Ryo menutup wajahnya dengan tangan. “Tolong jangan tambah penderitaanku.”
[MISI SAMPINGAN] Kolaborasi sosial.
—
Malamnya, Ryo terbaring di kamar kos sempitnya. Plafon rendah. Dinding kusam. Sistem terus memunculkan notifikasi—misi, statistik, grafik—seolah hidupnya kini berubah menjadi dashboard.
“Pelan-pelan,” Ryo mendesah. “Hidupku baru saja berubah.”
Perubahan adalah inti pertumbuhan.
Ryo menatap langit-langit. Dalam satu hari, ia hampir mati, mendapatkan sistem aneh, saldo tak masuk akal, bertemu wanita berbahaya, dan masuk video viral.
Dan entah kenapa, firasatnya berkata:
ini baru permulaan.
Di sudut kamar, ponselnya berbunyi.
Pesan dari nomor baru.
Aurelia: Besok jam 09.00. Kita bicara bisnis.
[MISI 2 TERBUKA]
Ryo tersenyum kecut.
“Hidupku benar-benar tidak lurus lagi.”
Dan di suatu tempat yang tak terlihat, sistem mencatat:
Host terkonfirmasi. Jalur baru dimulai.