Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Juna Sang Pemikat

Juna Sang Pemikat

Karma-Kun | Bersambung
Jumlah kata
68.0K
Popular
1.3K
Subscribe
260
Novel / Juna Sang Pemikat
Juna Sang Pemikat

Juna Sang Pemikat

Karma-Kun| Bersambung
Jumlah Kata
68.0K
Popular
1.3K
Subscribe
260
Sinopsis
18+PerkotaanAksiSistemHaremUrban
[Leuhur memberimu warisan hebat! Sudikah kau menerimanya?]—— Berawal dari pesan singkat yang dikira cuma iseng, ternyata Sang Leluhur benar-benar memberikan warisan yang mampu menjadikan Arjuna Merana sebagai Raja Pemikat setiap wanita. Juna yang awalnya cuma pemuda biasa, berubah total setelah mendapatkan warisan. Bagaimana kisahnya? Gas! Baca setiap Bab, jangan sampai terlewat.
Warisan Leuhur

Pukul empat sore, taman kampus Unisda Bandung mulai sepi.

Angin sore menggoyangkan dedaunan, sementara di bangku ujung taman, seorang pemuda duduk dengan wajah lelah.

Namanya Arjuna Merana.

Ia sedang menatap layar laptop, sibuk menyelesaikan tugas kuliah yang harus dikumpulkan malam ini. Dunia seolah tak punya waktu menunggu orang sepertinya—mahasiswa biasa, dengan kemampuan biasa, dan mimpi yang sederhana: lulus, dapat pekerjaan, lalu bantu keluarga.

Namun, sore itu, sesuatu aneh terjadi.

Ponselnya tiba-tiba bergetar pelan.

[Hei Nak, Leluhur ingin memberimu Sistem Pemikat untuk menaklukkan setiap wanita di dunia ini. Bersediakah kau menerimanya?]

Alis Arjuna langsung berkerut. Ia membaca pesan itu dua kali, memastikan matanya tidak salah lihat.

“Apa maksudnya ini?” gumamnya pelan.

Kemudian tertawa kecil. “Ah, pasti penipuan. Atau orang iseng yang gabut.”

Ia abaikan pesan itu. Fokus lagi pada layar laptop. Tapi belum sampai tiga menit, ponselnya bergetar lagi.

[Leluhur telah memilihmu sebagai pewaris Sistem Pemikat Wanita. Apakah kau ingin menerimanya?]

[Balas Ya jika kau setuju. Kesempatan ini hanya datang sekali.]

Arjuna menghela napas.

“Orang zaman sekarang makin aneh,” ujarnya lirih.

Ia letakkan ponsel, lalu kembali menatap laptop. Hanya tersisa sepuluh menit sebelum kelas berikutnya dimulai.

Tidak ada waktu untuk hal-hal aneh. Ia hanya ingin hidup tenang, menempuh kuliah dengan baik, dan membuktikan kalau anak biasa pun bisa bertahan.

Tiba-tiba, seseorang memanggil dari kejauhan.

“JUNA!”

Ia menoleh. Sosok sahabatnya, Deni, berlari menghampiri sambil membawa ponsel. Nafasnya terengah.

“Kau harus lihat ini,” katanya cepat.

Arjuna mengerutkan kening. “Ada apa sih, Den?”

Deni menatapnya dengan ragu, lalu duduk di sampingnya.

“Sella… pacarmu…” suaranya berat. “Dia selingkuh.”

Wajah Arjuna menegang. “HAH?”

Deni menyerahkan ponselnya. Di layar, sebuah video terbuka.

Suara itu…

Tawa perempuan yang sangat ia kenal, dan suara lelaki lain di sampingnya.

Mereka masuk ke hotel. Berdua.

“Tidak mungkin… ini pasti salah paham,” kata Arjuna, suaranya bergetar.

Tapi Deni hanya diam, lalu memutar video kedua.

Kali ini lebih jelas. Sella dan Yoni berjalan keluar kamar, bergandengan tangan, bercanda, tertawa.

“Kita bermain sampai puas malam ini…” suara Sella terdengar.

“Punya kamu enak banget soalnya,” balas suara laki-laki itu.

Jantung Arjuna serasa diremas dari dalam. Ia menatap layar itu lama sekali, berharap apa yang dilihatnya hanyalah mimpi buruk. Tapi sayang, hidup tidak pernah selembut itu.

“Aku tidak bisa merekam lebih lama,” kata Deni pelan, “Satpam hotel datang. Tapi… aku yakin itu memang Sella.”

Arjuna menelan ludah. Tenggorokannya kering.

Dia berdiri.

“Dia pasti sudah keluar kelas sekarang,” katanya dengan nada getir.

Langkahnya tergesa.

Ia ingin mendengar langsung dari mulut Sella, sekalipun hatinya sudah tahu kebenaran yang pahit itu.

***

Langkah-langkah Arjuna bergema di koridor kampus yang panjang dan dingin. Ia berjalan cepat, matanya kosong, napasnya berat.

Ada sesuatu yang berputar di dadanya — perasaan aneh antara marah, takut, dan tidak percaya.

Begitu sampai di depan kelas Sella, waktu seolah berhenti.

Di sana… Sella sedang berdiri bersama seorang pria.

Mereka tertawa kecil, jarak di antara mereka nyaris tak ada.

Rasanya seperti dunia berhenti berputar.

Suara mahasiswa di sekeliling mendadak lenyap.

Hanya ada satu kata yang keluar dari bibir Arjuna.

“Sella!”

Gadis itu menoleh, refleks menjauh dari pria di sampingnya. Wajahnya pucat, matanya panik.

“Ka-Kamu kenapa ke sini? Bukannya kelasmu di gedung sebelah?” tanyanya gugup.

Arjuna berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi pasti.

“Apa salah kalau aku ingin melihat wajah kekasihku?” suaranya serak.

Sella memalingkan wajah, mencoba sembunyi dari tatapan itu. Tapi keheningan di antara mereka sudah cukup menjadi jawaban.

“Jelaskan, Sella,” ujar Arjuna lirih. “Aku ingin dengar dari mulutmu sendiri.”

Ia mengeluarkan ponsel Deni, memutar video itu. Dan seketika, udara di sekitar mereka berubah dingin.

Wajah Sella membeku. Pria di sampingnya—Yoni—menegakkan badan, mencoba tetap tenang.

“Itu cuma salah paham,” kata Sella terbata. “Aku dan Yoni hanya teman. Suara di video itu bukan suara kami.”

Yoni ikut bicara, nada suaranya datar. “Benar. Kami cuma teman sekelas.”

Arjuna tertawa kecil. Tapi tawa itu getir, seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah kembali.

“Kalian berdua benar-benar hebat,” katanya pelan. “Bahkan untuk berbohong pun kalian bisa kompak.”

Sella menunduk, menggigit bibir. Ia tahu semuanya sudah terbongkar. Tapi entah kenapa, rasa bersalah itu cepat berubah menjadi kebencian. Kebencian terhadap dirinya sendiri, terhadap keadaan, terhadap Arjuna yang terus menatapnya seperti itu.

“Sudah cukup!” seru Sella tiba-tiba.

Tangannya terulur cepat, merebut ponsel Arjuna lalu melemparkannya ke lantai.

“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun lagi,” katanya lantang. “Karena semuanya memang benar. Aku sudah tidak ingin bersamamu, Juna. Aku muak sama pria miskin.”

Suara itu dingin. Tajam.

Setajam belati yang baru saja menembus dada seseorang tanpa ampun.

“Lagi pula, sadar diri sedikit. Kamu tidak punya harta. Tidak menarik. Aku capek hidup sama kamu.”

Setiap kata terasa seperti hantaman keras.

Arjuna menatap Sella lama sekali, seolah masih berharap ada sisa kasih di matanya. Tapi yang ia lihat hanyalah kelelahan dan jijik.

Tangannya terangkat pelan, ingin sekadar menyentuh, memastikan ini bukan mimpi buruk.

Namun sebelum jari itu sempat sampai, bam!

Tinju keras mendarat tepat di perutnya.

Udara keluar dari paru-parunya, tubuhnya terhuyung.

Yoni menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan.

“Dengar baik-baik,” katanya di telinga Arjuna. “Sella bukan milikmu lagi. Dan kalau kau berani mendekatinya lagi… aku pastikan kau menyesal.”

Bam!

Tinju kedua menghantam wajah Arjuna, membuat darah mengalir dari hidungnya.

Dunia terasa berputar.

Sella hanya berdiri di sana.

Tidak menjerit. Tidak menangis.

Hanya diam, menatap pria yang dulu pernah dicintainya, kini terkapar tanpa daya.

“Sungguh menyedihkan,” katanya datar. “Kamu cuma pecundang.”

Kemudian ia melingkarkan lengannya di tangan Yoni.

Keduanya pergi begitu saja. Tanpa menoleh. Tanpa sisa penyesalan.

Arjuna menatap punggung mereka sampai hilang di balik tikungan.

Dan saat itulah, tubuhnya gemetar. Dadanya sesak.

Ia berteriak.

“ARGHHHH!!!”

Suara itu menggema di lorong kampus, mengguncang udara sore.

Suara hati yang pecah, suara seseorang yang baru kehilangan separuh jiwanya.

Arjuna berjalan tanpa arah.

Kakinya membawanya ke toilet yang sepi.

Di sana, di antara pantulan kaca yang buram dan lampu redup, ia menangis.

Menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.

“Sial…” gumamnya pelan. “Aku memang pecundang.”

Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan.

Cinta pertamanya—perempuan yang ia perjuangkan selama ini—pergi begitu saja, meninggalkan luka yang tak bisa dijahit kata-kata.

Lalu…

Ding!

Suara pesan masuk terdengar dari saku celananya.

Arjuna menyeka air mata, membuka ponsel dengan tangan gemetar.

[Kesempatan terakhir. Terimalah Warisan Pemikat dari leuhur ini. Jangan sampai kau menyesal.]

Arjuna mendengus. “Aku tidak punya waktu meladeni penipu,” balasnya cepat.

Namun beberapa detik kemudian, balasan datang lagi.

[Aku bukan penipu. Aku utusan Leluhurmu, Juna. Putuskan sekarang: terima, atau tolak.]

Arjuna terdiam lama.

Kepalanya berat, tapi hatinya… entah kenapa, berkata lain. Ada sesuatu yang aneh—seolah dunia sedang membuka pintu baru di depan matanya.

Ia mengetik pelan.

[Baiklah. Aku terima. Tapi kalau ini tipu-tipu, awas saja kau.]

Tidak ada balasan.

Namun ponselnya tiba-tiba bersinar terang, seperti menyala dari dalam.

Arjuna menatapnya kaget.

“A-apa ini…?”

Layar ponsel berubah.

Ikon-ikon lama menghilang. Muncul satu ikon baru: angka 69 dengan kilau merah muda.

Jantung Arjuna berdetak kencang.

Tangannya bergetar saat menekan ikon itu.

Dan kemudian… suara lembut seorang perempuan terdengar dari ponsel itu, begitu dekat, seolah berbisik di telinganya.

“Selamat datang di Sistem Pemikat Wanita versi 1.0. Saya Adela, AI yang akan jadi penuntunmu."

"Karena itu bersiaplah, Master… hidup kamu akan berubah mulai sekarang.”

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca