

Dewa sepakat menggunakan seluruh kemampuan mereka untuk menyegel seluruh kekuatan manusia.
Ambisi manusia harus dihentikan, kekuatan mereka terlalu menakutkan. Dewa-dewa kayangan, menghapus ingatan dan seluruh catatan tentang energi spiritual di dunia manusia untuk membatasi tindakan mereka yang keterlaluan.
Alam menempa manusia sebagai mahluk yang lemah, dan harusnya memang seperti itu saja. Namun, selama ribuan abad, manusia memiliki kemampuan untuk membangkitkan energi spiritualnya. Kekacuan terjadi dimana mana, manusia saling membunuh satu sama lain.
Hukum manusia berubah menjadi hukum rimba, yang kuat yang berkuasa.
Ketika persiapan telah selesai, Dewa akhirnya melakukan semuanya dengan sangat rapi dan bersih.
"Jangan biarkan manusia melampaui para dewa!" ini adalah semboyan para dewa. Mereka mempelajari sifat manusia yang haus akan kekuatan dan kekuasaan. Mereka mengetahui, manusia tidak akan pernah puas dengan pencapaiannya.
Cukup sudah, Lanting Beruga sebagai manusia terakhir yang hampir menjadi Dewa dari kalangan manusia.
Di dalam Nirwana, seorang Dewa melihat permata sebesar gunung yang bercahaya terang. Permata suci. Benda itu merupakan wadah dari seluruh ilmu pengetahuan dan energi spiritual manusia.
"Jadi ini seluruh energi spiritual dan pengetahuan manusia," kata Dewa itu, sembari berdecak kagum memandangi Permata Suci di hadapannya. "Banyak sekali, sebesar gunung himalaya. Pantas saja, kita menghabiskan seluruh sumber daya hanya untuk ini."
"Jika dewa menyerap seluruh energi spiritual ini, dewa kelas rendah saja bisa berhadapan dengan Dewa Kelas Tinggi."
Permata Suci bukan hanya kumpulan energi spiritual manusia, melainkan juga seluruh pemahaman manusia akan hal itu. Artinya, di alam manusia, tidak ada satupun lagi dari mereka yang dapat membangkitkan tenaga dalam, menggunakan jurus dan teknik bela diri dengan esensi energi spiritual.
Dewa telah menyapu bersih ingatan mereka tentang ilmu bela diri, atau cara membangkitkan energi terbesar di dalam tubuh mereka.
"Mereka diciptakan untuk menjadi mahluk yang bodoh, dan harusnya tetap seperti itu."
"Lanting Beruga hampir menguasai seluruh manusia, kita tidak bisa membiarkan hal semacam itu terjadi lagi."
"Manusia yang ingin melampaui para dewa, tentu saja tidak bisa dibiarkan."
"Jadi, akan diapakan permata suci ini?" tanya salah satu Dewa yang lain.
"Kebijakan itu hanya ada pada Petinggi Dewa Kayangan, kita sudah menjalankan tugas, waktunya untuk istirahat. Menghampus dan menyimpan seluruh energi manusia dalam permata suci, telah menguras seluruh energi yang kukumpulkan selama ratusan tahun."
"Menurutmu, apakah kita juga bisa menghapus dan menyimpan energi spiritual bangsa asura. Mereka jelas lebih berbahaya dibandingkan manusia."
"Bagaimanapun, menghapus kekuatan manusia merupakan langkah awal yang bagus, jika Dewa kayangan menginginkan ras kita manjadi satu satunya yang terkuat, menghapus kemampuan asura tentu langkah yang sangat tepat."
Namun tiba tiba.
"Dewa Semaranta, apa yang akan kau lakukan?!" seorang dewa yang ditugaskan untuk menjaga manusia muncul di tempat itu, dia yang tua tersenyum tipis.
Bersama dengannya, ada pula dewa yang memiliki perawakan menyeramkan, dengan sorot mata dingin, dan kabut hitam menyelimuti tangannya.
"Dewa Tejomantri, kenapa anda ada di alam kayangan?"
"Aku tidak menyukai manusia, tapi mendengar kalian juga akan menghapus energi spiritual asura, itu membuatku tidak senang," Dewa Tejomantri adalah dewa yang ditugaskan untuk menjadi pengawas alam asura, tapi kemudian dia terlalu mencintai mahluk mengerikan itu.
"Penjara spiritual ini tidak seharusnya diciptakan oleh kita, manusia memiliki potensi yang sama dengan dewa," kata Dewa Semaranta, "demi mereka, aku akan menghancurkan permata suci."
Ribuan prajurit Dewa berusaha menghentikan Dua Dewa tua. Pertarungan besar terjadi, tapi kemudian rencana para dewa digagalkan. Permata Suci hancur berkeping keping, dan tersebar seperti bintang jatuh di alam manusia.
Ya, itu adalah hujan meteor di alam manusia.
"Kenapa kalian Dewa Aggung rela mengorbankan diri hanya untuk mahluk yang lemah?!"
***
"Apa kalian pernah mendengar, jika 1000 tahun yang lalu, manusia memiliki kekuatan untuk mengeluarkan api dari mulutnya?"
Pertanyaan itu muncul di kalangan para murid di Padepokan Majangkara. Lebih dari 1000 tahun semenjak Lanting Beruga berkuasa di dunia manusia, dan kini, hanya segelintir manusia yang masih menganggap cerita itu nyata.
"Itu hanya dongeng belaka, tidak ada manusia yang memiliki kemampuan aneh seperti itu!"
"Dalam catatan sejarah, 1000 tahun yang lalu, peradaban manusia masih sangat primitif sekali. Kita tidak mengenakan pakaian, kita berjalan merangkak, dan makan apapun tanpa dimasak. Aku sudah membaca banyak buku sejarah, manusia baru memulai peradaban sekitar 400 tahun yang lalu."
"Ya, aku juga membaca sejarahnya."
"1000 tahun yang lalu, dunia ini dihuni oleh mahluk raksasa dan para monster, tapi catatan sejarah menjelaskan, mereka semua hancur ketika meteor menghujani bumi. Yang tersisa setelah itu, hanyalah sedikit manusia yang putus asa."
"Jadi, kesimpulannya, tidak ada legenda manusia hebat yang hidup 1000 tahun yang lalu."
Hingga tiba tiba.
"Celaka, celaka ..," seorang pemuda datang dengan nafas memburu, "bocah sialan itu, dia melarikan diri."
"Apa maksudmu?"
"Dia tidak hanya berhasil melarikan diri dari penjara, dia juga mencuri harta karun dari brangkas penyimpanan."
"Apa-"
"Tempat itu dijaga ketat oleh para pendekar tingkat 5, bagaimana bisa?"
Ratusan pendekar langsung dikerahkan oleh Majangkaran untuk mengejar pencuri kecil yang sangat berbahaya.
Di sisi lain, terlihat sosok anak remaja usia 15 tahunan sedang berlari di antara pemukiman warga. Dia gesit, lincah, dan licin. Meski jalanan begitu ramai dengan para pedagang, tidak ada satupun barang dagangan yang dirusak oleh remaja tersebut.
"Permisi tuan dan nyonya!" teriak remaja itu, sembari terus berlari dengan cepat. "Jangan halangi jalan, permisi permisi .., maaf maaf."
Remaja itu terus berlari, hingga pada akhirnya, langkah kakinya terhenti seketika, mana kala ratusan pendekar sudah berada di depan, menutup jalannya.
"Kau sudah berakhir!" salah satu pendekar itu berkata, dengan wajah yang merah karena menahan marah, "beraninya kau mencuri harta karun Padepokan Majangkara?"
Remaja itu bernama Lanting Beruga, dia adalah anak yatim piatu yang tinggal di desa kecil tidak jauh dari Padepokan Majangkara. Orang tuanya memberikan nama itu sebagai simbol harapan, kebijaksanaan, dan kekuatan.
'Nama adalah doa dan harapan orang tua untuk anaknya.'
Namun nama tidak berarti apapun, nyatanya Lanting Beruga saat ini hanya remaja kecil yang gemar mencuri, sangat jauh dari kata kebijaksaan. Dia lahir ketika yang menguasai uang dan makanan adalah yang terkuat.
"Kalian Para Pendekar Majangkara telah merampas makanan di desa kami dengan menaikan pajak keamanan, kenapa aku harus disalahkan hanya karena mencuri kotak ini?!" Lanting Beruga protes, dia melakukan pencurian setiap hari bukan untuk dirinya, melainkan untuk warga desa yang tinggal di gubuk ilalang. "Harta ini katanya sangat mahal, aku akan menjualnya ke kota lain untuk membeli makanan bagi anak anak yang kelaparan, jika kalian berlalu adil, aku tidak akan melakukan hal ini."
"Cukup, tahu apa kau tentang kami?!" teriak salah satu pendekar itu, "kembalikan harta itu, sebelum kami menghabisi nyawamu!"
Tidak, Lanting Beruga tahu persis watak para pendekar ini. Meskipun dia telah mengembalikan barang curian, dia akan tetap dihukum mati. Namun, remaja itu juga penasaran, seperti apa barang yang disimpan di dalam kota emas ini. Jika dilihat, kotakny