

Gang kecil itu sudah seperti urat nadi di hidupku. Jalan selebar dua meter, dipenuhi deretan rumah sederhana, pot bunga yang disusun seadanya di depan pagar, dan suara ayam tetangga yang selalu berlagu setiap subuh. Aku tinggal di sini sejak lahir, di sebuah desa kecil di pinggiran Semarang yang orang-orang sering sebut “desa kota”—bukan sepenuhnya urban, tapi juga tidak sesederhana pedesaan murni. Di sinilah cerita ini berawal.
Namaku Arga, umurku 25 tahun. Sejak dua tahun terakhir aku bekerja sebagai wiraswasta—membuka toko kecil di halaman rumah yang menjual alat elektronik ringan: charger, kabel data, earphone, lampu LED, juga jasa service smartphone. Tak besar, tapi cukup untuk membiayai hidup sederhana dan menyicil motor.
Hidupku berjalan lurus, stabil, bahkan bisa dibilang membosankan. Sampai suatu saat, seseorang yang kukira hanya tetangga cerewet—yang suka menyeletuk tanpa diminta—tanpa sengaja berubah menjadi pusat semesta kecilku.
Namanya Nadia.
Dia tinggal dua rumah dari tempatku. Anak rantau yang datang dari Kendal, menyewa rumah kecil buat dirinya sendiri. Usianya 24 tahun, katanya. Tubuhnya kecil, suaranya agak serak seperti orang yang kebanyakan tertawa atau kebanyakan es kopi. Dia bekerja sebagai admin toko bangunan di pusat kota—rutinitas yang selalu membuatnya pulang jam lima lewat sedikit, dengan tas selempang coklat tua dan rambut yang sudah berantakan diterpa angin motor.
Dia itu periang dan humoris. Mulutnya ringan, gampang bercanda, tapi dalam hal-hal tertentu cuek setengah mati seperti tak peduli penilaian orang. Banyak tetangga yang bilang dia susah ditebak—kadang ramah sekali, kadang tegas seperti satpam komplek. Tapi yang jelas, dia punya daya tarik yang aneh. Bukan karena parasnya yang cantik luar biasa atau gaya hidupnya yang mewah. Bukan.
Justru karena caranya “ada”. Cara ia hadir dalam setiap percakapan tanpa membuatmu merasa dipaksa, cara ia menertawakan hal-hal sepele, cara dia menyindir tanpa melukai.
Aku ingat jelas bagaimana semuanya dimulai.
---
Pagi itu, seperti biasa, aku membuka rolling door toko setelah subuh. Suasana masih sepi. Hanya ada aroma kopi dari dapur rumah sebelah, suara ibu-ibu tukang sayur yang lewat, dan sepeda motor yang sesekali menggerung melewati ujung gang.
Aku sedang menata kardus barang kiriman, ketika suara itu terdengar.
“Pagi, Bos!”
Hanya satu suara di dunia yang bisa mengucapkan kata bos dengan nada yang sama antara ejekan dan pujian.
Aku menoleh. Nadia berdiri sambil memegang plastik berisi nasi bungkus. Rambutnya digulung asal-asalan, kaos oblong hitam yang kebesaran, celana training. Masih hanya setengah sadar, tapi mulutnya sudah sibuk.
“Aduh, baru buka aja udah keliatan kaya pengusaha. Besok-besok pake kemeja sama dasi dong.”
Dia meletakkan plastik itu di atas meja display kecilku.
“Ini apa? Lagi nyogok saya biar servis HP kamu gratis?”
Aku balas bercanda. Aku tahu persis isi plastik itu: nasi kucing dan gorengan dari warung Bu Siti. Nadia hampir selalu mampir di pagi hari, entah membeli, entah sekadar ngobrol.
“Bukan, Bos. Ini strategi marketing. Biar nanti kamu jatuh cinta sama aku, terus aku nikahin.”
Nada bicaranya santai, matanya tak melihatku, hanya fokus pada gorengan di dalam plastik.
Aku mengangkat alis.
“Kata siapa aku mau nikahin kamu?”
Ucapan itu keluar spontan. Setengah bercanda, setengah… mungkin ingin tahu.
Dia tertawa pendek, suara seraknya seperti menyayat udara dingin pagi.
“Udah, santai. Aku ini comblang potensial, bukan calon pacarmu. Kalau kamu cari cewek yang beneran, aku bisa cariin. Modalnya minjem uang dulu ke aku, baru ntar aku bantu kenalin.”
Aku pura-pura mendengus.
“Komisi besar banget ya.”
“Tenang, investasi jangka panjang.”
Dia meremas roti gorengnya, menggigiti ujungnya tanpa peduli remah yang jatuh.
“Kamu tuh cowok baik, Ar.”
Aku diam. Kata-kata seperti itu, kalau diucapkan Nadia, selalu datang tiba-tiba, selalu membuatku gugup, seolah-olah dia melempar bola ke arahku lalu pergi sebelum bisa kutangkap.
“Aku serius,” lanjutnya. “Cuma kamu terlalu… apa ya… lurus. Hidupmu nggak punya belokan.”
Aku mengangkat kepala. “Dan hidupmu penuh zig-zag?”
Dia mengangkat bahu. “Yang penting ada ceritanya. Kamu tuh udah cocok nikah—eh, punya pacar dulu maksudnya.”
Dan saat itulah semuanya dimulai.
---
Sore itu, beberapa jam setelah percakapan pagi kami, Nadia tiba-tiba menelponku. Suaranya cepat, seperti biasanya.
“Ar! Kamu lagi sibuk?”
“Lagi servis baterai, kenapa?”
“Stop. Tutup toko sebentar. Ada temenku mau kenalan.”
Aku berhenti mengencangkan baut casing smartphone.
“Siapa?”
“Namanya Rani. Temen kantor. Dia lagi cari cowok yang serius. Kriterianya santun, tanggung jawab… ya kayak kamu gitu lah.”
Aku hampir tertawa. “Sejak kapan kamu jadi mak comblang?”
“Sejak aku sadar kamu tipe cowok yang susah nyari pasangan sendiri,” ucapnya ringan.
“Lagipula kamu harus mulai hidup, Bos. Jangan tiap hari sama kabel data dan obeng.”
Aku ingin menolak. Ingin bilang aku belum siap. Ingin mengakhiri panggilan saja. Tapi entah kenapa mulutku malah berkata:
“Jam berapa?”
“Maghrib. Di warung mie ayam depan gang.”
Suaranya terdengar puas, seolah baru memenangkan undian.
“Dan kamu ikut?” tanyaku pelan.
“Ya jelas lah. Aku kan comblangnya.”
Dan di situlah rasa aneh itu muncul—sentakan tipis di dadaku.
Kalimat aku kan comblangnya terdengar ringan, tapi entah kenapa seperti menusuk sedikit.
Seolah ia berkata: “Aku bukan yang kamu cari, aku hanya jembatannya.”
Padahal aku sendiri belum tahu apa yang sebenarnya kucari.
---
Maghrib datang. Aku menutup toko lebih cepat, mengganti kaos, menyisir rambut seadanya. Rasanya bodoh siap-siap kencan untuk gadis yang bahkan belum kukenal. Lebih bodoh lagi karena aku menyetujui ajakan Nadia begitu saja.
Warung mie ayam depan gang itu sederhana, dengan lampu neon putih yang sedikit menyilaukan. Meja kayu, bangku panjang, aroma ayam rebus dan daun bawang mendominasi. Aku tiba duluan. Lima menit kemudian, Nadia datang.
Dia memakai blouse putih dengan jeans biru, rambutnya diikat setengah. Bukan dandanan berlebihan, tapi cukup membuatku terpaku sesaat.
“Maaf telat,” katanya sambil duduk. “Aku tadi harus jemput Rani. Dia mau mandi dulu—katanya nggak mau datang bau AC kantor.”
Aku mengangguk.
“Dan kamu nggak dandan?”
Dia melirikku, tertawa kecil. “Buat apa? Aku bukan yang mau ditaksir.”
Jawabannya membuatku terdiam beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Beberapa menit kemudian, seorang gadis datang. Rani. Lebih rapi, cantik dalam cara yang halus: jilbab pastel, riasan ringan, senyum sopan. Kami berkenalan. Awalnya canggung, tapi perlahan percakapan mengalir. Tentang hobi, pekerjaan, keluarga.
Nadia duduk di sebelahku. Bukannya membantu percakapan, dia malah sibuk memainkan HP-nya sambil tertawa-tawa kecil sendiri. Sesekali ia menyelutuk, melontarkan komentar random yang membuat Rani tersenyum, lalu sunyi lagi.
Aku mencoba menilai Rani. Dia baik. Lembut. Bahkan sepertinya cocok dengan deskripsi Nadia. Tapi di sela-sela percakapan, mataku terlalu sering melihat ke arah kanan. Ke arah Nadia.
Aku memperhatikan bagaimana dia menaruh sumpit saat selesai makan, bagaimana ia pura-pura cuek padahal telinganya mencuri dengar.
Dan di sanalah kecemburuan samar itu pertama kali kutangkap—bukan dariku kepada orang lain, tapi dari Nadia.
Ketika Rani tertawa karena aku menceritakan pengalaman lucu saat servis HP, aku menangkap sudut bibir Nadia menegang. Bukan senyuman. Bukan juga marah. Hanya… sesuatu yang ingin disembunyikan.
Dia menyembunyikannya dengan mengusap air minum es batu yang menetes di meja, seolah itu lebih penting dari manusia yang duduk hanya beberapa sentimeter darinya.
---
Pertemuan itu berlangsung satu jam. Ditutup dengan saling tukar nomor. Rani pamit lebih dulu.
Aku tersisa dengan Nadia.
Dia berdiri, memegang helmnya.
“Bagus. Gimana? Cocok?”
Aku menarik napas.
“Dia baik.”
“Loh kenapa suaramu kayak habis kalah turnamen badminton?”
Dia menyikut lenganku.
Aku hendak menjawab, tapi sebelum sempat, dia berkata pelan, nada yang berbeda dari biasanya—tak humoris, tak santai—hanya pelan:
“Kalau kamu suka sama dia, jangan lama-lama nunggu. Cewek kaya Rani itu… gampang diambil orang.”
Hanya itu. Lalu dia berjalan menuju motornya, tak menoleh sama sekali.
Dan di titik itu aku tahu: cerita ini bukan tentang Rani.
Ini tentang seseorang yang seharusnya hanya menjadi penghubung…
tapi tanpa sadar ia sedang mengikatku.
Bersambung