Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kalung Pengasihan

Kalung Pengasihan

Esteler89 | Bersambung
Jumlah kata
111.9K
Popular
8.0K
Subscribe
1.2K
Novel / Kalung Pengasihan
Kalung Pengasihan

Kalung Pengasihan

Esteler89| Bersambung
Jumlah Kata
111.9K
Popular
8.0K
Subscribe
1.2K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinHarem21+
Ketidaksengajaan Bima bertemu dengan seorang nenek tua membuat dia punya kesempatan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, dia diberikan kalung dengan liontin batu berwarna hitam. "Setiap kali kamu melakukan kebaikan terhadap wanita, maka liontin kalung ini akan bersinar. Kamu akan mendapatkan kebaikan yang tidak terduga." "Kenapa harus melakukan kebaikan terhadap wanita?" ''Karena kaum hawa merupakan kaum yang lemah." Kebaikan seperti apa yang akan didapatkan oleh Bima? Kuy pantengin kisahnya.
Bab 1

"Minggu depan adikmu udah harus bayar uang semesteran, kamu harus getol ngojeknya. Harus bayar listrik juga sama bayar air, kalau perlu gak usah pulang kalau belum dapet uang banyak."

Kata-kata itu terus saja terngiang di telinga Bima, dia sampai pusing sekali. Ngojek lagi sepi, tapi banyak biaya yang harus dikeluarkan. Terkadang dia bertanya-tanya di dalam hatinya, dia itu sebenarnya seorang anak atau seorang kepala keluarga?

"Duh Gusti, ngojek udah dari pagi. Tapi baru dapet segini," ujar Bima sambil menatap uang seratus ribu di tangannya. Padahal, ibunya berkata masih kurang satu juta untuk bayar semester adiknya, Tama.

Mau pulang takut ibunya marah, tak pulang dia sudah merasa lapar dan juga lelah. Dari pagi dia baru makan lontong dan juga gorengan saja, sampai malam hari tiba, dia belum mengisi perutnya kembali.

"Dek! Bisa antar saya ke Bogor gak?" Seorang pria matang menepuk bahu Bima.

Bima cepat-cepat menolehkan wajahnya ke arah pria itu. Pria yang ada di hadapannya terlihat memakai baju mahal.

"Bisa sekali, Kak!" jawab Bima dengan senyum merekah. 

Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tak apa kalau dia harus ngojek ke tempat yang lumayan jauh, karena Bima berpikir pria itu pasti akan membayar ongkos ojek yang lumayan besar.

"Kira-kira ongkosnya berapa ya kalau ke daerah sini?" Pria itu memperlihatkan sebaris alamat tempat tinggalnya. 

"Kebetulan agak jauh, Pak." jawab Bima sembari melihat maps digital di ponselnya. "Kurang lebih dua ratus ribu. Apa nggak apa-apa?"

Meski bisa saja mematok harga, Bima selalu merasa perlu untuk bernegosiasi tentang harga dengan penumpang. Sebab, menurutnya kepercayaan penumpang perlu dijaga. 

Dia tidak mau, kalau mematok harga tinggi justru membuat dia kehilangan pelanggan tetap.

"Oh, nggak apa-apa. Kebetulan istri saya baru saja melahirkan, jadi saya ingin cepat-cepat pulang." jawab Pria itu sambil memberi sejumlah uang berwarna merah dari dompetnya. 

Total lima ratus ribu.

"Lho, kok besar sekali, Kak? Nggak salah?"

"Nggak kok. Anggep aja saya lagi bagi-bagi rezeki. Udah, ayo jalan. Nanti saya arahin," ujar pria itu santai.

Bima tersenyum dengan begitu lebar saat melihat uang yang ada di tangannya. Artinya, target tabungannya tinggal sedikit lagi.

"Makasih banyak, Kak… makasih," ucap Bima berkali-kali sambil reflek membungkuk dalam-dalam, hampir bersujud saking bahagianya.

"Eh, eh! Jangan gitu. Saya manusia biasa, Dek. Yang boleh disembah cuma Tuhan," tegur pria itu cepat.

"I-iya, maaf, Kak. Saya cuma seneng banget… makasih ya. Semoga Kakak sama keluarga sehat selalu."

"Aamiin. Semoga begitu."

Bima memberikan helm kepada pria itu, lalu dia dengan sigap naik ke atas motornya dan meminta pria itu untuk melakukan hal yang sama.

'Nggak nyangka banget bisa dapet pelanggan sebaik ini,' gumam Bima dalam hati sambil menyalakan mesin motor.

Dia melajukan motornya sesuai dengan arahan dari pria matang itu. Hingga pukul sepuluh malam, mereka tiba di sebuah desa yang jauh dari kata ramai.

Jarak dari rumah ke rumah masih sangat jauh, tapi walaupun seperti itu, Bima bisa melihat kalau rumah yang ada di hadapannya itu sangatlah megah dan juga mewah.

"Terima kasih, kamu boleh pulang," ucap pria itu.

"Iya, Kak. Makasih juga, ongkosnya gede banget," ujar Bima sambil membungkuk hormat.

Bima hendak pergi dari sana, tetapi tiba-tiba saja pria matang yang tadi menggunakan jasanya itu memanggilnya kembali.

"Ada apa ya?" tanya Bima bingung.

"Ini buat kamu," ujar pria itu sambil memberikan bungkusan kepada Bima.

Bima membuka bungkusan itu, ternyata isinya ada beberapa roti dan juga sebotol air mineral.

"Takutnya nanti kamu lapar, jadi bisa makan di jalan."

"Makasih banget, Kak." ujar Bima terharu karena ada orang yang begitu baik sekali.

 Sudah memberikan ongkos dengan jumlah yang besar, pria itu masih saja memberikan dirinya makanan dan juga minuman.

"Sama-sama. Hati-hati ya."

"Ya, Kak."

Pria itu segera pergi dari sana, baru beberapa menit melakukan perjalanan pulang, hujan tiba-tiba saja turun.

Bima ingin meneduh, tapi sejauh mata memandang hanya ada pohon-pohon jati yang tumbuh di sana, tak ada tempat untuk meneduh.

"Astaga… kalau basah kuyup gini bisa sakit. Tadi lupa bawa jas hujan," keluhnya.

Tak lama kemudian Bima melihat di pinggir jalan ada saung, saung itu nampak sudah reot, tapi masih bisa untuk berteduh, dia langsung memberhentikan motornya. Lalu, dia memutuskan untuk meneduh di saung itu.

"Semoga saja hujannya nggak lama." Bima menatap langit yang meneteskan air ke bumi.

Semakin lama hujan itu semakin deras saja, Bima merasa dingin dan perutnya perih sekali. Bima teringat akan bungkusan yang diberikan oleh pria tadi, Bima tersenyum lalu memakan roti itu dengan lahap.

"Alhamdulillah… masih ketemu orang baik," ujar Bima sambil mengusap pipinya. Karena tiba-tiba saja air mata mengalir di kedua pipinya.

Sedih dan juga terharu, biasanya dia di rumah diperlakukan dengan tidak baik oleh ibu dan juga adiknya. Namun, dia malah diperlakukan dengan begitu baik oleh orang lain.

Krosak!

Brugh!

Saat sedang asik memakan roti, Bima di kagetkan dengan pohon yang roboh. Dalam hati dia bersyukur karena pohon itu tidak menimpa saung tempat dia berteduh.

"Tolong!"

"Eh? Kayak ada suara orang…" ujar Bima.

Suara hujan yang begitu deras menyamarkan pendengarannya, sehingga suara orang yang berteriak minta tolong seakan tidak terdengar.

"Tolong!"

Kembali dia mendengar suara orang berteriak minta tolong, Bima yang sejak tadi duduk langsung bangun. Dia mengedarkan pandangannya sambil menajamkan pendengarannya.

Suara minta tolong itu kini terdengar dengan begitu jelas, arahnya dari pohon yang tadi roboh.

Dengan perlahan dia melangkahkan kakinya menuju pohon tumbang itu, walaupun badannya basah, tetapi dia penasaran dengan siapa yang meminta tolong itu.

"Astagfirullah!" teriak Bima ketika dia melihat ada seorang wanita tua yang kakinya tertimpa oleh batang pohon yang roboh itu.

"To-tolong, Nak… kaki Nenek sakit banget…"" ujar wanita itu dengan suara yang parau karena terlalu lama berteriak meminta pertolongan.

"I-iya, Nek! Tahan bentar, ya!" ujar Bima.

Bima menarik napas dalam. Dengan seluruh tenaga, ia mengangkat batang pohon itu. Setelah beberapa kali usaha, akhirnya nenek itu bisa ditarik keluar.

"Ma… makasih, Nak. Tapi… kaki Nenek sakit banget. Bisa… anterin Nenek ke rumah?"

Suara wanita itu terdengar begitu lirih, dia berbicara sambil menahan rasa sakit.

"Rumah Nenek di mana?"

Sebenarnya Bima merasa heran, karena malam-malam seperti ini masih saja ada seorang nenek tua yang berkeliaran di luaran. Namun, dia merasa tidak berani untuk bertanya.

"Di sana…"

Bima menolehkan wajahnya ke arah di mana nenek tua itu menunjuk, ternyata tidak jauh dari sana memang ada sebuah rumah sederhana.

Bima cepat-cepat menggendong nenek tua itu, lalu membawanya menuju rumah sederhana itu.

"Ya Allah, Nek… kaki Nenek berdarah banyak…" katanya kaget." ujar Bima ketika menyadari di kaki wanita tua itu ada luka yang lebar dan mengeluarkan darah dengan cukup banyak.

Sepertinya saat kaki wanita tua itu tertimpa pohon yang roboh, ada batang pohon yang mengenai kulitnya yang sudah peot itu.

"Iya, sakit sekali. Kaki Nenek juga susah untuk digerakin. Kamu mau bantu Nenek untuk mengobati luka ini?"

Mendengar permintaan Nenek itu, Bima tanpa berpikir dua kali berdiri untuk mencari kotak obat.

"Kotak obat nenek di mana, Nek?"

"Nenek nggak punya obat… makan aja susah, Nak. Nenek tinggal sendirian."

Suara wanita itu semakin lirih, sepertinya rasa sakit semakin menggerogoti.

Bima merasa sedih mendengar apa yang dikatakan oleh nenek tua itu, dia merasa kalau hidupnya paling pilu, ternyata ada lagi orang yang lebih menyedihkan dari dirinya.

Bima mengedarkan pandangannya, di rumah itu memang tidak ada barang-barang berharga sama sekali. Sudah tempatnya kecil, kosong tanpa barang. Untuk alas tidur saja hanya ada tikar.

"Sebentar, Nek."

Bima pernah membaca kalau misalkan ada beberapa tumbuhan yang bisa dipakai untuk mengurangi pendarahan, pria itu keluar dari rumah kecil itu.

Lalu, dia mengedarkan pandangannya dan menemukan tanaman yang tumbuh subur di pekarangan.

"Syukurlah ada tanaman cocor bebek."

Bima memetik beberapa daun dan mencuci daun cocor bebek itu, lalu menumbuknya.

Setelah itu dia membersihkan luka nenek tua itu dan membalut luka nenek tua itu dengan tumbukan cocor bebek.

"Semoga cepet baikan ya, Nek. Ini obat alami, insya Allah bisa bantu."

"Makasih banyak ya, Nak… kamu baik banget. Nenek sebenernya nggak punya apa-apa buat balas kebaikan kamu…" Nenek itu berkata sambil meraih sebuah kotak kecil lusuh di sebelah tempat duduknya.

"Tapi Nenek masih punya ini. Kalung turun-temurun keluarga Nenek." Nenek itu lalu mengangkat kalung itu dan memberikannya ke Bima. 

Awalnya Bima hendak menolak, karena jika diperhatikan, kalung itu tidak terlihat seperti kalung. Malah terlihat seperti kulit kayu yang dikeringkan dengan liontin batu kali berwarna hitam.

Namun, nenek itu terus mendesaknya hingga Bima tak kuasa untuk menolak.

"Ambil saja, Nak… siapa tahu, suatu hari nanti kamu bakal butuh."

Bima baru hendak menolak lagi, saat matanya melihat liontin hitam itu mengeluarkan sependar cahaya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca