

Di lereng pegunungan Bandung yang sejuk, terdapat sebuah desa penghasil terbesar bernama Cipari wetan.
para pekerja sedang memetik daun teh, biasanya para pekerja akan mulai di jam setegah tujuh pagi, sebelum nya di jam enam pagi, tapi itu dulu saat pemilik nya masih ada, tapi sekarang sudah berpulang dan di urus oleh anak satu-satunya, Rakaswara Adimanggala. pria dewasa berumur 32 tahun itu menggantikan posisi mendiang ayah nya.
di usianya yang sudah menginjak kepala tiga tersebut masih betah hidup tanpa pasangan, tak jarang ada beberapa kenalan orang tuanya ingin mengenalkan putri mereka padanya. tapi Raka berusaha untuk memberikan alasan kalau dirinya masih ingin sendiri.
Raka selalu beralasan untuk membahagiakan Ibu nya dulu, sebelum ia berumah tangga. karena kalau sudah berumah tangga, maka fokusnya akan tertuju kepada Istri dan anak-anak nya kelak.
teman-teman nya hampir semuanya sudah berumah tangga, masih ada satu orang lagi, tapi katanya dua bulan lagi akan menikah.
Dan tak jarang juga ada yang menyebarkan gosip kalau Raka tidak menyukai perempuan, karena selama hidup nya tidak pernah melihat Raka jalan bersama perempuan. kalaupun lagi sama perempuan, tak jauh dari Ibu dan sepupu nya.
.
Raka berdiri di bawah pohon besar, ia sedang memantau para pekerja. bukan hanya perempuan, ada beberapa bapak-bapak
yang ikut bekerja di tempat nya sebagai pemetik daun teh.
udara siang ini cukup panas, setelah beberapa hari kemarin selalu turun hujan dari pagi sampai ketemu lagi lagi.
“A Raka”
terdengar suara perempuan paruh baya memanggil nya dari belakang.
Raka membalikan tubuhnya, ternyata salah satu pekerja nya.
“Iya Ceu”
“Emmm, A. bisa kasbon dulu nggak ya? soalnya satu Minggu lagi di sekolah cucu euceu mau PAS atau apa ya, eu0ceu lupa.”
“Bisa Ceu, mau kasbon berapa?” tanya Raka.
perempuan paruh baya yang biasa di panggil Ceu Ikah itu terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Maaf A, kalau boleh tahu euceu masih punya utang kasbon gak ya?” tanya balik Ceu Ikah.
Raka menggelengkan kepalanya, “udah nggak ada Ceu, jadi sekarang mau kasbon berapa?”
“Tiga ratus ribu aja A.” jawab Ceu Ikah.
Raka mengambil dompet nya, ia mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu dan di berikan kepada Ceu Ikah.
biasanya yang kasbon pas saat gajian tidak langsung di potong semuanya, tapi akan di tanya dulu mau di potong berapa.
sistem bayarannya borongan, jadi setiap tanggal satu mereka akan gajian. tidak sama, tergantung dari hasil memetiknya, biasanya yang masih muda bakalan lebih besar hasilnya bisa sampai tiga juta, kalau yang udah renta paling besar dapat dua juta, paling seujut satu juta setengah.
setelah di berikan uangnya dan mengatakan terima kasih, cue Ikah kembali melanjutkan pekerjaannya.
Raka berjalan ke arah perempuan yang bertugas mencatat hasil memetik daun teh.
“Meli.” panggil Raka.
yang di panggil langsung menatap ke arah Raka, “Iya A, ada yang meli bantu?”
“tolong catat, Ceu Ikah kasbon tiga ratus ribu” ucap Raka.
Meli menganggukan kepalanya, dan langsung mencatat dibuku yang sering ia bawa.
saat Meli ingin bicara lagi dan mendongkakan kepalanya, ternyata Raka sudah tidak ada disana. “kebiasaan, tiba-tiba datang tiba-tiba ngilang.” gumam Meli.
mereka berdua sudah kenal dari kecil, usianya hanya terpaut beda dua taun, lebih tua Raka, waktu baru lulus SMA meli sudah langsung ikut kerja di kebun teh bersama orang tuanya, sementara Raka merantau ke Bogor untuk kuliah.
Meli sudah menikah dengan teman dekatnya Raka, sudah lima tahun mereka menikah dan sudah punya anak satu berumur 3 tahun.
walaupun sudah menikah, Meli tetap bekerja, dan suaminya juga kerja di perkebunan teh mikin Raka sebagai mandor.
Meli masih bekerja karena sedang membangun rumah, butuh biasa besar jadi keduanya sama-sama bekerja. rencananya kalau rumahnya sudah selesai di bangun, ia akan berhenti.
*
Di terminal sekaligus dekat pasar, yang lumayan jauh dari desa Cipari wetan, seseorang gadis cantik berambut panjang baru saja turun dari Bus.
Aluna Kirana, gadis cantik berusia 24 tahun asal Jakarta. kedatangan nya kedesa ini untuk mengunjungi Bibi nya, adik mendiang Ibu nya.
orang tua Aluna sudah meninggal, selama di Jakarta ia hidup sendiri. biasanya ia akan menemui bibi nya saat hari Raya, tapi sekarang ia sengaja datang ke desa tersebut.
beberapa hari yang lalu ia baru saja mendapatkan musibah, harus di pecat dari tempat kerjanya karena di fitnah oleh temannya sendiri sekaligus selingkuhan pacar Aluna.
Aluna ingin menenangkan diri di desa, entah mau selama tinggal bareng bibi nya atau hanya sementara. bibi nya sudah menawari untuk tinggal di rumahnya, tapi Aluna ingin mempertimbangkan dulu.
“Semoga betah” gumam Aluna.
ia sudah mengabari Bibi nya, sempat menawari untuk di jemput, tapi Aluna menolak. ia tidak ingin merepotkan Bibi nya, lebih tepatnya sih sepupunya, anak satu-satunya bibi nya. yang baru berusia 19 tahun.
“Harus naik apa ya?”
terlihat ada tukang ojeg, ada mobil juga yang katanya biasanya mengangkut orang-orang yang ingin naik ke desa.
Aluna menundukkan kepalanya, ia membawa satu koper besar dan koper kecil, ada dua dus juga yang berisi oleh-oleh untuk Bibi dan sepupunya.
“Kayaknya harus naik mobil”
dengan perasaan malas, Aluna membawa barang-barang nya kearah deretan mobil yang sedang mangkal. walaupun barang-barang nya banyak tapi ia masih bisa membawa dengan kedua tangannya.
“Permisi, Mang mobil yang mau ke desa Cipari wetan yang mana ya?” tanya Aluna kepada salah satu supir yang berada disana.
“Cipari Wetan yang warna biru neng.”
Aluna menatap kearah mobil yang berwarna biru, tidak jauh hanya terhalang dua mobil saja.
“Terima kasih mang, mari.”
Aluna menarik dua koper nya, dua dus nya ia taruh di atas masing-masing koper.
sampai di sana, tenyata baru ada dua orang penumpang.
“Cipari wetan kan ya, mang?” tanya Aluna.
“Iya neng, masuk aja kalau mau ke Cipari wetan.”
“Masih lama?”
supir tersebut menganggukan kepalanya. “lumayan, baru tiga penumpang sama neng, nanti kalau udah dapat 6 baru jalan.”
Aluna hanya pasrah, ia memasukan barang-barang ke dalam mobil, ia memilih tempat duduk yang paling belakang agar barang-barang nya tidak menghalangi penumpang lainnya.
“Dari kota ya neng?” tanya salah satu ibu-ibu.
“Iya Bu.”
“Mau pindah atau mau liburan?” tanya satu nya lagi.
Aluna mengusap tangannya yang tidak gatal, “Emmm masih bingung Bu, saya mau ke rumah bibi saya, tapi belum tahu mau pindah atau cuma mau nginap doang” jawab Aluna.
“Pindah aja neng, enak suasana di desa cukup sejuk, beda kalau di kota, soalnya Ibu pernah nginap di rumah anak mantu di jakarta, malam-malam malah gerah, bahkan baru juga subuh udah gerah aja.”
Aluna hanya menanggapi dengan senyuman.