Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Liontin Raja Terakhir

Liontin Raja Terakhir

Nisa Yani | Bersambung
Jumlah kata
57.4K
Popular
529
Subscribe
165
Novel / Liontin Raja Terakhir
Liontin Raja Terakhir

Liontin Raja Terakhir

Nisa Yani| Bersambung
Jumlah Kata
57.4K
Popular
529
Subscribe
165
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperKayaZero To Hero
Rayan, pemuda berusia 22 tahun, hidup di titik paling bawah kehidupan. Ia tinggal di rumah reyot yang hampir roboh, hanya makan sekali sehari, dan bekerja sebagai kuli harian tanpa bayaran tetap. Ibunya meninggal dua tahun lalu, meninggalkannya dengan hutang rentenir yang tak pernah habis. Ayahnya kabur, dan tak pernah kembali. Yang tersisa hanya adik perempuannya yang lumpuh, terbaring lemah dan menunggu operasi yang mustahil mereka bayar. Setiap hari, Rayan dihina karena miskin. Dibentak mandor. Dipukul preman penagih hutang. Dan diperlakukan seperti sampah oleh masyarakat. Hingga suatu malam di rumah tua yang hendak dibongkar, Rayan menemukan liontin kuno. Liontin yang mengubah segalanya. Liontin itu terbuka hanya ketika disentuh oleh darahnya yang menetes. Lalu sebuah suara gaib memanggilnya pewaris, seolah Rayan, pemuda yang tak punya apa-apa memiliki takdir yang tak biasa. Dari hidup yang serba kekurangan lalu berubah menjadi seorang pemuda yang memiliki kekuatan luar biasa hingga mengangkat derajat hidupnya.
1. Liontin Kuno

Hujan malam itu bukan sekadar deras,

hujan itu menampar hidup Rayan seperti ejekan dari langit. Rayan berjalan tertatih menuju gudang tua sambil membawa karung semen. Langkahnya terseret karena kakinya berdarah setelah dipukul preman siang tadi.

Dia menahan rasa sakit di dada bukan dari pukulan, melainkan dari kenyataan bahwa adiknya Raka yang berusia 10 tahun yang menderita penyakit autoimun mungkin tak akan bertahan hingga minggu depan kalau ia gagal mendapatkan uang tambahan.

"Cepat! Dasar miskin payah!" Mandor membentaknya dari jauh. "Kerja yang bener! Gak usah kayak mayat hidup!"

Rayan tak membalas. Sudah bertahun-tahun ia terbiasa dihina seperti itu. Setiap hari begitu. Bangun pagi, bekerja sampai tulang terasa patah, menerima cacian, dan pulang tanpa kepastian bisa makan.

Saat mengangkat peti tua dari ruang bawah tanah, lututnya tiba-tiba bergetar hebat.

Bukan karena berat … Tapi karena tubuhnya belum makan sejak siang.

"Yan … jangan pingsan …" ia berbisik pada dirinya sendiri. "Masih ada obat adik yang harus dibeli …"

Ia memaksakan diri, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke ruangan lembap itu. Aroma jamur dan besi berkarat menusuk hidung.

Kemudian langkah Rayan terhenti saat matanya melihat ada kotak kecil tertinggal di sudut ruangan. Benda itu terkunci dan tertutup debu. Sepertinya tidak pernah dibuka selama puluhan tahun.

Rayan mendekat dan penasaran. Seperti ada sesuatu yang memanggilnya untuk menyentuhnya. Saat itulah, karena tangannya penuh luka, sebuah tetesan darah jatuh ke permukaan kotak.

Tes!

Kotak itu terbuka dengan sendirinya. Rayan tersentak dan terlonjak kaget. Matanya melihat ke bawah. Kepalanya menunduk. Di dalam kotak itu … tampak sebuah liontin keemasan yang bersinar meski ruangan gelap. Bentuknya mirip milik raja kuno jaman dulu. Jaman Kerajaan Majapahit.

"Apa ini ...?" tanya Rayan pada dirinya sendiri.

Belum sempat Rayan selesai bicara, cahaya yang berkilauan menyergapnya. Sekejap, ia melihat sosok lelaki bermahkota, berpakaian keraton seperti seorang raja pada masa lampau. Sosok itu berkata dengan suara dalam, "Penderitaanmu belum apa-apa. Bangkitlah. Mulai hari ini kehidupan mu akan berubah."

Rayan tidak mampu berkata apa-apa. Ia tiba-tiba terpental dan terlempar ke dinding lalu jatuh tersungkur. Napasnya goyah. Tubuhnya menggigil. Lantai di bawahnya terasa dingin.

"Apa ini …? Kenapa aku …?"

Rayan mengangkat wajahnya sebelum akhirnya ia menutup mata dan jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.

Bugh!

Tubuh Rayan tergeletak di lantai dingin ruang bawah tanah itu. Hujan di luar semakin deras, menggema hingga terdengar seperti ribuan langkah kaki di permukaan bumi, namun tidak ada satu pun langkah yang datang untuk menolongnya.

Beberapa menit berlalu.

Atau jam? Rayan tidak tahu. Kesadarannya mulai kembali perlahan, seperti seseorang yang memaksa membuka mata setelah tenggelam lama di dasar laut. Hal pertama yang ia rasakan adalah dingin yang menusuk tulang, seperti ruangan itu berusaha membunuhnya perlahan.

"Ugh …" Rayan mengerang lirih. Kepalanya berat. Penglihatannya buram. Dadanya seperti ditekan batu besar. Ia mencoba bangun, namun lengannya gemetar hebat. Tepat di saat ia menopang tubuhnya, rasa sakit tajam menyambar dari siku hingga bahu. Tubuh itu hampir menyerah lagi.

Akan tetapi ada wajah yang muncul dalam pikiran Rayan. Wajah itu adalah wajah adiknya. Satu-satunya keluarga yang ia punya.

Rayan menggigit bibir hingga berdarah, memaksa tubuhnya bangun walau lututnya kembali menghantam lantai.

"Bangun, Yan … bangun …" gumamnya dengan suara pecah. "Kalau kamu mati di sini … siapa yang menjaga dia …?" Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

Rayan tahu benar bahwa kalau ia tidak pulang malam itu, adiknya akan bangun sendirian di kamar gelap, memanggil namanya dengan suara lemah karena menunggu lelaki yang entah hidup atau mati.

Dengan sisa tenaga, Rayan meraih liontin tadi. Benda itu terasa hangat, berbeda dari lantai yang membekukan kulitnya.

Saat jari-jari Rayan menggenggam liontin itu, cahaya samar muncul … namun kali ini tidak meledak. Hanya berdenyut pelan, seperti napas seseorang yang tidur.

Rayan menatap liontin itu lama.

"Kenapa aku?" Suaranya pecah. "Aku cuma… orang miskin yang tidak berguna …"

Rayan menutup wajahnya dengan satu tangan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia benar-benar menangis. Bukan karena luka. Bukan karena mandor. Bukan karena preman. Tapi karena dunia seolah bersekongkol untuk membuatnya gagal, lagi dan lagi.

"Kalau hidupku mau berubah … kenapa harus lewat rasa sakit …? Kalau takdirku bagus … kenapa aku lahir miskin …?" Pertanyaan-pertanyaan itu menggema dalam kegelapan, namun tidak ada yang menjawab selain suara hujan dan detak samar dari liontin.

Tiba-tiba, dari ujung gudang terdengar suara langkah kaki.

Seseorang turun ke ruang bawah tanah yang membuat Rayan terkejut. Jantungnya berdegup begitu keras. Tanpa pikir panjang, ia buru-buru menyembunyikan liontin ke dalam sakunya, meski tangannya gemetar.

Lampu senter menyapu ruangan. Lalu suara bentakan terdengar:

"RAYAN! KAMU NGAPAIN DI SINI?!" Itu suara mandor.

Akan tetapi bukan suara marah biasa. Ada kemarahan yang jauh lebih besar, kemarahan yang siap menyakiti.

Mandor menghampiri Rayan dengan langkah cepat. Wajahnya merah padam.

"Aku cari kamu dari tadi! Ternyata peti belum selesai kamu angkut!"

Mandor itu menendang betis Rayan sangat keras yang membuat Rayan jatuh kembali ke atas lantai, ia memekik tertahan.

"Kalau kamu mau pingsan, pingsan di luar! Jangan di tempat kerja!"

Rayan mencoba bangun, tapi tubuhnya tak kuat. Ia hanya bisa merangkak.

Mandor menyeringai melihat itu, seolah menikmati penderitaannya. "Kamu pikir aku mau bayar kamu kalau beginian kerjaannya?! Gaji hari ini potong!"

Jantung Rayan seperti diremas. Tanpa gaji, ia tidak bisa beli obat untuk adiknya. Tanpa obat, adiknya tidak akan bangun besok. Ia memaksa menatap mandor itu dengan suara bergetar.

"Pak … jangan potong gaji saya … adik saya … dia sakit … saya ...."

Belum selesai Rayan bicara, sebuah tamparan mendarat di pipinya.

Plak!

Kepala Rayan terpelanting ke samping.

Mandor itu mendekat dan berbisik penuh amarah, "Kalau kamu miskin … jangan bikin orang lain susah." Ia menendang punggung Rayan. "Cepat kerja."

Rayan menggigit lidahnya agar tidak berteriak. Dunia di sekitarnya berputar.

Sakit di punggungnya membuatnya ingin menyerah … ingin tetap jatuh dan membiarkan dunia menginjaknya.

Tapi Rayan kembali teringat senyum kecil adiknya, yang selalu menutupi rasa sakit agar tidak membebani kakaknya.

Dengan gemetar, Rayan merangkak ke peti tua itu … mencoba mengangkatnya lagi. Di saku celananya, liontin itu berdenyut pelan. Namun denyutan kali ini berbeda .....lebih kuat, lebih hangat, seperti ada denyut jantung kedua di dalam tubuhnya.

Rayan berhenti. Keringat dingin merembes dari pelipisnya. Sebuah suara terdengar dalam kepalanya.Suara yang sama.

Suara raja yang bermahkota. "Kau ingin lepas dari semua ini … bukan?"

Napas Rayan tercekat. Air matanya kembali jatuh, bukan karena lemah … tetapi karena untuk yang pertama kalinya dalam hidupnya, ada yang bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia memejamkan mata.

Dengan suara serak dan patah, Rayan menjawab pelan, "Iya … tolong aku …"

Liontin di saku Rayan tiba-tiba berdenyut kencang dan keluar sebuah cahaya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca