

Malam ini Zaki berjalan di lorong rumah sakit dengan rasa sunyi. Ali, anak semata wayangnya mengalami koma setelah kecelakaan mobil yang menimpa mereka dua bulan lalu. Hanya Zaki yang mengalami luka ringan dalam peristiwa mengenaskan itu.
Tiga korban lainnya dinyatakan meninggal di lokasi kejadian. Sebuah mini bus merah yang dikendarai oleh muda-mudi melawan arah dengan kecepatan tinggi lalu menghadang mobil yang sedang dikendarai Zaki.
Saat pemeriksaan, ketiga korban itu merupakan mahasiswa semester 3 yang sedang dipengaruhi minuman keras.
Mobil yang Zaki kendarai mengalami kerusakan parah bagian kanan tepat Ali duduk, ia mengalami luka di beberapa tangan dan pelipisnya, sedangkan Ali mengalami patah tulang karena tehimpit mini bus.
"Pak Zaki, tunggu!" sahut seorang pria dari kejauhan.
Zaki menghentikan langkahnya, ia meloleh ke arah lorong rumah sakit yang sunyi. Entah kenapa pencahayaan saat itu sedikit redup, orang-orang yang biasa berlalu lalang kini tak terlihat.
Seorang pria berjas putih menghampiri, pandangannya menunduk dan jalannya begitu tegas.
Mereka memasuki kamar perawatan Ali, anak laki-laki berusia dua belas tahun itu terbaring lemah dengan selang oksigen yang menyambung ke dalam pernafasannya.
"Saya punya kerabat seorang pria yang bisa mengembalikan Ali hidup seperti semula," ucap sang pria yang memakai seragam dokter itu.
"Maksudnya bagaimana, Dok?" tanya Zaki kebingungan.
"Datangi Ki Joko untuk mengembalikan Ali seperti semula." ujar sang Dokter sembari memberikan sepucuk kertas bertulisan alamat. "Ali tidak akan bertahan lama."
Alamat tersebut berada di sebuah desa terpencil jauh dari kota, ia membaca sebuah kabupaten yang pernah ia kunjungi sewaktu muda beberapa puluh tahun yang lalu.
Zaki mengangkat kepalanya, dokter yang baru saja berdiri di hadapannya telah menghilang begitu saja, ia melirik ke kanan dan ke kiri namun tak mendapatkan keberadaan dokter tersebut.
Pria berusia empat puluh tahun itu mematung, ia masih mencerna semua yang baru saja terjadi.
Zaki berjalan menuju pintu dan membukanya, mencari dokter yang baru saja ia temui, namun ia tak mendapatkan sosok pria tinggi tersebut.
Zaki kembali berjalan perlahan di lorong rumah sakit, kini cahaya terlihat lebih terang dibandingkan beberapa menit yang lalu, suasana sekitar pun cukup ramai, banyak orang yang berjalan membersamai dirinya.
Pria dengan satu anak itu ikut mengantri di loket penebusan obat, ia berdiri mengikuti beberapa orang yang sedang berdiri di depannya.
Dari arah luar loket ia melihat dokter yang baru saja ia temui melintas dengan cepat. Zaki tersadar, ia menundukan kepalanya kesamping untuk melihat lebih jelas. Namun seperti mimpi, tak ada siapa-siapa di arah sebelah kiri, tak terdapat pintu atau pun jalan lainnya. Tembok yang terlihat sedikit lusuh itu hanya di halangi sebuah rak obat yang tinggi.
Zaki menggelengkan kepalanya dengan keras, beberapa orang yang ada di samping dan belakang menatapnya dengan aneh.
"Kenapa, Pak?" tanya seorang ibu muda yang berdiri persis di belakang Zaki.
Ia terkejut, "tidak apa-apa, terima kasih."
Zaki kembali fokus dengan tujuannya, saat mendapatkan giliran, ia memberikan sepucuk kertas bertulisan resep obat, ia menunggu sembari melihat dengan jeli setiap sudut ruangan yang tertutup kaca besar itu.
Pundak Zaki dingin, seluruh tubuhnya merasa merinding menyadari kejadian yang baru saja ia alami.
Selesai menebus obat, ia kembali ke ruangan untuk menemani Zaki, ia meraih sepucuk kertas yang ada di saku celana hitam miliknya, ia mempertimbangkan apakah harus datang atau tidak, ia meragukan ujaran tersebut.
Pria tinggi itu meraih ponsel keluaran terbaru, ia melihat waktu menunjukkan pukul 01:20 dini hari. ia mencari kontak kerabat semasa kuliahnya yang berbeda di daerah terpencil itu.
Beberapa kali ia menelepon tak kunjung di angkat, Zaki pun baru menyadari bahwa ini adalah jam tidur dan telah mengganggu rekannya. Dengan cepat ia langsung mematikan panggilan tersebut, ia segera meminta maaf lewat chat WhatsApp.
Dari kejauhan Zaki mendengar suara roda ranjang rumah sakit melintas, ia melihat beberapa orang mendorong seorang pasien yang baru saja melakukan operasi dan seorang dokter yang memberi dirinya alamat, dengan penuh penasaran ia memastikan kembali mengenai alamat tersebut.
"Dok, tunggu sebentar!"
Dokter itu menoleh, Zaki menghampiri sembari menunjukkan kertas itu kepada sang dokter.
"Kapan aku harus kesini, Dok?" tanya Zaki meyakinkan.
Sang dokter mengerutkan dahinya," maksudnya bagaimana?"
Zaki menjelaskan kejadian saat dokter itu memberikan sepucuk alamat di hadapan sang anak beberapa jam yang lalu. Namun dengan tegas sang dokter tidak mengakuinya.
"Saya baru saja selesai operasi dan proses tersebut menghabiskan waktu dua jam. Bapak bisa istirahat saja ya!" ujarnya sembari pamit melanjutkan langkahnya.
Zaki dengan kesadaran penuh langsung membuang kertas itu, ia mengepal dan melemparnya ke tong sampah.
Zaki menyadari mungkin dirinya memang kurang istirahat, dalam dua bulan terakhir ia memang tidak cukup tidur. Siang hari ia harus bekerja di sebuah kantor swasta ternama, sementara malam harinya ia harus menemani sang putra di rumah sakit. Hanya dirinya tulang punggung keluarga dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan tersebut dalam waktu yang lama.
Para sodara sempat menjenguk beberapa hari tak jauh dari tanggal kejadian, mereka tinggal sementara di rumah milik Zaki, namun karena jarak yang jauh dan mempunyai keperluan masing-masing, mereka pun kembali pulang ke kota asalnya.
Sementara sang istri dari pria berparas tampan itu telah meninggal dunia dua tahun yang lalu karena sakit yang di deritanya, Sang istri memiliki riwayat penyakit jantung yang berjuang bertahun-tahun lamanya.
Ketika Ali menghadiri acara perpisahan kelas enam di sekolahnya, ia tampil dengan baik dan bernyanyi bersama teman seangkatan lainnya, lagu tersebut dipersembahkan khusus untuk sang guru.
Selesai turun dari panggung, tetangga Ali menghampiri dengan muka sedih. Tetangga yang merupakan teman dekat sang ibu itu memberikan kabar duka kepada Ali dan pihak sekolah.
Sebuah ucapan turut berduka pun terdengar dari panggung dan beberapa orang menghampiri bocah malang itu.
Ali masih mematung, ia mencoba mencerna kabar duka yang begitu tiba-tiba, tak lama sang tetangga pun mengajaknya pulang dengan motor matic yang terparkir di dekat gerbang.
Pagi sebelum tampil sang ibu memang sudah drop, tubuhnya lemas dan meminta maaf kepada Ali karena tidak bisa melihat dirinya saat naik panggung.
Ali sedih, tapi dirinya tidak bisa egois, ia pun mendoakan sang ibu agar cepat pulih dan pergi bersama teman-teman yang lainnya.
Sejak kepergian sang ibu, Ali menjadi anak yang pendiam. Ia kini tinggal berdua bersama sang ayah dirumah sederhana itu.
Zaki menjadi sosok pria yang lebih siaga, tragedi yang menimpa keluarganya membuat pria itu terpukul, Ali adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini.