

Bab pembuka ini memperkenalkan sosok Muhammad, seorang guru yang hidup di antara dua dunia yang sangat kontras. Cerita dimulai pada pukul 04.00 pagi, sebuah waktu yang bagi Muhammad bukan sekadar awal hari, melainkan ritual pemurnian jiwa. Melalui rutinitas sholat subuh berjamaah dan tadarus Surat Yunus, pembaca diperlihatkan bahwa Muhammad bukanlah guru biasa. Ada getaran spiritual dan "pembersihan" batin yang ia lakukan sebagai persiapan sebelum menghadapi "polusi" energi yang menanti di sekolah.
Perjalanan menggunakan motor tua menuju Madrasah menjadi transisi fisik yang penuh simbolisme; motor yang berkarat mencerminkan beban duniawinya sebagai guru honorer, namun tekadnya tetap sekuat baja. Di sekolah, narasi bergeser menjadi lebih intens. Saat upacara bendera, Muhammad mulai melihat manifestasi fantasi urban: asap-asap gelap yang menempel pada pundak para siswa yang labil. Tugasnya bukan hanya mengajarkan materi ADIKSIMBA atau teknik sablon kaos di SMK, melainkan menjaga agar celah dimensi yang terbuka akibat emosi negatif siswa tidak semakin melebar.
Puncak ketegangan terjadi di jam terakhir, saat ia mengajar di kelas 12 TKRO. Di tengah pemaparan ujian praktik drama, sebuah anomali terjadi—suhu udara turun drastis dan sesosok siswa menunjukkan tanda-tanda "ketidakhadiran" jiwa. Muhammad terpaksa menggunakan teknik "Doa Tanpa Kata" untuk meredam gangguan gaib tersebut tanpa disadari oleh murid-muridnya. Bab ini ditutup dengan kepulangan Muhammad di waktu senja, sebuah potret kelelahan seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang bertarung di balik layar. Namun, sebuah isyarat muncul di saku jaketnya; pena merahnya berpendar biru, menandakan bahwa rutinitas esok hari tidak akan pernah sama lagi. Konflik besar telah dimulai.
Bab 1 ini menegaskan bahwa setiap detik dalam jadwal Muhammad adalah garis pertahanan. Dari kekhusyukan sujud hingga debu jalanan, ia menyerap beban yang tak terlihat mata. Namun, pertemuan singkat dengan siswa bermata gelap di jam terakhir menjadi peringatan keras. Kekuatan kuno kini mulai mengincar sekolahnya, mengubah profesi guru yang ia cintai menjadi medan laga spiritual yang mematikan.