

Di puncak Gunung Langit Abadi, tempat awan-awan keemasan berputar mengelilingi istana megah yang melayang di antara bintang-bintang, seorang pria berdiri dengan tatapan kosong menatap cakrawala yang membentang tanpa batas.
Namanya Wira, dan dia dikenal di seluruh alam semesta sebagai Kaisar Dewa, sosok yang kekuatannya hampir tanpa tandingan di alamnya.
Rambutnya yang hitam legam terurai hingga ke pinggang, berkilauan seperti sutra yang ditenun dari kegelapan malam.
Jubahnya yang berwarna putih keperakan berkibar tertiup angin surgawi, memperlihatkan simbol naga emas yang tersulam di punggungnya.
Matanya yang setajam elang menyimpan kebijaksanaan ribuan tahun kultivasi, dan auranya yang menguar begitu dahsyat hingga bahkan dewa-dewa lain enggan berdiri terlalu dekat dengannya.
Selama tujuh ribu tahun, Wira telah mendaki tangga beladiri supranatural dari seorang anak yatim piatu yang tak memiliki apa-apa hingga menjadi penguasa tertinggi di Alam Dewa.
Tulang Dewanya, yang terbentuk dari esensi murni alam semesta selama proses kultivasi yang menyakitkan, menjadi sumber kekuatan utamanya.
Tulang itu bukan tulang biasa. Setiap serat di dalamnya mengandung hukum alam semesta yang telah dia pahami dan kuasai selama perjalanan panjangnya.
Namun di balik semua pencapaian itu, ada satu kelemahan yang selalu menghantuinya. Hatinya yang lembut terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Dewi Ratna, kekasihnya yang telah menemaninya selama lima ribu tahun terakhir, adalah wanita tercantik di Alam Dewa. Kulitnya seputih salju, rambutnya sepanjang sungai yang mengalir, dan senyumnya mampu melelehkan hati siapa pun yang melihatnya.
Wira mencintainya dengan segenap jiwa raganya, memberikan segalanya untuknya tanpa pernah meminta balasan.
Di sisi lain, ada Dharma, sahabat seperjuangannya sejak mereka masih sama-sama berada di tingkat beladiri terendah. Mereka berdua pernah berbagi roti yang sama saat kelaparan, pernah bertarung bahu-membahu melawan monster-monster mengerikan, dan pernah bersumpah untuk selalu saling melindungi hingga akhir zaman.
Malam itu, langit Alam Dewa dihiasi oleh aurora yang mempesona. Wira duduk di paviliun pribadinya, menikmati secangkir teh yang terbuat dari daun pohon surgawi yang hanya berbunga sekali dalam seribu tahun. Pikirannya tenang, hatinya damai. Dia tidak menyadari bahwa badai dahsyat sedang menghampirinya.
Pintu paviliun terbuka perlahan, dan Dewi Ratna melangkah masuk dengan senyum manisnya yang biasa. Di belakangnya, Dharma mengikuti dengan langkah yang sama tenangnya. Wira tersenyum melihat dua orang yang paling dia percayai di dunia ini datang mengunjunginya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda malam itu. Ada kilatan aneh di mata Dewi Ratna yang tidak pernah Wira lihat sebelumnya. Ada ketegangan di bahu Dharma yang tersembunyi di balik sikap santainya.
"Kakanda," kata Dewi Ratna dengan suara lembutnya, "aku membawakan teh spesial untukmu malam ini."
Wira menerima cangkir itu dengan penuh kasih sayang, tidak menyadari racun mematikan yang telah dicampurkan di dalamnya. Racun itu bukan racun biasa. Itu adalah Racun Pembalik Jiwa, ramuan terlarang yang mampu melumpuhkan bahkan seorang Kaisar Dewa selama beberapa saat krusial.
Saat Wira meminum teh itu, dia merasakan ada yang tidak beres. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas, dan kekuatan yang selama ini mengalir deras di meridiannya seolah-olah terkunci. Matanya membelalak menatap Dewi Ratna yang kini tersenyum dengan ekspresi yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
"Ratna, apa yang..."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Dharma sudah bergerak. Pedang hitam yang selama ini tersembunyi di balik jubahnya kini terhunus, menembus dada Wira dari belakang. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, tapi yang lebih menyakitkan adalah pengkhianatan yang dia rasakan.
"Mengapa," bisik Wira dengan suara yang bergetar. "Aku menganggap kalian keluarga."
Dharma tertawa dingin. "Keluarga? Kau tidak pernah menganggap siapa pun sebagai keluarga, Wira. Kau hanya menganggap dirimu sendiri. Selama ribuan tahun, aku hidup di bayanganmu. Semua orang selalu memujimu, selalu mengagumi Kaisar Dewa yang agung. Tidak ada yang pernah melihatku. Tidak ada yang pernah menghargai pengorbananku."
Dewi Ratna melangkah mendekat, tangannya yang dulu selalu membelai Wira dengan lembut kini mencengkeram dagunya dengan kasar. "Dan aku? Aku muak berpura-pura mencintaimu. Kau pikir aku bahagia menjadi wanitamu? Tidak. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk mengambil semua yang kau miliki."
Proses yang terjadi selanjutnya adalah siksaan yang tak terbayangkan. Dharma dan Dewi Ratna menggunakan teknik terlarang untuk mencabut Tulang Dewa dari tubuh Wira. Mereka merobek dagingnya, memecahkan tulangnya yang asli, dan menarik keluar Tulang Dewa yang berkilauan seperti kristal.
Setiap tarikan terasa seperti jutaan pisau yang mengiris jiwanya. Wira berteriak dalam kesakitan, tapi tidak ada yang datang menolongnya. Para pengawal yang biasanya setia menjaga istananya telah disuap atau dibunuh diam-diam oleh dua pengkhianat itu.
Saat Tulang Dewa terakhir berhasil dicabut, Wira merasakan kekuatannya menghilang seperti air yang mengalir keluar dari wadah yang pecah. Tubuhnya yang dulu begitu perkasa kini hanya seonggok daging yang tidak berdaya.
Dewi Ratna memegang Tulang Dewa itu dengan mata yang berkilat penuh keserakahan. Dengan ini, aku akan menjadi Kaisar Dewa yang baru. Dan Dharma akan menjadi pendampingku.
Dharma mengangguk, lalu mengangkat pedangnya untuk memberikan pukulan terakhir. "Selamat tinggal, sahabat lama. Semoga di kehidupan selanjutnya, kau terlahir sebagai orang biasa yang tidak memiliki apa-apa. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang bisa diambil darimu."
Pedang itu menebas, dan kesadaran Wira perlahan-lahan menghilang. Di detik-detik terakhirnya, dia bersumpah dalam hati. Jika dia diberi kesempatan kedua, dia akan membalas dendam ini. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, tidak peduli apa yang harus dia korbankan, dia akan membuat kedua pengkhianat itu membayar dengan cara yang setimpal.
Kemudian, kegelapan menelannya sepenuhnya.
***
Bertahun-tahun berlalu di alam fana. Kekaisaran Nusantara berdiri megah di benua timur, dipimpin oleh Kaisar Surya yang bijaksana. Kekaisaran itu terbentang luas, mencakup pegunungan yang menjulang tinggi, hutan-hutan lebat yang dipenuhi makhluk mistis, dan kota-kota yang ramai dengan kehidupan.
Kaisar Surya memiliki tiga belas putra dari berbagai selir dan permaisurinya. Di antara semua putra itu, Pangeran ke-13 adalah yang paling spesial di hatinya. Bukan karena pangeran itu paling berbakat atau paling cerdas, melainkan karena dia lahir dari Selir Kencana, wanita yang paling dicintai Kaisar Surya.
Selir Kencana adalah wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Senyumnya mampu menerangi hari-hari tergelap Kaisar Surya, dan suaranya yang merdu selalu berhasil menenangkan hatinya yang gundah. Sayangnya, Selir Kencana meninggal saat melahirkan Pangeran ke-13, meninggalkan lubang besar di hati sang Kaisar.
Sejak saat itu, Kaisar Surya memindahkan semua kasih sayangnya kepada Pangeran ke-13 yang dia beri nama Wira, mengambil dari nama kakek buyut yang pernah menjadi pahlawan legendaris di masa lalu. Dia memberikan istana terbaik untuk pangeran itu, pelayan-pelayan paling terampil, dan guru-guru paling terpelajar.
Namun takdir berkata lain. Sejak kecil, Pangeran ke-13 terlahir dengan tubuh yang lemah. Meridiannya rusak, tidak mampu menyalurkan energi kultivasi seperti orang normal. Dia tidak bisa mempelajari ilmu bela diri, tidak bisa mengolah kekuatan dalam, dan tidak bisa bertarung seperti saudara-saudaranya yang lain.
Kaisar Surya sudah mengundang tabib-tabib terhebat dari seluruh penjuru kekaisaran, bahkan dari negeri-negeri tetangga. Tapi semua usaha itu sia-sia. Kondisi Pangeran ke-13 tidak bisa disembuhkan.
Dengan berat hati, Kaisar Surya harus menerima kenyataan bahwa putra kesayangannya tidak akan pernah bisa menjadi pewaris tahta. Seorang Kaisar harus kuat, harus mampu memimpin pasukan ke medan perang, harus mampu melindungi rakyatnya dari ancaman. Pangeran ke-13 tidak memiliki semua itu.