Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Menantu Sampah Pemilik Mata Naga

Menantu Sampah Pemilik Mata Naga

Sal-by | Bersambung
Jumlah kata
56.7K
Popular
561
Subscribe
204
Novel / Menantu Sampah Pemilik Mata Naga
Menantu Sampah Pemilik Mata Naga

Menantu Sampah Pemilik Mata Naga

Sal-by| Bersambung
Jumlah Kata
56.7K
Popular
561
Subscribe
204
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMenantuKekuatan SuperNagaKarya KompetisiHarem
Arga Dirgantara dikenal sebagai menantu sampah dan benalu di keluarga istrinya yang berasal dari keluarga konglomerat Baskoro. Kematian sang kakek membuka segel mata naga yang selama ini tersembunyi di dalam dirinya. Dengan kemampuan baru yang ia miliki, seluruh dunia akan tahu menantu yang diremehkan ini adalah senjata paling berbahaya! Bahkan para wanita kini berlomba mendekatinya, dan membuat istrinya yang selama ini meremehkannya berbalik mengejarnya.
Liontin

"Lututmu itu kurang rendah, Arga! Kamu nggak punya otak ya, cuma buat ngepel aja nggak becus!"

Suara nyaring itu milik Liana, ibu mertua Arga. Ia berdiri dengan tangan bersedekap di ruang tengah rumah megah keluarga Baskoro. Arga sedang berlutut di lantai marmer, kain pel di tangannya sudah basah dan kusam. Ia tidak menjawab. Tangannya terus bergerak pelan, seolah sudah kebal dengan hinaan seperti itu. Baginya, dimarahi sudah jadi rutinitas dua tahun terakhir.

"Sudahlah, Mah. Jangan buang tenaga buat ngomel ke sampah kayak dia," sahut Larasati yang baru turun dari tangga.

Laras tampil rapi dengan setelan kantor mahal, rambut tertata sempurna. Penampilannya berkelas. Sangat kontras dengan Arga yang hanya memakai kaus pudar dan celana kain yang sudah lusuh.

Laras berjalan melewati Arga. Tanpa ragu, ujung sepatu hak tingginya sengaja menginjak jari tangan Arga yang sedang menekan kain pel.

Arga meringis pelan. Tapi Laras tidak berhenti. Tumitnya malah ditekan lebih kuat sebelum akhirnya ia melangkah pergi.

"Nanti malam ada jamuan bisnis. Kamu nggak usah datang. Aku nggak mau rekan-rekanku tahu kalau suamiku cuma pelayan rumah yang nggak ada gunanya," ucap Laras dingin, bahkan tanpa menoleh.

Arga hanya menatap punggung istrinya. Tatapannya sulit ditebak. Di rumah ini, dia memang bukan siapa-siapa. Julukannya sudah terkenal di seluruh kota Metropolitan Jaya — Menantu Sampah.

Semua bermula dua tahun lalu. Waktu itu Arga ditemukan dalam kondisi mengenaskan di pinggir perkebunan sawit milik keluarga Baskoro. Tubuhnya penuh luka sayatan dalam. Darahnya mengalir deras. Napasnya tinggal satu-dua hela tersenggal. Ia baru saja dikhianati. Diburu oleh organisasi misterius yang ingin menghapusnya dari dunia ini.

Tuan Baskoro, kakek Laras dan kepala keluarga saat itu, yang menemukannya. Bukannya membiarkan Arga mati, pria tua itu justru membawanya pulang secara diam-diam. Ia dirawat di paviliun pribadi, jauh dari sorotan keluarga besar.

Sang kakek melihat sesuatu dalam diri Arga. Sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat. Ia menyebutnya… "aura naga yang tertidur."

Ketika kondisi kesehatannya mulai menurun, Tuan Baskoro membuat keputusan yang mengguncang seluruh keluarga. Laras, cucu kesayangannya, harus menikah dengan Arga. Keputusan itu seperti petir di siang bolong.

Belum sempat kenangan itu selesai berputar di kepala Arga, suara dering telepon rumah memecah suasana. Nyaring dan mendesak.

Seorang pelayan mengangkatnya, lalu wajahnya langsung pucat.

"Nona… Nyonya… Tuan Besar Baskoro… kondisinya kritis! Dokter bilang… ini mungkin saat-saat terakhirnya!"

Wajah Laras langsung berubah pucat pasi. "Apa?! Cepat siapkan mobil!"

Tanpa mempedulikan Arga, Laras dan Liana bergegas keluar menuju mobil mewah mereka.

Arga segera berdiri. Ia meletakkan kain pel begitu saja. Instingnya yang selama ini ia tekan, kembali terasa tajam. Ia berlari kecil menyusul.

"Siapa yang suruh kamu ikut, sampah?!" bentak Liana saat melihat Arga hendak masuk mobil cadangan.

"Kakek adalah penyelamat nyawaku. Aku harus ikut ke sana," jawab Arga singkat. Nada suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Lebih terdengar tegas.

Liana sempat terdiam sepersekian detik karena tatapan mata Arga. Tapi ia cepat-cepat mendengus dan pergi.

****

Di rumah sakit, suasananya sangat tegang.

Keluarga besar Baskoro sudah berkumpul. Tapi alih-alih berdoa, sebagian malah sibuk berbisik soal pembagian warisan.

Di depan ruang perawatan, Laras menatap Arga dengan sorot penuh kebencian.

"Puaskan dirimu sekarang. Kalau Kakek meninggal, nggak ada lagi yang bakal lindungi kamu. Aku akan ceraikan kamu saat itu juga."

Selama dua tahun pernikahan, Laras memang tidak pernah benar-benar menerima Arga. Baginya, Arga cuma beban yang merusak reputasinya. Kalau kakeknya tiada, tak ada lagi alasan mempertahankan pernikahan itu.

Sebelum Arga menjawab, seorang perawat keluar.

"Tuan Baskoro ingin bicara. Tapi… beliau hanya mau bertemu dengan Tuan Arga sendirian."

Mendengar nama Arga yang disebut membuat suasana langsung ricuh.

"Apa?! Kenapa pria asing ini?" teriak paman Laras.

"Kakek pasti sudah tidak sadar! Ini tidak adil!"

Tapi keputusan Tuan Baskoro tak bisa dibantah.

Arga melangkah masuk. Ruangan itu berbau antiseptik tajam. Di atas ranjang, tubuh Tuan Baskoro terlihat rapuh. Tapi matanya masih tajam.

"Kemarilah… Arga…" bisiknya pelan.

Arga duduk di sampingnya. Menggenggam tangan pria tua itu. "Aku di sini, Kek."

"Dua tahun… kamu tahan dihina. Maafkan aku sudah memaksamu masuk ke keluarga yang penuh kepalsuan ini," ucap sang kakek pelan. "Aku melakukannya demi melindungi Laras… dan menunggu waktu ini."

Kening Arga mengernyit. "Waktu apa, Kek?"

Tuan Baskoro terbatuk darah, namun ia memaksakan diri untuk tersenyum."Saat aku menemukanmu… aku tidak melihat gelandangan. Aku melihat Mata Naga di dalam jiwamu. Kekuatan besar… terlalu besar. Tubuhmu dulu tak sanggup menahannya. Jiwamu menyegelnya demi keselamatanmu sendiri."

Kemudian Tuan Baskoro merogoh dari balik bantal. Sebuah liontin giok hitam muncul. Ukiran naga melingkar sempurna di permukaannya.

"Ini bukan sekadar perhiasan. Ini kunci. Pakailah. Bangunkan naga yang tertidur itu. Lindungi Laras… meski dia belum mengerti. Dan balas mereka yang menghancurkanmu."

Tangan sang kakek gemetar saat menyerahkan liontin itu.

Begitu kulit Arga menyentuh giok hitam tersebut. Getaran halus menjalar dari telapak tangannya ke tulang belakang.

"Waktuku… habis… Hancurkan belenggumu, Arga…"

Monitor jantung berbunyi panjang.

Arga berdiri diam di samping tubuh Tuan Baskoro yang sudah tak bernyawa.

Di luar, suara tangisan palsu mulai terdengar ketika dokter menyatakan kematian resmi.

Arga tidak menangis. Ia hanya merasakan sesuatu yang berat… tanggung jawab. Perlahan, ia mengenakan liontin itu.

BOOM.

Bagi orang lain, ruangan tetap sunyi. Tapi bagi Arga seperti ada ledakan di dalam dadanya. Panas luar biasa mengalir di pembuluh darahnya. Membakar kelemahan yang selama ini menekan dirinya. Penglihatannya berubah tajam. Terlalu tajam. Ia bisa mendengar detak jantung orang-orang di luar ruangan. Ia bisa merasakan aliran udara. Dan lebih dari itu… ia mulai melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Arga keluar dari ruangan dengan langkah berbeda. Bahu tidak lagi membungkuk. Tatapan tidak lagi menunduk. Ia berdiri tegak. Aura yang keluar darinya begitu menekan, sampai keluarga Baskoro yang sedang pura-pura meratap tiba-tiba terdiam tanpa tahu kenapa.

Laras mendekat dengan mata sembab. "Apa yang Kakek bilang padamu?! Dia kasih sesuatu, kan? Berikan padaku!"

Laras mencoba meraih leher Arga untuk menarik liontin itu. Tapi gerakan Arga jauh lebih cepat.

Arga menangkap pergelangan tangan Laras dalam satu gerakan halus.

"Lepaskan!" Laras terkejut. "Kamu berani menyentuhku?!"

Arga menatap Laras dengan tatapan dingin. Untuk pertama kalinya, Laras melihat kilatan emas di pupil mata Arga. Itu bukan mata pria lemah yang selama ini ia injak harga dirinya.

"Kakek sudah pergi, Laras," suara Arga kini lebih berat, lebih dalam. "Mulai hari ini, semuanya berubah. Kamu bilang aku debu di sepatumu?"

Arga melepaskan tangan Laras dengan sentakan ringan, membuatnya mundur beberapa langkah. "Mari kita lihat… seberapa lama duniamu bisa bertahan tanpa debu itu."

Laras curiga bahwa Arga memegang kunci atas warisan Kakek yang sangat besar. Jika ia menceraikan Arga sekarang, harta itu akan jatuh ke tangan orang lain.

Lanjut membaca
Lanjut membaca