

Matahari siang itu memanggang aspal jalanan desa yang lengang. Debu beterbangan ketika sebuah bus tua berdecit berhenti, lalu berbelok lambat memasuki Terminal Kecamatan yang tampak kusam dan tak terawat.
Satria turun dari bus itu dengan langkah berat. Di punggungnya tergantung tas ransel lusuh, satu-satunya harta yang tersisa. Pemuda berusia 25 tahun itu menghela napas panjang, menghirup udara kampung halaman yang sudah lama ditinggalkannya.
Akhirnya sampai juga, batinnya getir.
Dengan gontai, Satria mulai melangkahkan kakinya menuju Desa Karang Tirta. Matanya menyapu sekeliling, mencoba mencocokkan ingatan masa lalu dengan pemandangan di hadapannya.
"Semuanya sudah berubah!"
Terminal ini sudah berubah, tidak seperti dulu saat dia masih kecil.
Pikirannya kini melayang pada alasan mengapa ia kembali. Ia baru saja "diusir" secara paksa dari kehidupan kota. Dipecat karena fitnah atasan, tabungannya ludes untuk membayar hutang mantan pacar yang berselingkuh, dan kini, ia tak punya apa-apa selain rumah peninggalan kakeknya.
"Andai saja aku tidak mengenal wanita laknat itu!" Rutukan itu kembali menggema di kepalanya.
Langkahnya terhenti sejenak. Keringat bercucuran membasahi wajah, namun rasa lelah fisik itu tak sebanding dengan lelah di hatinya. Ia berjongkok, membetulkan tali sepatu yang terlepas sembari membiarkan memori pahit itu menyergapnya tanpa ampun.
Bayangan Wilhelmina, kekasih yang dulu ia puja, menari-nari di pelupuk mata. Wanita itu dengan tega berselingkuh di depan matanya dengan seorang pengusaha kaya yang jauh lebih tua, demi status sebagai wanita simpanan.
"Cih! Dasar Wanita rendah!" Umpat Satria dalam hati.
Satria ingat betul rasa sesak itu. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Wilhelmina berjalan bergandengan mesra memasuki sebuah hotel. Bodohnya, Satria waktu itu mengikutinya, memastikan hingga kedua manusia itu masuk ke dalam kamar yang sama.
"Sungguh tega. Padahal aku berharap dia menjadi istriku." Batin Satria menahan pilu.
Dada Satria terasa kian menghimpit. Seluruh tabungannya habis untuk menutupi gaya hidup Wilhelmina yang gemar bersolek layaknya orang kaya. Satria bahkan rela berhutang, sampai dikejar rentenir, hanya agar wanita itu puas dan bahagia. Belum lagi beban kebutuhan keluarganya yang juga ia tanggung.
"Aku korbankan hidupku demi dia, tapi apa yang Kudapat, hanya sakit hari dan derita!"
Ditambah fitnah keji di kantor yang membuatnya ditendang keluar dari perusahaan, lengkaplah sudah penderitaannya.
"Semua angan-anganku hancur tak bersisa."
Ia pun bangkit dan kembali menyeret kakinya. Niat awal merantau untuk mengubah nasib, kini berujung pada kepulangan sebagai seorang pecundang. Ia mendongak, menahan air mata agar tidak jatuh.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam mengkilap melintas kencang di sebelahnya. Genangan lumpur sisa hujan semalam menciprat deras, mengotori baju dan celana Satria.
“Woi, sialan! Pelan-pelan dong!” umpat Satria.
Mobil itu mengerem mendadak, lalu mundur perlahan hingga sejajar dengannya. Kaca jendela turun, memperlihatkan wajah Pak Kades Hendra yang menyeringai sinis.
"Lho, kirain gembel dari mana. Ternyata Satria?" Hendra tertawa kecil, nada bicaranya penuh ejekan. "Sudah balik jadi orang sukses belum?"
Deg!
Ucapan itu menusuk jantung Satria. Rasanya ia ingin menelan Pak Kades itu mentah-mentah.
"Sombong sekali, umpatnya dalam hati." Namun, Satria hanya mampu memaksakan senyum tipis sambil menunduk, menerima nasib. Ia tak punya kuasa untuk melawan.
Di kursi penumpang, duduk Bu Sekar, istri Pak Kades. Wanita berusia 30 tahun itu menatap Satria datar dari balik kacamata hitamnya. Meski tatapannya dingin, kecantikan dan aura elegannya membuat Satria terpaku sejenak.
Istrinya sangat cantik, sayang suaminya busuk, batin Satria.
Pak Kades tampak puas melihat Satria yang tak berkutik. Baginya, melihat pemuda itu terhina adalah hiburan tersendiri. Mobil itu pun kembali melaju, meninggalkan asap knalpot dan Satria yang mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Baru jadi Kepala Desa saja sudah sombong," desis Satria, menahan gejolak amarah di dadanya. "Cih!"
Satria mempercepat langkahnya. Meski sakit hati itu masih bercokol, keinginan untuk segera sampai di rumah kakeknya lebih kuat. Wajar jika orang-orang menghinanya; keadaannya sekarang memang menyedihkan.
Tak lama kemudian, Satria tiba di tujuannya. Kondisi rumah peninggalan kakeknya itu sungguh mengenaskan. Atapnya banyak yang bocor, halaman dipenuhi ilalang setinggi dada, dan tanah di sekitarnya tampak tandus.
"Rumah ini sudah seperti hutan belantara," gumam Satria sambil menggelengkan kepala.
Ia masuk ke dalam, meletakkan tas ransel lusuhnya, lalu membuka jendela-jendela agar udara segar masuk. Debu tebal menyelimuti setiap perabotan.
"Semua harus dibersihkan. Aku tidak bisa tinggal kalau begini keadaannya."
Malam pun tiba. Satria tak bisa tidur. Rasa frustrasi dan amarah yang menumpuk seharian ia lampiaskan dengan bekerja. Bermodalkan cangkul tua yang ia temukan di gudang, Satria membabat rumput liar di halaman rumah dengan membabi buta.
Bayangan wajah kakeknya yang penuh kasih berkelebat, membuat air matanya menetes tanpa sadar.
"Aku harus membersihkan halaman ini, baru membetulkan atapnya," tekadnya dalam hati. Ia mengayunkan cangkul dengan sekuat tenaga, seolah sedang mencangkul nasib buruknya sendiri.
Trang!
Suara benturan logam yang keras mengejutkannya.
"Hah? Kena batu?"
Satria mengangkat cangkulnya dan mendekatkan wajah ke tanah. Di bawah sinar bulan yang remang, ia melihat sebuah benda keras menyembul dari tanah.
"Apa ini? Sepertinya batu kecil, tapi kok keras sekali?"
Ia memungut benda itu. Bentuknya aneh, bukan seperti batu biasa, melainkan lebih mirip fosil atau pecahan giok kuno. Tepiannya yang tajam tanpa sengaja menggores telapak tangan Satria.
"Awh!" desisnya perih.
Ia memeriksa tangannya. Darah segar menetes dari luka gores itu, jatuh tepat di atas permukaan batu giok yang ia pegang.
"Darahku menetes ke batu ini..." gumamnya bingung. "Batu apa ini sebenarnya?"
Detik berikutnya, sebuah fenomena ganjil terjadi. Batu itu menyerap darah Satria, lalu memancarkan cahaya hijau yang menyilaukan. Cahaya itu melesat cepat, menyelimuti seluruh tubuh Satria.
Sebuah suara dingin, seperti suara mesin namun bergema langsung di dalam kepalanya, terdengar:
[Sistem Penguasa Alam & Hasrat diaktifkan.]
[Tuan Rumah terdeteksi: Fisik Lemah, Ekonomi Kritis. Memulai Mode Pemula.]
Satria terperanjat, matanya terbelalak lebar. Di tengah kesunyian malam desa yang mencekam, ia berdiri mematung, dilingkupi kebingungan luar biasa atas apa yang baru saja terjadi.
Saat darah segar itu meresap ke dalam pori-pori giok, cahaya hijau menyilaukan meledak, diiringi rasa panas yang menjalar seperti api cair di nadi Satria. Tubuhnya kejang hebat.
Sebuah suara robotik bergema dingin di dalam tempurung kepalanya, tanpa emosi namun penuh otoritas: [Sistem Penguasa Alam & Hasrat Diaktifkan. Vitalitas Tuan Rumah: Kritis. Memulai Sinkronisasi Paksa.]
Jantung Satria berpacu liar, seolah hendak meledak dari dadanya, memaksanya jatuh berlutut sambil mencengkeram dada yang terasa sesak.
"Argh! Hentikan!" erangnya tertahan. Namun, tubuhnya menolak perintah otak; otot-ototnya kaku dalam kelumpuhan total yang mengerikan. Pandangannya mulai menggelap. Satria pun ambruk ke tanah basah, tak berdaya, dengan giok yang terus berpendar terang di tangannya.
Ikuti Cerita Selanjutnya!...