Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Algoritma Takdir: Menjadi Dewa di Era Digital

Algoritma Takdir: Menjadi Dewa di Era Digital

rizch | Bersambung
Jumlah kata
32.9K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Algoritma Takdir: Menjadi Dewa di Era Digital
Algoritma Takdir: Menjadi Dewa di Era Digital

Algoritma Takdir: Menjadi Dewa di Era Digital

rizch| Bersambung
Jumlah Kata
32.9K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+FantasiSci-FiMengubah NasibHaremZero To Hero
​"Dunia ini tidak adil bagi mereka yang miskin, tapi sangat tunduk bagi mereka yang memegang data." ​Arkan hanyalah seorang pemuda yang hancur. Dikhianati kekasihnya, dihina oleh rivalnya, dan dibuang oleh dunia karena status ayahnya sebagai buronan. Hidupnya berakhir di sebuah kamar kos sempit dengan perut yang keroncongan. ​Namun, sebuah server tua peninggalan ayahnya mengubah segalanya. Di dalamnya, Arkan membangkitkan EVE—sebuah Super-Intelligence AI yang mampu memprediksi masa depan, meretas sistem dunia, dan menghitung probabilitas keberhasilan hingga 100%.​Dengan bantuan EVE, Arkan bangkit dari lumpur kemiskinan. ​Senin: Ia merajai pasar kripto dan saham dalam hitungan menit. ​Rabu: Ia mengubah penampilan kusamnya menjadi sosok pria yang mampu membuat wanita mana pun menoleh. ​Jumat: Ia mulai membeli perusahaan-perusahaan yang dulu membuangnya. ​Dari CEO cantik yang kaku, detektif wanita yang tangguh, hingga idola nasional yang butuh perlindungan—semua wanita berpengaruh mulai tertarik masuk ke dalam jaring takdir yang Arkan buat. ​Bersiaplah, karena Arkan tidak hanya ingin menjadi kaya. Ia ingin menulis ulang algoritma dunia ini dan menjadi satu-satunya Dewa di era digital. #dewa #harem #21+
bab 1pecundang di kota para pemenang

Jakarta siang itu tidak mengenal belas kasihan. Panas matahari terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk pori-pori kulit Arkan yang dibalut kemeja putih yang sudah mulai menguning di bagian ketiak. Arkan (24 tahun) berdiri di depan lobi menara perkantoran megah di kawasan Sudirman, menatap pantulan dirinya di dinding kaca yang mengilat.

Rambutnya agak berantakan, wajahnya kuyu karena kurang tidur, dan yang paling memalukan—ujung sepatu pantofel murahnya sudah mulai terbuka, memperlihatkan sedikit bagian kaus kakinya yang tipis.

"Maaf, Dek. Kalau mau cari kerja di sini minimal pakaiannya harus rapi. Lagipula, hari ini tidak ada lowongan buat lulusan yang... yah, 'bermasalah' seperti kamu," ujar satpam penjaga lobi dengan nada yang sebenarnya tidak kasar, tapi sorot matanya yang meremehkan jauh lebih menyakitkan.

"Saya punya janji wawancara, Pak. Ini surat panggilannya," Arkan menunjukkan selembar kertas yang sudah agak lecek.

Satpam itu memeriksanya sejenak, lalu tertawa kecil. "Ini posisi Cleaning Service? Dek, kamu ini sarjana komputer kan? Kenapa melamar jadi tukang pel?"

Arkan hanya menunduk. Ia tidak bisa menjelaskan bahwa namanya sudah masuk dalam daftar hitam hampir di seluruh perusahaan teknologi karena skandal ayahnya. Ia hanya butuh uang untuk makan. "Saya hanya butuh pekerjaan, Pak."

"Sudahlah, pulang saja. Posisi itu sudah diisi orang dalam tadi pagi. Jangan buang-buang waktu di sini, bikin kotor lobi saja," satpam itu mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.

Arkan menghela napas panjang, melangkah pergi dengan bahu yang merosot. Di tengah trotoar yang padat, perutnya berbunyi nyaring. Ia merogoh sakunya, hanya menemukan dua lembar uang dua ribuan yang sudah kumal. Jangankan nasi bungkus, untuk membeli es teh manis saja ia harus berpikir dua kali.

Tiba-tiba, sebuah mobil sport Porsche berwarna biru elektrik berhenti tepat di sampingnya, mencipratkan air genangan sisa hujan semalam ke celana kain Arkan yang sudah usang.

"Woi! Hati-hati dong!" teriak Arkan spontan.

Kaca mobil yang gelap perlahan turun. Dari dalamnya, muncul wajah yang sangat Arkan kenali. Wajah sombong dengan kacamata hitam mahal. Itu Rendy, teman seangkatannya di universitas yang dulu selalu berada di bawah bayang-bayang kecerdasan Arkan.

"Eh, Arkan? Wah, maaf ya. Aku nggak lihat ada 'gelandangan' berdiri di pinggir jalan," Rendy tertawa, suaranya terdengar sangat puas.

Di samping Rendy, seorang wanita cantik dengan riasan sempurna menoleh. Jantung Arkan seakan berhenti berdetak. Itu Siska, wanita yang hingga semalam masih ia panggil "Sayang" melalui pesan singkat yang tidak pernah dibalas.

"Siska? Kamu... kenapa ada di mobil Rendy?" tanya Arkan dengan suara gemetar.

Siska menatap Arkan dari atas ke bawah. Tatapannya penuh rasa malu dan muak melihat kondisi Arkan yang basah terkena cipratan air dan berkeringat.

"Arkan, aku mau kita putus. Jangan hubungi aku lagi," ucap Siska datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun.

"Tapi kenapa, Sis? Kita sudah rencana mau—"

"Rencana apa? Rencana makan mi instan seumur hidup di kamar kosmu yang bau itu?" Siska memotong dengan tajam. "Rendy sudah memberiku apa yang tidak bisa kamu kasih selama tiga tahun. Dia baru saja memberiku tas yang harganya lebih mahal daripada harga dirimu, Kan."

Rendy menyeringai, ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu, lalu menjatuhkannya ke aspal di depan kaki Arkan.

"Nih, buat ongkos pulang. Atau buat beli lem sepatu, biar nggak 'mangap' gitu kalau jalan. Malu-maluin alumni kita saja kamu ini," ejek Rendy.

"Ayo sayang, kita pergi. Di sini udaranya mulai bau miskin," lanjut Rendy sambil menginjak gas, meninggalkan Arkan dalam kepulan asap knalpot dan harga diri yang hancur berkeping-keping.

Arkan berdiri mematung. Uang seratus ribu itu tergeletak di aspal, namun ia tidak mengambilnya. Ia lebih memilih menahan lapar daripada harus menyentuh pemberian pria yang telah mencuri kekasihnya—dan mungkin juga masa depannya.

Ia berjalan kaki pulang menuju daerah Palmerah. Tujuh kilometer ia tempuh dengan kaki yang lecet dan hati yang panas. Sesampainya di depan gerbang kosan, ia sudah ditunggu oleh Bu Darmi, pemilik kos yang terkenal kejam.

"Arkan! Bagus kamu pulang! Mana uang kos?! Sudah lewat dua minggu!" teriak Bu Darmi sambil membawa kunci gembok besar.

"Satu atau dua hari lagi, Bu. Saya janji..."

"Janji, janji! Kamu pikir kos-kosan ini punya nenek moyangmu? Kalau sampai besok pagi belum ada satu juta dua ratus di meja saya, barang-barang rongsokanmu saya buang ke jalanan! Camkan itu!"

Bu Darmi pergi sambil mengomel, meninggalkan Arkan yang lemas. Ia masuk ke dalam kamarnya yang sempit. Lampu kamarnya mati karena ia belum sanggup membeli pulsa listrik. Dalam kegelapan dan kesunyian itu, Arkan jatuh terduduk di lantai.

Ia merasa dunia sedang mengeroyoknya. Kelaparan, pengkhianatan, penghinaan, dan ancaman terusir. Ia menatap tangannya yang gemetar dalam gelap. Ia punya otak yang jenius, tapi sistem dunia ini tampaknya sudah dirancang untuk mematikan orang-orang seperti dia.

"Kenapa... kenapa harus seperti ini?" bisik Arkan lirih. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah juga di tengah sunyinya malam Jakarta.

Hujan yang turun sore itu tidak membawa kesejukan, hanya menambah beban di pundak Arkan yang sudah layu. Air hujan mulai merembes masuk ke dalam sepatunya yang rusak, membuat kaus kakinya basah dan dingin. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena jarak tempuh yang masih jauh, tapi karena energi di tubuhnya sudah mencapai titik nol.

Perutnya kini tidak lagi sekadar berbunyi; rasanya seperti sedang diperas oleh tangan tak terlihat. Rasa perih itu menjalar hingga ke ulu hati, membuat kepalanya terasa ringan dan pandangannya sesekali kabur.

Ia berhenti di depan sebuah minimarket, hanya untuk berteduh sejenak. Aroma roti yang baru dipanggang tercium hingga ke luar, menusuk hidungnya dan membuat air liurnya menetes tanpa sadar. Arkan merogoh saku, mengeluarkan dua lembar uang dua ribu perak tadi.

"Mungkin ada roti sisa kemarin yang diskon," bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau.

Ia melangkah masuk dengan ragu. Lantai minimarket yang bersih seketika kotor oleh jejak kaki berlumpur dari sepatunya. Seorang pegawai toko wanita yang sedang mengepel langsung menatapnya dengan tajam.

"Mas, kalau cuma mau berteduh di luar saja ya. Jangan ngotorin lantai," tegur pegawai itu tanpa basa-basi.

"Saya... saya mau beli roti, Mbak," jawab Arkan pelan, menunjukkan uangnya yang kumal.

Pegawai itu melihat uang empat ribu rupiah di tangan Arkan, lalu melihat penampilan Arkan yang basah kuyup seperti gelandangan. Ia mendengus pelan, menunjuk ke rak paling pojok. "Roti termurah lima ribu. Kurang seribu."

Arkan tertegun. Ia mencari-cari di saku celananya yang lain, berharap ada keajaiban berupa koin lima ratus atau seribu rupiah yang terselip. Namun, saku itu kosong. Benar-benar kosong.

"Boleh kurang seribu, Mbak? Saya benar-benar lapar..."

"Nggak bisa. Ini toko, bukan badan amal. Keluar deh, Mas, bau matahari dan bau hujannya ganggu pelanggan lain," usir pegawai itu sambil terus mengepel lantai di dekat kaki Arkan, seolah-olah Arkan adalah kuman yang harus segera dibersihkan.

Arkan keluar dengan kepala tertunduk. Di depan pintu, ia berpapasan dengan sekelompok mahasiswa yang tertawa riang sambil membawa kantong belanjaan berisi camilan dan minuman kaleng. Salah satu dari mereka berhenti, menatap Arkan dengan kening berkerut.

"Lho? Mas Arkan?"

Arkan membeku. Suara itu milik Andi, juniornya di organisasi kampus dulu. Andi dulu adalah orang yang selalu meminta bantuan Arkan untuk menjelaskan logika pemrograman yang rumit. Andi dulu sangat memuja kecerdasan Arkan.

"Mas Arkan, kan? Yang lulusan terbaik itu? Wah, kok tampilannya begini sekarang?" Andi bertanya dengan nada yang terdengar seperti prihatin, tapi ada sedikit nada puas dalam suaranya—seperti seseorang yang senang melihat orang jenius jatuh miskin.

"Hai, Ndi. Iya, aku... aku habis kena musibah sedikit," jawab Arkan, berusaha tersenyum meski bibirnya gemetar karena kedinginan.

"Musibah apa, Mas? Katanya gara-gara kasus bokap Mas ya? Wah, sayang banget. Padahal Mas Arkan dulu idola kita semua. Sekarang malah... yah, hidup memang berputar ya," Andi menepuk bahu Arkan yang basah dengan tangan yang memakai jam tangan pintar terbaru. "Sori ya Mas, aku buru-buru. Ini, buat Mas aja."

Andi menyodorkan sepotong cokelat batangan yang baru dibelinya. Bukan memberikannya dengan tangan, tapi meletakkannya begitu saja di atas tas Arkan yang basah, seolah takut tangannya akan kotor jika bersentuhan langsung dengan Arkan.

Setelah Andi dan teman-temannya pergi sambil berbisik-bisik, Arkan menatap cokelat itu. Rasa lapar di perutnya berperang dengan harga diri di dadanya. Akhirnya, rasa lapar menang. Ia membuka bungkus cokelat itu dengan tangan gemetar dan memakannya dengan rakus. Namun, cokelat itu terasa sangat pahit di lidahnya. Bukan pahit kakao, tapi pahitnya penghinaan.

Perjalanan pulang berlanjut. Arkan sampai di depan rumah kosnya saat hari sudah gelap. Badannya mulai terasa panas—gejala demam mulai menyerang. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia melihat motor besar terparkir di depan kamarnya.

Dua orang pria tegap dengan jaket kulit hitam sedang berdiri di sana. Preman penagih utang.

"Mana Arkan?!" salah satu dari mereka membentak saat melihat Arkan mendekat.

"Saya... saya Arkan. Ada apa?"

"Utang biaya rumah sakit almarhumah ibumu! Sudah nunggak tiga bulan! Manajemen nggak mau tahu, mereka jual utang ini ke kami!" Pria itu mencengkeram kerah baju Arkan dan mengangkatnya hingga kaki Arkan berjinjit. "Mana duitnya?! Lima juta untuk cicilan pertama!"

"Saya nggak punya uang sekarang, Bang... tolong kasih waktu..."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arkan, membuatnya tersungkur di atas tanah berlumpur. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan darah yang terasa amis.

"Waktu terus yang diminta! Kamu pikir kami makan pakai waktu?!" Preman itu menendang perut Arkan, membuat Arkan terbatuk-batuk hebat di tanah. "Besok malam kami balik lagi. Kalau nggak ada lima juta, barang-barangmu di dalam kami sita semua, dan kamu... kami pastiin masuk rumah sakit menyusul ibumu!"

Kedua preman itu pergi meninggalkan Arkan yang meringkuk di tanah, memegang perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk. Hujan kembali turun, kali ini lebih lebat, seolah-olah langit pun ingin ikut meludahi nasibnya.

Arkan merangkak masuk ke kamarnya yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu karena memang tidak ada daya. Ia duduk bersandar di pojok ruangan yang pengap, menggigil hebat karena demam dan baju yang basah.

Dalam kegelapan itu, Arkan merasa benar-benar sendirian di dunia ini. Ia teringat Siska yang kini di pelukan Rendy, teringat Andi yang menatapnya dengan kasihan, dan teringat ibunya yang meninggal dalam kesengsaraan.

"Kenapa... kenapa hanya aku yang harus hancur?" isaknya di tengah kesunyian.

Ia merasa telah sampai pada batasnya. Tidak ada lagi tenaga untuk berjuang besok. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan hidup. Di tengah keputusasaan yang absolut itu, tangannya yang gemetar tanpa sengaja menyentuh permukaan dingin dari kotak logam hitam di bawah tempat tidurnya.

Kotak itu, satu-satunya benda yang tersisa dari ayahnya. Satu-satunya benda yang belum sempat ia jual karena tidak ada tukang loak yang mau membelinya karena beratnya yang tidak masuk akal.

Arkan menarik kotak itu mendekat, memeluknya seolah-olah itu adalah nisan untuk dirinya sendiri. Ia memejamkan mata, berharap rasa sakit di tubuh dan hatinya hilang bersama kegelapan malam.

Ia tidak tahu, bahwa tetesan darah dari bibirnya yang pecah perlahan meresap ke dalam celah mikroskopis pada permukaan kotak hitam itu...

Lanjut membaca
Lanjut membaca