

Pagi di kota selalu datang tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Arga memahami itu bukan sebagai teori, melainkan sebagai kenyataan yang terus menamparnya setiap hari. Ketika alarm ponselnya berbunyi pukul lima pagi, ia terbangun bukan karena semangat, melainkan karena tubuhnya sudah terlalu terbiasa. Bahkan setelah semuanya berubah, kebiasaan itu masih tertinggal.
Ia duduk di tepi kasur, membiarkan bunyi alarm berhenti sendiri. Kamar sempit itu terasa semakin kecil saat pagi datang. Dinding dengan cat yang mengelupas, lemari kayu tua yang pintunya sedikit miring, dan meja lipat dengan laptop yang tertutup rapat sejak beberapa hari lalu. Tidak ada yang berubah di ruangan itu, kecuali perasaan penghuninya.
Arga menghela napas panjang. Dahulu, jam segini ia sudah mandi, mengenakan kemeja kerja, dan memeriksa email dengan wajah setengah mengantuk. Sekarang, tidak ada satu pun yang menunggunya selain hari kosong.
Dari dapur terdengar suara panci disentuh sendok. Ibunya sudah bangun. Selalu lebih dulu darinya, meski usia dan kelelahan jelas tidak memberi banyak keringanan. Arga berdiri, merapikan kaus lusuh yang ia pakai, lalu melangkah keluar kamar.
“Bangun?” suara ibunya terdengar datar, tapi hangat.
“Iya, Bu,” jawab Arga.
Meja makan kecil di sudut dapur sudah terisi dua piring nasi, telur ceplok, dan sambal seadanya. Menu yang sama seperti hampir setiap pagi. Arga duduk dan mulai makan perlahan. Mereka terbiasa berbagi keheningan, tapi hari ini diam terasa lebih berat dari biasanya.
“Kemarin gimana?” tanya ibunya pelan.
Arga tahu maksud pertanyaan itu. Bukan tentang kemarin, melainkan tentang hari esok. Ia mengunyah pelan sebelum menjawab. “Masih sama, Bu. Belum ada kabar.”
Ibunya mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Tidak menasihati. Tapi mata itu menyimpan kekhawatiran yang tidak diucapkan. Arga membencinya—bukan pada ibunya, melainkan pada dirinya sendiri karena menjadi sumber kecemasan itu.
Setelah sarapan, Arga keluar rumah. Gang sempit tempat ia tinggal sudah mulai ramai. Anak-anak berjalan cepat dengan tas sekolah di punggung, pedagang mendorong gerobak sambil berteriak menawarkan dagangan, dan suara motor bersahut-sahutan. Kota sedang bergerak, seperti makhluk besar yang tidak pernah tidur sepenuhnya.
Arga berjalan tanpa tujuan. Ia melewati toko-toko yang mulai membuka rolling door, melewati kantor-kantor kecil dengan spanduk lowongan yang tampak usang. Beberapa bulan lalu, ia adalah bagian dari arus itu. Sekarang, ia hanya penonton yang berdiri terlalu dekat.
Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil di sudut jalan. Tempat itu tidak istimewa, tapi familiar. Kursi plastik, meja kayu, dan aroma kopi hitam yang pahit. Arga memesan secangkir kopi dan duduk di pojok, menatap jalanan.
Di kota ini, tidak ada yang benar-benar gratis. Waktu, tenaga, bahkan mimpi—semuanya punya harga. Arga memikirkan hari terakhirnya di kantor lama. Tidak ada keributan, tidak ada air mata. Hanya sebuah ruangan dingin, beberapa kalimat formal, dan satu kata yang terdengar netral tapi mematikan: efisiensi.
Sejak hari itu, hidupnya terasa seperti berada di persimpangan yang terlalu lama. Lamaran kerja dikirim hampir setiap hari. Balasan jarang datang. Tabungan menipis. Kota tetap menuntut hal yang sama, seolah tidak peduli ada orang yang sedang jatuh di tengah jalan.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Kamu masih butuh jalan?
Arga mengernyit. Ia membaca ulang pesan itu beberapa kali. Tidak ada salam. Tidak ada perkenalan. Kalimat itu terlalu singkat, tapi terasa seperti menembus lapisan pertahanannya.
Ia tidak langsung membalas. Tangannya berhenti di atas ponsel. Ia menyesap kopi yang sudah mulai dingin, mencoba mengalihkan pikiran. Tapi pesan itu terus terngiang, mengikuti langkahnya bahkan setelah ia meninggalkan warung.
Hari berlalu tanpa hal berarti. Arga pulang, membantu ibunya membersihkan rumah, lalu duduk menonton televisi tanpa benar-benar memahami apa yang ia tonton. Kepalanya penuh, tapi tidak terarah.
Malam datang. Rumah kecil itu kembali sunyi. Ibunya sudah tertidur. Arga masuk ke kamar, menyalakan lampu, dan membuka laptopnya. Layar menyala, menampilkan folder lama berisi tulisan-tulisannya. Cerita tentang kota, tentang lelaki yang kalah tapi tidak mau menyerah.
Ia membaca salah satu tulisannya sendiri. Jujur, tapi juga menyakitkan. Kata-kata itu tidak memberinya penghasilan. Tidak membuat hidupnya lebih ringan.
Ponselnya kembali bergetar.
Jawabanmu menentukan seberapa cepat kamu keluar dari lingkaran ini.
Kata lingkaran membuat dadanya terasa sempit. Ia tahu rasanya—berputar di tempat yang sama, berharap keajaiban datang tanpa keberanian untuk melangkah.
Ia mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Ini tentang apa?
Balasan datang hampir seketika.
Tentang kota. Tentang bertahan. Tentang memilih.
Arga berdiri dan berjalan mondar-mandir di kamar. Dinding terasa semakin dekat. Ia teringat wajah ibunya pagi tadi. Teringat dirinya sendiri yang semakin sulit berharap.
Akhirnya, ia duduk kembali dan mengetik:
Apa yang harus saya lakukan?
Beberapa detik kemudian, balasan muncul.
Datang besok. Dengar dulu. Pilihan selalu di tanganmu.
Arga menutup laptop dan berbaring. Matanya menatap langit-langit. Di luar, kota masih hidup—klakson, suara motor, langkah orang-orang yang pulang larut.
Ia sadar, mungkin ini awal dari sesuatu yang tidak mudah dihentikan. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak sepenuhnya diam.
Di kota yang tidak pernah menunggu siapa pun, Arga akhirnya bergerak.
Arga memejamkan mata sejenak sebelum benar-benar terlelap. Pikirannya masih dipenuhi potongan hari yang terasa biasa, tapi menyimpan sesuatu yang berbeda. Ia sadar, tidak semua perubahan datang dengan suara keras atau tanda mencolok. Sebagian justru hadir dalam bentuk keputusan kecil yang tampak sepele, tapi perlahan menggeser arah hidup seseorang.
Di luar, kota tetap bergerak tanpa menunggu siapa pun. Lampu-lampu jalan menyala, kendaraan masih melintas, dan orang-orang dengan urusan masing-masing terus melangkah. Arga tahu, besok pagi semuanya akan terlihat sama seperti hari ini. Jalan yang sama, udara yang sama, rutinitas yang sama.
Namun di dalam dirinya, sesuatu telah bergeser.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya setelah pesan itu. Tidak tahu apakah langkah yang akan ia ambil benar atau justru membawa masalah baru. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertahan. Ia bersiap untuk memilih, meski risikonya belum jelas.
Arga menarik napas dalam-dalam. Kota mungkin tidak pernah peduli pada nasib seseorang, tapi ia menolak menjadi sekadar bayangan yang terseret arus. Jika hidup memang sebuah lingkaran, maka setidaknya kali ini ia ingin berjalan dengan sadar, bukan sekadar diputar.
Dan malam itu, di kamar sempit yang sunyi, sebuah awal pelan-pelan terbentuk.
Arga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah langkah pertamanya diambil. Ia hanya sadar bahwa bertahan tanpa bergerak perlahan mengikis dirinya sendiri. Kota mungkin tidak pernah memberi waktu untuk ragu, tapi malam itu ia memilih untuk tidak lagi diam. Besok, segalanya bisa berubah—atau justru menjadi lebih rumit.