
PRIA MISKIN TERNYATA CEO
Senjaindah13|Bersambung
- Jumlah kata
- 24.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 35
- Jumlah kata
- 24.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 35
Sinopsis
"Gue nikah sama orang miskin? Gak ya! Gak level maksimal bangat anjir." "Hei jodoh itu gak ada yang tau.. Entah kaya atau miskin tuh." "Gue maunya nikah sama pria kaya, enak aja miskin. Big No Ya!!" * Kehidupan seorang wanita cantik yang penuh kemewahan namun tiba-tiba saja di jodohkan oleh pria miskin yang bahkan bukan type Tania Aglexia. Benar jodoh itu tidak ada yang tahu, kini Tania yang ingin sekali berjodoh dengan pria kaya, justru malah berjodoh dengan pria miskin. Apakah Tania Aglexia akan menerima perjodohan ini? Atau justru dia kabur dari perjodohan sialan ini?? * "Heh cowok miskin mau apa Lo? Gak usah macam-macam ya, mau anu Lo gue tendang?" "Siapa juga yang mau macam-macam? Saya mau tidur." "Terus tidur dekat gue gitu?" "Hmm, kita suami istri!" "Aaaaaaa— gak mau! Lo harus jauh-jauh dari gue, nanti gue ketularan miskin lagi." "Diam! Atau kamu saya buat bunting!" "MISKIN KURANG AJAR LO!" Dari cerita ini apakah Natha akan sabar dengan mulut judes dan jahat Tania? Sedangkan Nathan terus saja di hina oleh Tania. Apakah akan ada dendam nantinya yang tumbuh di hati Nathan?
Ulasan
1 ulasan
Senjaindah13
8/12/25 07:06
KASIH ULASAN GAK AKU MAKSA!! buku ini di tulis dengan sepenuh hati untuk para pembaca yang mampir di novel ini...
Bab 1.
Perjodohan sialan ini telah resmi mengikat Tania Aglexia pada takdir yang paling ia benci. Kini, ia sudah sah menjadi istri dari pria yang—di matanya—hanyalah seorang pria miskin bernama Nathan Fairel. Walaupun harus diakui, wajah Nathan memang terlalu tampan untuk pria dari kelas ekonomi bawah, namun ketampanan itu tidak akan pernah cukup untuk menutupi fakta menyebalkan: mana mungkin seorang Tania Aglexia, ratu kemewahan dan pewaris tunggal, bersanding dengan pria yang tak memiliki apa-apa selain senyum tenang yang menjengkelkan itu?
Malam ini, semua drama itu mencapai puncaknya.
Bisa di bilang pernikahan ini adalah pernikahan yang tidak pernah ada di mimpi Tania. Menikah dengan pria miskin adalah sebuah lelucon yang paling tidak menyenangkan.
"Please apakah nanti gue di bawa pindah sama dia? Ke sebuah rumah yang seperti selokan kucing— oooooo tidak mungkin! Gue gak akan mau pindah dan tinggal bareng pria miskin itu." batin Tania menjerit membayangkan dirinya tinggal berdua di rumah kecil yang seperti selokan.
*
Pintu kamar pengantin—yang sejatinya adalah kamar tidur utama milik Tania, dengan dekorasi chic bernuansa abu-abu dan merah muda blush—baru saja tertutup setelah Tania keluar dari kamar mandi. Uap tipis masih mengekor di belakangnya, membawa aroma mahal dari sabun mandi impor yang biasa ia pakai. Penampilannya, seperti kebiasaan sebelum tidur, jauh dari kata sopan untuk malam pertama pernikahan: hanya mengenakan celana pendek berbahan satin yang sangat minim dan atasan tanktop seksi berbahan katun tipis yang membingkai lekuk tubuhnya.
Ia berjalan ke arah meja rias, berniat mengeringkan rambut, ketika matanya menangkap siluet asing di atas ranjang king-size-nya. Nathan. Pria itu sudah berbaring menyamping, seolah kamar itu miliknya, hanya mengenakan kaus polos usang yang bahkan tidak bermerek dan celana training longgar. Kesalahan berbaringnya itu, bagi Tania, adalah puncak dari penghinaan.
"Heh Lo, mau apa Lo di sini?" Suara Tania langsung menusuk, penuh keterkejutan yang berubah cepat menjadi kemarahan eksplosif. Jari telunjuknya teracung ke arah Nathan, seolah pria itu adalah serangga yang menjijikkan.
Nathan Fairel tidak bergerak, bahkan tidak repot-repot mengubah ekspresi wajahnya yang datar. Ia hanya menoleh sedikit, matanya yang tajam dan tak berminat menatap lurus ke arah penampilan Tania yang provokatif.
"Mau tidur," jawab Nathan, suaranya rendah dan begitu tenang, seolah mereka sedang mendiskusikan cuaca. Kontras yang menyesakkan bagi Tania.
"Tidur? Helowwww..." Tania tertawa mengejek, langkahnya maju cepat, berhenti di tepi ranjang. "Ini tuh kamar gue, Lo kalau mau tidur jangan di sini dong, enak aja mau tidur bareng gue! Gak ya! Lo lupa diri ya kalau cuma numpang di rumah gue?!"
Nathan akhirnya duduk tegak, tangannya bersandar di belakang tubuhnya. Sorot matanya kini sedikit lebih intens, sebuah gelombang kesabaran yang hampir habis. "Kita suami istri."
"Itu sih Lo aja yang nganggap kita suami istri, gue sih nggak ya!" Tania bersidekap di depan dada, mencoba menutupi tubuhnya seolah Nathan adalah ancaman fisik, padahal ancaman terbesarnya adalah status kemiskinan pria itu. "Pokoknya Lo pergi dari kamar gue! Sekarang juga!"
"Saya ngantuk," ujar Nathan, menarik selimut sedikit ke atas tubuhnya, sebuah isyarat yang membuat darah Tania mendidih. Dia benar-benar menganggap kamar ini tempatnya.
"Gue juga sama, makanya sekarang Lo pergi, tidur di mana kek! Di ruang tamu! Di dapur! Di gudang! Terserah!" Tania berteriak, menunjukkan dominasinya.
"Saya mau di sini. Saya akan tidur di sofa," kata Nathan, akhirnya menyerah sedikit, menunjuk sofa panjang velvet yang elegan di sudut ruangan.
"Pergi!! Enak aja Lo mau di sini!" Tania tidak mau kompromi, ia ingin Nathan hilang dari pandangannya, seutuhnya.
Tiba-tiba, mata Nathan menggelap. Ekspresi bosan yang tenang itu lenyap, digantikan oleh aura berbahaya yang membuat Tania refleks terdiam. Pria itu mencondongkan tubuh ke depan, suaranya berubah menjadi geraman serak, nadanya dingin dan mutlak, memotong sisa keberanian Tania dalam satu tebasan.
"Diam," desis Nathan, tanpa jeda. "Kalau gak kamu saya perkosa, mau?"
Wajah Tania langsung pucat. Bukan karena takut Nathan akan benar-benar melakukannya, tapi karena kejutan dari ancaman mentah dan primal yang dilontarkan pria miskin itu. Untuk pertama kalinya, Nathan tidak terlihat seperti pria miskin yang lembut, tetapi seperti predator.
"Heh Lo ngancam gue?" teriak Tania dengan suara cemprengnya.
"Ngga!" sahut Nathan singkat.
"Perkosa-perkosa enak aja Lo!"
"Saya mau tidur.."
"Jangan disini, gue gak mau lihat muka Lo sialan!"
"HEH MAU APA LO??"
Daftar bab
20 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








