
Hanz Pewaris Yang Menaklukkan Dunia
Pena Glory|Bersambung
- Jumlah kata
- 122.3K
- Popular
- 265
- Subscribe
- 25
- Jumlah kata
- 122.3K
- Popular
- 265
- Subscribe
- 25
Sinopsis
Dari kecil Hanz harus diasingkan dan bahkan dianggap tidak ada demi keselamatan dirinya. Alasannya lantaran Keluarga Fadeyka punya banyak musuh. Belasan tahun berlalu, saat bisnis dan nyawa keluarganya terancam, akhirnya Hanz pulang untuk mengatasi semuanya. Hacker, mafia, sampai pemerintah mampu dia atasi berkat kejeniusannya. Hanya saja bisnis Fadeyka terlalu besar, belum lagi Hanz harus mencari siapa pembunuh kakaknya, lantas apakah dia mampu menjalankan semua tugasnya sebagai pewaris yang kelak menguasai dunia?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Identitas yang belum terkuak
"Kita tidak perlu melanjutkan hubungan ini lagi. Setelah lulus nanti, aku tidak melihat masa depan yang cerah bersamamu. Selamat tinggal.”
Kalimat itu menghantam Hanz seperti palu raksasa.
Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa sunyi. Padahal ratusan mahasiswa dan keluarga mereka sedang memenuhi area kampus untuk menghadiri wisuda. Suara tawa, percakapan, dan langkah kaki berseliweran di mana-mana, tetapi semuanya terdengar jauh di telinganya.
Hanz menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. “Alyona,” ucapnya pelan, berusaha menahan gejolak di dadanya. “Kita sudah bersama selama empat tahun. Kita melewati masa kuliah ini bersama. Bagaimana mungkin kau mengakhiri semuanya begitu saja?”
Alyona menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajah cantiknya tetap terlihat memikat, tetapi sorot matanya terasa dingin. “Karena selama empat tahun itu, aku hanya memanfaatkanmu, Hanz,” jawab Alyona tanpa rasa bersalah. “Apa kau benar-benar tidak menyadarinya?”
Hanz terdiam.
“Aku tidak pernah membutuhkan uangmu karena memang tidak ada yang bisa kau berikan,” lanjut Alyona. “Kau hidup dari beasiswa dan bekerja paruh waktu di kafe. Bagaimana mungkin aku membayangkan masa depan bersama pria seperti itu?”
Kata-kata itu menusuk jauh lebih dalam daripada yang ingin diakuinya.
Hanz menatap gedung wisuda yang berdiri tidak jauh dari mereka. Topi toga di kepalanya terasa semakin berat. Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun, hanya dalam hitungan menit, semuanya berubah menjadi mimpi buruk.
“Alyona,” kata Hanz lagi, suaranya sedikit bergetar. “Bukankah kau pernah berjanji akan tetap bersamaku sampai pernikahan?”
Alyona tertawa kecil. Tawa yang terdengar penuh ejekan. “Kau masih percaya janji itu?” tanyanya. Wanita itu menggeleng pelan sebelum menatap Hanz dari ujung kepala sampai kaki.
“Kau hidup sendirian. Tidak punya keluarga. Tidak punya nama belakang. Bahkan asal-usulmu tidak jelas,” katanya tajam. “Bagaimana mungkin aku menikah dengan pria seperti dirimu?”
Hanz mengepalkan tangan. Kalimat itu bukan sekadar hinaan. Itu adalah luka lama yang selalu berusaha ia abaikan. Sejak kecil, dia memang tidak pernah mengenal siapa orang tuanya.
Tumbuh tanpa mengetahui identitas keluarganya. Dan hari ini, Alyona menggunakan kelemahan itu untuk menghancurkannya.
Alyona Lukinov bukan wanita biasa. Ayahnya, Mikhailovic Lukinov, adalah salah satu tokoh berpengaruh di industri energi Rusia dan pemilik Lukgaz, perusahaan minyak yang cukup disegani, meskipun kalah telak dari perusahaan raksasa Fadeyka Energy.
Sejak awal, banyak orang menganggap hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Seorang putri keluarga kaya dengan mahasiswa yatim piatu sebatang kara.
Perbedaan mereka terlalu jauh. Namun Hanz tidak pernah peduli. Dia mencintai Alyona dengan tulus. Sayangnya, ketulusan tidak selalu dihargai.
“Aku tidak meragukan kecerdasanmu,” kata Alyona. “Kemampuanmu di bidang Chemical Engineering memang luar biasa. Kemampuan hacking-mu juga hebat. Tapi semua itu tidak cukup untuk membuat ayahku menerima dirimu.”
Tatapan Alyona berubah semakin dingin. “Di dunia nyata, status jauh lebih penting daripada nilai akademik.”
Hanz menatapnya tanpa berkata apa-apa dan kini mulai mengerti. Alyona tidak datang untuk berpisah. Wanita itu datang untuk mempermalukannya.
Tak lama kemudian, seorang pria mengenakan kemeja merah terang berhenti di samping Alyona. Senyuman meremehkan langsung muncul di wajah pria itu.
“Jadi ini Hanz?” tanyanya sambil memandang Hanz seperti melihat sesuatu yang menjijikkan. “Pria miskin yang tidak punya identitas itu?”
Alyona tersenyum puas. Tanpa ragu, dia merangkul lengan pria tersebut.
Gerakan sederhana itu membuat dada Hanz terasa semakin sesak. Hari ini benar-benar dirancang untuk menghancurkannya.
“Kenalkan,” kata Alyona sambil menyandarkan tubuhnya pada pria itu. “Ini Mark. Kekasihku.”
Hubungan prematur di antara Alyona dan Mark terjalin karena sebuah alasan. Alyona ingin agar Mark punya peran dalam upaya membantu Lukgaz melobi pihak Fadeyka Energy nanti karena Lukgaz sedang krisis.
Mark menyeringai. “Akhirnya aku bertemu juga dengan legenda kampus ini,” katanya sinis. “Mahasiswa miskin yang hidup dari beasiswa. Sejujurnya, aku heran kenapa kampus ini mempertahankanmu begitu lama.”
“Aku tidak pernah meminta apa pun dari kalian,” balas Hanz dingin.
“Oh, tentu saja,” ejek Mark. “Kau hanya mengambil semua kesempatan yang bisa didapatkan orang lain.”
Alyona ikut tertawa. “Mark, jangan terlalu keras,” katanya pura-pura membela. “Bagaimanapun juga, Hanz sudah banyak membantuku selama ini.”
“Benar,” sahut Mark. “Dia membantu menaikkan nilaimu, bukan?”
Alyona mengangguk santai. “Empat tahun penuh.” Kemudian wanita itu menoleh ke arah Hanz. “Terima kasih untuk semua tugas, laporan, dan proyek yang kau bantu kerjakan,” katanya. “Nilai-nilaiku pasti tidak akan sebagus sekarang tanpa dirimu.”
Hanz merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
Jadi selama ini...
Semua perhatian, semua kedekatan, dan semua kebersamaan yang mereka lalui hanyalah sandiwara.
“Bagiku kau sangat berguna,” lanjut Alyona tanpa rasa bersalah. “Sayangnya, hanya sampai di situ.”
Mark mencibir, “Dasar pria menyedihkan! Kau pikir, dengan kecerdasan dan prestasimu, bisa mengangkat martabatmu yang rendah itu ha?! Kau lebih buruk dari gembel! Gembel saja jelas ayah dan ibunya siapa!” semburnya. Lalu, Mark tertawa lepas.
Hanz memejamkan mata sesaat dan berusaha mengendalikan emosinya. Namun hinaan demi hinaan terus berdatangan.
“Dengan statusmu sekarang, bahkan wanita pemulung pun mungkin akan berpikir dua kali sebelum menikahimu,” kata Mark.
Alyona menambahkan dengan senyum tipis, “Setidaknya kau pernah menjadi pacarku. Itu sudah cukup menjadi pencapaian terbesar dalam hidupmu.”
Mark tertawa semakin keras. “Kau benar, Sayang.” Pria itu lalu menatap Hanz dengan penuh penghinaan. “Lihat kenyataan, Hanz. Dunia ini tidak peduli seberapa pintar dirimu. Dunia hanya menghormati orang yang memiliki kekuasaan, uang, dan keluarga yang berpengaruh.”
Alyona mengangguk setuju. “Dan kau tidak memiliki ketiganya.”
Hanz tidak menjawab. Dia hanya berdiri diam.
Semakin lama, ekspresinya justru semakin tenang.
Melihat reaksi itu, Alyona merasa sedikit tidak nyaman.
Entah mengapa, pria yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat berbeda.
Tidak marah.
Tidak memohon.
Tidak juga menangis.
Hanya diam.
Seolah sedang mengubur sesuatu jauh di dalam dirinya.
“Ayo pergi,” kata Alyona akhirnya. Dia menggandeng lengan Mark. "Orang tuaku sudah menunggu. Oh ya, apakah kau punya orang tua?"
Sebelum pergi, dia melemparkan tatapan meremehkan terakhir kepada Hanz. “Selamat menikmati hidupmu, pecundang.”
Mereka berdua lalu berjalan menjauh, meninggalkan Hanz sendirian. Di tengah hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Hanz berdiri tanpa bergerak. Matanya mengikuti punggung Alyona hingga menghilang di kejauhan.
Empat tahun.
Empat tahun perasaannya ternyata tidak lebih dari sebuah lelucon. Namun setelah beberapa saat, Hanz menarik napas panjang.
Hanz tak kuasa menerima kenyataan pahit ini. Wajahnya seperti ingin jatuh. Tapi, dia terus menguatkan diri. Hanz bukan bocah yang hobi mengeluh.
Setelah acara wisuda, saat semua orang berbahagia di tengah orang-orang tercinta, sahabat satu-satunya Hanz yang juga sedang wisuda, mendekat dan berkata, “Tuan Muda Hanz, ada panggilan mendadak dari Tuan Besar Dmitry Fadeyka. Kantor pusat Fadeyka Energy sedang tidak aman karena ulah hacker. Kita harus segera berangkat ke Rusia.”
Daftar bab
110 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
110 bab








