
Terapi Rahasia Mr. Shadow
Angela|Bersambung
- Jumlah kata
- 133.9K
- Popular
- 852
- Subscribe
- 156
- Jumlah kata
- 133.9K
- Popular
- 852
- Subscribe
- 156
Sinopsis
[Area 21++++] Di rumah, Dimas dihina tiga saudari tirinya sebagai pengangguran miskin. Mereka tak tahu, tiap malam pemuda 22 tahun ini berubah menjadi "Mr. Shadow"—pemuas rahasia nomor satu para wanita penguasa kota. Tanpa sistem, jemari pijat terapi dan karisma manipulatifnya sukses menaklukkan para ratu. Permainan rahasia ini memanas saat satu per satu saudari tirinya datang dalam kondisi frustrasi, memohon kepuasan dari pria misterius yang ternyata adik tiri mereka sendiri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Benalu Di Meja Makan
"Apa kamu tidak merasa malu di antara Kami bertiga, Dimas? Kamu satu-satunya anak laki-laki di dalam keluarga ini. Bagaimana bisa kamu pengangguran seperti ini?"
Dimas yang tadinya tengah menikmati makan malamnya, langsung terdiam saat mendengarkan ucapan Hanum. Kakak tiri tertuanya yang menjabat sebagai CEO.
"Benar kata Kak Hanum. Kamu memang tidak berguna di dalam keluarga ini, Dimas. Kami semua bekerja sedangkan kamu pengangguran," sahut Chelsea sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Kalau aku sih belum bekerja, apalagi aku masih seorang mahasiswi," ucap Maya yang paling muda ikut menimpali.
Dimas terdiam dan tidak menanggapi ucapan ketiga saudara tirinya yang selalu menganggapnya sebagai anak yang tidak berguna dan pengangguran.
Dimas memandang ketiga saudara tirinya secara bergantian.
Dimas dapat melihat kalau Hanum kakak tiri tertuanya yang tengah memakai kemeja ketat itu dapat melihat kalau ada ketegangan di bahu sang kakak.
Sedangkan Chelsea terlihat ada tanda-tanda stres pada tubuhnya.
Dan untuk Maya, Dimas hafal sekali kalau anak itu sedang dibuat pusing oleh mata kuliahnya.
Dimas tak berekspresi sama sekali, lalu dengan pelan dia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring.
"Aku permisi dulu. Malam ini aku ada kerja shift malam," kata Dimas sambil menatap ketiga saudara tirinya dengan hormat.
"Banyak gaya sekali kerja shift malam. Kamu hanya keluar nongkrong bersama teman-temanmu. Untuk apa menyembunyikannya dengan dari bekerja di malam hari?" Hanum mencemooh setelah dia menelan sisa ayam yang baru saja dia kunyah.
"Kenapa tidak pergi saja dari rumah ini, sih!? Kami bertiga harus bekerja dan hasil dari jerih paya kami malah harus membiayai pengangguran sepertimu!" Chelsea baru ucap sinis sambil menatap Dimas dengan tajam.
"Maaf kalau aku menyusahkan," kata Dimas.
"Sudahlah dan jangan bertengkar," Bramasta menyahut sambil menatap keempat anaknya dengan tatapan malas.
"Lagi pula selama kalian masih bisa bekerja, dia juga harus berusaha mencari pekerjaan. Mungkin nanti Dimas juga bakalan dapat kerja, tapi bukan sekarang," ucap Bramasta lagi.
Dimas memandang ke arah ayah tirinya, lalu dia berterima kasih di dalam hati pada sang ayah.
Dimas tidak sakit hati dengan hinaan hinaan yang keluar dari ketiga saudara tirinya, ia malah terlihat tergoda dengan gerakan bibir ketiga saudara tirinya itu.
"Jangan terlalu mengenakan pakaian yang ketat," kata Dimas memperingati ketiga saudara tirinya.
Memang Hanum mengenakan pakaian tidur yang begitu ketat saat makan malam. Chelsea hanya menggunakan tanktop dan juga hotpants. Sedangkan Maya sendiri hanya mengenakan handuk karena Maya baru saja selesai mandi dan langsung ikut makan malam.
Tanpa menunggu ucapan-ucapan menyakitkan ketika saudara tirinya itu, Dimas memilih berjalan keluar dari dapur, menuju tempat shift malam yang dia maksud.
Sekarang Dimas sudah berada di garasi rumahnya. Saat dia ingin ke arah motornya yang terparkir di sana, Chelsea ikut keluar.
Mereka berdua tak sengaja bersenggolan dan gesekan kulit mereka berhasil membuat Chelsea bergindik pelan oleh hawa maskulin Dimas.
Memang yang mereka tahu kalau Dimas itu seorang pengangguran, tetapi tubuh Dimas itu merupakan proporsi yang sangat sempurna.
Punya badan yang tinggi. Bibir tebal yang sedikit merah dan terkesan seksi. Matanya tajam. Otot-otot tangannya tampak terlihat terbentuk. Serta wanginya yang benar-benar sangat manly, membuat siapa saja langsung jatuh ke dalam pesonanya yang tidak tertandingi itu.
"Maaf..."
Chelsea membuang wajahnya dengan angkuh dan tidak peduli dengan ucapan permintaan maaf Dimas. Wanita itu benar-benar memandang saudara tirinya dengan tatapan yang sangat benci.
"Ingin ke mana sampai keluar malam-malam begini? Apalagi hanya mengenakan tanktop dan hotpants. Sangat bahaya kalau keluar dengan pakaian seperti itu," kata Dimas memperingati saudara tirinya.
Chelsea memandang Dimas dari atas sampai bawah, lalu dia mendorong dada Dimas dengan menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.
"Tak usah sok perhatian padaku kalau kamu masih berada di bawahku. Levelmu itu adalah pengemis, sedangkan aku adalah orang yang memberimu uang," kata Chelsea dengan suara mencemooh dan meremehkannya.
Chelsea berjalan menuju mobilnya, lalu mengambil sebuah benda yang sangat Dimas kenali.
"Pengaman?" tanya Dimas sambil menatap benda yang dipegang oleh saudara tirinya itu.
Chelsea memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Memangnya kenapa kalau aku berhubungan badan sebelum nikah? Lagi pula menjadi seorang model sangatlah membosankan, hasratku harus dipenuhi," kata Chelsea sambil mengantongi pengaman tersebut di dalam hotpants nya.
"Jangan sampai kamu terlibat skandal." Dimas memperingati dengan begitu peduli, sedangkan Chelsea masih memandangnya layaknya seorang musuh.
"Tapi, memangnya bercinta dengan menggunakan pengaman rasanya nikmat? Bercinta tanpa menggunakan pengaman itu sangat nikmat," kata Dimas dan itu berhasil membuat Chelsea langsung membulatkan matanya dengan lebar.
"Jangan mengajariku tentang hal seperti itu! Aku jauh lebih tua darimu dan juga aku lebih berpengalaman dari kamu!" seru Chelsea yang tampak terlihat sensitif dengan pembahasan mereka.
Dimas tertawa pelan.
"Bilang pada kekasihmu atau teman ranjang mu, bercinta dengan menggunakan pengaman tidak akan membuat gairahmu melayang sampai ke langit," kata Dimas, lalu dia merogoh pengaman yang ada di dalam saku hotpants milik Chelsea.
Sentuhan Dimas membuat Chelsea memejamkan matanya beberapa detik, bahkan dia merasakan kalau tangan pria itu hampir menyentuh alat intimnya dibalik celana pendek itu.
Dimas mengambil pengaman itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Cobalah bercinta tanpa menggunakan pengaman. Aku yakin kamu akan terbang menjauh dari dunia dan langsung jatuh ke surga," kata Dimas.
Tanpa menunggu jawaban Chelsea yang menatapnya dengan tatapan tajam, Dimas menaiki motor Vespanya dan langsung meninggalkan halaman rumah.
Dimas terkekeh di atas motornya, lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Memangnya seenak apa bercinta dengan menggunakan pelindung seperti itu? Memangnya urat-urat penis itu terasa di dalam lubang mungil itu?" gumam Dimas.
Dengan jarak yang tidak jauh beberapa meter dari kediamannya, Dimas memarkirkan motornya di depan sebuah rumah sakit.
Ini adalah salah satu syarat agar dia bisa menjalankan shift malamnya dengan baik.
Tak lama setelah Dimas memarkirkan motornya di depan rumah sakit, Dimas mengambil ketelanja desainer mewah dari dalam bagasi Vespanya.
Dengan telaten dia mengenakan pakaian mahal itu, lalu dia memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup oleh angin malam.
Seorang perawat wanita dengan baju yang sedikit tetap menghampiri Dimas.
"Mobil sport-nya sudah terparkir dengan baik di belakang rumah sakit," kata perawat itu sambil mencondongkan dadanya ke arah Dimas.
Dimas tersenyum tipis, lalu mencium belahan dada perawat itu beberapa detik.
"Masih sama, vanilla," kata Dimas memuji.
Dimas mengangkat dagu perawat itu dengan menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.
"Kutunggu di klub hotel elit tempat kita pertama kali bertemu. Aku akan memberikanmu hadiah karena telah menjaga mobilku dengan baik," kata Dimas, lalu dia dengan lembut menghirup aroma yang ada di tengkuk perawat itu.
Daftar bab
120 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
120 bab








