
Jin Sexy Penglaris Tukang Sate
Agneslovely2014|Bersambung
- Jumlah kata
- 46.0K
- Popular
- 787
- Subscribe
- 212
- Jumlah kata
- 46.0K
- Popular
- 787
- Subscribe
- 212
Sinopsis
Bacaan Dewasa berbalut komedi dan horor. Jupri mendapat warisan sebentuk lampu minyak ajaib dari kakeknya. Awalnya, ia kesal karena semua cucu Kakek Badrun mendapat warisan tanah, emas batangan, sapi-sapi. Sementara Jupri hanya dapat lampu minyak seperti di film Aladdin. "Yaelah, Kek. Kasih warisan kok begini doang sih! Mana warung sate Jupri sepi melulu. Huhh!" Pemuda miskin itu merasa nasibnya begitu malang sampai saat tangannya mengoles-oles lampu minyak muncullah jin cantik nan sexy dari dalamnya. "Hai, Mas Ganteng. Butuh bantuan apa nih dari Shinta?" ucap jin wanita dari lampu minyak warisan Kakek Badrun. Bagaimana kelanjutan kisah Jupri dan jin wanita itu? Jangan lupa masukkan pustaka ya, Guys ...
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab.1. Mendadak Dipanggil Pulang Kampung
Asap pembakaran arang mengepul pelan dari tungku besi tua di depan warung kaki lima milik Jupri. Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu berdiri membalik-balik tusuk sate ayam dengan gerakan yang sudah ribuan kali ia lakukan selama tiga tahun merantau di Yogyakarta.
Aroma bumbu kacang yang gurih tercium samar, namun jalanan di depan warungnya sepi senyap. Hanya ada dua orang pembeli setia yang duduk di bangku kayu panjang, menunggu pesanan mereka matang sempurna.
Usaha yang dulunya ramai pengunjung kini perlahan sepi, persaingan dagang yang ketat dan naiknya harga bahan baku membuat Jupri harus berjuang keras setiap hari agar warungnya tetap bertahan.
Tiba-tiba ponsel tua di saku celananya bergetar terus-menerus. Jupri menyeka keringat di dahi dengan lengan baju, lalu mengangkat telepon itu. Dari seberang terdengar suara isak tangis kakak sepupu perempuannya, Marni, yang berbicara dengan logat Madura yang kental.
"Dek Jupri ... Dek ..." suara Marni bergetar hebat, sesak oleh tangis. "Kakek Badrun meninggal dunia barusan. Kamu harus pulang ke Sumenep besok pagi, jangan terlambat untuk pemakaman kakek."
Jupri terpaku di tempat, tusuk sate di tangannya terlepas jatuh ke piring. Dunia seakan berhenti berputar sejenak. "Apa ... apa kata Kakak? Kakek meninggal? Padahal minggu lalu aku masih telepon, suaranya masih kuat dan ceria!"
"Iya, Dek. Tiba-tiba saja jatuh sakit dan tak tertolong. Pulanglah segera, pemakaman Kakek nggak bisa ditunda lebih lama," jawab Marni sambil menangis.
Hati Jupri hancur berkeping-keping. Kakek Badrun adalah orang yang paling menyayanginya sejak kecil, yang membiayainya studi hingga lulus sekolah menengah. Beliau selalu berkata bahwa kerja keras dan jujur adalah harta yang paling berharga.
Tanpa menunda lagi, Jupri membungkus pesanan dua pembeli yang masih menunggu lalu menutup warungnya lebih awal. Ia bergegas menggendong tas ransel berisi pakaian ganti untuk pemakaman besok menuju Terminal Giwangan.
Di terminal yang ramai itu, Jupri membeli tiket bus patas cepat jurusan Surabaya milik PO EKA. Bus berangkat tepat waktu, melaju membelah jalanan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga fajar menyingsing di pelabuhan. Dari Surabaya ia menyebrang menuju Pulau Madura, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Sumenep. Beruntung sekali, Jupri tiba di rumah kakeknya tepat saat prosesi pemakaman akan dimulai.
Suasana rumah kayu itu dipenuhi tangis dan duka. Di halaman depan, kerabat dan tetangga berkumpul dengan wajah berduka. Jupri segera menghampiri jenazah, mencium kening kakek untuk terakhir kalinya sebelum jenazah dibawa ke pemakaman. Air mata mengalir deras di pipinya, tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam.
Di makam, setelah jenazah dikebumikan, anak-anak dan cucu Kakek Badrun berkumpul di sekitar gundukan tanah baru itu. Pak Mansyur, putra sulung Kakek Badrun, menatap tanah makam dengan mata berkaca-kaca.
"Kakek kita orang yang baik sepanjang hidupnya. Usianya delapan puluh enam tahun, tapi sampai kemarin masih lincah pergi ke sawah dan berdagang hasil bumi. Sungguh kita tak menyangka akan kehilangan beliau secepat ini," ucap Pak Mansyur lirih.
Adik Pak Mansyur, Bu Zainab, mengusap air matanya sambil menatap Jupri sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jupri adalah cucu kesayangan Kakek. Selalu saja Kakek menyebut nama Jupri di setiap obrolan. Mungkin semua harta peninggalan beliau akan jatuh ke tangan Jupri," bisiknya kepada putra sulungnya. Namun, suaranya cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar.
Sepupu-sepupu Jupri saling berpandangan, ada yang berwajah sedih. Namun, ada juga yang menyembunyikan rasa iri di balik wajah duka. Semua orang tahu bahwa Kakek Badrun memiliki sawah luas, rumah-rumah kontrakan, dan tabungan yang cukup banyak. Karena Jupri adalah cucu yang paling disayangi, anggapan semua orang adalah Jupri yang akan mewarisi sebagian besar harta itu.
Akan tetapi, Jupri sendiri sama sekali tidak memikirkan soal harta. Ia hanya duduk termenung di tepi makam, air mata masih menetes, hatinya dipenuhi penyesalan karena tak sempat berpamitan secara langsung. "Maafkan aku, Kek. Jupri tak sempat pulang lebih awal," gumamnya pelan.
Setelah prosesi pemakaman selesai dan tamu-tamu mulai pulang, keluarga inti Kakek Badrun berkumpul di ruang tamu rumah kayu itu. Notaris yang sudah ditunjuk oleh almarhum Kakek Badrun hadir membawa amplop cokelat berisi surat wasiat. Semua anggota keluarga duduk dengan hati berdebar-debar, harap-harap cemas menunggu isi surat itu dibacakan.
Pak Mansyur duduk di kursi utama, wajahnya tampak berusaha tenang meskipun matanya tak menyembunyikan rasa penasaran. Bu Zainab duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arah Jupri yang duduk paling ujung, masih tampak murung dan tenggelam dalam duka. Sepupu-sepupu Jupri saling berbisik pelan, menduga-duga berapa banyak bagian yang akan diterima Jupri.
Notaris Suharyo membuka amplop dengan tenang, lalu menatap semua orang yang hadir. "Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Saya di sini untuk membacakan surat wasiat yang ditandatangani oleh Almarhum Bapak Badrun bin Salim dua bulan sebelum beliau wafat. Silakan disimak dengan tenang."
Ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Hanya suara napas teratur yang terdengar, sementara mata semua orang tertuju pada lembaran kertas di tangan notaris. Jupri sendiri hanya menunduk, pikirannya masih tertinggal di makam kakeknya, tak menyadari bahwa isi surat wasiat itu akan mengubah pandangan seluruh keluarga terhadap dirinya.
"Tanah dan sawah seluas lima hektar diwariskan ke Bapak Mansyur, putra tertua mendiang Pak Badrun. Kemudian emas batangan seberat dua kilo diwariskan ke Bu Zaenab. Rumah kontrakan sebanyak dua unit di Sumenep akan diberikan kepada Bapak Kandar," ujar Notaris Suharyo sesuai amanat kliennya yang telah berpulang.
Daftar warisan yang dibagi-bagikan dibacakan nyaris semuanya untuk anak-anak Kakek Badrun, disusul uang tunai dan perhiasan serta kendaraan diwariskan ke cucu-cucu beliau. Semua masih penasaran apa yang ditinggalkan sang kakek kepada Jupri.
Pemuda itu tertunduk gelisah, tadinya ia memang tidak mengharapkan warisan. Akan tetapi, semua anggota keluarga besarnya mendadak ketiban durian runtuh. Harta kekayaan Kakek Badrun begitu banyak dan menggiurkan siapa pun yang masih butuh uang untuk hidup.
Pak Mansyur, paman tertua Jupri menyeringai puas karena bagian warisannya yang paling besar. Ia berbisik kepada Bu Zaenab, "Entah apa yang diwariskan ayah ke si Jupri. Semua harta sudah disebut oleh notaris!"
Adik perempuannya itu tertawa sinis lalu menjawab, "Jupri itu sudah yatim piatu sejak kecil. Disekolahin sampai tamat SMA saja sudah untung!"
Akhirnya, Notaris Suharyo berkata sambil mengedarkan pandangan ke seisi ruang tengah rumah besar itu, "Apa ada yang namanya Jupri di sini?"
"Saya ... saya Jupri, Pak Notaris!" sahut Jupri dengan mata berbinar penuh harap, namanya dipanggil juga. Ternyata Kakek Badrun tidak melupakannya.
"Untuk kamu, akan saya ambil barangnya di mobil. Mohon tunggu sebentar!" ujar Notaris Suharyo yang sontak membuat heboh keluarga besar dari Kakek Badrun. Entah apa gerangan warisan sang kakek yang sampai harus disimpan langsung oleh notaris? Pasti barang itu amat berharga.
Daftar bab
42 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








