
Transmigrasi Seenak Jidat!
Eomma_SheZe|Bersambung
- Jumlah kata
- 78.6K
- Popular
- 405
- Subscribe
- 61
- Jumlah kata
- 78.6K
- Popular
- 405
- Subscribe
- 61
Sinopsis
Bio , si anak SMA cupu yang hidupnya nyaris tidak pernah beruntung, menjalani hidupnya dengan dibully di sekolah, dikucilkan di rumah, dan setiap hari cuma bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup sebagai orang lain. Sampai suatu malam, sebuah kejadian aneh mengubah hidupnya. Bio tiba-tiba terbangun di tubuh seorang pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Kenapa dia bisa berada di tubuh orang lain? Bagaimana caranya dia kembali ke tubuhnya sendiri? Dan yang paling penting ... kenapa dia bisa melakukan semua itu?
Ulasan
1 ulasan
Sabda Sundari
2/9/26 15:06
Tetap semangat nulis ya. Aku suka bukunya. Lucu penuh humor. Nggak ada cerita "gunung kembar"nya. Itu yang terbaik.
BAB 1 : BIO, MANUSIA YANG DICIPTAKAN UNTUK DIZALIMI
“Tiup.”
Bio menatap lilin kecil yang menyala di atas sepotong roti. Lalu menatap tiga manusia di depannya kemudian kembali menatap lilin.
“Kenapa gue harus tiup?” tanya Bio.
“Udah, tiup aja,” jawab salah satu dari tiga orang itu.
“Gue ulang tahun aja masih empat bulan lagi.” Bio berusaha menolak.
“Anggap aja dipercepat,” jawab Raka, si cowok paling ganteng seantero sekolah.
Bio menatap Raka curiga. Pagi itu seharusnya menjadi pagi biasa. Datang ke sekolah, masuk kelas, belajar lalu pulang.
Sebuah rangkaian aktivitas sederhana yang dinikmati jutaan pelajar Indonesia tanpa harus meniup lilin misterius pukul tujuh pagi di belakang gedung olahraga.
Sayangnya, hidup Bio tidak pernah punya paket standar.
“Kenapa kita harus ngelakuin ini di belakang gedung olahraga?” tanya Bio lagi.
“Biar khidmat,” jawab Raka.
Bio menoleh.
Jefri sedang merekam dengan ponsel. Dimas berdiri sambil menahan tawa. Di belakang mereka ada tong sampah yang isinya sudah luber.
Khidmat dari mana? Kalau ini ritual keagamaan, agamanya pasti belum terdaftar di Kementerian Agama.
“Cepetan,” desak Raka.
Bio menghela napas. Dia sudah tahu ini jebakan.
Pertanyaannya cuma satu. Jebakan jenis apa?
Atau inovasi terbaru dari tiga manusia yang kreativitasnya selalu muncul ketika menyangkut penderitaan orang lain?
“Kalau gue tiup, abis itu gue boleh masuk kelas?” tanya Bio lagi.
“Boleh.” Raka menjawab dengan santai.
“Janji?” Sempat-sempatnya Bio minta janji kayak anak perawan minta dinikahi pacarnya.
“Janji.”
Bio menatap Raka beberapa detik.
“Demi Tuhan?” Bio kembali bertanya.
Raka terdiam.
“Kenapa bawa-bawa Tuhan?” Dimas bertanya sambil mendorong kening Bio.
“Biar ada saksi yang lebih berwenang.” Bio sebenarnya seberani itu karena menjawab terus.
“Tiup, goblok!” Jefri berkata kasar sambil mendorong kepala Bio dari belakang dengan kencang.
Anak kutu buku itu pasrah.Dia membungkuk, menarik napas sebentar, lalu ….
“FUUUH!”
Lilin padam. Tidak terjadi apa-apa.
Bio mengerjap. Lho? Dia berdiri. Menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Masih tidak ada. Bio mulai tersenyum.
“Udah?” tanya Bio dengan sedikit takut.
Raka mengangguk. “Udah.”
“Serius?” tanya Bio lagi untuk meyakinkan.
“Iya.”
Bio menatap ketiganya bergantian.
Dadanya dipenuhi kelegaan. Ternyata dia terlalu berburuk sangka. Mungkin manusia memang bisa berubah. Mungkin Raka dan teman-temannya sudah sadar dan pagi ini adalah awal dari lembaran baru hubungan mereka.
Mungkin ....
“Selamat ulang tahun!” Teriakan itu mengejutkan jantung Bio beserta teman-temannya.
BYURRR!
Seember air mengguyur kepala Bio dari belakang.
Tubuhnya membeku. Air mengalir dari rambut sampai sepatu. Kacamatanya basah, seragamnya kuyup, sepatunya pun ikut jadi korban.
Jefri langsung terbahak. Dimas sampai berjongkok dan memegangi perutnya. Raka menepuk-nepuk paha.
Bio berdiri diam.
Air menetes dari ujung rambutnya sambil menyaksikan ketiga temannya yang tertawa seolah sedang melihat badut atraksi.
Dia tidak marah.
Belum.
Dia hanya sedang mencoba memahami kenapa dirinya masih punya harapan terhadap kemanusiaan.
Lalu ....
PLOK!
Sesuatu mendarat di kepalanya. Bau amis langsung tercium. Bio mengangkat tangan. Mengambil benda tersebut.
Kulit telur yang isinya sudah berhamburan di kening Bio dan menetes ke kacamata, hidung dan juga bibirnya.
Bio menatapnya.
“Kenapa ada telur?”
Jefri yang menepuk telur itu di kening Bio, sudah kesulitan bernapas karena tertawa.
“Biar ada topping!”
Bio memejamkan mata. Dia harus sabar.
Orang sabar disayang tetangganya Presiden Korea Tenggara. Orang sabar panjang umur tapi pendek napas. Orang sabar ....
PLOK!
Satu bungkus terigu menyusul. Bio membuka mata dengan serpihan-serpihan terigu yang mewarnai bulu matanya.
“Kenapa?” tanya Bio dengan memelas.
“Biar jadi adonan.”
Ketiganya meledak tertawa. Jefri bahkan hampir menjatuhkan ponselnya.
“Anjir, bagus! Ulang, Bio! Gue belum fokus videonya!”
Bio menatap kamera.
“Kalau lo upload, gue laporin.”
“Lapor siapa?”
“Guru.”
Mereka tertawa lebih keras. Bio langsung sadar. Ancaman yang sangat buruk.
Dia baru saja mengancam tiga pembully dengan lapor guru. Ini setara dengan mengancam perampok menggunakan surat dengan stempel RT.
Raka berjalan mendekat, senyumnya masih lebar.
“Marah lo?”
Bio menggeleng pelan. “Nggak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Terus kenapa muka lo begitu?”
“Lagi bahagia.”
Raka menepuk pipi Bio.
“Bagus.”
PLAK! Tepukan yang kencang.
“Jangan marah.”
PLAK. Sekali lagi.
“Kan cuma bercanda.”
PLAK.
Bio menahan sakit di rahangnya.
Kalau ditampar satu kali lagi, dia akan melawan. Tidak peduli Raka kapten basket. Tidak peduli badannya jauh lebih besar. Tidak peduli kemungkinan Bio akan pulang dalam bentuk paket COD.
Satu kali lagi.
PLAK.
Raka menepuk pipinya. Bio mengepalkan tangan.
Cukup. Dia mengangkat wajah, menatap Raka tepat di mata.
“APA LO?!” tantang Raka.
Bio nyengir. “Lo keren kayak Henry Cavill.”
Jefri tertawa paling dulu.
Bio ikut tertawa. Padahal dalam kepalanya, dia sudah meninju Raka sebanyak dua puluh tujuh kali, satu tendangan, dua suplex dan satu jurus yang pernah dia lihat di anime tetapi secara anatomis kemungkinan mustahil dilakukan manusia.
Sayangnya, seluruh aksi heroik itu hanya tayang eksklusif di bioskop kepalanya.
Di dunia nyata, Bio masih mengepalkan tangan.
*
Namanya Bio. Bukan singkatan Biodata. Bukan Biologi. Bukan pula Bio Oil yang konon bisa membantu menyamarkan bekas luka.
Walaupun kalau produk itu bisa menyamarkan luka batin, Bio mungkin sudah membelinya satu dus.
Nama lengkapnya Biorendra Mahardika. Nama yang terdengar seperti calon direktur perusahaan multinasional. Atau putra mahkota Kerajaan Majapahit sepahit hidupnya.
Sayangnya, Tuhan memberinya nama dengan spesifikasi sultan tetapi penampilan paket hemat.
Kacamata bulat, rambut hitam yang selalu jatuh tidak beraturan, tubuh kurus, kulit yang sebenarnya cukup bersih tapi bersisik karena kurang sehat, wajah yang sebenarnya juga tidak jelek.
Masalahnya, semua aset itu tertutup oleh aura cupu.
Bio bahkan punya bakat supernatural membuat barang apa pun terlihat cupu ketika dipakai olehnya.
Pernah suatu hari Bio mencoba mengenakan jaket kulit hitam mahal milik ayah tirinya. Dia berdiri di depan cermin. Berharap terlihat seperti anggota geng motor.
Yang terlihat justru seperti petugas sensus hendak touring. Dan pagi ini level kecupuannya meningkat berkat seragam basah kuyup dengan toping telur dan terigu.
“Kenapa kamu basah?” Pak Darto, guru matematikanya menghentikan kegiatan menulis di papan karena melihat keadaan Bio yang baru masuk berdiri di ambang pintu.
Semua mata langsung mengarah pada Bio.
Bio melihat seragamnya kemudian melihat Pak Darto.
“Hujan lokal, Pak.”
Beberapa siswa tertawa. Pak Darto mengernyit.
“Di luar panas.”
“Makanya lokal, Pak.”
Tawa semakin besar.
Pak Darto menghela napas lalu mendekat. “Hmmff, bau amis! Kamu nggak hanya basah, tapi kayak adonan bolu.”
Maka itu, dia diusir. Disuruh pulang oleh Pak Darto supaya tidak mengganggu ketenangan kelas dengan bau amisnya. Bio tidak berani menyampaikan kalau ini hasil perbuatan Raka dan gerombolannya.
Dia mengambil sepedanya di parkiran tapi pandangannya terhenti. Ban depan kempis.
Bio menatap ban, lalu langit, kemudian ban lagi.
“Serius, ban?”
Ban tidak menjawab.
Bio jongkok, menekannya. Kempis total. Namun, di setangnya tergantung secarik kertas.
HATI-HATI DI JALAN, ANAK PUNGUT.
Tangannya berhenti. Kalimat itu berbeda. Yang lain bisa dia abaikan atau bahkan dia jadikan lelucon.
Tapi yang ini...
Bio menatap tulisan tersebut cukup lama. Ayah kandungnya meninggal ketika dia berusia lima tahun. Tiga tahun kemudian ibunya menikah lagi.
Lalu lahirlah Kevin. Adik tirinya. Sejak saat itu Bio tidak pernah benar-benar tahu kapan semuanya mulai berubah.
Tidak ada satu kejadian besar. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada ibunya berkata, Ibu sudah nggak sayang kamu.
Perubahannya kecil-kecil. Perhatian yang berkurang, elukan yang semakin jarang, kepentingan Kevin yang selalu didahulukan.
Kesalahan Kevin yang dimaklumi, kesalahan Bio yang selalu menjadi bukti bahwa dia “harus lebih dewasa”.
Lama-lama Bio merasa seperti penghuni tambahan di rumahnya sendiri.
Dia bukan anak pungut. Tapi entah kenapa … tulisan itu tetap berhasil menemukan bagian yang sakit.
Daftar bab
69 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








