
Andy: Darah Serigala Alpha
Endorama|Bersambung
- Jumlah kata
- 56.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 56.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Andy (10 tahun), anak dari pasangan mafia Sulistio Dharmawan (ekspratriat Republik Nusantara) dan Eleanora Martinez, dititipkan kepada Tania Bergmann (notaris loyalis dan pembunuh elit) sesaat sebelum orang tuanya tewas dalam kejar-kejaran maut di Novagrad, Eurovania. Dididik secara militer dan keras oleh Tania di Pegunungan Ardennes hingga usia 16 tahun, Andy menjelma menjadi remaja dingin yang mulai memberontak secara emosional kepada Tania. Ketika safehouse mereka digerebek, Andy dan Tania melarikan diri ke Kartapraja, ibu kota Republik Nusantara. Di sana, Andy menjalani misi latihan ekstrem: menguasai SMK Manggala yang bobrok, menaklukkan preman pasar, merebut Vira dari Bara, menyelamatkan Icha dari sekapan, dan menghadapi faksi pembunuh bayaran Eurovania yang memburu mereka—semuanya sambil menavigasi percikan cinta terlarang yang membara di antara empat jiwa.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
MALAM TERAKHIR DI NOVAGRAD
Malam di Novagrad tidak pernah ramah, tetapi malam itu kota tersebut berubah menjadi neraka es yang bergerak cepat. Salju turun lebat, menghujani kaca depan sedan Zil hitam yang melaju kencang melampaui batas kewajaran. Lampu-lampu jalan yang remang-remang nyaris tak terlihat di balik tirai putih yang terus jatuh. Ban mobil mendecit liar di atas lapisan es hitam yang licin mematikan, memercikan serpihan kristal putih setiap kali pengemudinya membanting setir dengan brutal untuk menghindari tiang lampu jalan atau timbunan salju setinggi pinggang. Angin menderu di luar, menggiring kepingan salju menabrak bodi mobil bagaikan butiran kerikil yang tak terhitung jumlahnya.
Di kursi belakang, Andy yang baru berusia sepuluh tahun meringkuk sekencang-kencangnya di sudut paling jauh dari jendela yang pecah. Tubuhnya bergetar hebat bukan hanya karena suhu di dalam kabin yang anjlok drastis—angin dingin yang menusuk masuk melalui celah kaca yang hancur terkena serpihan peluru—melainkan karena teror murni yang mencengkeram dadanya. Napasnya pendek dan terputus-putus, isakannya tertahan di tenggorokan, tersumbat oleh rasa takut yang begitu besar hingga nyaris menyesakkan.
"Ibu... Ayah..." bisiknya parau, air matanya jatuh perlahan di pipi yang dingin, lalu membeku sebelum sempat menetes sempurna ke ujung dagu.
Di kursi pengemudi, Sulistio—ayah Andy—berkeringat deras meskipun udara luar membeku hingga di bawah nol derajat. Urat-urat di lehernya menonjol jelas, tangannya mencengkeram setir dengan buku-buku jari yang memutih. Matanya menatap lurus ke depan, namun keringat dingin terus menetes di dahinya. Di sebelah kemudi, Eleanora, ibunya, sibuk mengoperasikan sebuah laptop miliknya dengan jemari yang gemetar namun tetap cekatan. Layar perangkat itu memancarkan cahaya biru pucat yang kontras dengan gelapnya malam, menampilkan peta digital di mana titik-titik koordinat merah bergerak agresif terus mendekat di belakang mereka.
"Mereka semakin dekat, Sul! Jarak kita kurang dari tiga ratus meter!" teriak Eleanora, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin V8 yang dipaksa bekerja hingga batas maksimal, menderu keras seakan ikut merasakan ketegangan yang memuncak.
"Tenang Tuan, kami mem-backup tuan dari belakang, fokuslah untuk lolos. "
Sulistio melirik sekilas ke spion tengah. Sebuah motor Enduro melompat dari luar jalan menyalip Dua buah SUV hitam tanpa plat nomor yang membuntuti mereka. Tampak pengendara motor tersebut memegang Uzi dan memberondong kaca depan bagian pengendara salah satu SUV. SUV yang tertembak itu berbelok tajam 60 derajat ke kiri dan limbung dan berguling.
"Terima kasih,Tania!" Jawab Sulistio singkat.
Namun SUV yang di belakang bisa bermanuver menghindari SUV yang terguling di depannya. Penumpang yang di dalam mengeluarkan tubuhnya separuh badannya di jendela yang terbuka, lalu memberondongkan senapan otomatis nya ke pengendara motor Enduro tersebut.
"Sial!" Umpat Tania sambil mengendarai motor menghindari peluru yang memuntah ke arah dirinya. Beruntung, ada truk kontainer berjalan lambat di depannya. Dia menyalip di sisi luar yang melindungi diri dari Mobil SUV. Mobil SUV itu kemudian fokus ke mobil Zil yang dikendarai Sulistio. Lampu sorot LED terang menyilaukan mata, menyorot tajam bagian belakang sedan mereka, membuat bayangan mobil mereka memanjang di atas permukaan es yang licin. Tanpa peringatan, letusan senjata otomatis kembali memecah keheningan malam yang beku. Peluru-peluru berkaliber besar menghantam bodi belakang dengan dentuman keras, meremukkan bagasi, dan menembus kaca belakang hingga berkeping-keping berhamburan ke dalam kabin.
"Tundukkan kepalamu, Andy! Peluk lututmu dan jangan angkat wajah apa pun yang terjadi!" seru Sulistio dengan suara bariton yang berusaha tetap tenang, meski kepanikan tersirat jelas di matanya yang melirik sekilas ke belakang.
Andy menutup telinganya dengan kedua tangan, meringkuk semakin kecil di lantai mobil bagian belakang, memejamkan mata rapat-rapat saat suara timah panas mendesis di atas kepalanya, memecah sisa kaca dan merobek sarung jok kulit. Detik-detik itu terasa berlangsung selamanya.
Dibelakang, setelah menyalip truk kontainer itu, Tania kembali memacu motor enduro-nya mengejar SUV di depannya. Tania mengambil sudut belakang pengemudi SUV itu. Dengan tembakan presisi tinggi sambil mengendarai motornya, muntahan pelurunya melesat menumbuk kaca samping belakang pengemudi. Tepat mengenai pengemudi SUV itu. Lalu mobil SUV itu limbung dan berguling.
"Hebat Tania!! Terimakasih!" Kata sulistio.
Penyergapan di Jembatan Besi
Pelarian yang tak berujung itu akhirnya mengarah ke Jembatan Besi Novagrad—sebuah jembatan tua peninggalan era industri yang melintang tinggi di atas sungai yang kini membeku keras seperti beton. Di ujung lain jembatan yang panjang itu, sepasang lampu sorot terang mendadak menyala menyilaukan mata. Dua unit truk berat diparkir melintang, menutup seluruh badan jalan tanpa celah sekecil apa pun.
"Sial! Itu jebakan!" geram Sulistio, giginya mengatup. Tidak ada waktu untuk mengerem—jaraknya terlalu dekat, permukaan terlalu licin.
"Tio, kita harus melompat keluar sebelum jembatan itu!" teriak Eleanora, menyadari tidak ada jalan keluar lain yang tersisa bagi mereka bertiga.
"Tidak sempat! Pegangan erat-erat!"
Sulistio tidak membelokkan mobil. Sebaliknya, ia justru menginjak pedal gas dalam-dalam. Sedan Zil itu melesat bagaikan peluru kendali, menghantam tumpukan salju pembatas jalan sebelum akhirnya menabrak sisi samping salah satu truk barikade dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga dan mengguncang seluruh jembatan tua itu.
Tania terlambat mengejar sedan Zil Sulistio.
Benturan keras itu melontarkan kantung udara seketika. Andy terlempar dari tempat ia meringkuk, membentur sandaran depan dengan keras sebelum kesadarannya meredup, tubuhnya tergolek lemas di lantai kabin yang miring. Asap tebal dan bau bahan bakar yang tumpah mulai mengepul dari kap mesin yang hancur berkeping-keping.
Tania berhenti di dekat Zil yang ringsek itu.
Dari dalam kabin yang ringsek dan miring ke samping, Sulistio dengan sisa-sisa tenaganya meraba kursi belakang dalam gelap yang berasap. Ia meraih tubuh kecil anaknya yang terbaring lemas, lalu dengan sekuat tenaga mengangkatnya dan melemparkannya keluar jendela yang sudah hancur kepada seseorang yang telah berdiri di kegelapan di antara timbunan salju—Tania Bergmann.
Tania, wanita muda berusia awal dua puluhan dengan mantel panjang hitam yang tertiup angin dan sorot mata yang tajam namun dingin, menangkap tubuh Andy dengan sigap dan kokoh. Ia tidak membuang waktu sedetik pun. Dokumen rahasia berupa sebuah flashdisk enkripsi tingkat tinggi yang diselipkan Eleanora melalui celah pintu yang hancur segera disembunyikannya ke dalam saku bagian dalam mantelnya.
"Bawa dia pergi, Tania! Lindungi arsip itu—lindungi dia—dengan nyawamu!" teriak Eleanora di antara suara pintu yang ditarik paksa dari sisi lain mobil. Suaranya bergetar namun tegas, penuh perpisahan yang menyakitkan namun tak terelakkan.
"Ibu! Ayah!" Andy sempat siuman sejenak, matanya terbuka kabur. Ia melihat ibunya diseret keluar ke tengah badai salju oleh sosok-sosok tak dikenal, sementara ayahnya berteriak di dalam kabin yang mulai dijilat api kecil dari tangki bahan bakar yang bocor.
"Jangan menoleh, anak bodoh!" bisik Tania tajam di telinganya, mencengkeram kerah mantel Andy dan menyeretnya naik ke atas tangki motor enduro-nya, memacu motor enduro-nya melompat keluar badan jalan dan masuk ke dalam kegelapan lorong pemeliharaan di bawah struktur jembatan.
Ledakan di Tengah Salju
Belum sempat Tania dan Andy melangkah sepuluh meter lebih dalam ke lorong beton yang gelap dan berbau lembap, sebuah ledakan dahsyat merobek malam. Sedan Zil yang berisi kedua orang tuanya meledak menjadi bola api raksasa yang menerangi langit malam yang gelap. Gelombang kejut panas menyapu punggung mereka, melelehkan salju di sekitar mulut lorong dalam sekejap, sementara serpihan logam beterbangan menghantam dinding beton di sekitar mereka.
Andy menjerit histeris, berusaha melepaskan diri, namun Tania menahannya erat. Di luar sana, cahaya oranye terang memantul di hamparan salju putih yang luas, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding lorong. Dunia kecilnya hancur dalam hitungan detik. Orang tua yang melindunginya kini telah tiada, menyisakan kobaran api yang perlahan meredup menjadi abu di tengah kota asing yang kejam.
Tania membekap mulut Andy dengan tangannya yang bersarung tangan kulit, menyeret bocah itu terus masuk lebih dalam ke dalam kegelapan, menjauh dari reruntuhan jembatan tempat langkah-langkah berat para pemburu mulai terdengar mendekat menyisir lokasi.
Setelah mereka berada cukup jauh dan aman untuk berhenti sejenak, Tania melepaskan tangannya. Ia berjongkok di hadapan Andy, menatap lurus ke mata bocah yang gemetar hebat itu.
"Dengar baik-baik, bocah," bisiknya tepat di telinga Andy, suaranya terdengar dingin tanpa sedikit pun rasa iba, namun mengandung otoritas mutlak yang entah bagaimana memaksa rasa takut Andy berubah menjadi kebekuan yang aneh. "Mulai detik ini, air matamu adalah kelemahan. Dan kelemahan di dunia ini berarti kematian. Jika kau ingin hidup—jika kau ingin suatu hari nanti berdiri di hadapan mereka yang bertanggung jawab atas malam ini—kau harus berhenti menjadi anak kecil. Mulai sekarang, kau belajar bertahan hidup. Sendiri jika perlu."
Di tengah gigilan hebat dan aroma mesiu yang masih tercium samar, Andy menatap mata Tania di balik cahaya redup senter kecil yang dipegang wanita itu. Di sanalah, di bawah langit Novagrad yang membeku, di atas puing-puing kehidupannya yang lama, masa kanak-kanaknya resmi mati. Dan di tempat yang sama, seorang pejuang baru mulai dibentuk—sebelum perjalanan panjang ke pegunungan Ardennes bahkan belum dimulai.
Daftar bab
44 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








