

Langit Surabaya sore itu seperti lukisan yang dibuat dengan kuasa Tuhan, warna jingga, lembayung, dan semburat emas yang menetes di ujung awan.
Reno berdiri di tepi danau kecil di Taman Harmoni Keputih, dengan kamera DSLR yang sudah menemaninya sejak dua tahun lalu.
Bukan kamera mahal, tapi setiap kali ia menatap melalui lensa, dunia terasa lebih tenang.
klik...
Satu jepretan.
Garis cahaya matahari jatuh sempurna di permukaan air, memantulkan warna oranye keemasan yang membuatnya terdiam.
"Ren, masih motret aja? Liburan tinggal sehari, lho."
Suara itu familiar lembut tapi ceria.
Angelina datang dengan rambut panjang terurai, mengenakan kaos putih dan jaket denim yang kebesaran. Tangan kirinya memegang cup es kopi susu, tangan kanannya memainkan tali ransel.
Reno menurunkan kameranya sedikit, menatap gadis itu sambil tersenyum kecil.
"Ya namanya juga hobi. Daripada bengong di rumah."
Angelina nyengir. "Kamu tuh kayak nggak punya hidup lain selain foto. Eh, besok jangan lupa ya, masuk pertama. Bu Anya pasti langsung kasih tugas!"
"Tau, tau..." Reno menjawab santai, tapi matanya masih pada layar kamera.
Mereka duduk berdua di bangku taman. Suara anak kecil bermain kejar-kejaran, suara motor dari kejauhan, dan semilir angin sore membuat suasana terasa damai.
Reno diam-diam memotret Angelina dari samping. Cahaya sore jatuh di wajahnya, membentuk siluet halus yang membuat Reno terpaku.
Dia tahu, ada sesuatu yang tak bisa dia ungkap dengan kata-kata, perasaan yang sudah terlalu lama ia simpan.
Tapi sore itu, sesuatu berbeda.
Saat Reno berjalan ke arah danau untuk mengambil angle lain, ia tak sengaja menoleh ke arah taman belakang.
Lalu… jantungnya berhenti sejenak.
Angelina berdiri di sana tapi bukan sendiri.
Ada seorang cowok tinggi berseragam basket SMA Surya Mandala yang duduk di bangku, menunduk sambil berbicara dengan lembut.
Raka.
Kakak kelas mereka.
Reno mengangkat kamera, refleks memotret. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin hanya spontan, refleks fotografer yang ingin menangkap momen.
klik...
Namun bidikan itu menangkap sesuatu yang tak akan bisa ia hapus. Angelina tersenyum manis… lalu memeluk Raka dengan lembut.
Reno terpaku.
Jari-jarinya gemetar.
Angin sore tiba-tiba terasa dingin.
Dan entah kenapa, matahari yang baru saja indah itu seolah redup dalam sekejap.
----
Malam itu, kamar Reno terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lampu meja belajar menerangi tumpukan buku dan kamera yang tergeletak di samping laptopnya. Di layar, satu foto terpampang jelas Angelina dan Raka, duduk di taman, saling menatap, lalu berpelukan dalam cahaya senja.
Reno menatapnya lama.
Tangannya menggenggam mouse, kursor sudah tepat di tombol “delete.”
Tapi entah kenapa… jarinya berhenti di udara.
Ada perasaan aneh.
Sakit, tapi juga hangat.
Marah, tapi juga rindu.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Cuma foto… cuma foto biasa,” gumamnya pelan. Tapi suaranya terdengar bergetar.
Setiap kali menatap wajah Angelina di foto itu, Reno seperti melihat semua kenangan mereka berdua dari masa kecil, duduk sebangku di SD, lomba 17-an bareng, sampai malam perpisahan SMP saat mereka janji nggak akan berubah meski nanti di SMA sibuk masing-masing.
Ia menutup laptop pelan, lalu rebahan di kasur. Pikirannya penuh tanya.
Sejak kapan mereka sedekat itu?
Kenapa Angelina nggak cerita apa-apa?
Atau… apa selama ini cuma dia yang merasa hubungan mereka spesial?
Suara notifikasi HP memecah lamunan.
Dari Angelina.
“Ren, makasih ya udah nemenin sore tadi. Kamu kayak biasa, tenang banget. Aku suka lihat kamu motret.”
Reno menatap pesan itu lama, tanpa mengetik balasan. Lalu ia tersenyum miris.
“Kalau kamu tahu apa yang aku lihat lewat lensa tadi…” gumamnya pelan.
Dia menulis balasan singkat:
“Iya, sama-sama. Sunset-nya bagus banget ya.”
Setelah pesan terkirim, Reno bangkit dan berjalan ke arah jendela. Dari kamarnya, terlihat langit malam Surabaya yang dipenuhi lampu-lampu kota. Indah, tapi terasa jauh.
Kamera masih di meja.
Ia mengambilnya perlahan, membuka layar kecilnya, dan menatap kembali foto-foto sore tadi. Satu demi satu hingga akhirnya sampai di foto itu lagi.
Foto yang tak bisa ia hapus.
Foto yang diam-diam membuat dadanya sesak.
Reno memejamkan mata, lalu berbisik lirih,
“Mulai malam ini, aku harus belajar… motret tanpa berharap.”
-----
Gerbang SMA Surya Mandala Surabaya pagi itu ramai luar biasa. Motor, mobil, dan suara tawa teman-teman bercampur jadi satu. Udara masih lembab setelah hujan semalam, dan aroma wangi seragam baru tercium di mana-mana.
Reno datang dengan langkah pelan, kamera tergantung di leher seperti biasa.
Ia tersenyum ke beberapa teman yang menyapa, tapi pikirannya melayang entah ke mana.
Sampai sebuah suara memecah lamunan.
“Reno! Nih orang susah banget disamperin!”
Angelina datang sambil setengah berlari. Rambutnya dikuncir kuda, wajahnya segar, dan senyumnya masih sama — tapi entah kenapa, Reno merasa itu bukan senyum yang dulu.
“Pagi juga,” jawab Reno datar, mencoba tersenyum.
Angelina menatapnya sekilas, lalu menggigit bibir pelan.
“Masih ngambek ya gara-gara kemarin aku pulang duluan?”
Reno menggeleng. “Nggak. Aku cuma… capek aja.”
Angelina hendak bicara lagi, tapi tiba-tiba suara lain terdengar.
“Ngapain kalian berdua di sini?”
Reno menoleh.
Raka.
Cowok itu berdiri di belakang mereka dengan tas diselempangkan, seragamnya rapi, dan tatapan tajam yang entah kenapa bikin suasana jadi tegang.
Reno bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, seolah foto sore itu tiba-tiba hidup lagi di depan mata.
Angelina tersenyum kaku. “Eh, Kak Raka… ini cuma ngobrol bentar kok.”
“Ngobrol atau… bahas sesuatu yang aku nggak tahu?” Raka berkata pelan, tapi nadanya dingin.
Angelina langsung menunduk. Reno menatap mereka bergantian, mulai merasa ada sesuatu yang nggak beres di antara keduanya.
Reno menatap Raka tajam. “Santai aja, Kak. Aku nggak ngomongin apa-apa.”
Raka menatap balik, matanya tajam seperti membaca isi kepala Reno.
“Bagus kalau gitu,” katanya pelan, sebelum berbalik pergi.
Angelina menghela napas panjang. “Maaf ya, dia emang agak… protektif.”
“Protektif?” Reno mengulang dengan nada pelan. “Jadi kalian beneran...”
Angelina cepat memotong, “Ren, jangan bahas di sini.”
Reno terdiam.
Sekolah baru mulai, tapi rasanya seperti akhir dari sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Bel tanda masuk berbunyi.
Angelina berjalan lebih dulu, tapi sebelum masuk kelas, ia menoleh dan berkata lirih,
“Ren, tolong jangan benci aku ya…”
Kata-kata itu menancap di dada Reno seperti duri. Ia hanya bisa menatap punggung Angelina yang menjauh dan di ujung koridor, ia melihat Raka menunggu di depan kelas, tersenyum kecil ke arah gadis itu.
Reno menunduk, menggenggam kameranya erat-erat.
klik.
Ia memotret tanpa sadar, refleks, spontan, tapi kali ini bukan karena keindahan.
Melainkan karena ia ingin mengingat rasa sakit itu.
----
Hujan turun pelan sore itu. Langit Surabaya berubah kelabu, seperti ikut menyimpan rahasia yang tak terucap.
Reno duduk sendirian di kantin sekolah yang hampir kosong, kamera masih tergantung di lehernya. Ia memperhatikan tetesan air hujan yang jatuh di atap seng, membuat suara “tik-tik-tik” yang menenangkan tapi juga menyakitkan di saat yang sama.
Sejak kejadian pagi tadi, suasana antara dia dan Angelina berubah.
Angelina tetap tersenyum seperti biasa di depan teman-teman, tapi tiap kali mata mereka bertemu, ada jeda.
Ada jarak.
Ada sesuatu yang tak terlihat tapi terasa jelas.
“Ren, lo kenapa? Dari tadi diem mulu.”
Itu Dira, teman sekelas sekaligus sahabat Reno juga, cewek tomboy yang selalu bawa headset di lehernya.
Reno menoleh sebentar. “Nggak apa-apa. Cuma mikir.”
“Mikirin siapa?” goda Dira, tersenyum nakal.
Tapi Reno nggak tertawa.
Dira langsung sadar suasananya beda.
“Angelina lagi ya?” tanyanya lebih pelan.
Reno menatap kosong ke luar jendela. “Dira, lo pernah nggak… ngerasa kehilangan sesuatu, padahal orangnya masih di depan lo?”
Dira terdiam beberapa detik, lalu menjawab lirih, “Sering. Dan rasanya nyakitin, Ren.”
Keduanya hening.
Hanya suara hujan yang menenangkan, tapi di dalam dada Reno, badai masih berkecamuk.
Bel masuk jam pelajaran olahraga terdengar.
Murid-murid berlarian ke lapangan indoor yang masih lembab. Raka sudah ada di sana, memimpin tim basket latihan kecil. Suaranya keras, tatapannya tajam semua cewek di pinggir lapangan tampak terpana.
Termasuk Angelina.
Ia duduk di bangku penonton, menatap Raka dengan senyum lembut yang dulu hanya Reno yang tahu artinya.
Reno berdiri agak jauh di sisi belakang lapangan, memotret kegiatan olahraga untuk buletin sekolah.
Tapi setiap kali lensa kameranya mengarah ke Raka dan Angelina, hatinya bergetar.
Bukan karena keindahan, tapi karena rasa yang ingin ia buang tapi tak bisa.
Raka sempat menatap ke arah Reno, dan entah kenapa, ada senyum sinis di wajahnya.
Tatapan itu seperti berkata “Aku tahu apa yang kamu lihat hari itu.”
Reno cepat menunduk. Ia berpura-pura sibuk mengganti lensa kamera.
Angelina yang duduk di pinggir lapangan sesekali melirik ke arah Reno, tapi tidak berani menyapa.
Istirahat siang.
Reno sedang membereskan kamera di ruang OSIS ketika tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
Ia menoleh, Raka.
“Gue pengen ngomong sebentar,” kata Raka datar.
Reno mengangguk pelan, meski dalam dadanya mulai terasa tidak tenang.
Mereka keluar ke taman belakang sekolah, tempat yang sepi dan rindang.
Raka berdiri bersandar di dinding, menatap Reno dalam-dalam.
“Lo masih simpan fotonya, kan?” Suara Raka berat, pelan, tapi jelas.
Reno terdiam beberapa detik. “Foto apa?”
“Lo tau maksud gue. Foto gue sama Angelina waktu di taman.”
Darah Reno berdesir cepat. “Gue nggak...”
“Jangan bohong,” potong Raka tajam. “Lo pikir gue nggak sadar? Gue liat lo waktu itu, Ren. Kamera lo ngarah ke kami.”
Hujan makin deras.
Suara air di atap seperti menggema di antara jarak mereka.
Raka melangkah lebih dekat. “Denger ya, gue nggak mau foto itu tersebar. Itu urusan pribadi gue sama dia. Jadi… hapus. Sekarang juga.”
Reno mengepalkan tangan. “Gue nggak pernah nyebarin. Tapi gue juga nggak harus nurut sama lo.”
Tatapan mereka bertemu tegang, dingin, dan penuh luka yang tak diucap.
Lalu Raka mendengus kecil. “Lo suka sama dia, kan?”
Reno terdiam.
Hanya itu yang Raka butuh dengar. Ia tersenyum miring, lalu berkata pelan, “Kasihan. Lo cuma kebagian motret dari jauh.”
Sebelum pergi, Raka menepuk bahu Reno keras-keras, lalu berlalu meninggalkan taman dengan langkah tenang.
Reno menatap punggung Raka yang menjauh, lalu menunduk.
Hujan masih turun.
Tetes demi tetes jatuh di tangan dan kameranya.
Tapi kali ini, ia tak berusaha menghindar.
Ia biarkan semuanya basah.
Karena di dalam dirinya, hujan sudah turun lebih dulu.
Sore itu, saat jam pelajaran terakhir selesai, Angelina menghampirinya di koridor.
“Ren, kamu nggak apa-apa? Raka tadi sempat nyari kamu.”
Reno menatap gadis itu lama matanya lembut, tapi penuh tanya.
Lalu ia hanya menjawab pendek,
“Aku baik-baik aja. Tapi mulai sekarang, mungkin aku harus belajar nggak terlalu deket sama kamu, Lin.”
Angelina menatapnya, kaget. “Kenapa ngomong gitu?”
Reno menatap lurus ke matanya.
“Karena tiap kali kamu senyum ke aku… aku nggak yakin itu buat aku atau buat dia.”
Angelina terdiam.
Air matanya nyaris jatuh, tapi ia tahan. Reno berbalik pergi sebelum ia sempat menjelaskan apa pun.
Dan di ujung lorong sekolah yang basah oleh hujan, hanya tersisa satu hal yang menggantung di udara:
sebuah rahasia di balik senyum, yang pelan-pelan mulai menghancurkan mereka bertiga.
*****