

Tepat di awal tahun 2026, setelah delapan tahun menghabiskan hari-harinya di balik dengung mesin sebuah pabrik manufaktur di Batam, sebuah keputusan akhirnya datang mengubah arah hidupnya. Ia dipindahkan ke Jakarta. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pengakuan. Kepemimpinannya yang tenang, caranya mengatur orang dan keadaan, telah lama diamati—dan kini, kepercayaan itu diberikan penuh oleh para atasannya.
Akhirnya mau tidak mau ia pun menyetujui nya karena akan di promosikan naik jabatan, dan pendapatannya akan naik mulai bulan depan.
Ini semua di lakukan demi menunjang karier nya, padahal ia sebetulnya tidak ingin berpindah dari tempat tinggalnya.
'Aku sudah sampai sejauh ini. Jakarta mungkin bukan rencana awal, tapi kalau ini rencana untuk karierku, aku harus terima. Pendapatanku naik, peluangnya lebih besar. Tinggal lihat apakah semua ini sepadan dengan yang harus aku tinggalkan,' batinnya
Ia menghembuskan nafas pelan, meraih pegangan pintu mobil dan membukanya perlahan. Udara ibu kota langsung menyergap, bau aspal panas, suara bising klakson dan angin yang terasa lebih berat dari yang biasa ia kenal.
Bagasi mobilnya terbuka dengan bunyi dentingan kecil. Ia langsung mengambil koper hitam besar dan laptop kerja nya yang terbungkus. Pindah ke kota besar bukan hal baru bagi sebagian orang, tapi bagi Saka ini seperti keputusan yang masih perlu ia yakinkan ulang.
Ia melirik ke gedung apartemen yang menjulang tinggi itu. Warna dinding gedung itu tampak terlihat seperti baru. Namun ia teralihkan kepada hal lain. Ada seseorang dari balik tirai jendela di atas, terlihat sedang memperhatikannya lalu pergi setelah ia menatapnya.
Ia pun menghiraukannya dan langsung memegang gagang koper miliknya.
'Sudahlah, Sak.' gumamnya sambil mendorong koper miliknya. 'Ini cuma tempat tinggal sementara.'
Ia lalu memasuki gedung apartemen besar itu, menaiki lift untuk bisa sampai ke lantai enam.
Ketika pintu lift terbuka ia melihat sederet kamar-kamar dengan nomor yang tertera di pintu.
Ia bergegas keluar dari lift dan menyusuri arah tanda panah yang mengarah ke kamarnya.
Kamar 606, awal yang baru. Setidaknya itu yang ia yakini. Ia pun lalu mengeluarkan kartu akses yang ia rogoh dari saku kemejanya, dan menempelkan kartu tersebut ke panel pintu kamar yang berada di hadapannya.
Dua bunyi bip kecil terdengar. Pintu membuka pelan.
Saka menahan nafas sejenak. Lalu melangkah memasuki ruangan barunya. Tercium aroma ruangan baru yang masih asing baginya. Lampu otomatis menyala dengan cahaya putih hangat. Ia melihat ke sekeliling kamar. Terdapat ruang tamu kecil, dapur dan ruang tidur yang hangat.
Ia berjalan menuju jendela besar, membuka tirai jendela tersebut dan melihat gedung gedung Jakarta yang berjajar rapih.
Ia kembali pada koper nya dan meletakan di sisi lemari pakaian. Laptop yang tadi ia tenteng, ia letakan di meja kerja di sisi tempat tidurnya.
Ia duduk di kursi kayu minimalis sambil membuka laptop nya. 'Lumayan juga,' gumamnya, menilai ruangan dengan tatapan tenang. 'kecil tapi cukup. Yang penting dekat kantor.'
Saka membuka surel di ponselnya, memindai layar dengan cepat—mencari sesuatu yang sebenarnya ia sendiri tidak yakin ingin menemukannya. Tidak ada pesan baru. Tidak dari pelamar, tidak pula laporan dari timnya.
Ia menghela napas pendek.
'Lebih baik aku rapikan barang dulu.'
Resleting koper ditarik perlahan. Suara gesekannya terdengar jelas, memantul di ruangan apartemen yang masih kosong dan belum sepenuhnya terasa sebagai tempat tinggal. Bau furnitur baru bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan.
Saka mengeluarkan pakaian satu per satu, menyusunnya ke dalam lemari dengan gerakan rapi dan terukur—kebiasaan yang tak pernah ia sadari terbentuk dari pekerjaannya sendiri.
Saat kaus terakhir dilipat dan laci didorong hingga tertutup, ponselnya bergetar.
Nada dering khusus untuk atasannya terdengar tajam, memotong keheningan. Getaran itu menggema di atas permukaan lemari kecil, seolah mendesaknya untuk segera merespons.
Saka meraih ponsel dan mengangkat panggilan itu.
"Iya, pak." katanya singkat. "ada yang bisa saya bantu?"
Suara di seberang terdengar tenang namun tegas.
"Saka, data mutasimu sudah resmi. Mulai besok pagi kamu terdaftar di kantor pusat."
Saka berdiri tegak, refleks.
"Baik, pak."
"Tapi sebelum itu," lanjut suara tersebut, "ada satu hal yang perlu kamu tangani malam ini."
Saka mengangguk meski tahu lawan bicaranya tak bisa melihatnya.
"Baik, pak. Ada masalah apa?" tanya Saka.
Di seberang telepon terdengar jeda singkat. Nafas seseorang, lalu suara itu kembali muncul—lebih rendah, lebih serius.
"Unit apartemen di sebelah kamu sebelumnya dihuni oleh seorang karyawan," kata pria itu. "dia menyamar. Sekarang sudah diberhentikan."
Saka mengernyit.
"Saya baru menerima laporan dari HR Manager. Karyawan tersebut adalah kiriman dari perusahaan pesaing. Tugasnya memata-matai dan mencuri ide internal. Dia kabur sebelum kami sempat menanganinya lebih jauh."
Saka menarik napas pelan.
"Lalu, apa yang perlu saya lakukan, pak?"
"Saya ingin kamu memeriksa unit sebelah. Nomor 607," jawabnya tegas. "pastikan tidak ada dokumen, perangkat, atau jejak apa pun yang berkaitan dengan perusahaan."
Saka ragu sejenak. "untuk aksesnya bagaimana, pak?"
"Unit itu sementara tidak dikunci," jawabnya tanpa penjelasan berlebih. "tadi siang saya sudah menginstruksikan HR Manager untuk menahan kartu akses penghuni lama."
Nada suaranya mengeras.
"Kamu periksa sekarang."
"Baik, pak." jawab Saka singkat.
Panggilan berakhir.
Saka menurunkan ponselnya perlahan. Kalimat Unit 607 terngiang di kepalanya, terasa jauh lebih berat daripada sekadar angka.
Beep terakhir terdengar tajam, meninggalkan keheningan yang tidak nyaman. Mau tidak mau Saka harus memeriksa unit apartemen sebelahnya.
Ia menghela napas panjang.
Hari pertama pindah kerja, dan sudah diberi tugas seperti ini. Memeriksa unit kosong, di malam hari pula. Bahkan ia belum sempat benar-benar beristirahat.
'Sudah malam,' gumamnya pelan. 'tapi kalau tidak sekarang, besok pagi sudah terlambat.'
Dengan perasaan enggan yang tak bisa sepenuhnya ia jelaskan, Saka melangkah keluar dari unit apartemennya.
Unit 607.
Ia berdiri tepat di depannya. Pintu itu tidak tertutup rapat. Ada celah sempit—cukup untuk membiarkan cahaya koridor menyelinap masuk, cukup juga untuk menimbulkan rasa tidak nyaman.
Saka berhenti sejenak, lalu mendorong pintu itu perlahan.
Unit 607 terbuka tanpa suara.
Ia melangkah masuk. Udara di dalam terasa berbeda—lebih dingin, lebih padat. Pandangannya menyapu ruangan, mencari sesuatu yang menyerupai area kerja, tempat seseorang mungkin menyimpan dokumen atau perangkat penting.
Beberapa langkah ke dalam, ia menemukannya.
Sebuah meja kerja minimalis dengan kursi sederhana, diletakkan tepat di depan ranjang. Di atas meja itu, tersusun rapi buku-buku dan dokumen. Terlalu rapi untuk unit yang sudah ditinggalkan.
Saka mendekat.
Ia menarik satu buku, lalu membuka halaman demi halaman dengan teliti. Tidak terburu-buru. Tidak ceroboh. Ia memastikan tidak ada catatan, tanda, atau sesuatu yang mencurigakan—apa pun yang mungkin berkaitan dengan pekerjaannya, atau lebih buruk, dengan perusahaan.
Namun semakin lama ia berdiri di sana, semakin kuat perasaan bahwa unit itu tidak benar-benar kosong.
Ia mengalihkan pandangan ke lemari pakaian yang berada di samping ranjang. Pintu kirinya setengah terbuka, seolah seseorang terakhir kali menutupnya dengan tergesa. Saka mendekat pelan, menahan napas tanpa sadar.
Tangannya meraih gagang pintu lemari.
Hening dan dingin. Suara AC terdengar jelas ditelinganya.
Ia menarik pintunya.
Pintu lemari bergeser lambat dan terasa begitu berat. Perlahan pintu lemari itu mulai terbuka.
Matanya menatap tajam ke dalam lemari, ia penasaran dengan isi lemari tersebut.
Tup. Lampu mati total.
Gelap menyelimuti. Refleks ia pun melepaskan gagang pintu lemari itu. Ia merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya.
Trak. Ponsel terpental di lantai, layarnya menyala singkat sebelum redup lagi. Ia menundukan kepala dan meraih ponselnya. Terlihat kain putih menjuntai di hadapannya ketika ia sedang menundukan kepala.
Ia menoleh ke depan, dan tidak ada kain putih itu. Jantungnya mulai berdegup kencang, dan suasana terasa mencekam. Ia melihat ke sekeliling unit itu namun tidak ada apa pun terlihat.