Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Crownless

Crownless

PenaKecil | Bersambung
Jumlah kata
37.9K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Crownless
Crownless

Crownless

PenaKecil| Bersambung
Jumlah Kata
37.9K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiSihirZero To Hero
Tidak ada yang pernah mengajarkan bagaimana cara keluar dari menara. Eirn terbangun di dunia yang tidak ia kenali sebuah menara tak berujung, berlapis lantai, hukum, dan kekuasaan. Ia tidak tahu dari mana ia datang, di mana letak dunia asalnya, atau bahkan apakah dunia luar itu benar-benar ada. Ia hanya tahu satu hal: di luar sana ada langit luas dan bintang-bintang, dan menara ini bukan tempat ia seharusnya berada. Tanpa kontrak, tanpa izin sistem, ia mampu mengendalikan Nexa energi yang seharusnya hanya tunduk pada mereka yang terikat aturan menara. Ia tidak istimewa karena ambisi, kekuasaan, atau takdir. Ia naik karena ingin keluar, karena ingin memastikan bahwa dunia yang lebih luas itu nyata. Namun menara tidak dibangun untuk dilewati dengan kejujuran. Di setiap lantai, ujian bukan hanya mengukur kekuatan, tetapi kesetiaan, kebohongan, dan siapa yang bersedia mengorbankan orang lain untuk naik lebih jauh. Ranker mengawasi, High Ranker bergerak sebagai perpanjangan tangan organisasi Takhta, dan sepuluh Takhta berdiri sebagai pilar absolut yang menentukan arah sejarah tanpa pernah menyentuh tanah ujian secara langsung. Di antara intrik ini, muncul Uncrowned organisasi tanpa mahkota, tanpa pengakuan, tanpa sejarah resmi. Mereka tidak ingin menguasai menara. Mereka ingin mengakhiri sistem yang mengikat semua orang di dalamnya. Bagi mereka, tokoh utama bukan pahlawan, melainkan kemungkinan: senjata, ancaman, atau kesalahan yang terulang. Seiring pendakian, kepercayaan mulai retak. Hubungan yang terasa tulus ternyata dibangun di atas kepentingan. Perasaan yang tumbuh diam-diam berubah menjadi alat. Dan di saat tokoh utama percaya ia akhirnya menemukan tempat berpijak, pengkhianatan datang dari orang yang paling ia percayai membuatnya jatuh ke jurang terdalam menara, ke tempat yang bahkan sistem enggan mencatat keberadaannya. Di sanalah ia disadarkan: menara tidak takut pada mereka yang kuat, menara takut pada mereka yang tidak bisa dimahkotai. Di balik keseimbangan rapuh ini, sejarah yang telah dihapus perlahan bangkit. Tentang anomali-anomali yang muncul seribu tahun sekali. Tentang kontrak yang pernah dibunuh. Tentang satu eksistensi yang namanya tidak diucapkan, namun bayangannya masih membekas di setiap retakan menara. Dan apa yang ada diatas sana semua yang kamu inginkan entah itu harta, kekuasaan, umur panjang, semuanya hanya ada diatas sana
Bab 1: Anak Yang Lahir Dibawah Segalanya

Kegelapan tidak selalu berarti bahaya.

Ada jenis kegelapan yang tidak menelan, tidak mengancam, tidak berusaha membuat siapa pun gila. Ia hanya ada. Tidak bergerak. Tidak berubah. Tidak memiliki kehendak.

Di sanalah Eirn terlahir.

Tidak ada cahaya yang menyambutnya. Tidak ada suara tangisan pertama yang menggema. Tidak ada tangan yang mengangkat tubuh kecilnya dari lantai dingin. Bahkan tidak ada udara yang terasa berbeda saat paru-parunya pertama kali bekerja.

Namun ia hidup.

Ia tidak tahu bagaimana ia tahu hal itu, karena pada saat itu, ia bahkan belum memiliki kata untuk menyebut “hidup”. Yang ia miliki hanyalah keberadaan, kesadaran samar yang perlahan mengendap, seperti embun di atas permukaan yang tak terlihat.

Ia membuka mata.

Gelap.

Bukan gelap yang menutup pandangan, melainkan gelap yang tidak memiliki apa pun untuk dilihat. Tidak ada jarak, tidak ada batas. Tidak ada atas atau bawah. Jika ia mengulurkan tangan, ia tidak menyentuh apa pun selain kehampaan yang dingin dan tenang.

Tidak ada lantai.

Tidak ada dinding.

Tidak ada langit.

Namun anehnya, ia tidak jatuh.

Tubuhnya seolah diletakkan di atas sesuatu yang tidak memiliki wujud. Ia bisa bergerak, bisa merangkak, bisa berdiri, meski ia tidak tahu apa arti berdiri pada saat itu.

Tidak ada rasa takut.

Karena rasa takut membutuhkan perbandingan.

Dan Eirn tidak memiliki apa pun untuk dibandingkan.

Hari-hari berlalu.

Atau mungkin tidak.

Waktu tidak bergerak di tempat itu. Tidak ada matahari terbit, tidak ada malam turun. Tidak ada perubahan suhu, tidak ada tanda bahwa satu momen telah menggantikan momen lain. Namun tubuh Eirn berubah.

Ia tumbuh.

Ia belajar berjalan bukan karena ada tujuan, melainkan karena diam terlalu lama terasa… tidak perlu. Ia belajar berbicara bukan karena ada yang menjawab, melainkan karena suaranya sendiri menjadi satu-satunya bukti bahwa ia ada.

Namanya... Eirn, muncul tanpa sumber.

Ia tidak ingat kapan pertama kali menyebutnya. Tidak ada yang memberinya nama. Namun suatu saat, ketika ia berdiri di tengah kehampaan dan mengucapkan satu suara pelan, ia tahu suara itu adalah dirinya.

“Eirn.”

Kata itu tidak memantul.

Tidak ditelan.

Tidak dijawab.

Namun ia tetap mengulanginya.

Karena menyebut nama sendiri adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Ia hidup sendirian di sana selama tujuh belas tahun.

Tidak ada makhluk lain.

Tidak ada bisikan.

Tidak ada sistem.

Jika ia menangis, air matanya jatuh ke kehampaan dan menghilang tanpa jejak. Jika ia tertawa, suaranya mati di tenggorokan dunia yang tidak memiliki telinga.

Namun ia tidak menderita.

Kesepian adalah konsep yang lahir dari kehilangan.

Dan Eirn tidak pernah kehilangan apa pun.

Yang ia rasakan hanyalah… ketidaktahuan.

Tentang dunia.

Tentang langit.

Tentang mengapa dadanya terkadang terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.

Perasaan itu muncul ketika ia menatap “atas”.

Ia tidak tahu mengapa ia menyebut satu arah sebagai atas, karena tidak ada gravitasi yang menuntunnya. Namun nalurinya selalu mengarah ke sana, ke arah yang terasa lebih jauh, lebih luas, lebih kosong daripada kekosongan itu sendiri.

Dan di sanalah, suatu hari, ia melihat sesuatu yang bukan kegelapan.

Bukan cahaya.

Melainkan perubahan.

Kehampaan itu bergetar sangat pelan, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari. Eirn berdiri, tubuhnya menegang tanpa rasa takut. Dadanya berdenyut, bukan karena bahaya, melainkan karena sesuatu yang selama ini diam… kini bergerak.

Udara, jika bisa disebut udara... menekan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Eirn merasa dunia mengamatinya.

Lalu, tanpa suara, tanpa hitungan mundur, tanpa pilihan...

Ia ditarik.

Bukan jatuh.

Bukan dilempar.

Ia dipanggil.

Kegelapan runtuh di sekelilingnya, bukan seperti pecahan, melainkan seperti tirai yang disingkap paksa. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat, seolah keberadaannya dipaksa melewati ruang yang tidak seharusnya dilewati.

Dan untuk pertama kalinya...

Eirn melihat cahaya.

Matanya terpejam refleks. Napasnya terhenti sesaat, lalu kembali dengan kasar. Udara masuk ke paru-parunya dengan cara yang berbeda, lebih padat, lebih nyata.

Ia terjatuh ke lantai keras.

Rasa sakit menyambar lutut dan telapak tangannya, cukup untuk membuatnya tersentak, cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini berada di tempat yang benar-benar ada.

Ketika ia membuka mata, dunia telah berubah.

Pilar-pilar raksasa menjulang tinggi, berderet rapi seperti tulang belulang makhluk purba. Lantai terbentang luas, terbuat dari batu berwarna pucat dengan pola yang berkilau samar. Cahaya datang dari mana-mana dan tidak dari mana pun, memantul lembut tanpa bayangan tajam.

Dan di sekelilingnya...

Manusia.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Mereka berdiri, duduk, terjatuh, saling menatap dengan wajah yang sama bingungnya. Ada yang menangis, ada yang berteriak, ada yang langsung memegang senjata seolah dunia ini adalah musuh yang harus ditaklukkan.

Eirn berdiri perlahan.

Dadanya terasa sempit.

Bukan karena keramaian, melainkan karena sesuatu yang tidak terlihat namun terasa jelas.

Ikatan.

Ia tidak tahu kata itu, tetapi ia merasakannya. Dari setiap orang di ruangan itu, ada sesuatu yang mengalir keluar dari tubuh mereka, menyatu dengan udara, lantai, pilar—seperti benang tak kasat mata yang menghubungkan mereka dengan menara ini.

Sesuatu yang mengikat.

Sesuatu yang mencatat.

Sesuatu yang mengizinkan mereka untuk berada di sini.

Eirn menunduk, menatap tubuhnya sendiri.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada aliran.

Tidak ada benang.

Tidak ada respons.

Ia berdiri di tengah sistem yang hidup, namun tidak tersentuh olehnya.

Suara berat menggema di seluruh ruangan.

“Selamat datang di Lantai Pertama.”

Seorang pria berdiri di ujung aula. Posturnya tegap, pakaiannya sederhana namun bersih, dan dari tubuhnya memancar tekanan yang membuat beberapa orang refleks menunduk.

“Menara telah memilih kalian,” lanjutnya. “Dan mulai saat ini, hidup kalian terikat padanya.”

Eirn memperhatikan ketika pria itu mengangkat tangannya.

Cahaya tipis menyebar, menyentuh satu per satu pendaki. Mereka tersentak, beberapa berteriak pelan, beberapa mengerang, namun setelah itu, sesuatu berubah dalam diri mereka. Ikatan itu menguat.

Satu per satu.

Ketika cahaya itu mendekati Eirn...

Ia berhenti.

Cahaya itu menembus tubuhnya… dan lenyap.

Tidak ada reaksi.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada penerimaan.

Pengatur lantai itu mengernyit.

Ia mencoba lagi.

Hasilnya sama.

Bisikan mulai terdengar di antara para pengawas yang berdiri di sisi ruangan. Simbol-simbol cahaya muncul, lalu menghilang, seolah sistem sedang mencari sesuatu yang tidak ada.

“Identifikasi gagal,” gumam salah satu suara.

“Tidak tercatat.”

“Tidak terhubung.”

Pengatur lantai itu menatap Eirn lebih lama kali ini.

Untuk pertama kalinya sejak ia berdiri di sana, ekspresi tenangnya retak, bukan oleh marah, melainkan oleh kebingungan murni.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Eirn,” jawab Eirn jujur.

Tidak ada gema sistem.

Tidak ada pengakuan.

Nama itu jatuh ke udara… dan dibiarkan begitu saja.

Di balik dinding menara, di kedalaman yang bahkan para Takhta jarang perhatikan, sesuatu yang telah lama diam bergetar pelan.

Bukan karena takut.

Melainkan karena mengenali sesuatu yang seharusnya tidak pernah naik.

Dan tanpa disadari oleh siapa pun di lantai pertama itu...

seorang anak yang lahir di bawah segalanya

telah melangkah ke dalam dunia yang dibangun untuk mengikat dunia.

Lanjut membaca
Lanjut membaca