Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tak Ada Tempat untuk Pulang

Tak Ada Tempat untuk Pulang

C.Theresia | Bersambung
Jumlah kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Tak Ada Tempat untuk Pulang
Tak Ada Tempat untuk Pulang

Tak Ada Tempat untuk Pulang

C.Theresia| Bersambung
Jumlah Kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeUrbanMisteriFanFic
Raka Mahesa selalu percaya bahwa rumah hanyalah sebuah kata kosong—sampai seseorang yang ia cintai pergi dari hidupnya, meninggalkan rasa aman yang tak tergantikan. Berusaha melupakan, ia pindah ke kota baru, berharap bisa memulai lagi.Tapi kota kecil itu tidak sesepi yang terlihat. Langkah-langkah misterius, pesan samar, dan bayangan yang mengintai mulai menyingkap rahasia lama yang selama ini ia hindari. Setiap petunjuk membawa Raka lebih dekat ke kebenaran—tentang orang yang hilang, masa lalunya sendiri, dan arti rumah yang sesungguhnya.Dalam labirin misteri dan kehilangan, Raka harus menghadapi satu kenyataan: tidak semua yang kita sebut rumah bisa kita pulangi.
1.Kota Baru

Raka Mahesa selalu berpikir rumah hanyalah tempat untuk tidur, sampai seseorang yang ia cintai hilang, meninggalkan kekosongan yang tak bisa diisi.

Kini, di kota baru yang sepi, Raka mencoba memulai hidup baru. Tapi langkahnya tidak pernah luput dari pengawasan, dan setiap bayangan menyimpan teka-teki lama.

Buku tua yang misterius, pesan samar yang muncul tanpa alamat pengirim, dan wajah-wajah asing yang seolah mengenalnya, semua membawanya ke satu pertanyaan: apa yang hilang sebenarnya—orang yang disebut rumah, atau dirinya sendiri?

Setiap petunjuk menuntunnya lebih dalam ke masa lalu yang gelap. Setiap keputusannya bisa mengubah arah pencarian serta mengungkap rahasia yang selama ini ia hindari.

Dalam kota yang penuh misteri ini, Raka belajar bahwa rumah bukan selalu fisik—kadang, itu hanyalah seseorang yang membuatmu merasa aman. Dan ketika rumah itu hilang, perjalanan untuk menemukannya bisa menjadi lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

Raka Mahesa menuruni tangga bus terminal dengan tas besar di punggungnya. Kota kecil ini terasa dingin dan sunyi, lampu jalan terlihat berjauhan, suara kendaraan terdengar tipis, angin malam terasa seperti menusuk kedalam jaket tipisnya. Ia mengamati sekitaran terminal tua, bangku besi berkarat, dan toko-toko yang masih tertutup rapat.

Lalu ia lanjut berjalan ke rumah kos yang akan ia tempati. Lorong sempit memantulkan langkahnya, menimbulkan gema yang membuat jantungnya sedikit berdegup kencang. Pintu kayu tua berderit saat dibuka. Bu Lila, pemilik kos, menatapnya sekilas sebelum menyerahkan kunci. “Kamar nomor tiga, ujung,” katanya singkat. Raka hanya mengangguk.

Kamar itu kecil tapi cukup nyaman untuk sementara. Ia memghela napas sembari menaruh tas, membuka jendela, dan menatap pepohonan yang bergoyang pelan karena tertiup angin. Kota ini terasa asing. Di lorong, bayangan malam bergerak samar, seperti ada yang memperhatikannya.

Saat itu ia sedang menata barang, ketika terdengar suara langkah samar dari lorong. Raka berhenti sebentar, dan menempelkan kupingnya di dinding, menahan napas. Tidak ada siapa pun.

Namun, suara itu muncul lagi, lebih dekat, tapi tetap tidak terlihat. Raka kembali berhenti merapikan kamarnya, untuk berjalan ke pintu dan menengok ke lorong. Lorong tetap kosong. Hanya angin dari jendela sedikit bergerak—seakan-akan sesuatu baru saja lewat. Ia menarik napas panjang dan menutup pintu, mencoba menenangkan diri, seakan tak mau peduli.

Bukannya lega, rasa penasaran malah muncul. Ia memeriksa kamar, menatap jendela. Jalanan kosong, pohon bergoyang, tapi ada sesuatu yang terasa berbeda. Kota ini, entah mengapa, rasanya seakan memiliki rahasia yang sedang menunggu untuk ditemukan.

Keesokan paginya, Raka keluar untuk melihat kota. Jalanan sepi, aroma kopi dari kafe kecil di pojok jalan menyapa hidungnya. Ia masuk ke kafe itu, memesan secangkir kopi hitam panas, duduk dibagian sudut ruangan, mengamati orang-orang yang lewat.

Seorang pria paruh baya duduk di dekatnya, membaca koran, tapi sesekali tampak menatap dirinya. Ia tidak merasa terancam, hanya ada rasa pengawasan samar yang membuatnya berpikir dan sedikit waspada.

Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya ke sebuah toko buku tua. Di dalamnya ada rak-rak tinggi, debu, aroma kertas tua memenuhi ruangan. Lalu sebuah buku usang disalah satu rak itu menarik perhatiannya. Sampulnya polos, halaman kosong, tapi ada catatan tipis terselip: “Beberapa rumah hilang, tapi jejak tetap ada.”

Raka menaruh buku itu di tas setelah membayarnya. Rasanya ini seperti petunjuk pertama yang membuatnya penasaran, tapi juga sedikit tegang.

Raka berjalan perlahan menyusuri jalanan, bertemu Pak Haris, pria paruh baya pemilik sebuah warung kecil.

Percakapan yang singkat dan ringan, tapi terasa aneh:

“Baru di sini, ya? Kota ini… kadang diam, kadang terlalu banyak yang ingin kau lihat,” ucap Pak Haris.

“Ya, hanya singgah sementara,” jawabku.

Pak Haris tersenyum tipis. “Hati-hati. Kota kecil ini punya cara sendiri untuk mengenal orang.”

Kalimat itu terasa aneh, tapi Raka tidak menanyakannya lagi. Ia duduk di taman di belakang warung, menatap pepohonan, suara anak-anak bermain samar terdengar. Ia merasakan sesuatu—ada kota di balik ketenangan yang menyimpan teka-teki sendiri.

Hingga tak terasa waktu sudah bukan siang lagi. Ia pun memutuskan untuk kembali pulang ke kosnya.

Malam itu di kos, kabut tipis menyelimuti jalanan. Raka menaruh buku tua yang tadi dibelinya diatas meja, ia memicingkan matanya menatap simbol samar di sampul buku itu. Sampai sesuatu tiba-tiba muncul lagi, dan mengalihkan pandangannya. Sesuatu itu...Langkah kaki yang terdengar lagi di lorong, lebih dekat lagi kali ini daripada kemarin.

Ia lalu menegakkan badannya, matanya membuka lebih lebar. Melihat sebuah bayangan yang terlihat samar sedang bergerak di ujung lorong—cepat, tapi tidak menyerangnya. Dia berusaha mengabaikan apa yang dilihatnya, mungkin saja itu hanya perasaannya sendiri, atau hanya pantulan dari pohon yang bergoyang karna tertiup angin.

Kemudian dia duduk di kursi, mengambil buku tua tadi dan membuka halaman kosong di buku itu. Tidak ada jawaban apapun, tapi rasa penasarannya jadi meningkat.

Setiap langkah membawa pertanyaan baru: siapa yang sedang memperhatikannya, dan apakah kota ini benar-benar aman? Ia menatap keluar jendela lagi, tampak kabut menutupi lampu-lampu di jalanan.

Malam pertama ini terasa sangat panjang baginya, penuh teka-teki, dan juga petualangan baru saja dimulai.

Kabut malam masih menggantung tipis di jalanan. Raka menutup buku tua dan meletakkannya di meja, lalu berdiri dan berjalan ke jendela kamar. Angin malam mendinginkan kulitnya dengan terpaan lembut, membawa aroma tanah basah dan daun pepohonan yang gugur. Dari balik jendela kamarnya, ia menatap atap kos yang bersebelahan dengan kos ini. Ia melihat ada seperti sesuatu yang sedang bergerak di sana—cepat dan samar, seperti bayangan yang melintas di atas genteng.

Raka menelan ludah yang terasa kering dan sulit. Rasa penasarann membuatnya ingin memastikan, apakah itu manusia atau sekadar hewan. Ia beranjak dengan cepat untuk mengambil senter kecil dari tas, menyalakannya, dan perlahan-lahan membuka pintu balkon kamar. Langkahnya ringan, tapi jantungnya terasa berat, karena berdetak lebih cepat dari biasanya.

Di atas atap, tidak ada orang. Hanya terlihat sebuah kotak kayu tua yang terselip di sudut, separuhnya tersembunyi di balik antena televisi. Raka menuruni tangga darurat dengan hati-hati dan mengambil kotak itu. Kayu tua itu retak di beberapa bagian, tapi di dalamnya ada surat yang hanya bertuliskan:

"Semua yang kau cari tidak selalu terlihat jelas."

Raka menatap surat itu dengan tatapan aneh, bibirnya terkatup, tapi tangannya bergetar sedikit. Ia menyadari kota ini memiliki cara sendiri untuk menuntunnya—tapi dia tidak mengerti arah kemana yang ditunjukkan karna terasa sangat samar.

Saat tengah berjalan untuk kembali ke kamar, ia mendengar langkah kaki di bawah, tepatnya di lorong kos. Ia lalu berhenti, menahan napas, tapi hanya angin yang lewat. Sesampainya di kamar, ia menutup pintu dengan pelan, meletakkan kotak kayu dan surat di samping buku tua.

Raka duduk di kursi, menatap jendela lagi. Langit malam kini lebih gelap, kabut bergerak menutupi sebagian jalan. Ia tidak tahu apa arti kotak dan surat itu, tapi ada satu hal yang menurutnya pasti, tentang misteri kota ini yang baru saja dimulai, dan malam belum selesai untuknya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca