

Ada tiga status murid di sekte Langit Biru. Murid kelas bawah, kelas menengah dan kelas atas.
Dengan langkah kaki terburu-buru, Korak, 18 tahun, mengikuti langkah cepat Lina Maya, salah satu murid tercantik sekte Langit Biru menyibak kerumunan murid sekte Langit Biru.
Korak masih berstatus murid kelas bawah, memiliki wajah tampan dengan kulitnya yang putih bersih, sementara Lina Maya sudah berstatus murid kelas menengah.
Hal ini membuat Korak menjadi pusat perhatian, pusat cemooh dan kecemburuan.
"Cok! Hatiku panas karena melihat tangan sampah lemah tak berguna itu digenggam Lina Maya!" Kata Wirya dengan wajah memerah. Murid sekte Langit Biru yang telah mendapatkan lencana pendekar ini menatap penuh kebencian.
"Entah apa yang dilihat Lina Maya hingga tak merasa jijik menggandeng sampah tak berguna itu?" Sahut Anton yang berdiri di samping Wirya.
"Tapi… Dia hebat juga sih." Kata Lido yang membuatnya mendapat tatapan tajam Wirya dan Anton. "Eh maksudku begini, bukankah kita telah membuang sampah itu ke jurang pekat tiga bulan lalu? Tapi dia masih muncul hari ini. Dan terlihat baik-baik saja. Dia muncul saat hari terakhir pendaftaran ujian lencana pendekar tahun ini?"
Wirya dan Anton mendengkus mendengar penjelasan itu, dan mereka membenarkan. Korak terlihat baik-baik saja, terlihat bugar. Padahal mereka dan Lido yakin Korak telah mati karena mereka membuang Korak ke jurang Pekat.
Bukannya telinga Korak tak mendengar semua ucapan Wirya, Anton, Lido dan hampir semua murid sekte Langit Biru yang menghina dirinya, yang cemburu padanya. Dia dengar, karena hinaan itu tak hanya dia dengar hari ini saja. Dia telah mendengar semua kalimat hinaan ini hampir setiap saat sejak tiga tahun lalu.
Korak datang dari satu desa kecil yang berada sangat jauh dari kota Langit. Keluarganya miskin dan hanya petani dengan kultivasi rendah.
Berbeda dengan rata-rata murid sekte Langit Biru yang memiliki latar belakang kuat. Mereka mampu membeli material kultivasi sehingga level kultivasi mereka cepat naik. Sementara Korak, harus bekerja serabutan di dalam sekte demi mendapatkan poin kontribusi yang bisa dia gunakan untuk membeli material kultivasi.
Sudah lima tahun Korak menjadi murid sekte Langit Biru. Dia seangkatan dengan Wirya, Lina Maya dan puluhan murid lainnya. Namun pada tahun kedua, saat Wirya, Lina Maya dan puluhan murid lainnya lulus ujian dan berhak mendapat lencana pendekar, dan Korak gagal.
Korak mencoba lagi tahun berikutnya, dan kembali gagal karena tingkat energi cakra dalam dirinya tak berkembang sebagaimana seharusnya. Tubuhnya memiliki resistensi yang membuatnya terhambat.
Dan hingga tahun ketiga ini, Korak masih berstatus murid kelas bawah, belum mendapat lencana pendekar. Sementara Lina Maya, Wirya, Anton, Alit dan teman satu angkatannya telah naik status menjadi murid kelas menengah dan juga memiliki lencana pendekar.
Sejak itulah, Korak dianggap sampah tak berguna. Kalimat hinaan, hingga perundungan fisik kerap selalu dia terima.
Namun hanya Lina Maya yang selalu membelanya. Lina Maya selalu mendukung Korak, saat dirundung teman-temannya. Baik dengan terus terang atau samar. Dan ini Membuat Korak semakin dicemooh sebagai sampah yang hanya bersembunyi dibalik gadis.
"Dasar tak tahu malu! Lihat wajah sampah itu!" Ujar murid sekte lain yang seharusnya adalah junior Korak dan Lina Maya lalu meludah seakan jijik. "Merasa bangga karena digandeng senior Lina Maya. Cih, hanya lelaki sampah yang berlindung di balik perempuan!"
"Kau benar! Jika sampah goblok itu terus disini, nama sekte Langit Biru akan hancur oleh hinaan!" Sewot murid lainnya.
"Jika dilihat dari tampang, hanya gadis buta yang mengatakan sampah itu berwajah jelek." Kata hati Dewi Maya, sepupu Lina Maya sambil menggelengkan kepala karena selalu dibuat heran oleh sepupunya itu. "Tapi sampah itu lemah! Lalu apa yang kau lihat dari sampah itu sepupu Lina?"
Korak terus mengekor Lina Maya. Hingga langkah kaki Lina Maya berhenti di depan meja.
"Cepat mendaftar Korak. Dan kamu harus lulus ujian lencana pendekar tahun ini, jika kamu masih ingin disini." Kata Lina Maya dingin.
"Yah aku tahu, jika aku kembali gagal tahun ini, maka aku akan didepak tak boleh lagi menginjakkan kaki di sekte Langit Biru." Jawab Korak sambil mendekat dan mengisi formulir untuk menerima token pendaftaran.
"Hehehe… Masih bersembunyi di bawah ketiak cewek Korak? Kau memalukan!" Kata Alit, murid kelas menengah, sambil mengusap lencana pendekar yang menempel di lengan kanan, pamer ke Korak.
Korak melihat Alit melalui sudut matanya sejenak, lalu kembali mengisi formulir. "Aku juga akan mendapatkan itu hari ini!" Tekad Korak dalam hati.
Kini matahari telah tiba di puncak hari.
Panas terasa namun tak menyurutkan semangat murid-murid sekte Langit Biru untuk tetap berdiri mengelilingi arena tempat ujian berlangsung.
"Jika aku beruntung, aku akan berhadapan dengan sampah itu maka aku akan menang dan mendapatkan lencana pendekar dengan mudah." Kata Dion penuh harap saat melihat Korak mendekati arena.
"Benar juga kau Dion. Jika mendapat undian melawan sampah itu, aku akan menang mudah. Udah begitu, aku bisa memukuli sampah itu hingga babak belur, tanpa terluka lagi. hahaha…"
Suasana penuh hujatan dan hinaan pada Korak di sekeliling arena mendadak bisu. Saat muncul bayangan hitam tepat di tengah arena.
Semua mata murid sekte yang akan mengikuti ujian sontak mendongak dan melihat guru Gayatri yang melayang turun dengan anggun.
Dengan menyungging senyuman tipis Gayatri menatap lusinan murid sekte Langit Biru yang antusias bersemangat. "Hmmm… Aku salut dengan kegigihan dan kerja kerasnya, namun sekte ini membutuhkan orang yang mampu berkembang." Katanya dalam hati saat melihat wajah Korak diantara kerumunan.
"Baiklah, kita akan me.."
"Guru, apakah peraturan murid bawah menantang duel murid yang memiliki lencana pendekar masih berlaku?" Teriak Korak memotong kalimat Gayatri yang akan membuka ujian.
"Kamu ini kenapa?" Tanya Lina Maya terkaget dan spontan menepuk bahu Korak.
"Lina, Aku ingin menantang Wirya!" Jawab Korak berbisik.
"Kamu sudah gila karena terlalu sering dipukuli Wirya ya?" Bisik Lina Maya sambil menatap tajam wajah Korak. "Wirya itu memiliki kemampuan dan energi cakra yang jauh melebihi dirimu." Jelas Lina Maya dengan wajah tersirat penuh rasa kuatir. "Berhenti Korak. Mumpung masih ada waktu."
"Tidak Lina, sudah tak ada waktu lagi. Apakah aku akan bertahan disini atau aku harus pergi dari sekte Langit Biru. Itu akan terjawab hari ini." Jawab Korak tanpa membalas tatapan Lina Maya.
"Ka – kau…" Lina Maya bingung antara sedih dan jengkel. Ingin rasanya dia meninju pemuda di depannya ini sampai pingsan agar Korak tak mempermalukan dan menyakiti diri sendiri.
"Iya Korak, masih berlaku. Memangnya kenapa? Apakah kamu mau menggunakan itu?" Tanya Gayatri dengan dahi mengernyit dan membuat Lina Maya tak meneruskan kalimat.
"Iya guru." Jawab Korak lantang lalu melangkah meninggalkan Lina Maya dan berjalan ke arah Wirya dan gerombolannya.
"Aku menantang mu Wirya! Aku menantang mu untuk bertarung diatas arena!" Ucap Korak sambil menunjuk batang hidung Wirya.
Seketika semua murid yang hendak mengikuti ujian tertawa terbahak-bahak mendengar tantangan yang keluar dari mulut Korak. Mereka tertawa karena Korak yang berkali-kali gagal dalam ujian malah menantang orang yang jauh lebih kuat.
"Tampaknya sampah itu sudah gila! Hahaha…"
"Menurut ku sih bukan gila. Sampah itu sudah sangat putus asa dan ingin mati. Hahaha…"
"Bodoh… Bodoh… Jika ingin mati, kenapa tak gantung diri saja hah?"
"Sampah itu putus asa dan pengecut! Dia pikir dengan mati di tangan Wirya, namanya akan dikenang? Hahaha… Mimpi kau ketinggian bodoh!"
Korak yang mendengar semua hinaan yang keluar dari mulut penonton hanya mengguratkan senyuman tipis. Terlalu sering dia diremehkan. Terlalu sering dia harus pasrah dihina oleh mereka, dan hari ini dia ingin menuntaskan semua itu. Dia lalu melangkah tenang dan naik ke arena.
Korak menatap semua orang yang terus mencemooh dan menghina dirinya. Berkata lantang dengan intonasi tenang.
"Selain karena aku ingin mendapatkan lencana pendekar, aku menantang Wirya juga untuk membalas kejahatannya yang telah melempar tubuhku ke jurang pekat!" Ucap Korak sambil menatap nyalang Wirya.
Semua orang terdiam. Mereka tak menyangka Wirya melakukan hal keji itu, meski itu tak akan mendapat hukuman dari sekte Langit Biru karena status Korak yang masih murid kelas bawah.
"Pertanyaannya…. Apakah kau hanya akan diam disana seperti pengecut? Atau kau bersedia menjadi lawanku, agar aku bisa membalas setiap pukulan yang aku terima darimu dulu?"