

(30, 29, 28… 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1)
Aku terus menghitung mundur dalam hati, berulang kali.
(30, 29, 28… 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1)
Berasal dari kawasan kumuh, aku tidak punya jam tangan, apalagi telepon genggam. Makan siangku hari ini hanya mengandalkan roti enak dari toko seberang jalan. Sudah sering aku mencuri di sana. Tenang saja, kalau pakai cara biasa, pasti berhasil lagi.
Ada lampu penyeberangan tepat di depan toko roti. Lampu hijau menyala sekitar tiga puluh detik. Rencanaku sederhana: memanfaatkan waktu lampu hijau itu untuk mencuri roti.
“Maaf ya, Mas Jony. Rotinya terlalu enak,” gumamku dalam hati.
Toko rotinya bernama Roti Rahayu. Sesuai nama pemiliknya, Mas Jony Rahayu. Badannya agak tambun, tapi rotinya benar-benar juara—jauh lebih nikmat daripada makanan sisa yang biasa aku ambil dari tempat sampah.
Caranya mudah: begitu lampu hijau menyala, aku langsung berlari masuk, ambil roti yang kuinginkan, lalu secepat kilat kabur menyeberang jalan lagi. Mas Jony gerakannya lambat, jadi saat dia sadar, lampu sudah merah.
Kalau lampu sudah merah, dia tidak mungkin mengejarku. Sukses di depan mata!
“Hari ini aku incar roti untuk makan siang sekaligus makan malam… ya?”
Eh, kok hari ini beda. Ada perempuan sangat cantik sedang membeli roti. Umurnya sekitar awal dua puluhan, wajahnya seperti model, rambut hitam lurus tergerai hingga pinggul, berkilau indah.
Ia memakai atasan tank top hitam pendek yang memperlihatkan perut rata, celana jeans ketat yang membalut kaki jenjangnya dengan sempurna, ditambah sepatu hak tinggi hitam. Yang paling mencolok tentu saja payudaranya yang besar. Tank top itu tidak mampu menyembunyikan, belahan dadanya dalam sekali—mungkin ukuran G-cup. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, payudaranya ikut bergoyang, sangat menggoda.
Hah? Mas Jony lagi mengisi rak roti di dekat perempuan itu, tangan kanannya seperti tidak sengaja menyenggol payudara si cantik. Kurang ajar!
“Kak, nanti aku balas dendam buat kamu… hehe… tidak usah berterima kasih,” gumamku sambil tersenyum licik.
Baiklah, aku siap berangkat. Aku akan tunjukkan kepada perempuan itu betapa hebatnya aku. Begitu lampu hijau lagi, langsung gas!
“Lampu sudah hijau! Ayo!”
(30, 29…)
Aku berlari kencang, menghitung detik sambil menyelip di antara pejalan kaki, menuju Roti Rahayu.
(24, 23…)
Aku membuka pintu kaca, langsung meraih roti yang kuinginkan… eh, malah terpaku menatap perempuan cantik itu sampai lupa mengambil rotinya.
(18, 17…)
Tidak ada waktu memilih lagi. Langsung kuambil roti yang ada di sampingnya.
“Bonus!”
Sambil berbalik ke arah pintu, sengaja kugores tangan kananku ke payudara G-cup itu. Harus kubalas perbuatan Mas Budi tadi.
(9, 8…)
Roti sudah di tangan. Bonus juga sudah didapat. Tinggal lari! Aku berlari! Aku terbang! Badanku bergerak lebih cepat dari biasanya. Masih ada delapan detik. Aman!
(5, 4…)
Hah? Kok aku tidak bergerak? Kenapa masih di dalam toko?
“Hei Mas Jony! Aku sudah tangkap pencurinya, kasih aku hadiah dong!”
“Akhirnya ketangkap juga kamu, si pencuri roti!”
(3, 2…)
“Lepaskan! Turunkan aku! Waktunya sudah habis!”
Aku menoleh ke belakang. Perempuan cantik tadi mencengkeram kerah bajuku dari belakang, mengangkat tubuhku hingga melayang di udara. Kekuatan luar biasa untuk seorang perempuan!
“Jadi sekarang bagaimana? Mau dilaporkan ke polisi?” tanyaku panik.
“Polisi di sini tidak bisa dipercaya… mematahkan tangan orang pun biasa saja bagi mereka,” jawabnya tenang.
Ini bukan candaan! Aku tidak mau tanganku dipatahkan!
“Lepaskan aku, perempuan jelek!” teriakku.
“Hmm!”
Sepertinya ada urat marah yang muncul di dahinya.
“Mas Jony, serahkan anak ini kepadaku saja. Sepertinya dia perlu dididik.”
“Hei! Mengapa kamu mengambil keputusan sendiri?!” protes Mas Jony.
“Tadi kamu menyentuh payudaraku, kan? Kamu dan bocah nakal ini.”
“Itu tidak sengaja, Mbak! Waktu aku lagi mengisi rak…”
“Setiap aku datang beli roti, kamu selalu menatap tubuhku dengan mata mesum. Payudaraku juga sudah sering kamu raba. Serahkan saja anak ini, nanti aku lepaskan kamu.”
Mas Jony menghela napas panjang. “Ya Tuhan… hanya menyentuh payudara kok langsung begitu. Padahal kamu sendiri pasti sudah sering…”
“Masih mau bicara?!” suaranya langsung meninggi.
“Baik-baik! Tapi didik dia dengan benar ya. Hei bocah! Mulai sekarang jangan macam-macam lagi di toko ini!”
“Dan kasih aku roti juga, itu bayaran karena kamu berani menyentuh payudaraku.”
“Bukannya tadi bilang tidak apa-apa?”
“Itu tadi. Sekarang berbeda. Roti untuk sekarang.”
Perempuan itu akhirnya keluar dari Roti Rahayu sambil menggendongku di punggungnya hanya dengan satu tangan, tangan satunya memegang kantong berisi roti.
“Hei! Jangan seenaknya membawaku! Siapa mau ikut perempuan gorila sepertimu…!”
Urat marah di dahinya muncul lagi.
“…Bukan gorila, namaku Sari. Mulai hari ini kamu menjadi muridku. Senang, kan? Ayo, pasti kamu lapar, nanti sampai rumah kita makan roti bersama.”
“Gambar…?”
“…Maaf, lagi sibuk. Nanti sampai rumah kita makan bareng ya.”
Perempuan ini sepertinya agak pelupa.
Akhirnya aku resmi bergabung dengan Agensi Detektif Sari, menjadi asisten detektif sekaligus murid ilmu sihirnya. Di sinilah pula kecenderungan seksualku yang agak “menyimpang” mulai bermunculan.
“Kita sudah sampai! Ini kantorku! Lihat!”
“Wahhhh!”
Tiba-tiba dia tersandung, tapi dengan lincah menyeimbangkan tubuhnya lagi dan berdiri tegak.
“Apa tadi itu? Sudah berkali-kali kukatakan supaya kamu menjauh dariku. Hehe.”
“Waktunya habis!” Aku ingin membentak begitu, tetapi perutku sudah terlalu lapar hingga tak ada tenaga tersisa. Aku mendongak dan melihat bangunan lima lantai di depanku. Seluruh dinding luarnya hitam pekat… suasananya agak mencekam. Pakaiannya bagus, sepatu hak tingginya juga bagus. Sepertinya perempuan ini memang sangat menyukai warna hitam.
“Kantor Mbak di lantai berapa?”
“Di lantai satu, ada plang kecil di depan.”
Di samping pintu masuk terdapat plang bertuliskan “Agensi Detektif Sari”. Ada gambar siluet kucing hitam di plang itu. Mungkin maskot kantor.
“…Kucing hitam?”
“Oh, itu ketua kami. Dia orang paling penting di kantor ini. Ngomong-ngomong, seluruh gedung ini milikku, lho. Keren, kan? Hehehe.”
Wajahnya langsung berbinar bangga. “Ketua paling penting?” Ada yang aneh. Mungkin cuma orang tua kaya yang maniak kucing.
“Ayo cepat masuk. Kamu pasti mau roti, kan?”
(Klek)
Mbak Sari membuka pintu, aku mengikutinya masuk ke gedung hitam itu. Begitu masuk, langsung ada pintu lagi di sebelahnya. Apa ini kantornya? Eh, tadi Mbak Sari pakai kunci nggak ya? Kok terdengar bunyi kunci diputar…?
(Klek)
Bunyi sama lagi setelah kami masuk. Dia mengunci dari dalam? Gedung ini nggak mencurigakan, kan? Aku melirik gemboknya.
“Kenapa melotot ke pintu?”
“Mbak, ini pintu otomatis berteknologi tinggi ya?”
“…Pintu otomatis? Ah, iya. Nanti kujelaskan, masuk dulu yuk.”
Dia membuka pintu kantor, aku masuk bersamanya. Semua roti dikeluarkan dari kantong dan ditata rapi di atas meja.
“Duduklah di sofa, santai saja, ambil yang kamu suka!”
Aku sudah kelaparan berat, jadi langsung duduk, mengambil roti paling besar, dan melahapnya. Mbak Sari duduk tepat di depanku, menyangga dagu dengan satu tangan, menatapku makan sambil tersenyum.
“…Kenapa dilihatin terus? Mbak tidak makan?”
“Nanti aku makan. Orang yang lagi menikmati makanan itu kelihatan lucu dan bahagia banget. Jadi makanannya juga rasanya lebih enak, hehe.”
Aku jadi risi kena tatap terus. Aku mengalihkan pandangan ke sekeliling. Kantor ini jauh lebih mewah dari bayanganku. Gedungnya besar, ruangannya luas dan berkelas.
Tapi bukan cuma luar yang hitam, interiornya juga didominasi warna hitam. Sofa hitam, meja kerja superbesar hitam, kursi-kursi empuk hitam, bahkan pendingin ruangan pun hitam… Ah, roti pertamaku sudah habis.
“Boleh ambil satu lagi?”
“Tentu! Sudah kubilang, jangan malu-malu.”
Setelah roti pertama, aku ambil lagi satu. Karena sudah agak kenyang, tatapan Mbak Sari jadi makin terasa… susah makan kalau begini. Tapi dia sesekali cuma terkekeh “hee hee”.
Dia benar-benar beda dari kesan pertama di depan toko roti. Bukan cuma cantik sekali, tapi juga bisa tertawa kekanak-kanakan seperti ini. Aku agak terkejut. Tolong jangan tatap terus… kalau begini, roti seenak apa pun jadi kurang nikmat.
Aku mengamati kantor sekali lagi. Kulkas hitam, televisi hitam, rak buku hitam… Satu-satunya yang agak mencolok adalah papan tulis putih di sudut. Sofa yang kududuki ini juga sangat empuk. Koreksi: ini bukan kantor biasa, ini kantor kelas atas. Apa semua kantor detektif semewah ini? Apa Mbak Sari ini detektif terkenal?
Meong~~
“Oh! Maaf, aku lupa sama ketua.”
Terdengar suara kucing. Seekor kucing hitam mendekat ke kaki Mbak Sari. Dia langsung mengangkat kucing itu dengan kedua tangan.
“Izinkan aku memperkenalkan diri lagi. Nama lengkapku Sari, dan ini ketua Agensi Detektif Sari. Meong-meong~~”
Senyumnya kembali—senyum agak kekanak-kanakan dengan mata menyipit dan gigi terlihat. Tapi… aku sama sekali tidak benci senyum itu.
“Kalau memanggil aku… panggil Sari saja. Tapi jangan ‘Mbak Sari’ atau ‘Kak Sari’ terus-terusan ya. Dulu aku pernah dipanggil begitu mulu, lama-lama kok jadi sebal. Entah kenapa ‘Mbaaaak Sarii’ itu bikin kesel. Huh!”
Perubahan suasana hatinya drastis, tapi malah membuatnya tidak membosankan.
“Nama kamu siapa, Nak?”
“…”
Aku diam.
“Cuma satu nama doang?”
“Iya, Yuda. Anak-anak di kampung kumuh cuma punya satu nama.”
“Kalau begitu, mulai hari ini kamu muridku. Aku kasih nama belakang: Yuda Sari. Mulai sekarang kamu murid nomor satuku!”
Meong~~
“Lihat, ketua juga senang. Hehe.”
Meong~ Meong~
“Oh iya, maaf. Makan malam ketua belum disiapkan. Kita sisakan dua roti ya—satu buat aku, satu buat ketua. Sisanya buat Yuda.”
Perempuan ini memang agak ceroboh… Jelas bukan tipe detektif keren yang kubayangkan…