

“Anika... Ya, seperti itu...”
“Terus, Anika, terus, aahhh … kamu paling bisa memuaskan aku.” Suara desahan dan decapan lidah yang eksplisit terus menggema dari balik pintu tempat dia berdiri.
Bara Januarta berdiri membeku di depan pintu kosan Anika, kekasihnya. Angin malam Jakarta terasa dingin, menusuk melalui kemeja usang yang dipakainya.
Di sakunya, sebuah kotak beludru merah marun terasa berat, berisi cincin perak sederhana yang ia beli dengan sisa uang tabungan kerjanya. Hari ini adalah hari penentuan. Setelah tiga tahun meniti hubungan, dari masa-masa sulit di desa hingga perjuangan keras bersama di ibukota, Bara berencana melamar Anika, mengukuhkan janji masa depan mereka.
Ia mengangkat tangan untuk mengetuk, tetapi tangannya membeku di udara.
Dari balik pintu unit nomor tujuh, terdengar suara yang seharusnya tidak ada. Suara pria asing.
Bara mengerutkan dahi. Suara itu begitu dekat.
Bara mendekatkan telinganya ke kayu pintu. Suara itu semakin jelas, semakin intim. Itu adalah perpaduan antara suara pria yang berat dan desahan tertahan yang sangat ia kenali, suara kekasihnya, Anika.
“Pelan-pelan ... Sayang, nanti ada yang dengar,” ucap wanita di dalam sana, yang kini Bara yakini adalah suara Anika. Bukan lagi spekulasi, tapi sebuah kebenaran yang kejam.
Pintu kosan itu terbuat dari kayu tipis. Meskipun suara itu teredam, intensitasnya terasa menusuk jantung Bara. Itu adalah suara perselingkuhan, penghianatan tak terucapkan, sebuah adegan yang seharusnya hanya menjadi miliknya.
Dunia Bara mendadak sunyi, hanya menyisakan suara-suara di dalam. Nafas Bara tercekat, udara terasa menipis. Cincin di sakunya terasa seperti bongkahan timah panas yang membakar.
Bara mundur dua langkah, wajahnya pucat pasi. Ia tidak perlu melihat untuk tahu apa yang terjadi. Mereka ada di sana. Mereka yang seharusnya menjadi pasangan rahasia, kini menjadi kenyataan yang menghancurkan.
Ia mengeluarkan kotak cincin dari saku. Bara menatap kotak beludru itu, kemudian menatap pintu unit nomor tujuh. Pintu itu, yang selalu terasa hangat, kini terasa seperti gerbang neraka.
Tiba-tiba, suara di dalam mereda, terdengar suara gesekan pakaian dan tawa kecil.
“Kamu sangat liar, Sayang. Kamu yakin si Bara itu tidak akan datang malam ini?”
“Bara? Dia sedang mengejar pekerjaan desain murahan, dia tidak akan pernah tahu. Lagipula...” Suara Anika terdengar mendekat ke pintu, seolah ia sedang berpakaian di sana. Kata-kata berikutnya, meskipun berbisik, menghantam Bara lebih keras daripada tamparan fisik.
“Dia terlalu lambat. Aku butuh kepastian, bukan janji-janji kosong. Kamu bisa memberiku itu, kan, Mas?”
“Tentu saja. Semua yang kamu mau.”
Bara tidak menunggu lagi. Rasa sakit itu begitu mendalam, begitu membakar, sehingga dia tidak bisa bernapas. Dia tidak sanggup menghadapi mereka, tidak sanggup membiarkan Anika melihat betapa bodohnya dia.
Bara menjatuhkan kotak cincin itu. Dia tidak peduli suara benturan benda keras yang jatuh di lantai semen. Ia hanya berbalik, berlari menjauh dari pintu nomor tujuh, dari seluruh mimpi dan janji yang telah ia bangun selama tiga tahun.
Dia berlari tanpa tujuan, hanya ingin menjauh dari suara tawa dan desahan itu, menjauh dari kenyataan bahwa cintanya ditukar dengan kemewahan dan kepastian finansial yang dia tidak miliki. Kehancuran Bara telah sempurna.
Dua hari berlalu. Bara tidak makan, tidak mandi. Ia hanya berbaring di kosannya yang sempit, membiarkan kebencian menumpuk. Ia memutuskan untuk mencoba menghubungi Anika sekali lagi, bukan untuk memohon, tetapi untuk menanyakan nasib barang-barangnya.
Bara akhirnya memberanikan diri keluar. Ia mendatangi pusat perbelanjaan kelas atas tempat Anika dulu bekerja paruh waktu, hanya untuk bertemu dengan wanita itu.
Ia melihat Anika sedang berjalan, menggandeng lengan seorang pria berusia akhir 50 tahun, rapi dengan setelan mahal dan jam tangan berkilauan, mungkin dia adalah kekasih barunya. Tapi pria itu lebih cocok menjadi ayah, bukan kekasih.
Penduduk kota metropolitan menyebut kaum seperti itu adalah Sugar Daddy.
Bara mendekat, perasaannya campur aduk antara rasa sakit dan harga diri yang tersisa.
“Anika,” panggil Bara dengan suara tercekat.
Anika menoleh, tatapannya langsung berubah dari penuh kasih menjadi jijik. Ia melepaskan tangan kekasih barunya dan melipat tangan di dada.
“Oh, lihat siapa ini. Bara.” Anika menghela napas, gesturnya dramatis. “Mau apa kamu di sini? Bau asap kosanmu tercium sampai ke lobi.”
Pria di samping Anika, yang Bara yakini bernama Rendy, memandang Bara dari atas ke bawah. Tatapannya penuh penghinaan, menimbang kemeja Bara yang sudah lusuh dan sepatu ketsnya yang murah.
“Ini yang kamu ceritakan itu, Sayang? Pacar lamamu? Astaga, dia benar-benar ... menyedihkan,” kata Rendy, suaranya mengandung nada ejekan yang tidak terselubung.
Bara merasakan wajahnya memanas. “Anika, aku hanya ingin menanyakan barang-barangku. Aku tidak akan mengganggumu.”
“Barang-barang apa? Desain-desain grafismu yang tidak laku itu? Atau kaus oblong yang sudah bolong?” Anika menyeringai kejam. “Dengar, Bara. Kamu sudah kutinggalkan. Jangan membuat dirimu semakin menyedihkan dengan mengejarku di tempat seperti ini. Rendy bisa memberiku masa depan yang kamu tidak akan pernah bisa bayangkan. Lihat saja jam tangannya, harganya sepuluh kali lipat dari gajimu setahun!”
Rendy tersenyum puas, memamerkan pergelangan tangannya. “Benar, Nak. Di dunia ini, pria sejati diukur dari asetnya, bukan dari seberapa besar 'cinta' yang dia jual. Kamu terlalu naif. Kamu terlalu lambat. Anika berhak mendapatkan yang terbaik, dan itu bukan kamu.”
Anika mendekat, berbisik dingin ke telinga Bara. “Aku tidak akan pernah mau hidup di kosan sempit lagi. Kamu mengerti? Jangan pernah muncul lagi di hadapanku.”
Pukulan itu telak. Bara tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap mata Anika, mata yang dulu dipenuhi cinta untuknya, kini dipenuhi keserakahan dan kebencian terhadap kemiskinannya.
Dia berbalik dan berjalan cepat keluar dari mal, meninggalkan Anika dan Rendy di belakang, tawa mereka yang mengejek mengiringi langkahnya.
Bara berjalan menjauh dari segala kemewahan, kembali ke kosannya. Ia kini sepenuhnya hancur, bukan hanya karena patah hati, tetapi karena pengakuan brutal bahwa di mata dunia, ia hanyalah sampah.
Beberapa jam kemudian, di kosan sempitnya, Bara membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan. Dia telah dicampakkan, dihina, dan ditinggalkan, bukan karena buruk, tetapi karena miskin. Ia menutup telinganya, berharap dunia akan berhenti berputar.
Tiba-tiba, bel pintu berdering nyaring. Bara mengabaikannya. Dia terlalu malas untuk bertemu dengan pemilik kontrakan atau siapa pun. Namun, suara itu terus mengusik, nyaring dan mendesak, seolah menuntut perhatian.
Dengan wajah lusuh dan tatapan kosong, Bara membuka pintu. Di sana berdiri sosok yang teramat asing, seorang wanita cantik, berpakaian formal yang mahal seolah baru keluar dari majalah bisnis. Dia membawa map dokumen di tangannya.
“Anda Bara Januarta?”
Bara menatapnya dengan lelah, kebencian pada kekayaan memuncak setelah insiden di mal tadi. “Ya. Anda siapa? Kalau Anda mau menjual sesuatu, saya tidak tertarik. Saya sudah kehilangan semua yang berharga.”
Nira mengabaikannya, dan melangkah masuk, mengamati ruangan sempit itu dengan tatapan tanpa cela.
“Nama saya Nira. Dan saya di sini untuk memberi tahu Anda, bahwa Anda tidak pernah kehilangan apa-apa. Justru, Anda baru saja akan mendapatkan segalanya.”
Nira mengeluarkan dokumen dari map kulitnya, dan meletakkannya di meja.
“Kakek Anda adalah Hardjan Januarta, Tuan Bara. Pendiri Januarta Group. Anda adalah pewaris tunggal dari kekayaan dan kekuasaan yang baru saja menghina Anda.”
Bara menatap dokumen itu. Nama Januarta Group. Nama yang mewakili segala yang dimiliki Rendy dan segala yang membuatnya dicampakkan Anika.
“Lalu apa yang Anda inginkan?” tanya Bara, suaranya serak. Ia tahu pasti ada syarat.