

Langit sore di Pesantren Al-Mahdi berubah jingga keemasan ketika Azka keluar dari kelas tahfidz. Udara selepas hujan masih lembap, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di tangannya, mushaf kecil yang selalu ia bawa ke mana pun. Di hatinya, ada doa-doa yang belum pernah ia ucapkan pada siapa pun.
Azka bukan santri yang paling pandai berbicara, tetapi ia dikenal paling rajin menjaga ibadahnya. Diam, tenang, sedikit kaku—tapi matanya selalu jernih ketika membaca Al-Qur’an.
Sore itu, ia terburu-buru menuju perpustakaan kecil pesantren untuk mengembalikan buku tafsir ketika suara lembut memanggilnya dari arah tembok samping.
“Akhi… maaf. Mafhum bahasa Arab untuk kata ini apa ya?”
Azka berhenti.
Di hadapannya berdiri seorang akhwat dengan jilbab biru muda, wajahnya teduh dan penuh keadaban. Ia menundukkan pandangan sambil menyodorkan buku catatan. Namanya—Azka tahu dari tanda nama di lengan—adalah Hilya Zahra. Santri baru yang akhir-akhir ini sering terlihat di kelas tahsin.
Azka menunduk pelan, menjaga adab.
“Insyaallah bisa saya bantu, Ukhti. Kata yang mana?”
Hilya membuka halaman, suaranya lembut, “Yang ini… al-ma’waddah.”
Azka menahan senyum.
“Itu salah satu kata untuk ‘cinta’, tapi cinta yang penuh kasih sayang… bukan sekadar perasaan.”
Hilya mengangguk. “Masyaallah… jazakallah khair.”
Azka merasakan sesuatu bergetar di dadanya—bukan karena kecantikan Hilya, tapi karena tutur katanya yang sopan dan caranya menjaga diri. Ada sesuatu yang menenangkan dari akhwat yang adabnya terjaga.
Namun ia segera mengalihkan pandangan kembali ke bukunya.
“Afwan, saya lanjut ke perpustakaan dulu.”
“Oh, iya. Barakallahu fik.”
Langkah Azka kembali stabil, tapi hatinya tidak. Kata al-ma’waddah seolah masih bergema. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
Di sudut lain, Hilya berjalan sambil memegang catatannya, wajahnya memerah.
Ia baru sadar satu hal:
Ini pertama kalinya ia bertanya pada seseorang yang membuat jantungnya tak mau tenang.
Namun, keduanya sama-sama tahu satu hal—dalam dunia pesantren, rasa harus dijaga. Cinta tidak boleh lahir tanpa doa dan adab.
Mereka tidak tahu…
Pertemuan sederhana itu akan membuka jalan yang Allah takdirkan dengan sangat pelan, sangat halus.
Seperti hujan sore tadi:
Turun tanpa suara…
tapi meninggalkan bekas yang tidak mudah hilang.
Malam turun perlahan di Pesantren Al-Mahdi. Suara ngaji dari asrama putra terdengar bersahutan—merdu, teratur, seperti aliran sungai yang menenangkan hati. Azka duduk di sudut musholla pria, mushaf terbuka di pangkuannya.
Namun malam itu, ia membaca ayat hanya dengan mata. Tidak benar-benar meresap seperti biasanya.
Ada satu nama yang mengganggu kekhusyuannya.
Hilya.
Azka menutup mushafnya pelan, menepis pikiran yang mulai keluar jalur. Ia menarik napas panjang.
“Ya Allah… jika ini bukan rasa yang Engkau ridai, maka hilangkan. Jika ini fitnah, maka jauhkan.”
Azka menunduk, kedua telapak tangan menutup wajahnya. Ia tahu aturan pesantren, ia tahu batas. Cinta hanya boleh muncul dalam koridor syariat. Dan ia, sebagai santri yang selalu menjaga adab, tidak ingin satu pun dari langkahnya menjerumuskan hati.
Namun rasa itu… tumbuh begitu halus.
Tidak salah pada ciptaan Allah, tapi salah jika tidak dikendalikan.
Sementara itu, di asrama putri, Hilya sedang menutup buku catatannya. Teman sekamarnya, Safira, meliriknya sambil tersenyum nakal.
“Lama banget belajarnya, Hilya. Atau lagi mikirin seseorang?”
Hilya memukul lengan Safira pelan dengan bantal.
“Astaghfirullah… bukan begitu.”
“Nah, berarti ada seseorang,” jawab Safira cepat.
Hilya terdiam. Ia menunduk, lalu berkata pelan, “Aku cuma… menghormati seseorang yang Allah buatkan ketenangan saat aku bertanya padanya.”
Safira langsung menatapnya lebar. “Azka?”
Hilya kaget. “Hah? Kok tahu?”
“Semua akhwat baru kalau nanya bahasa Arab pasti ke ustadz kelas. Tapi kamu malah ke Azka. Jelas kelihatan.”
Hilya menunduk lebih dalam.
“Aku cuma… merasa cara dia menjaga adab itu menenangkan. Tidak lebih.”
Safira tersenyum kecil. “Kalau memang ada rasa, jaga dengan baik. Tidak usah saling mendekat. Cukuplah doa.”
Hilya mengangguk.
“Mungkin… memang begitu cara terbaik.”
Di tempat lain, Azka meletakkan mushafnya lalu memandang ke jendela musholla. Langit malam begitu tenang.
“Jika Engkau menulisnya, ya Allah… maka mudahkan. Jika tidak, hapuskan dengan cara yang paling lembut.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Azka tidak berdoa agar perasaannya hilang. Ia hanya meminta agar Allah menjaga semuanya tetap suci.
Rasa itu belum besar. Belum kuat. Namun cukup untuk menumbuhkan sebuah doa kecil yang mulai mengetuk tangga langit.
Dan doa… tidak pernah sia-sia.
Malam itu, di bawah langit yang sama, dua hati berdoa tanpa saling tahu.
Dua nama menyebut nama Allah dalam diam yang paling tulus.
Dan saat dua doa di
panjatkan dengan kesucian…
Takdir mulai bergerak, perlahan.
Pagi di Pesantren Al-Mahdi selalu dimulai dengan kesunyian yang penuh makna. Embun masih menempel di daun-daun ketika lonceng kecil dibunyikan tanda dimulainya halaqah pagi.
Azka duduk bersila di barisan depan. Wajahnya tenang, tetapi pikirannya waspada. Hari ini akan ada pengumuman penting dari pengasuh pesantren.
“Anak-anakku,” suara Ustadz Hamdan terdengar tegas namun lembut, “pesantren akan mengirim beberapa santri terbaik untuk mengikuti Daurah Ilmiah di luar kota selama enam bulan.”
Beberapa santri mulai berbisik.
“Nama-nama akan saya bacakan sekarang.”
Azka menunduk. Ia tidak berharap apa-apa. Baginya, di mana pun ia belajar, semuanya adalah ladang ibadah.
“Azka Ramadhan.”
Nama itu terdengar jelas.
Azka terkejut, lalu mengangkat kepala. Beberapa temannya menoleh, sebagian tersenyum bangga.
“Keberangkatan tiga hari lagi.”
Hatinya bergetar. Bukan karena bangga—melainkan karena satu hal yang tidak ia duga: pergi tanpa sempat berpamitan.
Di sisi lain pesantren, pengumuman serupa disampaikan kepada para akhwat.
“Hilya Zahra,” suara ustadzah menyebut namanya.
Hilya menatap lantai. Enam bulan. Jauh dari pesantren. Jauh dari rutinitas yang sudah ia cintai.
Dan jauh dari seseorang yang baru saja hadir sebagai doa yang belum sempat ia pahami.
Malam itu, Azka duduk sendirian di halaman belakang asrama. Ia memandang langit yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
“Enam bulan,” gumamnya.
Bukan waktu yang singkat.
Ia tahu, jika rasa ini dibiarkan, ia bisa berubah menjadi beban. Maka ia memilih satu jalan yang ia yakini paling aman: menyerahkan sepenuhnya pada Allah.
Sementara itu, Hilya duduk di musholla akhwat. Air matanya jatuh pelan saat sujud terakhir.
“Ya Allah… jika pertemuan itu hanya sekadar pelajaran, maka ajari aku untuk ikhlas.”
Tidak ada pesan.
Tidak ada salam.
Tidak ada perpisahan.
Hanya dua hati yang sama-sama belajar melepaskan sebelum benar-benar memiliki.
Tiga hari kemudian, pagi itu pesantren tampak lebih sunyi.
Bus yang membawa para santri perlahan meninggalkan gerbang. Azka duduk di dekat jendela. Saat bus bergerak, ia sempat melirik ke arah gedung akhwat.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia tersenyum kecil.
“Beginilah cara Allah menjaga,” bisiknya.
Dan jauh di dalam asrama putri, Hilya berdiri di balik jendela, menatap bus yang menjauh tanpa tahu siapa di dalamnya.
Ia menggenggam catatan kecilnya.
Di halaman pertama tertulis satu kata:
al-ma’waddah.
Cinta yang penuh kasih…
Dan sabar.