
Urha : Darah yang Dirahasiakan
Daddy L|Bersambung
- Jumlah kata
- 21.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 15
- Jumlah kata
- 21.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 15
Sinopsis
Desa Urha hidup di bawah kutukan yang dipercaya berasal dari kutukan Dewa Rham dengan satu hukum suci: cinta terhadap darah penyihir adalah dosa yang membawa bencana.Okhan, pemuda desa yang patuh, justru jatuh cinta kepada Irgia—gadis dari keluarga terasing yang selalu disalahkan atas murka Dewa Rham. Saat hubungan terlarang itu terungkap, ritual persembahan Rham mulai gagal dan ketakutan lama kembali menguasai desa. Dibawah bayang-bayang penasehat Dorgan, Ketua Suku Barox menuntut kepatuhan mutlak, seakan ada sesuatu yang harus ia lindungi lebih dari keselamatan Urha sendiri. Didorong oleh cinta dan rasa curiga, Okhan menelusuri asal-usul kutukan dan menemukan bahwa tidak semua dosa berasal dari darah penyihir. Sebagian tersembunyi dalam hukum yang dijaga, nama yang dihormati, dan rahasia yang terlalu lama dirahasiakan. Di Urha, mematahkan kutukan mungkin berarti membuka kebenaran yang seharusnya tak pernah terungkap.
Ulasan
1 ulasan
duhwiwi
31/12/25 02:27
ceritanya bagus ka,keren banget bab ke bab menjadi penasaran deh,mampir ke novel ku juga ya ka " GANGSTA MA" ,subscribe 🤗👍👍 semangat menulisnya kak
Bab 1 - Kabut yang tidak pernah terangkat
Kabut selalu datang sebelum fajar. Ia merayap dari celah-celah tanah seolah berasal dari dunia di bawah sana, menyelimuti desa Urha dengan selimut putih yang dingin dan lembap. Kabut itu begitu tebal hingga batas antara mimpi dan kenyataan sering kali buram. Orang-orang tua percaya, dalam kabut itulah kutukan desa bermukim—sebuah kutukan yang telah diwariskan turun-temurun, tak pernah benar-benar pudar.
Pagi itu, Ghuson sudah bangun sebelum matahari menyentuh puncak bukit. Lelaki itu berdiri di samping pintu rumah kayu mereka yang sederhana, memandangi hamparan putih kabut yang menggantung rendah. Kehidupannya, seperti seluruh warga Urha, selalu dimulai dengan doa sederhana: semoga kabut hari itu pergi lebih cepat.
"Semoga hari ini tidak ada kabut, sehingga kita bisa pergi ke ladang," ucapnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.
Usianya mungkin sudah melewati separuh abad, namun wajahnya memancarkan keteguhan yang tak pernah padam. Tangannya yang kasar—bukti dari kerja keras di ladang—menggenggam erat tali anyaman kecil yang biasa dipakainya untuk pmengikat barang. Setelah menarik napas dalam, ia berbalik menuju dalam rumah.
"Okhan," panggilnya, suaranya hangat namun tegas, "bantu ayah bawa perlengkapan berladang, dan bantu ibumu bawa sedikit bekal untuk istirahat nanti.
"Anak laki-laki itu muncul dari balik tirai kain yang memisahkan ruangan tidur dari ruang keluarga. Rambutnya hitam legam, matanya tajam namun dipenuhi mimpi-mimpi muda. "Baik, Ayah," sahut Okhan dengan semangat.
Di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun, Okhan telah memahami betapa beratnya kehidupan di Urha. Namun ia tetap berusaha meneladani ayahnya: selalu berjuang, selalu berharap. Meski kabut dan kutukan selalu menggantung di atas kepala mereka, semangat itu tak pernah dipadamkan.
Sambil membantu ibunya menyiapkan bekal, Okhan mencuri pandang ke luar jendela. Kabut masih tebal. Seperti biasa. Namun ia tak ingin mengecewakan ayahnya dengan kata-kata yang menumbuhkan keraguan. Maka ia hanya tersenyum ketika ayahnya kembali mengenakan selendang tipis untuk menahan dingin.
"Kemarin ketua suku berkata kalau hari ini akan cerah sepanjang hari sehingga kita bisa bercocok tanam," gumam Ghuson dengan nada penuh kepercayaan. "Biasanya, apa yang dikatakan Ketua Barox selalu benar.
"Okhan tersenyum melihat ayahnya yang begitu percaya pada ketua suku. Barox memang dihormati. Ia dianggap sebagai penjaga hukum suci, pewaris pengetahuan kuno dari para leluhur. Meski tubuhnya semakin renta, suaranya tetap kokoh seperti batu-batu tua di lembah. Jika Barox berkata kabut akan terangkat, kebanyakan warga percaya.
Hari itu, Okhan dan ayahnya berangkat menuju ladang. Jalanan menuju kebun melewati bukit kecil di mana batu-batu besar tersusun seolah menjadi tugu-tugu alam. Kabut membuat segala sesuatu terlihat meliuk-liuk samar. Pohon-pohon seperti bayangan besar yang mengintai dari kejauhan.Namun Ghuson tetap melangkah penuh semangat.
"Dulu," katanya sambil membawa karung berisi alat, "leluhur ayah mengatakan bahwa ratusan tahun yang lalu desa ini sangat sejahtera. Ladangnya selalu panen dengan hasil yang berlimpah, jagung setinggi pinggang orang dewasa, dan gandum yang warnanya seperti emas. Dan desa ini disebut sebagai desa paling indah di seluruh lembah."Ia tersenyum, meski sedikit getir. "Karena itu desa ini dinamakan Urha, yang artinya kecantikan yang abadi."
"Kalau begitu…" Okhan tampak ragu, namun ia mengutarakan pertanyaan yang sejak lama mengganjal hatinya. "Apakah kutukan ini akan berakhir, Ayah?"Langkah Ghuson terhenti. Kabut di sekeliling mereka seperti ikut diam mendengarkan. Lelaki itu menatap mata putranya lama, seolah mencari jawaban yang tepat di dalam dirinya sendiri. Ia kemudian menghela napas panjang—napas seseorang yang telah memikul harapan dan kekecewaan selama puluhan tahun.
"Dulu," katanya perlahan, "saat ayah seusiamu, ayah juga bertanya hal yang sama kepada kakekmu."
Ia menatap ke depan, ke arah ladang yang tak terlihat di balik kabut.
"Dan kakekmu berkata bahwa hanya dengan menjaga Hukum Suci, kutukan ini akan berakhir. Ia percaya bahwa kutukan ini tidak abadi. Setiap generasi diberi kesempatan untuk mematahkannya."Okhan mendengarkan penuh perhatian. Kata Hukum Suci selalu membuatnya penasaran. Ia tahu hukum itu merupakan seperangkat aturan kuno yang diwariskan, tapi penjelasan rinci selalu menjadi milik para tetua saja. Kaum muda hanya diajarkan sedikit. Mungkin karena hukum itu dianggap terlalu suci untuk dipahami karena sesuatu yang jauh lebih gelap tersembunyi di baliknya.
"Lalu… apakah kakek salah?" tanya Okhan pelan dan sedikit ragu saat bertanya kepada ayahnya.
Pertanyaan itu menohok hati Ghuson.Ia kembali melangkah, namun kali ini lebih lambat. "Kakek berkata kutukan ini akan segera berakhir. Tapi sampai ayah setua ini… desa ini masih sama. Tidak berubah." Nada suaranya merendah, seperti berat untuk mengakui kenyataan itu.
Setiap tahun panen selalu gagal. Setiap musim penyakit selalu datang. Para ibu kehilangan anak, para lelaki kehilangan kekuatan, para tetua kehilangan harapan. Urha bukan lagi desa yang diberkahi kecantikan abadi—melainkan desa yang dijuluki banyak orang sebagai tempat yang dilupakan para dewa.
Menurut cerita lama, kabut adalah pertanda murka. Kabut membawa penyakit yang tak dapat dijelaskan tabib mana pun. Para petani sering jatuh sakit mendadak, kulit mereka pucat seperti kabut itu sendiri. Benih yang ditanam tidak tumbuh, atau tumbuh namun menghitam sebelum siap dipanen.
"Kenapa kita bisa dikutuk seperti ini, Ayah?" tanya Okhan lagi.Ghuson terdiam. Itu adalah pertanyaan yang bahkan para tetua pun sering kali tidak sepenuhnya mau jawab.
"Kita hanya tahu dari cerita leluhur," katanya perlahan. "Bahwa kutukan muncul karena suatu pelanggaran besar. Pelanggaran terhadap Hukum Suci.
"Okhan menelan ludah. "Apa benar manusia Urha yang dulu begitu baik bisa melakukan pelanggaran seperti itu?"
"Kita tidak pernah tahu kebenaran pastinya." Ghuson memandang ke bukit tempat balai suku berdiri. "Hanya Ketua Barox dan para penjaga Hukum Suci yang memahami semua catatan tua. Mereka lebih tahu sejarah sebenarnya."Nama Barox membuat Okhan memikirkan lelaki tua itu: rambut putih panjang, tatapan tegas, dan suara yang selalu membawa ketenangan. Namun di balik semua itu, ada aura misterius yang sulit dijelaskan. Seolah ia menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, mereka akhirnya tiba di ladang keluarga. Ladang itu terbentang luas, tetapi tampak tidak terawat—bukan karena mereka malas, melainkan karena apa pun yang mereka tanam tidak tumbuh dengan baik. Jagung yang seharusnya tumbuh subur malah berubah kecoklatan dalam beberapa hari. Tanahnya lembap dan dingin seperti sudah kehilangan nyawa.
Ghuson memeriksa tanah dengan mencangkul perlahan. Okhan ikut membantu, meski hatinya diliputi rasa ragu: apakah hari ini benar-benar akan berbeda?
Setelah beberapa saat, Ghuson berdiri dan menghela napas. "Tanahnya masih dingin. Tapi kita harus tetap mencoba."Okhan mengangguk. "Ayah… apa yang akan terjadi kalau kabut tidak terangkat hari ini?"
"Kalau kabut tidak terangkat," jawab Ghuson, "maka tanaman kita akan kembali mati.
"Ia memandang langit yang tak terlihat. "Dan mungkin… kutukan masih belum ingin pergi.
"Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara angin tipis dan langkah mereka di tanah lembap yang terdengar.
Tiba-tiba, dari arah desa terdengar suara gong besar dipukul sekali—suara yang berat dan menggema di seluruh lembah. Ghuson dan Okhan saling berpandangan.
"Itu… panggilan dari balai suku," kata Ghuson. "Ketua Barox jarang sekali memanggil warga pagi-pagi begini.
"Okhan merasakan bulu kuduknya berdiri. Sesuatu pasti terjadi.Apakah ini pertanda buruk?Ataukah… awal dari sesuatu yang telah lama ditunggu Urha?
Daftar bab
20 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








