

pemecatan
Langit sore itu berat dan kusam, seolah ikut mengerti nasib seseorang yang baru kehilangan masa depannya.Ansel berdiri di depan gedung tinggi berwarna perak gedung yang selama delapan tahun terakhir menjadi rumah keduanya.
Kronis Capital.Nama perusahaan yang dulu ia banggakan, kini hanya menjadi tulisan di papan nama yang menyakitkan.
Tangan kanannya menggenggam amplop cokelat.Surat pemecatan.Dingin, formal, tanpa perasaan.
Tadi di ruang HR, ia duduk di kursi kulit hitam dengan postur tegak, berusaha tampak tenang meski dadanya bergemuruh.Suara HRD, seorang perempuan muda yang mungkin baru dua tahun bekerja di sana, terdengar datar.
“Pak Ansel, maaf… tapi kami sedang melakukan efisiensi besar-besaran. Posisi Bapak termasuk yang terdampak.”
Ansel hanya mengangguk pelan.“Baik, saya mengerti,” katanya singkat.Padahal di dalam, hatinya seperti diremas.
HRD itu masih bicara panjang lebar tentang kompensasi, tunjangan terakhir, dan surat pengalaman kerja.Tapi telinganya sudah tak mendengar apa-apa.
Yang ia dengar hanyalah gema satu kalimat:
“Anda sudah tidak dibutuhkan.”
Turun dari lift, dunia terasa lebih sunyi.Ia menatap karyawan lain yang masih sibuk di meja masing-masing.Ada yang tersenyum, ada yang bercanda, ada yang tampak stres.
Tidak ada yang tahu kalau langkahnya hari itu adalah langkah terakhir.
Di parkiran, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang.Motor tuanya, yang warna merah kusam, menunggunya dengan setia.Ia menyalakan mesin, lalu melaju tanpa tujuan pasti.
Di sepanjang jalan, matanya kosong.Pikiran bercampur antara ketakutan dan penolakan.
“Kenapa aku? Kenapa bukan yang lain?” pikirnya.Ia tahu belakangan ini kinerjanya menurun. Tapi bukan karena malas karena tekanan hidup makin berat.
Istri, dua anak yang mulai remaja, cicilan rumah kecil di pinggiran kota, dan orang tua yang sesekali masih butuh bantuan.
Ia mencoba tertawa kecil.Ironis bahkan di usia 41 tahun, ia belum juga merasa mapan.
Sesampainya di rumah, suasana justru terlalu damai.Suara tawa anak-anak terdengar dari ruang tamu.Aroma sayur sop menyeruak dari dapur.
Ia berdiri sejenak di depan pintu, menenangkan wajahnya sebelum mengetuk.
“Pa, udah pulang?”Suara lembut Dhea, istrinya, menyambut dari dalam.
“Iya,” jawab Ansel cepat, berusaha normal.“Tadi… ada libur mendadak dari kantor.”
Dhea muncul dengan celemek masih menempel di dada.Rambutnya diikat seadanya, wajahnya lelah tapi hangat.
“Libur mendadak? Wah, jarang banget. Makan dulu ya, aku baru selesai masak.”
Ansel hanya mengangguk.Ia tersenyum tipis senyum yang berat, senyum yang ia tahu hanyalah topeng.
Di meja makan, Dhea, Zawar, dan Xavir sudah duduk menunggu.Zawar, anak sulung yang baru lulus SMA, sedang bercerita tentang universitas impiannya.Sementara adiknya, Xavir, sibuk menunjukkan nilai rapor di ponsel.
“Pa, kalau aku keterima di jurusan bisnis, nanti aku bisa bantu Papa kerja. Jadi pengusaha!” kata Zawar semangat.
Ansel menatap wajah anaknya lama.Matanya bersinar, penuh harapan muda yang belum tahu pahitnya dunia.
Ia tertawa kecil.
“Iya, Papa doain. Kamu pasti bisa.”
Tapi dalam hati, ia menelan kenyataan lain:Uang kuliah dari mana?
Malam datang.Rumah kecil itu sunyi, hanya suara detik jam dan gemerisik angin dari jendela.
Ansel duduk di ruang tamu sendirian.Sisa kopi dingin di meja, laptop terbuka di hadapannya.
Notifikasi YouTube menyala:“Cara Mengubah Hidup Lewat Aset Digital Tanpa Modal Besar!”
Ia menatapnya lama.Jari telunjuknya ragu di atas mouse.
Akhirnya, ia klik.
Video dimulai dengan suara riang seorang influencer muda. “Kalian nggak butuh modal besar buat sukses! Cukup smartphone dan kemauan belajar!”
Gambar berikutnya memperlihatkan mobil sport dan saldo digital yang mencapai ratusan juta rupiah.
Ansel terdiam.Ada sesuatu dalam dirinya yang terguncang.
“Cuma modal niat?” gumamnya pelan.Ia tak tahu harus percaya atau tidak.Tapi satu hal pasti: ia sedang butuh harapan.
Malam itu ia menonton video demi video.Satu jam. Dua jam. Tiga jam.Matanya lelah, tapi pikirannya justru terbakar.
Istilah-istilah asing mulai memenuhi kepalanya:crypto, token, aset digital, staking, airdrop.
Ia belum mengerti semuanya, tapi setiap video seperti menyalakan api kecil dalam dada.
“Mungkin ini jalannya,” pikirnya.“Mungkin aku bisa bangkit dari sini.”
Sekitar pukul sebelas malam, Dhea keluar dari kamar.Wajahnya setengah mengantuk.
“Kamu belum tidur juga?”
“Belum, ini nonton… video tentang investasi digital.”
“Investasi? Emangnya kamu masih punya uang buat itu?”Nada Dhea bukan sinis lebih ke cemas.
Ansel tersenyum samar.
“Belum tahu. Aku cuma pengen belajar dulu. Siapa tahu bisa jadi jalan rezeki baru.”
Dhea mengangguk pelan.
“Ya sudah. Tapi jangan keseringan begadang, ya. Badan kamu butuh istirahat.”
“Iya, sayang. Aku janji.”
Dhea kembali ke kamar.Ansel menatap layar laptop, lalu kembali menulis di buku catatannya.
Tulisan tangannya acak-acakan, tapi penuh semangat:
Belajar investasi digital.Cari tahu apa itu kripto.Mulai dari kecil.Jangan menyerah.
Pukul dua dini hari.Hujan turun deras.Cahaya petir sesekali menyambar jendela, memantulkan bayangan wajah Ansel di kaca.
Wajah yang lelah, tapi tidak sepenuhnya padam.
Ia memejamkan mata, mendengar suara hujan.Entah kenapa, malam itu ia merasa sedikit tenang.
Bukan karena semuanya baik-baik saja.Tapi karena untuk pertama kalinya sejak siang tadi, ia punya satu hal yang belum hilang: harapan.
Keesokan paginya, matahari muncul pelan dari balik awan.Ansel terbangun lebih pagi dari biasanya.
Ia duduk di meja dapur, menyalakan laptop.Hal pertama yang ia buka bukan situs lowongan kerja, melainkan forum tentang aset digital.
Puluhan istilah baru kembali menamparnya.Ada yang bicara tentang pump and dump, ada yang memamerkan keuntungan ratusan persen dalam seminggu.
Ia menghela napas.“Semuanya terasa seperti dunia lain,” gumamnya.Tapi rasa penasaran membuatnya terus membaca.
Sambil menyeruput kopi hitam, ia menulis lagi di buku catatannya:
“Mungkin selama ini aku cuma bekerja, tapi nggak pernah benar-benar belajar.”
Kalimat itu sederhana, tapi menancap.Ia baru sadar, selama bertahun-tahun di kantor, ia cuma jadi roda kecil dari sistem besar yang tak peduli siapa pun.
Sekali terlepas, ia langsung terlupakan.
Beberapa jam kemudian, Dhea keluar membawa dua cangkir teh.
“Kamu nggak keluar cari kerja hari ini?”
> “Nanti siang,” jawab Ansel. “Aku mau pelajari sesuatu dulu.”
> “Sesuatu?”
> “Tentang… cara baru cari uang.”
Dhea tidak bertanya lebih lanjut.Ia tahu, saat Ansel berbicara dengan nada seperti itu, artinya sedang mencoba menenangkan diri.
> “Asal kamu nggak menyerah, aku ikut.” katanya lembut.
Kalimat itu membuat dada Ansel sesak.Ia menatap istrinya dengan mata yang nyaris basah.
“Terima kasih, Dhe. Aku janji, aku bakal cari jalan. Aku nggak akan biarkan kita jatuh.”
Hari itu, Ansel memulai perjalanan barunya.Belum tahu ke mana arahnya.Belum tahu benar atau salah.
Tapi langkah kecil itu akan membawanya ke dunia yang sama sekali berbeda dunia yang gemerlap di luar, tapi gelap di dalam.
Dan ia tidak tahu, bahwa dari sinilah hidupnya akan berubah selamanya.