Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Perjanjian Di Lantai 33

Perjanjian Di Lantai 33

Winterbloom | Bersambung
Jumlah kata
34.6K
Popular
337
Subscribe
98
Novel / Perjanjian Di Lantai 33
Perjanjian Di Lantai 33

Perjanjian Di Lantai 33

Winterbloom| Bersambung
Jumlah Kata
34.6K
Popular
337
Subscribe
98
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeBadboyPria DominanKarya Kompetisi
Di lantai 33, Vincent Crowell menandatangani perjanjian tanpa cinta. Pernikahan kontrak itu seharusnya menyelamatkan kariernya, bukan hatinya. Namun kehadiran Nara Elwyn mengacaukan setiap batas yang ia buat. Saat rahasia terbongkar dan perjanjian berubah menjadi taruhan, Vincent harus memilih, mempertahankan kekuasaan… atau memperjuangkan cinta yang tak pernah ia rencanakan.
Lantai 33

Lift eksekutif bergerak naik tanpa suara, seperti kapsul tertutup yang memisahkan dunia luar dari ruang kekuasaan. Dindingnya dilapisi kaca gelap, memantulkan sosok seorang pria berjas hitam dengan potongan presisi sempurna. Vincent Crowell berdiri tegak di tengah lift, satu tangan berada di saku celana, sementara tangan lainnya menggenggam ponsel yang tak ia lihat.

Angka digital di atas pintu menyala satu per satu.

28.

29.

30.

Vincent menghela napas perlahan saat angka 33 muncul.

Lantai itu selalu memiliki makna khusus. Bukan sekadar ketinggian, melainkan simbol batas antara mereka yang memberi perintah dan mereka yang menerimanya. Lantai 33 adalah tempat Vincent membangun reputasinya tanpa kompromi, tanpa emosi, tanpa kesalahan.

Pintu lift terbuka.

Ruang rapat Crowell Group terbentang luas dan dingin. Meja kayu hitam mengilap memanjang di tengah ruangan, dikelilingi kursi kulit mahal yang sudah terisi. Dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian yang membuat manusia terlihat kecil dan tidak penting.

Delapan anggota dewan direksi menoleh bersamaan.

Vincent melangkah masuk dengan langkah tenang. Jasnya rapi, ekspresinya terkendali. Ia duduk di kursi utama, kursi yang ia rebut dengan kerja keras, bukan warisan. Lalu menyilangkan tangan di atas meja.

“Selamat pagi,” ucapnya singkat.

Tak ada senyum balasan. Hanya anggukan formal.

Ketua dewan, Richard Hale, pria berambut perak dengan wajah penuh garis pengalaman, langsung membuka rapat tanpa basa-basi.

“Kita akan melewati laporan keuangan hari ini.”

Vincent mengangkat alis tipis. “Kalau begitu, ini pasti topik yang sangat mendesak.”

“Memang,” jawab Richard. “Ini tentang stabilitas perusahaan.”

Kata itu menggantung di atas kepalanya. Vincent menahan diri agar tidak tersenyum sinis. Stabilitas selalu menjadi alasan favorit ketika seseorang ingin mengendalikan sesuatu yang bukan miliknya.

“Pembatalan pernikahanmu bulan lalu,” lanjut Richard, “menciptakan keresahan di kalangan investor lama.”

“Dan saham sudah pulih,” sahut Vincent datar. “Lebih cepat dari yang diprediksi.”

“Sementara,” sela direktur lain. “Kepercayaan bukan hanya soal angka, Vincent.”

Vincent menyandarkan punggung ke kursi. “Sejak kapan kehidupan pribadi CEO menjadi indikator kinerja perusahaan?”

Richard menyilangkan jari. “Sejak Crowell Group berdiri. Kamu tahu klausul warisan itu.”

Vincent tahu. Terlalu tahu.

CEO Crowell Group harus berstatus menikah, aturan kuno yang dibuat kakeknya demi menjaga citra keluarga di mata investor konservatif. Selama bertahun-tahun klausul itu hanya menjadi formalitas. Hingga kini.

“Tanpa status menikah,” kata Richard pelan, “kendali penuh perusahaan akan kembali ke dewan keluarga lama.”

Ruangan menjadi sunyi.

Vincent mengepalkan jari di bawah meja. Ia membenci fakta bahwa ancaman itu efektif. Ia bisa menghadapi gugatan hukum, krisis keuangan, bahkan pengkhianatan internal. Tapi ini... ini bukan sesuatu yang bisa ia beli atau tekan dengan angka.

“Jadi kalian ingin saya menikah,” ucapnya akhirnya. “Bukan karena cinta. Tapi demi citra.”

Richard tersenyum tipis. “Kami ingin kamu bertindak demi stabilitas. Seperti yang selalu kamu lakukan.”

Rapat ditutup tanpa keputusan resmi, tapi Vincent tahu jam pasir sudah dibalik. Ia berdiri, mengambil mapnya, lalu berjalan menuju jendela setelah anggota dewan pergi satu per satu.

Kota terhampar di bawah sana, berkilau oleh cahaya pagi. Dari lantai 33, semuanya tampak kecil. Termasuk hidup orang lain.

“Batalkan semua jadwal setelah jam lima,” katanya ketika asistennya, Laura, mendekat dengan ragu.

“Baik, Tuan.”

“Dan siapkan daftar kandidat.”

Laura terdiam. “Kandidat… apa?”

“Perempuan,” jawab Vincent tanpa menoleh. “Yang bersih. Tidak ambisius. Tidak emosional. Tidak mencari sorotan.”

Laura menelan ludah, lalu mengangguk. “Saya mengerti.”

Ketika ruangan kembali kosong, Vincent menatap pantulan dirinya di kaca. Wajah itu tampak tenang, terkendali seolah pernikahan hanyalah transaksi bisnis lain.

Baginya, memang begitu.

***

Malam turun bersama hujan tipis ketika mobil hitam Vincent berhenti di depan sebuah gedung tua dekat rumah sakit kota. Lampu jalan berkedip, memantulkan bayangan basah di aspal retak.

Sopirnya melirik lewat kaca spion. “Kita sudah sampai, Tuan.”

Vincent mengangguk, lalu perhatiannya tertarik pada suara gaduh di sisi jalan.

Seorang perempuan berdiri di bawah lampu jalan. Jaketnya tipis, rambutnya basah oleh hujan. Di hadapannya, dua pria berbadan besar berdiri terlalu dekat, suara mereka rendah tapi mengancam.

Penagih utang.

Vincent memperhatikan tanpa ekspresi. Biasanya, ia akan berlalu. Ini bukan urusannya. Tapi ada sesuatu dalam sikap perempuan itu yang membuatnya tetap duduk.

Ia tidak menangis. Tidak memohon. Bahunya tegang, dagunya terangkat, seolah ia menolak runtuh meski situasi jelas tidak berpihak padanya.

“Aku sudah bilang aku akan bayar,” suara perempuan itu terdengar jelas di antara hujan. “Tapi bukan malam ini.”

Salah satu pria tertawa kasar dan melangkah lebih dekat.

Vincent membuka pintu mobil.

“Berhenti.”

Suaranya datar, dingin, dan cukup untuk membekukan gerakan mereka. Dua pria itu menoleh, menilai cepat jas mahal, mobil hitam, dan aura kekuasaan yang melekat pada Vincent.

Beberapa kalimat singkat terucap. Tak lama kemudian, mereka mundur.

Ketika jalan kembali sepi, perempuan itu menoleh ke arah Vincent. Tatapannya waspada, nyaris defensif.

“Aku tidak minta ditolong,” katanya.

Vincent menatapnya. Di balik basah dan lelah, matanya menyimpan sesuatu yang jarang ia lihat yaitu ketahanan. Perempuan itu tidak terlihat lemah. Ia terlihat terdesak.

“Tidak,” jawab Vincent pelan. “Tapi kamu berada dalam situasi yang… bisa dinegosiasikan.”

Perempuan itu mengerutkan kening. “Aku tidak tertarik pada apa pun yang kamu jual.”

Vincent hampir tersenyum. Hampir.

“Namaku Vincent Crowell,” katanya. “Dan aku punya tawaran.”

Perempuan itu menatap Vincent beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Hujan turun semakin rapat, membasahi aspal dan sepatu mereka. Lampu jalan di atas kepala berkelip, menciptakan bayangan patah-patah di wajahnya.

“Apa pun tawaranmu,” katanya akhirnya, “aku tidak punya waktu buat permainan orang kaya.”

Nada suaranya keras, tapi Vincent menangkap sesuatu di baliknya. Bukan kemarahan, melainkan kelelahan yang dipaksakan untuk tetap berdiri. Ia terbiasa membaca orang. Negosiasi adalah bagian dari hidupnya. Dan perempuan ini… tidak berada di posisi aman, meski ia berusaha terlihat demikian.

“Ini bukan permainan,” balas Vincent. “Dan bukan tawaran gratis.”

Ia melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat perempuan itu menegang, tapi tidak mundur. Vincent mencatatnya sebagai poin kecil keberanian atau keputusasaan, keduanya sama-sama berguna.

“Kamu punya masalah finansial,” lanjut Vincent tenang. “Cukup serius sampai dua orang itu berani mengancammu di tempat umum.”

Perempuan itu mengerutkan kening. “Kamu nguntit aku?”

“Aku memperhatikan,” koreksi Vincent. “Ada perbedaan.”

Hening menyela. Suara hujan menjadi satu-satunya pengisi ruang di antara mereka.

“Aku bisa melunasi utangmu,” kata Vincent akhirnya, datar, seolah sedang membicarakan angka dalam laporan keuangan. “Bukan pinjaman. Bukan belas kasihan.”

Perempuan itu tertawa pendek, tanpa humor. “Dan sebagai gantinya?”

Vincent tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah perempuan itu lebih saksama, garis tegas di rahangnya, mata yang tajam meski lelah, cara ia berdiri seolah dunia selalu siap menyerangnya. Bukan tipe perempuan yang akan jatuh cinta. Bukan tipe yang akan berharap lebih.

Sempurna.

“Kita akan bicara di tempat yang lebih pantas,” ujar Vincent sambil menunjuk mobilnya. “Kalau setelah itu kamu masih ingin pergi, aku tidak akan menahanmu.”

Perempuan itu ragu. Vincent bisa melihat pertarungan di wajahnya, harga diri melawan realita. Akhirnya, ia menghela napas pelan.

“Namaku Nara,” katanya singkat. “Dan aku cuma mau dengar. Itu saja.”

Vincent membuka pintu mobil belakang. “Cukup.”

Saat mobil mulai melaju, Vincent menatap ke luar jendela. Pantulan lampu kota berbaur dengan bayangan wajah Nara yang duduk berseberangan darinya, kaku, waspada, tapi masih bertahan.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah percakapan ini. Namun satu hal jelas baginya.

Keputusan yang akan ia buat tidak akan terjadi di ruang rapat.

Bukan di depan dewan direksi.

Melainkan di luar semua rencana dan itu membuatnya, untuk pertama kali, tidak sepenuhnya yakin.

Di kejauhan, gedung Crowell Group kembali terlihat, menjulang dengan lantai 33 yang tetap menyala terang, menunggu sebuah perjanjian yang akan mengubah hidup dua orang yang seharusnya tidak pernah bertemu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca