Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pembuktian Seorang Pengganti

Pembuktian Seorang Pengganti

Mama_eNdutZ | Bersambung
Jumlah kata
29.6K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / Pembuktian Seorang Pengganti
Pembuktian Seorang Pengganti

Pembuktian Seorang Pengganti

Mama_eNdutZ| Bersambung
Jumlah Kata
29.6K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+BadboyMengubah Nasib
Aku adalah Kai, siswa SMA kelas 3 yang terkenal di sekolah: tampan, jago basket dan bela diri, banyak penggemar cewek. Orang bilang aku brandalan, sering berkelahi sampai orang tuaku sering di panggil ke sekolah. Padahal aku cuma ingin ada yang melihatku sebagai diri sendiri, bukan cuma "adik Kak Ken" yang pintar luar biasa yang sedang kuliah semester 4 kedokteran. Selalu saja aku hidup di bayangan kakakku, seolah semua yang kulakukan tidak pernah cukup baik. Sampai hari itu datang. Orang tuaku membicarakan tentang perjodohan tua yang sudah disepakati keluarga, yang seharusnya untuk Kak Ken. Tapi orang tua takut pendidikan kakak terganggu, jadi mereka menunjukkanku sebagai pengganti. Aku baru belasan tahun, belum tahu apa-apa tentang hidup, tapi mereka menganggap aku cukup untuk jadi cadangan. Aku berpikir hidupku akan semakin hancur. Sampai aku bertemu dia – Clarissa. Gadis manis, kuliah semester 1, pendiam, pemalu, selalu patuh pada keluarga. Dia juga jadi pengganti, untuk Kak Clara yang sedang menitih karirnya menjadi model. Kita tidak tahu identitas masing-masing sebagai calon pasangan, tapi tanpa sadar, aku merasa dia satu-satunya orang yang mengerti rasanya selalu dianggap kurang dari kakaknya. Sekarang, aku harus membuat pilihan yang paling sulit dalam hidupku, tetap jadi anak yang sering membuat masalah tapi tak punya tujuan, atau berani berdiri dan membuktikan bahwa aku… bukan pengganti.
Coffe Crave

Aku sedang menyapu lantai bagian depan Coffee Crave saat suara mesin grinder kopi mulai berbunyi dari dalam. Jam menunjukkan pukul 14.00 – waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri sebelum pelanggan mulai datang padat. Setiap kali aku melihat nama cafe yang terpasang di pintu masuk dengan huruf kayu yang kusus ku buat sendiri, aku selalu ingat bagaimana semuanya dimulai.

Tahun lalu, ketika aku masih kelas 2 SMA.

“Kita harus punya usaha sendiri!” Sean menginjak-injak tanah lapangan basket dengan wajah penuh semangat. Ryo duduk di atas tribun kosong, sedang mengupas apel sambil mendengarkan. Aku baru saja menyelesaikan latihan dan masih tidak menyangka, aku baru saja memenangkan lomba tinju tingkat kota, hadiahnya cukup banyak untuk sesuatu yang lebih dari sekadar main-main.

“Usaha apa?” tanyaku sambil menyeka keringat dengan lengan seragam.

“Cafe kopi!” Sean mengangkat kedua tangan. “Aku punya ruko kosong di depan pasar baru, belum ada yang nyewa. Kalau kita bisa jalankan, pasti untung!”

Ryo meniup kulit apel yang sudah dia kupas. “Aku tidak punya modal apa-apa. Cuma bisa jadi tenaga kerja aja.”

“Aku punya uang dari hadiah lomba,” ucapku sambil mengeluarkan amplop kecil dari saku celana. “Cukup buat modal awal kan?”

Itu adalah awal dari segalanya. Kami bertiga bekerja sama tanpa tahu apa-apa tentang bisnis kopi. Aku belajar sendiri cara membuat kopi yang enak dari video dan buku, Sean jadi kasir dan menangani keuangan, Ryo jadi orang serabutan yang siap melakukan apa saja, mulai dari membersihkan, membeli bahan, sampai mengantar pesanan.

Awalnya sungguh sulit. Banyak pelanggan yang datang sekali lalu tidak pernah kembali, ada saatnya stok kopi habis karena salah hitung pesanan, bahkan pernah ada mesin espresso yang rusak dan membuat kami harus menutup cafe selama tiga hari. Tapi kami tidak pernah menyerah. Setiap uang yang kami dapatkan, kita kumpulkan kembali untuk mengembangkan usaha. Aku juga terus mengikuti lomba, basket, tinju, bahkan lomba menggambar poster olahraga, semua hadiahnya aku masukkan ke modal cafe.

Hingga suatu hari, aku mengambil keputusan besar, membeli ruko itu dari keluarga Sean. Uang yang aku kumpulkan dari usaha dan hadiah lomba cukup untuk membayarnya secara tunai. Sekarang aku jadi bos, Sean fokus menangani pembukuan dan administrasi, Ryo tetap menjadi tulang punggung yang selalu ada kapan saja. Dan beberapa bulan lalu, kami juga punya tiga pegawai baru, Yogi, Dinda dan Rea, satu cowok humble dan dua gadis ceria yang selalu membuat suasana cafe menjadi lebih hidup.

“Mas Kai, pelanggan terakhir sudah pulang!” teriak Rea sambil membersihkan meja depan. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.00, waktu yang selalu aku jadikan batas untuk menutup cafe setiap hari.

“Oke, kalian bisa pulang dulu, terimakasih untuk hari ini ,” jawabku sambil mematikan mesin espresso. Sean sudah pergi sekitar satu jam yang lalu setelah menyelesaikan laporan keuangan, sementara Ryo sudah membersihkan dapur sebelum maghrib. Yogi, Dinda dan Rea segera mengambil tas mereka dengan senyum lebar.

“Terima kasih mas Kai, besok kita datang jam dua ya!” ucap Dinda sebelum mereka bertiga keluar dari cafe.

Aku mengangguk dan mulai membersihkan seluruh area kerja dengan teliti. Membersihkan mesin kopi, menyimpan bubuk dan susu ke lemari pendingin, menyapu dan mengepel lantai hingga bersih seperti cermin. Bekerja di cafe sampai larut malam bukan sesuatu yang membuatku lelah, justru ini adalah tempat di mana aku merasa paling tenang, paling menjadi diriku sendiri.

Setelah semua bersih dan siap untuk hari esok, aku mematikan lampu utama dan hanya menyisakan satu lampu gantung di depan pintu. Aku mengunci pintu dengan hati-hati, menyimpan kunci di dalam dompet kulit yang aku dapatkan dari hadiah lomba berkelahi bulan lalu. Jalan pulang malam ini sepi, hanya ada beberapa lampu jalan yang menerangi jalanan. Aku mengendarai motorku dengan santai, menikmati kesunyian yang jarang aku dapatkan di siang hari.

Ketika aku membuka pintu rumah, aroma makanan yang sudah dingin menyambutku dari arah dapur. Tapi yang lebih terasa adalah suasana yang tegang di ruang tamu, lampunya menyala terang, Papa dan Mama sedang duduk di sofa dengan wajah yang tidak bisa dibilang bahagia. Di sebelah mereka ada sebuah foto bingkai kayu besar, foto Kak Ken saat wisuda SMA dengan nilai terbaik, sedang menerima piagam dari kepala sekolah.

“Kamu baru pulang? Ini jam berapa Kai?” suara Papa terdengar tegas tanpa melihat ke arahku.

“Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di cafe,” jawabku sambil melepas sepatuku.

Mama menghela napas perlahan. “Kafe, kafe saja yang selalu kamu pikirin. Kamu sudah kelas 3 SMA? Harusnya fokus belajar seperti Kak Ken dulu. Dia selalu pulang tepat waktu dari les privat, tidak pernah bolos belajar hanya untuk urus usaha sembarangan.”

Aku meremas tangan dengan kuat. “Usaha itu bukan sembarangan, Ma. Aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri, bahkan sudah bisa membayar uang sekolahku sendiri.”

“Uang bukan segalanya, Kai!” Papa akhirnya menoleh padaku dengan wajah memerah marah. “Ken tidak pernah berpikir tentang uang duluan, dia fokus pada pendidikan, sekarang sudah masuk fakultas kedokteran terbaik di kota ini. Kamu lihat saja kakakmu itu, selalu rapi, selalu sopan, selalu membuat keluarga bangga. Kalau kamu bisa seperti dia sedikit saja, kami tidak akan merasa khawatir seperti ini!”

Aku menatap foto Kak Ken yang terpajang di dinding. Di foto itu, Kak Ken mengenakan seragam SMA putih bersih dengan dasi yang rapi, rambutnya selalu teratur tanpa satu helai pun yang kusut. Dia selalu punya senyum yang sopan dan ramah, selalu bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar, selalu bisa membuat semua orang suka padanya.

“Kak Ken ini, Kak Ken itu,” ucapku dengan nada datar tapi penuh emosi. “Dia suka dengan buku dan pelajaran, suka menghabiskan waktu di perpustakaan, suka berbicara tentang ilmu kedokteran yang aku tidak mengerti sama sekali. Aku tidak seperti itu, aku suka dengan olahraga, suka membuat kopi, suka bekerja keras untuk membangun sesuatu dengan tanganku sendiri. Mengapa aku harus seperti dia?”

“Karena kamu anak kami juga!” Papa berdiri dengan cepat. “Kita ingin kamu punya masa depan yang baik, tidak seperti sekarang yang hanya jadi penjual kopi!”

Kata itu seperti pukulan yang membuatku terkejut. “Penjual kopi?” bisikku pelan.

Mama segera menarik lengan Ayah. “Mas, cukup. Kai baru saja pulang, biarkan dia istirahat sekarang, lagi pula usahanya juga cukup baik.”

Tapi kata-kata Mama tidak membuatku merasa lebih baik. Aku melihat wajah kedua orang tuaku yang sudah mulai menunjukkan garis-garis keriput karena usia dan khawatir. Mereka benar-benar berpikir bahwa apa yang kulakukan tidak berharga, bahwa aku hanya akan menjadi orang yang tidak berhasil kalau tidak mengikuti jejak Kak Ken.

“Aku sudah cukuo dewasa, Pa, Ma,” ucapku dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku tahu apa yang aku inginkan. Dan aku tidak akan pernah menjadi bayangan Kak Ken.”

Tanpa menunggu jawaban, aku berjalan cepat menuju kamarku yang terletak di lantai atas. Di kamar kecil yang penuh dengan trofi olahraga, poster basket, dan alat gambar, aku menutup pintu dan jatuh bersandar di belakangnya. Mataku menatap foto kecil yang aku tempel di dekat meja belajar, fotoku, Sean, dan Ryo saat baru saja membuka Coffee Crave beberapa bulan yang lalu.

Saat itu kami semua tersenyum lebar, penuh harapan dan semangat. Dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa tidak ada yang bisa membuatku menyerah pada impian itu, tidak, bahkan perbandingan yang selalu menyakitkan ini.

Di bawah, aku bisa mendengar suara Kak Ken yang baru saja pulang dari kampus. Suaranya yang tenang dan ramah sedang berbicara dengan Papa dan Mama. Aku tahu besok paginya mereka akan bilang pada Kak Ken tentang bagaimana aku tidak bisa seperti dia, bagaimana aku hanya fokus pada usaha yang tidak berguna.

Tapi aku tidak peduli. Karena besok paginya, aku akan kembali ke Coffee Crave dan bekerja lagi untuk membangun apa yang sudah kubangun dengan susah payah. Dan suatu hari nanti, mereka akan melihat bahwa aku bukan hanya adik dari Ken yang sukses, aku adalah Kai, pemilik Coffee Crave, dan itu sudah cukup membuatku bangga.

Lanjut membaca
Lanjut membaca