

Manusia boleh bermimpi, merangkai rencana setinggi langit. Tapi jangan abaikan, jika kaki sendiri masih berpijak dibumi. Perjuangan tidak selamanya mulus. Rintangan bisa saja datang tanpa ada yang mampu menerkah kapan akan berakhir. Tinggal kita memilih apakah akan mengejar impian dengan cara yang benar atau justru tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Jadi bagaimana? Apakah Tuan Arga bersedia meneruskan rencana kita?" tanya seseorang bertopi putih, mengenakan kaca mata hitam, sedang berbicara serius dengan Tuan Arga di dalam mobil mewahnya.
"Hotel itu kami dirikan berdua dari nol, saya tidak mungkin mengkhianati sahabatku sendiri. Dia sudah seperti saudara kandung bagiku," jawab Tuan Arga lalu meninggalkan mobil Bos besar tersebut.
"Arga...aku masih memberimu waktu 1x 24 jam untuk berpikir. Ini kesempatan emas buat kita meraih pundih-pundih emas melimpah ruah. Kamu bisa mendirikan Hotel baru atas nama dirimu sendiri bukan berdua dengan Abraham lagi," ucap pria berwajah misterius itu.
"Memang kita bebas berbuat Bos, tapi apapun itu suatu saat akan berjumpa karma termasuk pengkhianatan yang telah kita perbuat," tegas Arga lalu segera masuk ke dalam Hotel 2A, yang kini sedang menjadi rebutan para pebisnis emas, karena terduga di bawah lokasi Hotel tersebut di gembar-gemborkan terdeteksi gudang emas.
"Beberapa konglomerat telah berkali-kali membujuk Arga maupun Abraham, untuk menjual Hotel tersebut kepada mereka. Namun, kedua sahabat itu masih kekeh mempertahankan Hotel tersebut.
"Kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi kawan? Apa ada kabar gembira yang membuat seorang Abraham terlihat ceria sekali hari ini?" tanya Arga kepada sahabatnya itu.
"Jenny kemarin sudah melakukan USG, dan hasilnya... hmm coba kamu tebak!" Pintah Abraham sambil mengerlingkan matanya.
"Ohhh jadi kita main tebak-tebakan pagi ini ya? Baiklah, jika dilihat dari ceriamu, ku tebak berjenis kelamin cewek pastinya kali ini," jawab Arga sambil merangkul pundak Abraham.
"Iya, dan aku sangat senang sekali setelah tiga putra yang lahir sebelumnya. Kini baru mendapatkan anak perempuan. Kamu tahu, dari tadi aku bingung sekali mencari nama yang sesuai. Karena ini pertama kalinya aku mencari nama cewek," ungkap pria yang telah berusia 50an itu.
"Coba aku usul nama Tania... Tania Abra, kerenkan?" ucap Arga kembali.
"Bagus juga, baiklah nanti ku diskusikan kepada Jenny, sekarang ayo kita selesaikan meeting kita pagi ini," ucap Abraham sambil mengkemas segala keperluan meetingnya.
Dengan senyum bahagia, kedua sahabat itu berjalan menuju ruang meeting.
***
Keberhasilan Hotel 2A dibangun dari modal kepercayaan. Bertahun-tahun lalu, Arga dan Abraham memulai segalanya dari nol di sudut kota metropolitan ini. Dengan mimpi yang sama dan janji untuk saling menjaga. Keduanya bukan hanya rekan bisnis tapi juga sahabat yang saling dipercaya tanpa ada rasa ragu sedikitpun.
"Jika kita melihat kebelakang, rasanya tidak mungkin kita sampai sejauh ini," ucap Abraham di samping Arga.
"Iya, semua juga berkat doa dan kerja keras kita," jawab Arga singkat.
"A2 memang terbaik," ucap keduanya hampir bersamaan.
***
Namun, seiring kemajuan serta angka-angka mulai berbicara lebih keras daripada persahabatan. Terlebih lagi soal gosip jika di bawah tanah Hotel mereka tersimpan tumpukan emas murni. Hingga kabar mengejutkan itu terjadi saat Abraham sedang berada di rumah sakit, saat Dia baru saja menyambut kelahiran putri cantiknya yang telah diberi nama Tania Abra.
"Jenny lihatlah! Putri kita begitu cantiknya. Tania Abra... nama yang cantik seperti orangnya," ucap Abraham saat menggendong bayi yang baru lahir itu.
"Iya Pa, senang sekali rasanya," jawab istri Abraham.
"Hmm, nama pemberian om Arganya juga bagus. Kini lengkaplah sudah kebahagian rumah tangga kita, Ma," kata Abra sambil menidurkan baby girlnya disamping istri tercinta.
"Papa senang kini?" tanya Jenny sambil tersenyum tipis.
"Sangat senang, terimakasih banyak sayang, sudah memberi hadiah yang lengkap buat Papa," ucap Abraham sambil menci um kening Jenny.
"Kalau begitu, Papa kembali ke Hotel ya Ma. dan Jagoan Papa... kamu jaga baik-baik Mama sama adek bayi ya, sampai Abang-abang mu pulang sekolah," ucap Abraham kepada putra ketiganya yang masih berusia 5 tahun.
"Iya Papa, Ubay akan jagain bersama mbak Astri," ucap Ubay lalu menci um telapak tangan Papanya.
Dengan langkah yang ringan, Abraham berjalan melewati koridor rumah sakit. Senyum. Bahagia tersirat di wajahnya. Namun, senyum itu tidaklah lama, saat beberapa petugas berseragam polisi datang menghampirinya.
"Permisi, apa anda yang bernama Abraham Malik dari Hotel A2?" tanya salah satu Pak polisi dengan tatapan serius.
Abra mulai merasakan ada yang janggal, namun dia tetap berusaha profesional.
"Iya, saya sendiri, maaf ada apa Bapak-bapak mencari saya?" tanya Abra dengan tatapan heran.
"Maaf Bapak, kami membawah surat perintah untuk penahanan Bapak terkait penyalahgunaan dana Hotel A2 serta upaya penjualan Hotel A2 kepada pihak ke tiga secara ilegal!" Jelas polisi tersebut sambil memperlihatkan selembar surat perintah penahanan.
"Apa-apain," ucap Abraham saat melihat dengan jelas nama yang tertera disana sebagai pelapor.
"Ini tidak mungkin, pasti ada kesalahan pahaman," ucap Abraham sambil mengeluarkan ponselnya.
Tuut...Tuut...Tuut.
Suara panggilan tidak terhubung kepada nomor kontak Arga.
"Gila...lelucon macam apa ini?" ucap Abra sambil kembali menghubungi sahabatnya Arga, namun tetap tidak bisa dihubungi.
"Maaf Bapak Abraham, silakan ikut kami ke kantor polisi sekarang," ajak seorang petugas keamanan kembali.
"Tapi ini fitnah Pak, aku sama sekali tidak melakukan ini. Semua pasti salah paham," tegas Abra kembali.
"Segalanya bisa Bapak terangkan di kantor kami nanti, Pak. Sekarang kami minta tolong kerjasamanya dengan baik," ucap Pak polisi lalu memerintahkan anggotanya untuk
memborgol Bapak Abraham.
"Tapi...tapi...," ucapan Abra terhenti begitu dia tidak sengaja menoleh kebelakang.
"Hmmmm," suara nafas berat terdengar keluar dari mulut Abra saat menyadari di belakang sana sepasang mata mungil tak berdosa menatap tajam kearahnya.
"Lekas kembali masuk ke kamar Mamamu! Jaga Mama dan Adik baby! Jangan bilang ini ke Mamamu dulu ya! Nanti biar Papa yang bilang, ini hanya sebentar saja!" ucap Abraham kepada Ubay putra ke tiganya yang kini berdiri kakuh di tengah koridor rumah sakit.
"Mari kita berangkat, Pak!" ucap Abraham tanpa menoleh ke belakang kembali.
"Dasar pengkhianat," batin Abraham yang kini merasa kecewa dan terbakar penuh.
"Pengkhianatan mu manis sekali kawan, itu tidak datang dengan teriakan atau pertengkaran besar. Tapi datang dalam bentuk senyum palsu di ruang rapat, jabatan tangan yang dingin, dan berkata “demi kebaikan perusahaan” yang ternyata hanya demi kepentingan pribadi. Kau tega mengkhianati ku Argaaaa," maki Abra di dalam hatinya.
"Aku bodoh, ternyata musuh terbesar dalam bisnis bukanlah pesaing di luar, melainkan orang terdekat yang tahu semua kelemahan karena pernah berdiri di sisi yang sama," batin Abraham kembali.
***
Jauh di koridor rumah sakit, Ubay masih berdiri terpakuh menatap kepergian Papa dan beberapa polisi. Kaki anak itu gemetaran dan bi birnya tiada mampu berkata-kata.
"Heei, Ubay... Jangan n4kal, kenapa malah lari keluar sini? Mari masuk, jagain adik bayinya nanti di culik orang," ucap mbak Astri ART rumah Tuan Abraham.
"Papa bukan penjahat, Ubay akan jaga Mama dan adik bayi. Bibi... bukan adik bayi yang di culik, tapi Papa...," ucap Ubay pelan namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Papa di culik? Maksudnya apa?"
Bersambung...