

Aldo terbangun bukan karena alarm.
Ia terbangun karena kota tidak pernah belajar menahan diri.
Klakson saling memotong di bawah sana, seperti orang-orang yang tak sabar menunggu hidup berubah. Suara rel melengking, kereta pertama melintas dengan dentum logam yang menembus dinding tipis apartemen. Di sela-selanya, sirene entah ambulans atau patroli menyelinap seperti peringatan yang datang terlambat. Jakarta bekerja bahkan sebelum matahari benar-benar naik, dan tidak pernah peduli siapa yang masih ingin tidur.
Aldo membuka mata perlahan.
Plafon apartemen lantai 17 itu penuh bercak lembap, seperti peta kota yang salah digambar. Ada retakan kecil di sudut kanan, memanjang tipis seperti urat nadi yang hampir pecah. Udara pengap. Bau apek bercampur kopi instan sisa semalam dan keringat yang tak sepenuhnya hilang. Ruangan itu hanya tiga kali lima meter, tapi rasanya lebih sempit dari ingatan mana pun yang ia simpan seolah tembok-temboknya bergerak perlahan setiap hari, mendekat tanpa suara.
Ia duduk di tepi ranjang lipat yang berderit saat menahan berat badannya. Punggungnya mengeluh, bukan dengan rasa sakit tajam, tapi dengan nyeri tumpul yang akrab. Bahu kirinya berdenyut luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Ia menyentuhnya tanpa sadar, refleks yang selalu muncul sebelum pikirannya sempat menolak. Di balik kaus tipis, ada bekas jahitan kasar, garis tidak rata yang terasa lebih dingin dari kulit di sekitarnya.
Luka itu selalu bangun lebih dulu dari dirinya.
Di sudut ruangan, meja kayu murah dipenuhi kertas. Nota utang. Tagihan listrik. Peringatan ketiga dari pemilik apartemen. Amplop-amplop itu ditumpuk rapi, seperti masalah yang pura-pura bisa diatur jika disusun dengan baik. Di antara kertas-kertas itu, ada pulpen yang tintanya hampir habis dan kalkulator kecil dengan satu tombol yang copot. Di sampingnya, sebuah laptop hitam tergeletak mati. Layarnya kusam, engselnya longgar, sudutnya penyok kecil seperti pernah jatuh tapi tidak pernah diceritakan.
Dulu, benda itu adalah pintu ke masa depan.
Gambar rancangan. Simulasi struktur. Laporan proyek.
Sekarang, ia hanya cangkang. Tak ada daya. Tak ada fungsi. Simbol yang terlalu jujur untuk diabaikan.
Aldo berdiri, langkahnya pelan seperti takut lantai akan protes. Ia berjalan ke jendela kecil yang menghadap ke timur. Tirai tipis sudah lama menyerah pada debu dan asap. Ia menariknya sedikit. Dari lantai 17, Jakarta tampak seperti tubuh raksasa yang tak pernah tidur. Gedung-gedung berdiri saling menekan, jalanan seperti pembuluh darah yang tersumbat. Lampu kendaraan bergerak lambat, merah dan putih, seperti denyut yang tidak teratur.
Kota itu bernapas keras.
Dan setiap napasnya menuntut korban.
Ia menyalakan ponsel. Layar menyala dengan retak di sudut kiri, garis putih kecil yang memotong ikon baterai. Satu pesan masuk.
Ibu : "Kamu sudah makan? Jangan lupa jaga kesehatan.”
Pesan itu dikirim pukul lima pagi. Seperti biasa. Singkat. Aman. Tidak menanyakan apa pun yang berbahaya. Tidak menyentuh luka yang sama-sama mereka hindari.
Aldo membaca tanpa membalas.
Ia tahu jika membalas, ibu akan bertanya lebih jauh. Tentang kerja. Tentang rencana. Tentang kapan hidupnya kembali “normal.” Kata itu selalu terdengar seperti ejekan yang dibungkus niat baik. Normal menurut siapa? Menurut kota yang membuangnya begitu saja? Menurut sistem yang menutup mata dan menunjuk satu nama?
Jarum jam terus bergerak. Kota di luar terus menggeram.
Ia mematikan layar ponsel.
Di kamar mandi sempit, lampu neon berkedip dua kali sebelum menyala penuh. Cermin buram memperlihatkan wajah yang lebih tua dari umur dua puluh lima. Mata cekung, seperti kurang tidur bertahun-tahun, bukan berminggu-minggu. Janggut tak terurus. Ada garis tipis di dahi bukan karena usia, tapi karena kebiasaan mengernyit, seperti otot itu lupa bagaimana caranya rileks.
Ia membuka keran dan menyiram wajah. Air dingin membuatnya sedikit sadar, tapi tidak cukup untuk mengusir bayangan yang selalu datang.
Bayangan itu muncul tanpa diundang.
Suara beton runtuh.
Jeritan.
Debu tebal menelan segalanya.
Proyek itu seharusnya aman.
Ia masih ingat angka-angka di kepalanya. Beban maksimum. Faktor keamanan. Margin toleransi. Semua ia ulang berkali-kali, bahkan saat pulang larut malam. Ia ingat rapat-rapat yang terlalu cepat, keputusan yang diambil sebelum semua data terkumpul. Tanda tangan yang dipaksakan di atas meja licin, diiringi senyum atasan yang terlalu yakin senyum orang-orang yang tahu mereka tidak akan berada di lapangan saat sesuatu runtuh.
Ketika struktur itu ambruk, semuanya berubah cepat.
Debu menutup matahari. Suara baja menjerit seperti makhluk hidup yang disiksa. Orang-orang berteriak nama yang salah, nama yang terlambat, nama yang tidak pernah dijawab. Aldo berlari tanpa sempat berpikir. Tangannya gemetar, tapi kakinya bergerak. Ia menarik, mendorong, berteriak sampai suaranya pecah.
Lalu besi itu menyayat.
Cepat. Kejam. Tanpa peringatan.
Ia tidak ingat rasa sakitnya saat itu. Hanya panas singkat, lalu dingin yang aneh. Luka fisik sembuh setengah. Yang lain tinggal, menempel seperti bayangan di belakang mata.
Namanya muncul di berita.
Di dokumen.
Di percakapan yang ia tak pernah diundang.
Aldo, lulusan teknik konstruksi.
Aldo, yang “lalai.”
Tidak ada yang peduli pada revisi yang ia ajukan. Tidak ada yang mencatat email peringatan yang ia kirim berulang kali. Kota hanya butuh satu nama untuk menutup kasus. Satu wajah untuk dikorbankan agar roda bisa terus berputar.
Ia dipecat sebelum siang. Sertifikatnya dibekukan. Teleponnya berhenti berdering.
Dan sejak hari itu, hidupnya berjalan seperti bangunan setengah runtuh masih berdiri, tapi setiap getaran terasa mengancam.
Aldo kembali ke kamar, mengenakan jaket lusuh yang ritsletingnya sering macet. Helm kurir tergantung di dinding, catnya terkelupas, busanya mulai menipis. Ia bekerja apa saja sekarang. Antar paket. Angkut barang. Kadang proyek kecil yang tak pernah berlanjut. Kota memberi remah, bukan kesempatan.
Saat ia meraih helm, ponselnya bergetar lagi.
Email.
Subjeknya singkat : Undangan Wawancara ARKA
Jantungnya berhenti sejenak. Tangannya kaku, seolah pesan itu berbahaya jika disentuh terlalu cepat. ARKA.
Nama itu asing, tapi formatnya rapi. Terlalu rapi untuk penipuan murahan. Ia membuka email dengan napas tertahan.
Undangan wawancara untuk posisi asisten teknis.
Tanggal: besok.
Lokasi: pusat kota.
Tidak ada kata “selamat.”
Tidak ada janji.
Hanya pintu yang terbuka sedikit.
Harapan itu datang seperti cahaya tipis di lorong panjang cukup untuk membuat orang berjalan, cukup juga untuk membuat mereka jatuh jika tersandung.
Ia menutup email. Membukanya lagi. Membaca detailnya perlahan, seperti mencari jebakan di antara baris. Bahunya berdenyut lebih keras, seolah mengingatkan. Setiap kali ia berharap, kota mengambil sesuatu sebagai gantinya. Nama baik. Karier. Kepercayaan diri. Bahkan hubungannya dengan ibu kini hanya tinggal pesan singkat yang aman.
Aldo duduk di tepi ranjang.
Tetangga di unit sebelah menyalakan televisi keras-keras. Berita pagi berbicara tentang pembangunan baru, proyek ambisius, masa depan yang selalu terdengar cerah bagi mereka yang tidak pernah jatuh dari lantai 17.
Ia menatap laptop mati itu lagi. Membayangkan menyalakannya, membuka file lama, memperbaiki hidup dengan satu klik sederhana. Imajinasi yang cepat mati, seperti percikan api di tengah hujan.
Ponselnya masih menyala. Email ARKA menunggu keputusan yang belum ada.
Ia bisa datang.
Ia juga bisa tidak.
Datang berarti berharap.
Tidak datang berarti mengubur diri lebih dalam.
Aldo berdiri. Mengenakan helm. Tangannya berhenti sebentar di gagang pintu. Ia menoleh ke jendela sekali lagi.
Jakarta tampak sama seperti tadi.
Tak berubah.
Tak pernah peduli.
Ia tahu satu hal dengan pasti :
di kota ini, setiap kesempatan selalu menuntut harga.
Dan bisa jadi, satu langkah maju adalah langkah terakhir.